
Tiga jam dan mengapa aku masih di sini? Ekor ini menyusahkan ku untuk bergerak dan kenapa mimpi ini lagi?
Aku sudah lelah, aku sudah capek dengan mimpi ini dan membuatku lemah di dunia nyata.
Apakah seseorang ingin menunjukkanku sesuatu? Apakah aku perlu tahu suatu kebenaran? Apa? Aku tidak mengerti sama sekali.
Setiap aku bermimpi, aku selalu berada di tempat ini dan melihat seorang lelaki dan perempuan yang sedang membicarakan sesuatu dan aku sama sekali tidak paham itu.
Aku sudah bosan, Tuhan. Aku sakit. Tapi kenapa mimpi ini tidak selesai? Sampai kapan?
***
Kenapa aku memikirkan Jereni sekarang? Apa aku harus menjenguk nya? Satu Minggu dan dia masih sakit, tidak masuk sekolah. Kasihan Jereni, tapi rumahnya jauh, papa tidak bisa mengantarkan aku ke sana.
"Selamat pagi, Lula." Yejin meletakkan tasnya dan duduk di sampingku. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku merindukan Jereni.." Aku kembali melamun, memikirkan bagaimana aku bisa menjenguk Jereni.
"Nanti aku kosong latihan. Kita bisa menjenguknya bersama-sama." Aku menatap Yejin dan dia mengangkat bahu mengisyaratkan bagaimana? setuju?
"Rumah Jereni jauh, Yejin. Kita ke sana naik apa?"
"Ini hari Kamis, Lula. Sekolah berakhir pukul 11.00 Kita masih punya banyak waktu untuk pergi ke sana." Yejin meyakinkanku dan bukankah aku bertanya bagaimana kami ke sana?
"Kita akan naik bis." Tapi aku belum meminta izin kepada mama dan papa. apakah akan diperbolehkan?
"Bagaimana aku mengabari mama mau ke rumah Jereni?"
"Aku membawa ponsel dan itu ada di loker." bisik Yejin mendekat dan menutupkan tangannya ke telingaku. "Nanti kita menelpon mama kamu."
Aku kurang setuju sebenarnya, tapi papa dan mama juga sibuk dan tidak bisa mengantarku. Berpikir sebentar dan akhirnya aku menyetujui ajakan Yejin.
Lagi pula, aku bisa meminta izin mama nanti sepulang sekolah.
***
"Mamaaaa Yefy pulang!!" Yefy berteriak di depan pintu sambil berusaha membuka pintu, namun dikunci dari dalam.
"Mamaaaaa" Yefy mengetuk pintu keras dan Sofia menyadari hal itu.
"Iyaa, sebentar. Tidak sabaran sekali." Sofia meletakkan pisau yang tengah ia gunakan dan berjalan keluar dapur.
Dia mengambil kunci dan membuka pintu, terkejut melihat Yefy, putranya berada di luar.
"Yefy? Kau sudah pulang?"
"Tadi Bu guru meliburkan kami pukul berapa ya?" Yefy berpikir keras dan mencoba menjelaskan.
"Kenapa Bu guru meliburkan kamu?" Sofia
berdiri dan melipat kedua tangannya.
"Itu karena, bapak kepala harus kembali."
"Kenapa bapak kepala harus kembali dan bagaimana kau pulang hey!"
"Aku tidak tahu. Mama jangan marah tadi bibi Zoya dan Abigail yang mengantarku. Mereka langsung kembali karena mama tidak cepat buka pintu." Yefy menarik tangan Sofia dan memohon agar tidak dimarahi.
"A-a..-" Telepon rumah berbunyi dan Sofia menghentikan perkataannya.
"Tetap di sini." Yefy mengangguk dan Sofia masuk untuk mengangkat telepon.
"Halo? Selamat Siang."
"Selamat siang, Nyonya Sofia?"
"Dengan siapa ini?"
"Saya Miss Ivya. Hanya memastikan apakah putra anda Maryim Yefin sudah sampai rumah? Tadi kepala sekolah kami berduka dan para guru harus memulangkan murid, Yefin bersama Nyonya Zoya karena kami tidak bisa menghubungi Anda tadi,"
"Ohhh Miss Ivya. Iya, Yefin sudah sudah sampai rumah. Maaf, tadi telepon rumah kami memang trouble sebentar."
"Baiklah, kalau semuanya baik-baik saja, terimakasih.. selamat siang."
"Saya yang berterimakasih, baiklah Selamat siang." Sofia meletakkan teleponnya dan berjalan menghampiri Yefy.
"Baiklah. Kau tidak bersalah. Masuklah!" Yefy bersorak ria dan memasuki rumah.
"Yey! Aku akan bermain puzzle!"
***
Yejin tengah membereskan buku di lokernya dan kemudian mengambil ponsel.
"Ini." Yejin menyerahkan ponselnya.
Lula meraih ponsel Yejin dan mulai mengetikkan nomor telepon rumahnya.
Beberapa saat menunggu dan tidak ada jawaban.
"Telepon rumahku mati, Yejin."
"Coba menelpon nomor mama kamu."
"Aku tidak ingat. Aku juga tidak membawa daftar nomor telepon."
"Coba telepon sekali lagi."
Lula menelpon rumahnya sekali lagi namun telepon rumahnya berada di panggilan lain.
"Bagaimana?"
"Mama sedang menelpon seseorang." Lula menatap Yejin.
"Apa kita tunda saja?" Punggung Yejin menempel ke tembok dan menatap Lula meminta jawaban.
Aku harus mengambil keputusan kali ini. Batin Lula berpikir keras.
"Tidak, Yejin. Aku bisa mengabari mama nanti di perjalanan. Sebaiknya kita berangkat sekarang agar tidak terlalu siang sampai rumah Jereni." Lula menyerahkan ponsel Yejin dan mereka berjalan keluar.
***
"Jereni, kau harus makan." Mama Jereni mencoba membujuk putrinya untuk segera makan, karena harus meminum obat.
Tubuh Jereni semakin lemas setiap harinya dan itu membuat kedua orang tuanya membawa Jereni ke rumah sakit.
Dokter mendiagnosis Jereni demam biasa, dan lemas hal yang biasa jadi mereka tak perlu khawatir. Namun, Jereni tak kunjung membaik.
Jereni hanya terdiam dan memperhatikan luar Jendela. Dia tak tertarik dengan apapun sekarang. Bahkan, untuk makanpun sepertinya tidak menarik sama sekali. Dia masih memikirkan mimpinya itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya kini. Dia benar-benar tidak tahu.
Setiap dia tidur, dia selalu memimpikan putri duyung dan segalanya yang terjadi. Mimpi adalah bunga tidur. Namun, mimpi yang sama dan seakan memiliki alur dan berhari-hari itu tidak wajar. Sepertinya seseorang sedang menunjukkan sesuatu.
***
"Ayo, Lula!" Yejin melangkah untuk menaiki bis dan meletakkan sepedanya di bagian belakang bis.
"Sini," Yejin membantu Lula meletakkan sepedanya dan mereka masuk ke bis dan membayar terlebih dahulu.
Lula berjalan di depan Yejin ke belakang dan mencari kursi kosong.
Di bangku paling belakang, mereka akhirnya duduk.
Perjalanan cukup jauh, dan mereka tidak saling berbicara. Lula menatap luar jendela dan melamun. Sedang Yejin, memperhatikan penumpang. Itu salah satu kebiasaan Yejin, dia selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan saksama.
Lula's POV
Apa yang dirasakan Jereni sekarang? Kenapa dia tak kunjung sembuh dan tidak mengangkat ketika aku menelepon nya? Apa dia marah denganku?
Aku sangat gugup pergi ke rumah Jereni sekarang, apalagi naik bis dengan Yejin. Kami tidak banyak bicara dan dia juga tidak berbicara denganku.
"Yejin, aku harus menelpon mama sekarang." Aku menatap Yejin dan meminta meminjam ponselnya.
"Baiklah, sebentar." Yejin mengambil ponselnya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Lula.
Lula menckba menyalakan ponsel Yejin namun mati kembali karena baterai nya habis.
"Yah Kok mati.."
"Kenapa?" Yejin bertanya dan menatap Lula mencari jawaban.
"Sepertinya baterainya habis."
"Aku lupa men charger nya. Semalam menginap di loker sekolah." Yejin menepuk jidatnya dan meminta maaf kepada Lula. "Tidak apa, Yejin." Lula menyerahkan ponsel Yejin dan menatap jendela lagi.
"Jadi, bagaimana sekarang? Kita kembali saja?"
Lula masih berpikir. Dia menarik nafas dan menatap Yejin mantap. "Tidak. Ini sudah hampir sampai. Nanti aku akan meminjam telepon rumah Jereni untuk mengabari mama." Lula tersenyum.
"Lula .." Yejin menyentuh tangan Lula dan menatapnya menyesal.
"Bukan salahmu, Yejin.." Lula menyentuh tangan Yejin dan meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.