Luna Rusalka

Luna Rusalka
132



Lula mencoba bangkit dari tubuh Yejin dan berhenti ketika mata keduanya bertemu.


Getaran ini.. Yejin bergumam dalam hati. Ia merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan. Hatinya bergetar dan jantungnya berdegup tidak karuan. Matanya sedikit melebar menatap Lula yang menatapnya. Wajahnya sangat cantik terlihat dari bawah begini, apalagi rambut panjangnya yang lepas dari ikat rambut, tergerai bebas menyentuh wajahnya.


"Yejin?" Pandangan Lula masih tak lepas dari Yejin.


Yejin mengangkat singkat dagunya dan wajah Lula menjadi lebih serius.


"Kau baik-baik saja?" Dengan nada lembut Lula bertanya lagi dan masih dengan posisi yg sama.


Yejin mengangguk.


"Kau yakin? Jantungmu terlihat tidak baik-baik saja." Wajah Lula berubah datar dan seketika Yejin membuka kedua matanya lebar dan langsung bangkit dari posisi tadi.


"hahahahHAHAHAHAHAHA" Lula tertawa keras. Yejin ketahuan merasa gugup tadi. Lula memukul pelan pundak Yejin dan laki-laki itu menyembunyikan raut wajahnya. "Kau memang tidak pernah berubah, Yejin." Reaksi Yejin masih sama seperti dulu. Ketika ia gugup ia akan melakukan hal itu. Lihatlah sekarang wajah Yejin memerah dan laki-laki itu langsung keluar ruangan.


Lula hanya menggeleng sambil masih tertawa. Ia duduk di tempat tidur dan meraih gelas lalu meminum airnya. "Segar sekali."


***


"Siapa perempuan itu?" Bryan tengah melihat rekaman cctv di ruang cctv dan J.c menggeleng. "Belum pernah melihat."


"Apa dia pekerja di sini?" J.c balik bertanya dan Bryan menggeleng.


"Kurasa bukan." Jawab Bryan mantap. "Kalaupun pekerja baru maka aku pasti tahu." Mereka masih melihat cctv kejadian tadi ketika J.c berhasil menjatuhkan Matvei tapi seorang perempuan menyelamatkannya.


"Seharusnya kau memastikan dia terjatuh baru kau pergi." Bryan sedikit kesal, rencananya untuk membunuh Matvei gagal. "Buat rencana baru, dan pastikan kali ini berhasil."


J.c mengangguk dan Bryan beranjak dari tempat duduk untuk pergi.


"Satu lagi." Bryan berhenti dan J.c menoleh. "Cari tahu siapa perempuan itu."


***


"Rasakan setiap inci jiwaku di aliran darahmu, Lula. Kau tidak akan pernah lepas dari takdirmu.. "


Suaranya semakin memudar dan aku tidak tahu apa yang aku hadapi sekarang.


Plttcccc semuanya memutih dan aroma obat-obatan menyeruak ke dalam hidungku. Seketika itu aku tahu kalau mataku sudah terbuka.


Mataku benar-benar terbuka dan melihat tembok putih dan beberapa obat-obatan.


"Pagi, sayang.." Suaranya lembut, dan terlihat berjalan ke sana kemari menyiapkan sesuatu. "Apa tidurnya nyenyak?" Dia berhenti tepat di depanku dan aku mengangguk.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik?" Dia tersenyum dan itu manis sekali. Aku mengangguk. Hanya lemas sedikit, mungkin karena baru bangun tidur tapi tidak apa. Pundak dan punggungku juga sedikit pegal, mungkin terlalu lama berbaring.


"Dokter akan melakukan beberapa tes dan jika kau sudah benar-benar sembuh, kau boleh pulang besok."


Aku tersenyum dan dia merasa bahagia. Akhirnya aku bisa melihat rumah lagi. "Ma.." Panggilku padanya. Ia berhenti dan bertanya ada apa? kau butuh sesuatu? Lalu aku mengangguk dan menjawab kalau aku perlu ke toilet.


"Baiklah, akan kubantu." Mama berjalan mendekat dan aku mengangkat tubuhku. Dia membantuku turun dari tempat tidur dan menuntunku ke toilet. "Mama akan keluar sebentar, dan suster akan segera datang membawa sarapan." Mama membantuku masuk ke toilet dan aku mengangguk, baru ia keluar dengan tenang.


Pundak ku sangat pegal dan lebih susah untuk menggerakkan kedua tanganku. Melihat air di bak, menjadi lebih ingin untuk berenang. Sudah lama aku tidak ke sekolah dan Pak Jackie pasti kewalahan mengurus club renang. Kau tahu aku satu-satunya orang yang masih setia di club itu. Yejin jarang di sana karena ia masih fokus untuk olimpiade atletik.


Beberapa saat di toilet dan aku membuka pintu untuk keluar. Kakiku masih sakit sedikit untuk berjalan, tapi aku bisa mengatasinya.


"Suster belum kemarin?" Kuyakin aku cukup lama di toilet namun belum ada sarapan di sini. Aku sangat lapar. Kemarin aku tidur terlalu cepat dan tidak sempat makan malam.


"Lula.."


"Ya?" Lula menoleh ke belakang dan ia sadar, di belakangnya hanya toilet. Pintu ada di sebelah kanan dan ia berjalan ke sana. Melihat sekitar lorong, tapi pagi ini lorong sangat sepi dan tidak ada seorangpun. Dia mengendikkan bahu dan kembali masuk ke dalam.


"Lula..."


Lula menoleh ke kiri. Rasanya suaranya berasal dari toilet dan apakah ini masuk akal?


"Aku tidak percaya hantu. Tapi apakah ini benar-benar mereka?" Suaranya memang pelan dan hampir tidak terdengar namun Lula tahu ada sesuatu yang mencoba memanggilnya. Membuat ia sadar dan menghampiri sesuatu itu.


"Lula.."


"Keluarlah! Aku tidak takut!" Lula terlihat gemetar ketika sebuah suara muncul kembali.


"Lula?" Tangan seseorang menyentuh pundak Lula dan perempuan itu menjerit. "aaaaAAAAAAA!" dengan mata yang masih tertutup, Lula memukul apapun yang menyentuhnya dengan keras.


"Berhenti, Lula. Ini aku." Tapi Lula masih tidak mau berhenti. "Kau hantu! Pergi ana!"


"Lula buka matamu!" Yejin meraih pundak Lula dan memeganginya. Lula membuka kedua matanya dan terkejut. "Yejin?"


"Kau baik-baik saja?" Lula mengangguk dan melepaskan diri dari Yejin. "Maafkan aku." Lula berjalan ke tempat tidur dan duduk di sana.


Ia menggeleng dan membuang semuanya. "Ini hanya imajinasku." Gumam Lula lirih. "Kau tidak ke sekolah, Yejin?" Ini masih pagi dan Yejin sudah datang.


"Ini hari Sabtu, sekolah libur."


"Apa iya?" Lula masih terus bergumam sendiri. "Oh iya!" Ia menepuk jidatnya lirih. Terlalu lama di rumah sakit, membuat pikirannya kacau dan melupakan beberapa hal.


"Kau tidak bersama Jereni, Yejin?"


Yejin duduk di kursi dan menggeleng. Keadaan menjadi agj canggung karena Lulamasih terbawa suasana tadi.


"Beberapa hari ini tidak melihatnya. Apakah dia baik-baik saja?" Lula berbaring di tempat tidur. "Kenapa suster lama sekali, ya?" Dia bergumam lirih tanpa terdengar siapapun. Perutnya keroncongan dan tidak ada makanN di sini. Yejin juga tidak membawa makanan, dan oh ayolah kenapa hal ini terjadi saat suasananya tidak pas.


"Dia baik-baik saja. Kau tahu minggu depan dia akan mengikuti olimpiade Muai Thai di luar kota, makannya akhir-akhir ini terlihat sibuk." Lula mengernyitkan dahi. Masih mencerna perkataan Yejin, mengingat dia akan berpikir terlalu lama ketika sedang kelaparan. Lula terdiam tanpa merespons.


"Lula, kau baik-baik saja?" Yejin menyadari hal itu lalu berdiri, namun Lula mencegahnya kemari. "Aku baik-baik saja."


Matanya membelalak kaget dan sepertinya dia terkejut. "Benarkah? Oh ya ampun kenapa dia tidak memberitahuku?"


Pantas saja dia tidak kemari akhir-akhir ini, dan sibuk dengan latihannya. "Jereni pasti sedang berlatih dengan keras. Yejin, menurutmu aku diizinkan melihat Jereni tidak ya?" Lula terlihat berpikir keras, yang padahal dia hanya bergurau. Seminggu lagi, mungkin orang tuanya memperbolehkannya. Dia pasti akan membaik dalam waktu singkat.


"Jika kau sudah benar-benar sembuh, aku rasa bolehboleh saja. Tapi kuyakin pasti kau tidak akan diperbolehkan ke sana sendirian." Lula tersenyum. "Kau akan menemaniku, kan?"


"Maaf nona, terjadi sesuatu dan saya baru saja membawakan nona sarapan." Seorang suster mengetuk pintu and masuk membawa troli dorong berisi sarapan untuk Lula.


"Akhirnya.."


Yejin mengerutkan alis dan berbicara dalam pikirannya. "Dia menahan lapar dari tadi?"


Suster menyiapkan meja kecil di tempat tidur Lula dan meletakkan semangkuk bubur, telur tim, air putih dan beberapa obat-obatan. "Nona makan ini, lalu jangan lupa minum obatnya. Perlu saya bantu?"


"Tidak terimakasih, saya bisa sendiri."


"Baik, nona. Saya akan segera pergi." Suster mendorong troli dan keluar ruangan.


Lula langsung membuka plastik yang menutupi mangkuk dan memakan isinya dengan lahap, tanpa memperdulikan Yejin yang dari tadi menatapnya.


"Kau menahan lapar dari tadi, Lula?" Yejin sudah mengira ini terjadi, mengingat sikap Lula yang tidak biasa dari tadi. Laki-laki itu akhirnya tau kalau temannya kelaparan dari tadi.


Lula menghentikan makannya dan mematung. "oh ya ampun aku malu sekali." Wajahnya sedikit memerah.


***


Tok tok tok


Matvei berdiri di depan pintu dan mengetuknya perlahan beberapa kali. Ia masih menunggu untuk pintu terbuka dan sang empu keluar dari persembunyiannya. Seharusnya kemarin ia pergi ke rumah sakit bersama Elliott. Namun sesuatu terjadi dan entahlah bagaimana keadaan Elliot sekarang.


Tok tok


"Apa dia tidak ada di rumah?" Elliot tidak mengangkat teleponnya dan kemana lagi kalau bukan di sini Matvei harus mencarinya. Perempuan itu pasti masih marah, dan entahlah kenapa perempuan begitu rumit? Mereka marah dengan hal sepele.


Pintu terbuka dan Matvei bersiap untuk menghadapi Elliott. Ketika pintu benar-benar terbuka dan ketika Matvei benar-benar melihatnya, kedua matanya membelalak kaget.