
Ketika Redrik sampai, Elliot mengatakan kalau ia salah telah memilih Matvei dan saat itu Redrik sangat bahagia. Ia juga mengatakan kalau Matvei bukan pria yang baik dan apa yang selama ini Elliott lakukan adalah kesalahan besar. Elliott pergi ke kamarnya dan meminta Redrik tetap berada di sini, untuk bersamanya.
Namun, orang-orang itu masih belum puas dan meminta Elliott untuk mengatakan langsung di depan Matvei. Belum sempat Elliot menelpon Matvei untuk bertemu, seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam rumahnya, dan terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya. Matvei datang, dan dengan dorongan ancaman, Elliott mengatakan kalau ia tak mau lagi menemui Matvei. Ia mengatakannya di depan Redrik, dan beberapa orang yang mengancamnya.
Matvei sungguh terkejut dan meminta maaf persoalan kemarin. Ketika Matvei tidak bisa menemani Elliott ke rumah sakit untuk menjenguk Lula, namun permasalahannya bukan itu. Elliot tahu kenapa Matvei tidak menemuinya waktu itu. Elliott memang marah dan tidak tahu kenapa Matvei tidak bisa dihubungi, namun pikirannya terbantahkan ketika orang-orang yang mengancamnya itu menunjukkan rekaman ketika Matvei didorong dan mengatakan kalau itu kejadian kemarin ketika seharusnya Matvei pergi ke rumah sakit.
Elliott hanya ingin Matvei selamat. Walau ia harus berpura-pura menjauh dan tidak ingin kembali, Elliott akan melakukan itu sampai ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana pun caranya.
Hal paling menyakitkan adalah ketika melihat Matvei pergi dari hadapannya dan mengiyakan apapun yang Elliot katakan. Semenjak itu, hatinya hancur dan ia terus mengurung diri di kamar. Tapi, ia teringat satu janji yang ia katakan setelah Matvei pergi.
"Aku akan menjalani ini sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengatasi hal itu. Walau nyawaku adalah taruhannya, namun Matvei harus tetap hidup, dan tahu kalau aku sangat sangat mencintainya."
***
Lula keluar dari ruangan bersama Yejin. Dia menggandeng tangan Yejin dan merasa sangat bahagia. Tidak apa seperti ini, setidaknya Lula masih terus bersama Yejin. Ia tidak tahu kalau ia mengatakan perasaannya, apa yang akan terjadi. Hal terburuk, sikap Yejin akan berubah.
Rwka dan Sofia berjalan di depan Lula dan Yejin. Kemudian, Jereni dan Yefy berjalan di barisan paling depan. Mereka melewati lorong dan berhenti di depan Lift. "Papa dimana?" Tanya Lula dan menghentikan langkahnya. Ia tidak melihat papanya sedari tadi.
"Sudah di bawah." Kata Sofia dan mereka berenam masuk ke dalam lift, ketika lift terbuka dan mengeluarkan beberapa orang.
Sebelum lift benar-benar tertutup, Lula menoleh ke arah kanan. Ia merasakan sesuatu. Seperti seseorang tengah mengawasinya dari belakang, dan rasanya sangat aneh.
"Perasaan apa ini?" Entahlah, tapi sesuatu seakan membuat hatinya tersentuh dan ingin sekali mengeluarkan air mata.
"Aneh. Seperti halaman kosong dalam hidupku, mulai terisi. Aku tidak pernah merasakan ini. Air mataku ingin keluar, tapi tertahan. Sesuatu mencoba keluar dari diri terdalamku, dan rasanya sungguh menyakitkan. Sampai hal ini membuatku ingin menangis."
"Merasa seakan tidak berdaya, aku berteriak di dalam pikiranku. Ketika pintu lift benar-benar tertutup, aku merasa ada yang kurang. Bagaimana aku mendeskripsikan ini, tapi kau tahu pikiranku sangat kalut. Yejin? Sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan Yejin. Perasaanku kali ini, tidak ada sangkut pautnya dengan laki-laki di sampingku ini."
Lula menoleh ke samping kanan. Ia mengamati Yejin sebentar dan tidak merasakan perasaan yang tadi ia rasakan. Kali ini, bukan Yejin.
Yejin menoleh dan menatap wajah Lula heran. "Ia memandangiku seperti itu?" Batinnya sambil mengernyitkan alis. Lula tersenyum dan Yejin langsung memalingkan wajahnya. Mendadak rona merah di pipinya muncul. ia merasa sedikit panas dan menyembunyikan wajahnya.
Lula memutar 90° wajahnya dan menghadap depan lagi. Lift masih di lantai 2 dan sebentar lagi mereka keluar. Lula menyentuh dadanya dan kosong. Ia tidak memakai kalung kerangnya dan entahlah dimana kalung itu Sekarang. "sejak kapan aku tidak memilikinya?"
Spontan ia bertanya pada Sofia di depan. "Mama dimana kalung kerangku?"
Sofia menoleh dan berpikir sebentar. Lalu ia menepuk jidatnya ingat sesuatu. "Mama baru menyadarinya kalau kalung itu rusak di bagian talinya, kau tahu mungkin gara-gara kejadian waktu itu." Sofia memelankan suaranya di bagian terakhir dan ia berhenti sebentar. "Niatnya mama mau membawanya ke ahli perhiasan dan membenarkannya, tapi mama lupa dan itu masih tersimpan di brangkas." lanjut Sofia sambil tersenyum. "Maaf Lula belakangan ini mama tidak ada waktu, tapi mama janji akan segera membawanya ke ahli perhiasan."
"Kau baik-baik saja?" Yejin bertanya. Lula telah melepaskan gandengan tangannya ketika mereka berdua masuk ke dalam lift. Entahlah tapi sesuatu masih menganggu pikirannya.
Lula mengangguk. Lift berhenti di lantai satu dan pintunya terbuka. Di depan sudah ada Mark sambil tersenyum dan semua orang bergantian untuk keluar.
"Kau habis ini mau kemana, Yejin?" Tanya Lula ketika mereka berdua keluar dari lift.
"Mengantarmu." Kata Yejin tanpa menatap Lula dan itu sukses membuat gadis tersenyum dan hatinya tengah berbunga-bunga.
Tiba-tiba Lula berhenti dan menoleh ke belakang. Ia tidak melihat seseorang yang ia kenal, hanya beberapa orang asing yang berlalu-lalang di belakang. Ia masih merasakan sesuatu. Seseorang tengah mengawasinya dan apa ini hanya imajinasinya saja?
"Ada apa?" Yejin menghampiri Lula dan gadis itu menggeleng. "Tidak ada, ayo!" Katanya lalu berjalan mendahului Yejin.
***
Istirahat makan siang berakhir. Semua karyawan di Black Squid Corporation kembali ke pekerjaannya masing-masing. Tidak terkecuali Cerez yang selesai memakan makan siangnya. Ia beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke kamar mandi. Merapikan pakaian dan riasannya.
"Aku penasaran apa yang flying swimmer makan." seorang perempuan berambut hitam pendek digerai bertanya dengan perempuan berambut coklat panjang di sampingnya. Mereka keluar dari kamar mandi dan Cerez berhenti. "Flying swimmer?" Apa maksudnya? Cerez berbalik lalu menahan dua perempuan tersebut.
"Ada apa?" Tanya perempuan berambut hitam itu.
"Aku mendengar kalian membicarakan flying swimmer. Bisakah kalian beritahu apa itu?" Cerez menatap keduanya, dan mereka saling bertatapan.
"Kau baru di sini?" Tanya perempuan berambut cokelat.
Cerez mengangguk. Memangnya wajahnya terlihat asing? Sehingga orang-orang yang bertemu dengannya selalu tanyakan hal itu.
"Dari distrik berapa?" Tanya si rambut cokelat lagi.
"Tiga, kurasa." Kata Cerez mengingat-ingat ia berasal dari distrik mana. Lalu kedua perempuan itu terlihat berbisik satu sama lain.
"Maaf tapi ini bukan ranah distrik 3." Rambut hitam meminta maaf. Mereka seakan menutupi apa itu dan Cerez harus cari tahu sendiri kalau mereka tidak mau memberitahunya.
"Apa aku harus tanya Noona soal flying swimmer? Ini terdengar aneh tapi apakah ini ada hubungannya dengan duyung? Apa itu nama lain untuk mereka? Tapi kenapa bukan ranah distrik 3 jika perusahaan ini memang menggunakan duyung untuk output mereka." Cerez menggelengkan kepalanya tidak mengerti dan semakin merasa aneh. "Aku harus mengumpulkan banyak bukti untuk menjatuhkan perusahaan ini." Katanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.