Luna Rusalka

Luna Rusalka
119



Elliot berjalan menyusuri tangga dan berhenti ketika sampai di bawah. Terdengar suara nyaring di dari dapur dan ia ingat sesuatu. Larilah ia dengan gelisah ke sumber suara.


"Tepat waktu." Katanya lega. Elliot mematikan kompor sebelum teko itu meledak. Ia tengah memasak air dan meninggalkannya begitu saja.


Bel rumah sudah tidak berbunyi dan ia berpikiran kalau orang di balik pintu sudah keluar. Namun, perempuan itu tetap pergi untuk memeriksanya.


Berjalan menyusuri lantai melewati ruang makan, ruang keluarga dan lorong pendek di setelahy. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika langkahnya sudah semakin dekat dengan pintu. Dia tidak tahu siapa gang menantinya di luar, namun ia sedikit heran karena tidak mungkin teman-temannya, karena mereka sama sekali tidak tahu kalau Elliot susah kembali. Mereka juga sudah tidak berhubungan semenjak Elliot pergi.


Elliot menarik nafas panjang, dan menyentuh kenop pintu. Memutarnya dan membukanya pada waktu yang sama. Pintunya tidak dikunci karena ia lupa. Tapi, tidak apa.


"Kenapa ini membuatku sungguh berdebar-debar?"


Pintu terbuka setengah dan ia sungguh terkejut. Matanya membelalak sekejap dan kembali seperti semula. Ia tidak melihat seorang pun di luar dan keadaan sungguh sepi. Langit mendung dan hampir malam. Keadaan ini sungguh sangat mencekam dan horror. Elliot berpikiran kalau tadi yang memencet bel pintu bukan orang. Tapi, rasa kepercayaan terhadap Makhluk halus sangat kecil, sehingga ia berpikiran positif kalau tadi memang seseorang, namun karena Elliot lama membuka pintu jadi dia pergi.


Elliot membuka pintu dengan lebar dan kakinya membawanya keluar rumah. Melihat barangkali orang itu masih di sekitar rumahnya. Tidak melihat apapun dan suasana menjadi sedikit negatif, pikiran baru muncul kalau ia merasa tengah diincar, diikuti, kemudian ketika ia lengah ia akan langsung ditikam.


Tubuhnya bergidik ngeri, lalu ia memutuskan untuk kembali ke dalam rumahnya Namun, alangkah terkejutnya ketika ia berbalik seseorang berdiri dengan keadaan yang tidak biasa tepat di depan matanya membuat ia menjerit namun mulutnya langsung ia tutupi menggunakan tangan.


"Kau membuatku terkejut."


Pria berambut sedikit pirang dengan pakaian yang kotor dan basah berdiri di depannya. Rambutnya acak-acakan dan ia tidak terlihat seperti pria yang Elliot kenal lagi.


"Kau baik-baik saja?" Elliot mendekat dan pria itu masih berdiri di tempatnya. "Kau kenapa?"


Tanpa aba-aba, pria itu langsung memeluk Elliot. Dengan ketidakpercayaan perempuan itu, Elliot membelalakkan matanya dan memejamkan mata.


"Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku tidak mau keegoisanku membuat kau jauh dariku lagi. Masa bodoh dengan jarak, selama kita masih bersama akan aku lakukan apapun demi kau."


Elliot membuka mata dan membenamkan wajahnya di pelukan pria itu.


"Elliot, maafkan aku. Aku hancur tanpamu. Aku menjadi Matvei yang berbeda ketika tidak bersamamu lagi dan aku tidak menyukainya." Matvei memejamkan matanya dan ia memeluk perempuan itu dengan erat.


Elliot tersenyum dan melepaskan pelukan Matvei.


"Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku yang membuat hubungan kita tidak baik dan memilih untuk meninggalkanmu. Matvei, maafkan aku.." Elliot meneteskan air matanya dan Matvei memeluk perempuan itu lagi semakin erat seakan ia tidak mau kehilangannya lagi.


***


Pendonoran darah sudah selesai. Tinggal menunggu gadis itu untuk sadar. Semua orang menunggu hampir beberapa jam dan Lula belum sadarkan diri. Hari sudah malam, dan beberapa orang mulai mengantuk. Mark membuat Sofia tertidur, agar wanita itu tidak terus menangis. Mereka duduk di kursi tunggu depan ruangan Lula.


Namun, tidak dengan Yejin. Laki-laki itu tetap berdiri di balik kaca besar yang membuat jarak di antaranya dan Lula. Ia terus melihat dokter memasang berbagai alat untuk membuat Lula tetap bertahan dan bagaimana memasukkan darah itu ke dalam tubuh Lula.


Aku tidak berani untuk berkata kalau aku suka terhadapmu, karena aku masih mau kita bersama. Aku tidak mau kalau aku mengungkapkan perasaanku, kau akan menjauh dariku. Itulah sebabnya, aku tidak pernah menunjukkan rasa sayangku secara langsung, karena aku tahu kau tidak memiliki perasaan terhadapku.


Lula, kau terlalu berharga bagiku, dan aku tidak mau kehilanganmu. Jadi, sembuh lah agar aku bisa berlatih lagi untuk memberanikan diri berbicara kalau aku mencintaimu. Mencintaimu dari dulu. Bahkan, mungkin ketika aku belum tercipta, hatiku sudah diciptakan hanya untuk mencintaimu.


Waktu terus berjalan. Jam dinding menunjukkan pukul 00.00 dan semua orang masih menunggu Lula untuk terbangun. Dokter bilang Lula hampir sadarkan diri, namun sampai saat ini oeremtitu masih belum sadar. Yejin masih berdiri di depan kaca jendela, dan Sofia sudah terbangun.


Jereni mulai mengantuk dan keadaan sungguh sepi.


"Kau yakin tidak apa kami kembali?"


Mark mengangguk. "Terimakasih sudah menemani kami, dan kurasa kalian memang harus kembali. Kasian anak-anak, mereka sudah sangat lelah."


Bogrof dan Mattew mengangguk mengerti. Karena, mereka juga harus beraktifitas di pagi harinya dan anak-anak harus sekolah juga."


"Maafkan kami tidak bisa menemanimu sampai Lula sadar."


Mark tersenyum dan menepuk pundak kedua pria di depannya.


"Aku akan membangunkan putriku."


"Tunggu." Mark manarik lengan Mattew dan mencegahnya untuk membangunkan Jereni yang tertidur di pundak Yeva.


"Biarkan dia tertidur." Mark mengangguk dan memberikan kode. Ia tahu kalau Jereni bangun pasti dia tidak mau untuk kembali, dan memaksakan diri untuk berada di sini sampai Lula sadarkan diri.


"Aku mengerti." Mattew mengangguk kemudian dan mencoba menggendong putrinya dengan hati-hati.


"Kalian juga harus kembali." Mark berdiri di depan Bogrof dan Yeva.


Yeva menggelengkan kepalanya ,dan menatap suaminya. "Kalian saja yang kembali. Aku akan tetap di sini. Sofia pasti membutuhkan aku."


"Tidak. Kalian bertiga. Sofia sudah mulai tenang dan aku bisa menjaganya." Mark bersikukuh untuk mereka bertiga kembali dan Yeva tidak memiliki pilihan lain.


"Tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku., ok?"


Mark mengangguk. "Baiklah, ajak Yejin dan kembalilah."


"Sepertinya, baru kemarin aku melihat tubuh kecilnya menangis di pelukanku." Sofia meneteskan air mata dan Yejin menoleh menatapnya.


"Ia tumbuh besar dan sepertinya itu sangat cepat. Aku hampir tidak merasakannya, dan sekarang ia sudah sebesar ini." Sofia membiarkan air matanya menetes begitu saja dan Yejin kembali menatap Lula.


"Sebentar lagi, ia akan menjadi wanita dewasa yang mampu melakukan apapun. Aku akan didahului olehnya dan ketika ia memilih universitas, aku akan mendukung pilihannya. Aku akan terus men-support-nya sampai ia mampu mencapai apa yang dicita-citakannya. Ketika ia berada di puncak aku akan menangis histeris dan terus mendoakan ia terus bahagia." Sofia memejamkan matanya ketika air matanya mulai deras. Yejin tidak bisa mencegah itu dan memilih untuk terdiam.


"Yejin, aku mau kau terus menjaga Lula apapun yang terjadi. Sampai aku melihat kalian menjadi dewasa sepertiku, seperti orang tuamu, seperti kami tua nantinya, sampai hanya maut yang memisahkan kalian."


Yejin membelakkan matanya dan menatap lurus ke depan.


"Yejin, aku mau kau selalu ada untuk Lula. Aku mau kau memberikan seluruh hidupmu untuk menjaga Lula dan membuatnya terus bahagia." Sofia menangis sesenggukan dan Yejin sangat terkejut atas apa yang baru saja wanita itu katakan.


"Yejin aku mau kau berjanji kepadaku untuk bersama Lula selamanya dan membuatnya terus bahagia." Sofia menarik pundak Yejin sampai mereka berdua berhadapan. Yejin masih terpaku dan sekarang ibu dari perempuan yang ia cintai berkata seperti itu. apa ia memberikan restu? Ia tidak tahu.


"Yejin kau mau berjanji untukku?"


"Ya." Yejin mengangguk dan Sofia tersenyum lega sambil terus menyeka air matanya.