
"Kau tidak ke sekolah hari ini?" Lucas berjalan keluar dari rumah Matvei dan kakak dari Yejin itu menggeleng.
"Sepertinya tidak enak badan."
"Kau selalu kembali tengah malam dan mengendarai motor. Kupikir sebaiknya kau ambil cuti sampai kita lulus." Lucas selalu mengingatkan Matvei untuk tidak terlalu keras bekerja bersama Bryan. Dia tidak tahu kenapa Matvei sangat antusias dengan hal ini, sampai waktunya hanya habis dengan pekerjaan itu.
"Aku tidak bisa dan kau tahu aku tidak mudah percaya dengan Bryan. Entah apa sebenarnya tujuannya sekarang." Matvei berdiri di pintu dan Lucas berbalik.
"Baiklah aku akan pergi sekarang. Minum obatmu dan istirahatlah."
Matvei mengangguk dan menepuk pundak Lucas. "Kau seperti ibuku saja. Tapi terimakasih sudah mampir." Ia tertawa diikuti Lucas yang bersiap untuk pergi.
Matvei melihat Lucas dengan sepeda motornya pergi berlalu dan akhirnya ia kembali masuk ke dalam rumah.
***
"Yejin mana?" Lula tidak melihat Yejin dari tadi dan itu membuatnya penasaran. Istirahat pertama mereka tidak ke kantin, karena mereka sudah sarapan tadi pagi.
Jereni mengendikkan bahu. "Entahlah." gadis itu merebahkan punggungnya di kursi. "Tapi tadi pagi aku melihat ia keluar dari kantor tanpa seragam sekolah dan pergi begitu saja bersama Erynav.
"Erynav?"
Jereni mengangguk. "Mungkin mereka mempersiapkan semuanya untuk besok. Kau ingat?"
"Ah iya mereka pergi ke Italy besok." Lula sedikit tidak senang namun bagaimana lagi? Ia merasa tidak adil, namun apa daya dia tidak mampu berbuat apa-apa.
"Ayolah kau akan bersenang-senang jangan khawatirkan mereka." Jereni berusaha menghibur dan Lula tersenyum karenanya.
Tetap saja.
***
"Mau kembali bersama?" Erynav terlihat tengah menatap Yejin dan mereka berada di depan rumah Pak Bogdan. Mereka baru saja mengurus sesuatu.
"Terimakasih. Aku sudah memesan taksi."
Erynav hanya membuang nafas lelah dengan perlakuan Yejin yang masih sama saja.
"Baiklah kali ini aku tidak akan memaksamu."
Tiin
Seseorang mengklakson mobilnya di depan dan mereka tahu siapa itu.
"Aku akan pergi sekarang. Yejin jangan Lupa besok kita berangkat Sore hari." Erynav berpamitan dengan Yejin. Yejin mengangguk dan gadis itu berlalu pergi.
***
"Kau sudah meminta izin bibi Sofia, kan?" Jereni mencoba memastikan. Ia tidak mau Lula pergi tanpa izin dan hanya akan menjadi masalah, mengingat Sofia mudah khawatir dan Jereni tidak ingin semua orang juga begitu.
"Mana berani aku pergi tanpa izin mama." Lula tersenyum dan Jereni mengangguk.
"Ayo Lula." Jereni memakai ranselnya dan berdiri. Lula hanya diam di tempat dan melamun.
"Kau kenapa?"
Lula menatap Jereni dan menggeleng. "Ayo."
***
Kriett
Pintu terbuka dan Yejin masuk ke dalam rumah.
"Dari mana?"
Laki-laki itu berhenti ketika sebuah suara masuk di gendang telinganya dan menoleh ke sebelah kiri. Dimana Matvei duduk sambil memainkan ponselnya.
"Rumah Tuan Bogdan."
"Ah kau pergi besok." Matvei meletakkan ponsel di meja dan menatap Yejin. Mereka bertatapan cukup lama. "Hati-hati." Yejin terdiam sebentar dan mengangguk akhirnya.
***
Lula tersenyum kecil dan mengangguk. Rwka pergi sebelum masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Lula." Jereni membuka pintu dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.
***
"Apa rencananya?" Mark duduk di tempat tidur. Sofia masih di depan meja rias, untuk menyisir rambutnya. Wanita itu meletakkan sisirnya dan beranjak berdiri, lalu berjalan ke tempat tidur.
"Pagi ketika kau antar Lula ke sekolah, aku akan pergi ke supermarket untuk membeli semua keperluan. Lalu Yeva akan datang untuk membantuku menghias kebun belakang setelahnya. Tapi kau tahu dia tidak janji akan menghadiri pesta kecil-kecilan kita. Ia dan suaminya mengantar Yejin ke bandara di siang hari. Yejin akan pergi besok ke Italy, dan itu berarti laki-laki itu tidak akan datang."
"Apa aku terlalu jahat dengan putri kita?" Sofia menatap suaminya merasa bersalah.
Mark menggeleng. "Kau melakukan yang terbaik, dan itu yang seharusnya."
Sofia tersenyum. "Ah iya Jereni dan mamanya akan membawa Lula jalan-jalan setelah pulang sekolah. Aku takut persiapannya tidak selesai, karena Yeva kembali siang, jadi mungkin akan menghabiskan waktu lama untuk menghias. Aku juga harus menjemput Yefy dan tawaran Jereni membawa Lula pergi sangat membantuku."
"Apa perlu aku ambil cuti besok?" Mark mengajukan tawarannya dan Sofia menggeleng.
"Tidak perlu. Bukankah kau kembali lebih awal besok?"
Mark mengangguk. "Aku lupa."
"Bagaimana dengan kuenya?"
"Kau lupa Lula tidak pernah suka kue di hari ulang tahunnya?"
Mark menepuk jidatnya lupa. Mereka selalu ingat tidak pernah ada kue di ulang tahun Lula.
"Tapi rasanya aneh jika di acara ulang tahun tidak ada kuenya. Untuk formalitas apa tidak sebaiknya kita pesan satu? Lula tidak harus memakannya, dia hanya harus meniup lilinnya dan selesai."
"Papa benar juga. Aku akan beli besok."
***
Lula tengah duduk di jendela. Ia merasa sedikit panas dan menghirup udara malam. Pada yang berada di bawahnya menambah sejuk udara malam ini.
Gadis itu memangku wajahnya di lutut dan melamun. Ia memikirkan banyak hal untuk besok. Hari ini dia tidak melihat Yejin dan rasanya sangat aneh. Apa sekarang Lula memiliki perasaan terhadap Yejin? Ia menampik hal itu. Yejin sahabatku dan akan seperti itu selamanya. Batinnya menyangkal pikirannya sendiri.
Lula langsung bangkit dan menutup jendelanya ketika mendengar sesuatu di bawa sana. Ia tidak takut, namun waspada.
"Seseorang pasti sedang memata-matai aku." Lula berjalan dan bersiap di tempat tidur.
***
Yejin berdiri di balkon di rumahnya. Menatap pemandangan malam dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip di bawahnya. Udara malam ini sangat dingin dan laki-laki itu memeluk dirinya sendiri, untuk tetap hangat.
"Apa yang sebaiknya aku berikan untuk hadiah ulang tahun Lula, ya?" Ia ingat sekali. Besok adalah ulang tahun ke 15 sahabatnya itu dan sampai saat ini Yejin masih belum tahu kado apa yang sebaiknya ia berikan kepada Lula.
"Sesuatu yang tidak terduga." Suara berat seseorang mengejutkan Yejin. Matvei datang dan berdiri di samping adiknya dan memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.
"Kau tidak kedinginan?" Matvei menatap Yejin dan Yejin masih mencerna apa yang dikatakan Matvei barusan.
"Sesuatu yang tidak terduga?"
"Kurasa Lula tidak membutuhkan apapun sekarang. Kau tahu kedua orang tuanya mampu membelikan apapun yang gadis itu minta."
"Jadi, apa?" Yejin sangat penasaran. Berharap Matvei menjelaskan sesuatu yang tidak terduga itu.
"Mungkin dia hanya berharap kau bersamanya saat hari bahagia itu."
Jantung Yejin sakit tiba-tiba. Ia memeganginya dan itu hilang secara tiba-tiba pula.
"Semakin dingin di sini. Aku akan masuk. Jangan terlalu lama di luar, itu tidak baik." Matvei berbalik dan menepuk pundak Yejin, lalu pergi ke dalam.
Tapi Ia tidak bisa. Yejin memutuskan untuk pergi ke Italy dan ia sudah berjanji dengan Lula.
Kenapa Matvei berkata seperti itu? Yejin masih tidak mengerti.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Hatinya goyah dan tidak mantap dengan keputusannya saat ini.
Laki-laki itu sudah terlalu terpikat oleh Lula. Ia menjadi lemah dan tidak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.