Luna Rusalka

Luna Rusalka
149



Hening. Satu kata yang mendeskripsikan suasana di dalam mobil saat ini. Lula tidak pandai memulai pembicaraan dan wanita di sampingnya terlihat serius membaca buku.


Kerinee menoleh ke arah Lula dan menatapnya. "Tidak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya?" Ia merasakan sesuatu dan otaknya masih berputar untuk mencari jawabannya. Sekejap ia berpikir kalau perempuan muda di sampingnya adalah apa yang ia cari, namun sama sekali ia tidak merasakan keberadaan kristal Swarovski.


"Muda, cantik, dan terlihat berasal dari keluarga terpandang. Tapi kenapa ia mengejar bis untuk pergi ke suatu tempat?" Ia masih menatapnya. Lula masih dengan posisi awal, melihat keluar jendela.


"Aku Kerinee." Kerinee sangat ingin tahu nama perempuan di sampingnya itu. Kerinee menutup bukunya dan menatap Lula sambil tersenyum. Lula menoleh dan menjauhkan tatapannya dari jendela mobil. Dia berniat ingin memperkenalkan diri namun Kerinee sudah terlanjur melakukannya.


"Beatriks." Lula menatap Kerinee dan tersenyum simpul. Dia tidak pernah menggunakan nama depannya ketika berkenalan dengan orang asing. Cukup tahu, dan itu meminimalisir sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan seperti penculikan atau sebagainya. Ia harus menyembunyikan identitasnya serapat mungkin dan kalau keadaannya tidak terlalu buruk, mungkin ia bisa mengenalkan diri lebih lanjut.


"Tidak terdengar seperti keponakanku. Tapi apakah dia menggunakan nama asli?" Pikirannya bersiteru dengan penglihatannya.


"Aku tidak mencoba membuatmu terganggu atau membuatmu tersinggung, tapi apa kau benar-benar terburu-buru?" Kerinee mencoba membuka pembicaraan dan berharap tahu informasi tentang lawan bicaranya itu.


Lula menaikkan sedikit alisnya dan berniat untuk ramah, namun entahlah ia sedang sangat malas untuk mengobrol. Tetapi, sepertinya tidak seharusnya ia terdiam seperti ini, padahal Kerinee sudaha memberi tumpangan. "Temanku sakit, dan aku tertinggal rombongan untuk menjenguknya."


Kerinee mengangguk dan terus saja memperhatikannya. "Apa ada sesuatu di wajahku?" Lula menyentuh wajahnya dan terlihat gugup.


"Tidak, kau baik-baik saja?" Kerinee memperhatikan setiap inci wajah Lula dan berharap dia menemukan sesuatu di sana, tapi nihil. Perempuan di sampingnya jelas tidak memiliki kristal Swarovski.


"Kau terlihat memperhatikan wajahku dari tadi, kupikir sesuatu menempel di sini." Lula tertawa ringan. Entahlah untuk beberapa saat, ia merasa cukup nyaman dengan Kerinee. Kerinee ikut tertawa dan mereka berdua tertawa tanpa ada hal yang lucu


"Kau sangat cantik, Lula. Bagaimana aku mengabaikan hal ini?" tawanya terhenti dengan raut muka kagumnya.


"Terimakasih. Kau juga sangat cantik, bibi." Lula tersenyum dan memperhatikan wajah Kerinee.


Kerinee menarik nafas lelah. Dia merasakan sesuatu


"Kau tahu bibi? Wajahmu mengingatkan aku pada tante Rwka. Dia memiliki rahang sepertimu."


Kerinee mengernyitkan dahinya. "Rwka?"


"Dia ibu sahabatku. Kalian memiliki beberapa persamaan." Lula terdiam. Ia terlalu banyak bicara dan ia harus ingat kalau wanita di sampingnya adalah orang asing yang baru ia kenal.


"Maaf aku terlalu banyak bicara."


Kerinee meletakkan bukunya dan menatap lurus ke depan. "Tidak masalah. Kau boleh bicara apa saja denganku."


Lula tersenyum simpul dan memperhatikan jalanan.


"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" Kerinee menatap Lula dan Lula mengangguk mempersilahkan.


"Maaf, tepat di depan!" Lula sedikit menaikkan kepalanya dan menepuk punggung kursi paman supir, dan laki-laki itu sontak menghentikan mobilnya.


"Maafkan aku bibi, tapi aku harus turun di sini. Dan terima kasih untuk tumpangannya." Lula sedikit membungkukkan badannya memberi hormat dan Kerinee mengangguk.


"Benar di sini?"


"Iya, bibi."


"Apa perlu ku antar sampai depan rumah?"


"Tidak usah, bibi. Jalan kaki dari sini tidak ada lima menit."


"Baiklah. Kau hati-hati."


Lula mengangguk dan membuka pintu mobil untuk keluar dari sana.


"Tunggu sebentar!" Kerinee meraih tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Jangan sungkan untuk menghubungiku jika kau benar-benar butuh bantuan dan mungkin, teman curhat?" Kerinee menyerahkan kartu nama kecil dan Lula meraihnya. "Tidak, aku hanya bercanda." Kerinee tertawa dan Lula tersenyum sambil berterima kasih.


Mereka berdua benar-benar berpisah dan Kerinee menutup mobil perlahan.


"Gadis itu benar-benar membuat Ratu berubah." Kata laki-laki di depan di dalam hati dan Kerinee mengubah raut mukanya menjadi serius.


"Bergumam di dalam hati lagi, Aldway?" Kata Kerinee sambil menatap keluar jendela. Aldway tahu kalau Ratunya bisa membaca pikirannya dan laki-laki itu hanya tersenyum tipis.


"Maaf ratu, tapi kalian terlihat sangat akrab. Apa ratu tidak curiga?" Aldway memang benar. Bukankah Ratunya telah berubah? Ia terakhir bersenda gurau seperti yang dilakukan tadi adalah ketika Keponakannya, Lula masih berada di cheoreon kingdom.


"Kau benar, Aldway. Aku terlalu larut dengannya sampai aku tidak memperhatikan perubahan sikapku."


***


"Selama Lula tidak membawa ini, Kerinee bahkan Kalula tidak akan bisa menemukannya. Aku juga sudah memberinya mantra, dan ia tidak akan pernah terdeteksi." Romanov menginjak pedal gas dan mobilnya melaju berbalik dengan mobil hitam Kerinee. Ia selalu berada di belakang Lula dan ia juga tahu kalau Lula telah bertemu dengan Kerinee dan membuatnya cukup khawatir, pasalnya ia takut Kerinee akan tahu kalau perempuan yang bersama merupakan seseorang yang tengah ia cari.


"Kau akan aman selama ayah berada di belakangmu, Lula." Romanov tidak akan membiarkan Lula dalam bahaya lagi, tapi ia juga harus setransparan mungkin, agar Lula tidak merasakan keberadaannya, atau ia akan curiga.


Sampai kapan Romanov melindungi Lula? Ia sudah berjanji pada diri sendiri, untuk terus berada di belakang Lula sampai usianya genap 17 tahun. Sampai saat itu tiba, ia harus menjauhkan Lula dari air laut. Jika perempuan itu menyentuhnya, usahanya selama ini akan sia-sia. Sama saja ia menyerahkan Lula kepada ibu kandungnya yang kejam dan dipenuhi ilmu hitam itu.


"Kalau semua ini tidak terjadi, kita sudah hidup bahagia. Aku, Kalula, dan kau, Lula. Tapi takdir membawa kita ke sisi yang berbeda. Aku tidak akan membiarkanmu berubah menjadi duyung. Hidup sebagai separuh duyung dan manusia tidaklah mudah. Kau harus berendam beberapa jam setiap harinya, dan itu bukanlah sesuatu yang mudah."