Luna Rusalka

Luna Rusalka
71



Yejin terdiam semenjak kejadian tadi. Ia masih tidak menyangka hal itu akan terjadi lagi. Ia pikir tidak akan ada kejadian-kejadian seperti ini. Namun Tuhan berkehendak lain.


Kalau Erynav tidak cidera, mungkin Lula masih bersamanya sekarang. Ia tidak pernah menyesali menjadi partner Lula lagi. Tapi ia sangat menyayangkan hal buruk terulang kembali.


Mark terlihat sangat marah kepada mereka. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu dengan Lula lagi atau tidak. Sofia pasti akan marah besar, mengingat putrinya terluka dan semua ini tidak lain karena air.


Aku sangat menghawatirkan Lula.


Yejin dalam perjalanan untuk kembali. Dia duduk sendirian di belakang. Erynav sudah kembali bersama ibunya dan Tuan Ivan duduk di depan bersama Tuan Bogdan yang menyetir.


Penghargaan sudah Yejin terima. Ia dan Lula akan berangkat ke Italy dua Minggu lagi, sebagai hadiah. Tapi Yejin tidak tahu apakah Lula diperbolehkan pergi ke sana bersamanya.


Ia terlalu khawatir. Jika dirinya tidak bisa menjaga sahabatnya itu. Ia gagal beberapa kali menyelamatkan Lula dan membuat gadis itu terbaring di rumah sakit.


Ponsel Yejin bergetar dan ia mencoba melihat itu. Yeva menelpon dan Yejin mengangkatnya.


"Hai sayang. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik."


"Bagaimana perlombaannya? Sudah selesai?"


"Iya sudah."


"Bagaimana hasilnya? Kau menang?"


"Iya. Skor tim ku tertinggi."


"Ah syukurlah Yejin. Mama senang mendengarnya. Kau berhasil dan mama sangat bangga terhadapmu."


Yejin tersenyum sebentar dan fokus mendengarkan mamanya lagi.


"Nany Yejin menang."


"Mana sini aku mau berbicara dengan bocah itu!" Suara neneknya Yejin dan wanita tua itu terdengar tengah tertawa.


"Hey kau di sana."


"Nenek kau baik-baik saja?"


"Kau tahu aku tidak benar-benar sakit. Diamlah mamamu akan tahu."


Yejin tertawa mendengar neneknya itu berbisik.


"Nany aku mendengarnya. Jangan berpura-pura lagi!" Yeva berteriak dan itu sangat lucu.


"Yejin suatu hari di masa lalu kakekmu pernah bilang. Salah satu cucu kita akan menjadi sepertiku, dan baju ini akan menjadi miliknya. Dia benar, Yejin. Kau menjadi sepertinya sekarang, dan kau memakai baju kakekmu kan?"


"Iya nenek. Bajunya sangat bagus, dan aku memakainya."


"Ah aku senang mendengarnya."


"Sudah Nany, kau harus istirahat."


"Iya sebentar. Aku belum selesai. Yejin intinya nenek sangat bangga dan selamat atas perjuangannya. Nenek sudahi dulu ya. Mamamu terkadang sangat menyebalkan (berbisik)"


"Iya nenek. Sampai jumpa."


Neneknya mematikan telepon kemudian dan Yejin hanya mengendikkan bahu.


Ponselnya bergetar lagi dan Yeva menelpon. Yejin mengangkat itu dan bertanya kenapa.


"Yejin hati-hati. Mama menunggumu di rumah."


"Iya. Sampai jumpa."


Laki-laki itu mematikan teleponnya dan menaruhnya di saku celana.


***


Dokter memasuki ruangan Lula bersama dua perawat. Mark hanya melihat itu dan menunggu kabar Lula selanjutnya.


"Siapkan vaksin dan kita beri antibiotik setelahnya."


Perawat mengangguk dan mengambil jarum suntik dan botol vaksin.


Salah satunya mengambil cairan antibiotik dan bersiap dengan itu.


Dokter mengambil jarum suntik yang sudah berisi vaksin dan menyuntikkannya ke lengan Lula.


Vaksin telah dimasukkan semuanya dan dokter menunggu. Bagaimana reaksi pasien terhadap vaksin itu.


Lula tidak memberikan reaksi seperti tadi dan pemberian vaksin berhasil. "Antibiotik."


Mark menunggu dengan khawatir dan beberapa saat kemudian dokter keluar ruangan.


"Bagaimana keadaan putri saya, dok?"


"Pemberian vaksin dan antibiotik berhasil. Pasien dalam keadaan tidak sadar. Ia akan sadar ketika efek obat penenang hilang." Dokter tersenyum dan pergi kemudian.


"Aku harus menelpon Sofia."


***


Sebuah tempat, damai dan tenang. Pulau terpencil di tengah lautan. Menampakkan indahnya pasir putih yang membentang dari ujung ke ujung.


Terbaring di pantai, seorang gadis bersurai kemerahan dengan gaun keemasannya yang berkilau.


Seorang gadis yang memiliki sorot mata menghipnotis. Menutup matanya dan terlihat cantik dengan keadaan seperti itu.


Perlahan, gadis itu membuka mata. Matahari terpancar membuat silau dan menghangatkan sekitar. Ia mengedipkan kedua bola matanya dan berusaha untuk duduk.


Ia bingung dan mencoba berpikir keras mengapa dirinya di tempat ini, sendirian, dan tidak tahu harus berbuat apa.


Mencoba berdiri dan melihat gaun indah yang ia pakai sekarang. Sempat terkejut, namun ia merasa baik-baik saja. Rambutnya yang tergerai dan sedikit basah membuat kecantikan alaminya semakin terpancar.


"Apa yang aku lakukan di sini?" Gadis itu berjalan menjauhi pantai. Ombak semakin tinggi dan ia takut ombak akan mengenainya.


"Dimana semua orang?" Ia nampak kebingungan dan kesepian. Ia tak punya apa-apa selain liontin kerang yang tiba-tiba bersinar.


"Kenapa ini?" Ia berjalan mundur dan terus menatap kalungnya itu. Semakin banyak bergerak, semakin kalungnya memancarkan sinarnya.


Ia terjatuh ke belakang. Sesuatu membuatnya terjatuh dan ia memekik kesakitan.


Sebuah tangan menjulur indah di depannya. Ia menatap ke atas, namun matahari membuat wajah itu tidak terlihat. Ia menerima bantuan seorang bergaun silver di depannya itu dan perlahan naik untuk berdiri.


Wanita itu berbalik dan berjalan menjauhi gadis bersurai kemerahan dan berlari ke pantai.


"Tunggu!" Gadis itu mengejarnya. "Tunggu!"


Wanita itu tertawa lirih dan masuk ke dalam air laut.


Gadis itu berhenti ketika air laut menerpa kakinya tanpa alas kaki itu. Nafasnya memburu dan seseorang menarik lengannya. Menyeretnya ke belakang dan membuat gadis itu kesakitan.


"Lepaskan aku lepaskan aku!" Ia meronta dan berusaha naik. Melihat siapa yang menyeretnya.


Ia menatap ke atas, memandangi seseorang. Pria tinggi dan wajahnya tidak terlihat.


"Kau terlalu menjadi beban!" Dilemparlah gadis itu ke dalam hutan. Batu mengenai kepalanya dan ia tak sadarkan diri.


***


Lula membuka matanya lebar. Ia menatap ke langit-langit dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Tidak ada orang di ruangannya maupun di luar. Mark sedang pergi memberitahu Sofia dan ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Lula berusaha menggerakkan tubuhnya dan ia merasa gelisah. Ia tidak bisa berbicara dan hanya bisa menggerakkan kedua bola matanya.


***


"Sofia ini aku."


"Terjadi sesuatu dan Lula masuk ke rumah sakit."


"Maafkan aku Sofia, akan aku jelaskan nanti."


"Lula masih belum sadar dan ponselku tertinggal di mobil."


"Sofia jangan panik. Minta Alex menemanimu kemari. Jangan pergi sendirian."


"Sofia jangan tergesa-gesa. Minta Alex menemanimu."


"Jangan panik dan tetap tenang."


Sofia menutup teleponnya dan Mark terus memanggilnya. "Sofia?"


Ia meletakkan telepon rumah sakit dan kembali ke ruangan Lula.


***


Lula mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya dan ia hanya buang-buang tenaga.


Perawat masuk ke dalam ruangan dan menyadari itu. Ia menyentuh lengan Lula dan mencoba mencari tahu kenapa.


"Kau mendengarkan?"


Lula menatap perawat. Ia mencoba meminta pertolongan.


Perawat memencet tombol di samping tempat tidur untuk memanggil dokter.


Beberapa saat kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Lula.


"Pasien seperti itu dari tadi."


"Kau mendengarkan saya? Kedipkan mata dua kali, jika jawabannya ya." Dokter menatap Lula dan ia mengedipkan mata dua kali.