Luna Rusalka

Luna Rusalka
31



Lula's POV


Ini tidak nyaman, tapi aku berusaha membuka mataku dan hidungku terasa sakit. Kurasa aku demam. Biasanya hidung memerah dan sakit ketika aku demam. Tapi, tubuhku biasa saja. Tidak lemas Dan...


"Hei kau sudah bangun?" Mama masuk ke kamarku. Aku hanya tersenyum Dan beranjak Dari tempat tidur.


"Kau baik-baik saja, Lula?" Mama mengambilkanku handuk Dan aku meraihnya.


"Aku baik." Aku masuk ke kamar Mandi Dan bersiap-siap untuk Mandi.


Peraturan pertama, jangan terlalu lama berada di air.


Aku tahu aku tahu. Bahkan semenjak kejadian itu aku sama sekali tidak berendam dan berenang. Sungguh aku sangat merindukan beberapa kebiasaan yang mungkin sekarang tidak boleh dilakukan.


Aku mundur Dari perlombaan, tapi kenapa aku tidak boleh lagi berenang? Apa ini akan terjadi selamanya? Usiaku 15 tahun dan aku sudah mengerti.


Delapan Hari lagi Yejin akan berlomba. Jika aku tidak mengikutinya, setidaknya aku menonton saja.


"Lula jangan lama-lama!" Teriak mama dari luar kamarku. Dia selalu khawatir jika aku mandi terlalu lama.


"Ini sudah selesaii!" Aku mengambil handuk Dan melilitkannya ke tubuhku kemudian keluar kamar Mandi dan memakai seragam.


"Bukankah aku kemarin ketiduran? Aku tidak mengingat hal ini. Yejin pasti sudah pulang dan bagaimana mama menemukanku?!" Tidak ambil pusing aku bergegas.


***


Semua orang berada di meja makan. Termasuk Yejin dan Yeva, mamanya. Lula terdiam seketika ketika melihat Yejin duduk membelakanginya. Bagaimana bisa? Batin Lula mengendikkan bahu Dan berjalan menghampiri mamanya.


"Hei, Sayang kemari." Mark menyadari kehadiran Lula dan tersenyum melihat putrinya itu. Lula hanya tersenyum dan berjalan menuju meja makan.


Dia duduk di samping Yejin dan tersenyum kepada Yejin. "Kau menginap, Yejin?" Tidak mau ambil pusing, Lula berani berbicara dengan Yejin di depan mereka.


Yejin mengangguk Dan mempersilahkan Lula untuk makan. "Kau mau sama apa?"


"Lula hanya makan roti isi dan Susu, Yejin." Sofia mengambilkan roti isi dan menyerahkannya kepada Yejin. "Berikan ini padanya.." Yejin mengangguk dan memberikan roti isi itu kepada Lula.


"Makasih, Yejin." Lula meraih dan memakannya. Dia tersenyum. Sepertinya hatinya sedang bahagia sekarang, walau ia sedikit merasa pusing, tapi tidak apa.


"Jadi, apa kalian pergi bersama, kemarin?" Mark tertawa ringan sambil meminum kopinya.


"Iya, paman." Yejin dengan polos menjawab itu dan langsung mendapat injakan di kakinya. "Kau kenapa?" Bisik Yejin kesakitan.


"Jangan beritahu. Nanti mereka marah." Lula mendekatkan wajahnya di telinga Yejin.


"Lula. Mama sudah tahu apa yang terjadi." Sofia menatap putrinya serius.


"What?" Cibik Lula Tak percaya. "Kau memberitahu mereka?" Tanya Lula tak percaya kepada Yejin.


"Mereka harus tahu, Lula." Yejin meminum susunya tanpa menatap Lula.


Lula kesal. Namun, bagaimana lagi? Mereka sudah tahu semuanya dan itu berarti mereka juga tahu kalau Lula meninggalkan sepedanya di bis. Lula Tak bersemangat sekarang. Ia pasti akan kena marah, soal sepedanya. Itu hadiah ulang tahunnya tahun lalu.


Dia menghembuskan nafas kasar sambil melahap roti isinya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah meja dan ia merasa malas sekarang.


Setelah makan, Yeva berterimakasih Dan berpamitan kepada Sofia Dan Mark. Yejin menunggu di luar, ia akan berangkat bersama Lula diantar ayahnya Lula.


Lula, gadis yang malang. Dia berdiri di ruang Tamu menghadap kedua orang tuanya yang terlihat akan memarahinya.


"Apa yang akan kau katakan!" Sofia tegas, tanpa nada bercandanya.


Tak biasanya ia begini. Kalau Lula berbuat masalah, ia akan menghadapinya dengan tenang dan tanpa ketegasan. Namun, semenjak kejadian itu, ia menjadi lebih tegas pada Lula.


Sebenarnya yang bertanya aku atau mama? Batin Lula tidak mengerti.


"Maafkan Lula, mama. Lula ceroboh. Lula meninggalkan sepeda Lula. Tapi, Lula janji akan menabung untuk mengganti itu." Lula menatap mamanya Dan tersenyum.


Wajah Sofia masih datar, tanpa guratan senyum disana. Sedang Mark, dia tertawa sebentar, mendengar permohonan putrinya, yang baginya sangat lucu.


"Jangan perdulikan sepeda itu sekarang." Sofia berkacak pinggang.


Lula menurunkan senyumannya dan menunduk pasrah.


"Mama tidak suka Lula pergi tanpa izin, sampai membuat mama sangat khawatir."


"Kau tahu? Mama tidak mau kau kenapa-kenapa dan kehilangan untuk kedua kalinya, Lula!"


"Ya. Kemarin kau bersama Yejin. Tapi, jika kau sendirian bagaimana? Di dekat hutan, hujan deras, kedinginan, jika ada orang jahat yang menculikmu, bagaimana?"


"Lula, dengarkan mama. Bukannya mama galak dan ingin memarahimu. Tapi, mama harus tegas sekarang. Mama tahu Lula. Kau akan melakukan apapun demi apa yang sudah terukir di benak kepalamu. Kau tidak akan pernah memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya memikirkan orang lain, tanpa mau tahu resiko apa yang kau ambil."


"Sofia, sudahlah. Dia akan ke sekolah. Jangan buat-"Mark mencoba menenangkan Sofia. Sofia mengangkat tangannya Dan Mark terdiam.


"Tidak apa papa. Lula yang Salah.."


Sofia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Mama sayang Lula. Jangan buat mama khawatir lagi, ya." Sofia tersenyum dan mengelus kepala Lula lembut.


Lula menaikkan kepalanya Dan menatap mamanya. Ia mengangguk Dan tersenyum, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya.


***


huamm.. aku membuka mataku. Nyenyak sekali tidur Kali ini.


Melihat sekitar dan*...


"Yondaya. Kita harus bergegas. Kalula sudah pergi dan Kita harus segera keluar."


Ternyata aku belum sepenuhnya bangun. Masih di mimpi itu Dan ..


"Apa yang terjadi?"


"Kita tidak membuat Kalula musnah. Dia berubah menjadi Rusalka."


Apa itu Rusalka Dan kenapa dia terus berbicara mengenai Kalula. Siapa dia??


"Cepat!" Pria itu menarikku Dan membawaku keluar rumah. Sepertinya dia tinggal di dalam hutan, entahlah, banyak tumbuhan laut di sini.


Dia mendekati seekor kuda laut Dan membisikkan sesuatu padanya.


"Kau bisa berbicara dengan kuda laut?" Pria itu berbalik Dan menatapku aneh.


"Semua duyung bisa, Yondaya. Sepertinya kau masih melupakan beberapa Hal."


"Apa yang kau rencanakan?"


"Jika Kita tidak bisa memusnahkan Kalula, Kita akan mengadu dombanya, Dan mengusirnya Dari sini. Dia sedang hamil, Dan harus mengasingkan diri untuk membesarkan kandungannya. Setelah anak itu lahir, aku punya rencana..." Pria itu tertawa Dan aku sungguh tidak mengerti apa yang akan dia rencanakan.


Kenapa aku terjebak di sini, Dan kenapa ini sungguh nyata?


Aku lelah seperti ini. Apa yang sedang kau rencanakan, Tuhan?


***


"Kau sudah membaik?" Rwka membawakan bubur dan Jereni mengangguk.


"Kau harus makan, Jereni." Jereni hanya menatap jendela tanpa ada niatan untuk memakan bubur itu.


"Aku ingin pergi ke sekolah," Jereni mencoba bangkit namun ia terjatuh lagi.


"Kau masih lemah, Jereni. Makan Dan minum obatmu, mama yakin kau akan semakin membaik." Rwka menyuapi Jereni Dan ia memakannya. Pandangan nya masih keluar jendela. Ia melihat beberapa anak berjalan memakai seragam untuk pergi ke sekolah.


Aku merindukan.. Lula. Batinnya kalut.