
"Mama kita jadi kan ke rumah Lula?" Jereni duduk di jok mobil depan dan mengaitkan sabuk pengaman ke tubuhnya.
"Uh huh. Kita pergi ke toko buah dulu, ya? Mama mau membeli buah tangan."
Jereni mengangguk dan Rwka menancap gas dan mobil melaju.
***
"Hai Yejin!" Seseorang memanggil Yejin dari belakang. Lelaki itu berhenti dan menoleh. Ia melihat Erynav duduk di kursi roda sendirian dan tanpa mengenakan seragam sekolah.
"Bagaimana keadaanmu?" Yejin menanyakan hal itu bukan karena peduli, tapi penasaran.
Erynav tersenyum merasa dirinya diperhatikan oleh Yejin.
"Aku masih susah untuk berjalan."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Bertemu dengan Tuan Bogdan."
"Erynav ayo kita kembali." Seorang wanita menghampiri Erynav dan gadis itu menoleh.
"Yejin aku harus kembali." Erynav masih berada di tempat untuk menunggu jawaban Yejin. Yejin mengangguk dan berkedip beberapa kali dengan lambat.
"Ah iya kau mau kembali bersama? Kami melewati perbatasan. Bisa kan ma?" Erynav menatap mamanya dan wanita itu tersenyum sambil mengangguk.
"Terimakasih, Erynav. Tapi aku minta maaf, tidak bisa kali ini." Kata Yejin datar dan Erynav mengerti itu. Gadis itu memutar bola matanya dan tersenyum kecu.
"Baiklah, sampai jumpa Yejin!" Erynav mengangguk kepada mamanya dan mereka pergi dari tempat itu kemudian.
Yejin mengendikkan bahu dan berbalik untuk mengambil sepedanya di parkiran.
"Aku sudah sangat terlambat." Ia menggelengkan kepalanya dan pergi berlalu.
***
Lula tengah duduk di pinggir kolam renang sambil meminum jus alpukat. Mamanya keluar terlalu lama dan ia sangat bosan hanya duduk saja dari tadi.
"Aku jadi ingat sesuatu." Gadis itu tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. Seketika itu air di dalam kolam renang terangkat. Lula memutar-mutar tangannya dan air terbang menyesuaikan pergerakan tangan Lula.
"Dari mana aku mendapat kekuatan ini?" Ia menggelengkan kepalanya dan masih dengan kegiatan itu.
"Kakak sedang apa?" Lula terkejut samping menjatuhkan gelas dan itu pecah. Ia membelalakkan matanya ketika melihat Yefy berdiri mematung di belakangnya.
Jantung Lula berdetak kencang dan sungguh kencang. Apakah Yefy melihat itu?
Lula berdiri dan menatap adik laki-lakinya mencoba mencari tahu apakah Yefy menyaksikan yang dilakukan Lula atau tidak.
"Mama dimana?" Gadis itu mencoba membuat Yefy sibuk memikirkan dimana keadaan mamanya.
"Di luar. Jadi, tadi kakak buat air itu terbang, ya?" Yefy mendekat dan melihat kolam renang.
"Apa yang kau bicarakan?" Lula mencoba menahan Yefy. Lantainya agak licin jadi berbahaya jika Yefy berjalan di sana.
"Kakak lakukan lagi lakukan lagi! Kau seperti Aang!" Yefy merengek meminta Lula melakukan itu. Jadi benar jika bocah laki-laki itu melihat Lula mengendalikan Air. Ia harus apa? Bagaimana jika adiknya mengadu ke mama dan semua orang tahu hak ini.
Lula masih terdiam sampai Sofia datang. "Yefy kau harus bersih-bersih terlebih dahulu." Sofia berhenti dan kedua anaknya menoleh.
"Kau di sini, Lula? Jereni datang berkunjung. Kau temuilah... " Wanita itu berhenti berbicara ketika melihat pecahan gelas di samping meja.
"Bagaimana gelas itu bisa pecah?"
"Yefy datang mengejutkan aku dan tak sengaja aku menjatuhkan gelas ini. Maafkan aku mama akan aku bersihkan." Lula berjongkok untuk mengambil pecahan gelas itu namun Sofia mencegahnya.
"Jangan Lula. Nanti kau terluka. Biar mama saja yang membersihkan itu."
Lula mengangguk dan berdiri.
"Mama tadi aku lihat kakak me-"
"Kau bilang ada Jereni? Aku akan bertemu dengannya sekarang."
Sofia mengangguk. "Yefy kau harus mandi." Sofia pergi berlalu untuk menyiapkan Yefy mandi dan laki-laki kecil itu menggembungkan pipi merasa dirinya diacuhkan.
***
"Bisakah kau menemaniku menemui Bryan?"
"Bryan? Kau serius?"
"Itulah keputusanku. Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini."
"Matvei kau tahu dia bukan orang yang dengan begitu saja mau menerima apapun alasanmu."
"Jadi, kau punya rencana untuk memperbaiki hal ini?"
Perempuan itu terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Aku tidak bisa membiarkan dia membatalkan perjanjian kita. Kita harus melakukan itu, demi kemanusiaan. Tidak selamanya makhluk itu perusak, dan tidak seharusnya Bryan melakukan semua ini."
"Aku tahu, tapi bagaimana Jika Bryan tetap pada keputusannya dan kita hanya akan terluka jika menemuinya?"
"Elliot. Dia tidak akan melukai kita. Aku yakin jika kita menjelaskan dan memberinya bukti, dia akan mengerti."
Perempuan itu masih tidak setuju dengan rencana Matvei. "Matvei itu percumah saja."
"Aku tahu seseorang menjadi mata-mata karena Bryan masih tidak percaya dengan kita. Itulah yang harus kita lakukan. Membuat Bryan percaya seratus persen dengan kita." Matvei menyatukan kedua tangannya dan membuat perempuan di depannya mengerti.
"Mari kita coba." Kata perempuan itu kemudian.
***
"Jereni aku masih tidak tahu apakah mama akan memperbolehkan aku pergi ke Italy. Kurasa dia akan sangat khawatir jika aku akan pergi." Lula masih berbicara dengan Jereni di kamarnya.
Kurasa Lula lupa dengan ulang tahunnya. Dia bahkan tidak membahas tentang hari itu dan aku yakin sekali dia melupakannya. Batin Jereni. Gadis itu terdiam dan berpikir kemungkinan yang bakal terjadi.
Insangnya akan sempurna ketika usianya tepat 15 tahun. Seharusnya aku bisa memiliki cukup bukti untuk hal itu, dan aku yakin Lula akan percaya.
"Hei Jereni kau tidak mendengarkan aku, ya?" Lula menepuk lengan Jereni dan Jereni tersadar dari lamunannya.
Jadi aku harus mencegah untuk Lula pergi ke Italy. Kalau tidak, ia akan terkejut ketika melihat insang sempurnanya. Jereni membelalakkan matanya.
"Lula. Aku tidak tahu apa keputusan bibi tentang kau akan pergi ke Italy. Tapi jika kau tetap ingin pergi ke Italy, kurasa bibi Sofia akan sedikit tidak setuju."
"Aku tahu, Jereni. Aku juga tidak terlalu memikirkan itu, mengingat mama akan sangat khawatir. Kau tahu? ia menjadi lebih protektif denganku sekarang."
Jereni tersenyum. "Sebaiknya seperti itu.."
"Lula."
"Apa?"
"Bagaimana kau bisa masuk rumah sakit dan bagaimana kau bisa menggantikan Erynav?"
Lula menghela nafas untuk mulai menjelaskan semuanya. "Ceritanya sangat panjang, Erynav."
"Aku bisa mendengarkannya."
"Mungkin aku akan mempersingkat itu."
Jereni mengangguk dan Lula terdiam sejenak untuk bersiap menceritakan semuanya pada Jereni.
"Kau tahu akhirnya aku bisa melihat Yejin berlomba."
"Aku pergi ke Ibu kota bersama papa, dan sampai di sana."
"Awalnya Erynav mengikuti perlombaan dengan Yejin, di ronde awal. Tapi entah kenapa Erynav terjatuh dan ia terlalu kesakitan. Jereni aku melihatnya sendiri, cideranya terlihat parah."
"Tuan Ivan meminta bantuan dan kami hanya berdua. Dia memintaku untuk menggantikannya dan akhirnya aku mau."
"Tunggu. Apa itu diperbolehkan? Kau menggantikan Erynav."
Lula mengangguk. "Tapi itu akan mengurangi banyak skor. Tuan Ivan dan Tuan Bogdan akhirnya setuju aku ikut. Jadi kami berdua berlomba bersama dan mendapatkan skor tertinggi."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku merasakan seseorang mendorongku ketika berjalan di pinggir kolam renang, setelah perlombaan usai dan kami dalam perjalanan mengambil hadiah kami."
"Aku tercebur ke dalam kolam renang. Kupikir aku akan baik-baik saja. Aku terbiasa di air jadi aku tidak terlalu khawatir. Tapi tiba-tiba aku melihat kakiku-" Lula berhenti. Ia hampir saja berbicara kepada Jereni tentang apa yang ia lihat di kolam renang.
"Kakimu kenapa?"