
"Lula bisakah kita bicara sebentar?" Lula berhenti dan berbalik.
"Yejin?" Ia merasa bingung. Seharusnya Yejin sudah pergi ketika Lula membuka gerbang rumahnya.
"Kita bicara di dalam saja." Lula membuka pintu dan mempersilahkan Yejin untuk masuk.
"Di sini saja .." Yejin menatap pintu tanpa bergeming. "Aku hanya sebentar.."
Lula mengangguk. Dia bersandar di tembok dan menunggu Yejin untuk berbicara.
"Apa kau akan.." Yejin menghentikan perkataannya. Dia berpikir lagi. Apa aku harus bertanya tentang hal ini?
"Akan apa?" Yejin menahan nafas dan dia bingung sekali.
Apa ini penting?
"Yejin apa yang mau kau katakan?"
"Lula apakah kau akan ke sekolah besok?" Lebih baik aku tidak bertanya itu. Itu sangat tidak penting, dan di hari dimana aku berangkat berlomba, Lula harus sekolah.
Yejin memilih untuk diam dan tidak menanyakan hal itu kepada sahabatnya itu.
"Iya.. Kenapa memangnya?" Lula merasa aneh kenapa Yejin bertanya seperti itu.
"Aku hanya ingin berangkat bersamamu." Yejin menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh dan tersenyum kaku.
Lula mengangguk mengiyakan. "Ok."
"Aku harus pergi. Sampai jumpa." Yejin berjalan mundur dan berbalik ketika menuruni tangga kayu, lalu benar-benar pergi dari tempat itu.
"Hati-hati Yejin!" Teriak Lula dan Yejin hanya mengangkat tangannya.
"Eyyoo!!!!" Yefy melompat dan mengejutkan Lula. "Kakak suka sama kakak Yejin yaa.." Goda Yefy sambil menarik tangan Lula.
"Yefy itu tidak lucu!!" Lula melepaskan tangan Yefy dan berjalan masuk rumah lalu menutup pintu.
"Kakak kakak jangan kunci aku kakak!!!!" Yefy memukul pintu dan pintu terbuka, Lula berdiri sambil tertawa puas. "Kau kena!"
***
Yejin's POV
Kenapa aku tadi? Lagian ini tidak penting. Dia juga harus bersekolah dan ....
"Yejin apa yang kau lamunkan dari tadi?" Mama menatap ku. Aku hanya melihat depan dan tidak menghiraukan mama.
"Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk.
"Jika kau punya masalah, kau bisa cerita dengan mama."
"Aku hanya lelah. Jangan khawatirkan aku." Mama mengangguk dan akhirnya terdiam. Dia posesif denganku akhir-akhir ini.
"Empat hari lagi kau mengikuti perlombaan, Yejin. Apa kau membutuhkan sesuatu? Baju renang baru? Atau kacamata??"
"Semuanya masih bagus. Aku tidak memerlukan apa-apa." Sebenarnya yang aku perlukan adalah Lula berada di sampingku ketika aku berlomba. Tapi aku merasa tidak enak juga kalau aku memintanya untuk menemaniku.
Lula digantikan, dan betapa sedihnya ia. Jika aku membahas tentang perlombaan itu, dia pasti akan merasa sedih.
***
Aku mencoba membuka mataku. Cahaya mentari membuatku silau dan mataku masih kaku untuk dibuka. Sebenarnya aku sudah terbangun dari tadi. Hanya saja tubuhku pegal-pegal dan susah untuk bangkit.
Punggungku menjadi sangat sakit pagi ini, dan ingatanku tentang kejadian kemarin masih sangat jelas. Apa yang dilakukan Jereni?
"Lula kau sudah bangun?!" Mama mengetuk pintu dan sedikit mengeraskan suaranya dari luar.
"Iya Lula mau mandi." Aku menutupi mataku dengan cahaya matahari dan mencoba duduk.
Duduk sebentar sambil mengucek mataku dan mencari handuk yang entah dimana.
"Mama handuk Lula dimana?" Aku berjalan ke pintu dan membukanya. Mama masih di sana dan menaikkan alisnya sambil membawa handuk ungu favoritku.
"Betapa kotornya handuk ini, Lula." Aku tersenyum dan menggaruk tengukku.
"Kalau mama tidak melihatnya, handuk ini akan berada di kamarmu selamanya dan kau akan terserang entahlah.. bakteri nya sudah sangat banyak sekali, Lula. Seharusnya satu Minggu sekali dicuci atau bahkan tiga hari sekali." Aku hanya mendengarkan. Pagi begini mama sudah mengoceh di depan kamarku.
"Iya, Lula minta maaf." Aku hanya nyengir dan meraih handuk itu dari tangan mama.
"Cepatlah, Yejin sudah menunggumu."
Apa? Memangnya ini jam berapa? Kenapa Yejin sudah di sini?
Hal ini sontak membuatku langsung melihat jam Beker di meja dan menatapnya. Ini masih pukul 06.00, masih pagi kenapa Yejin berangkat pagi-pagi sekali?
"Dah." Aku melambai pada mama dan menutup pintu.
***
"Sebentar Yejin, Lula masih mandi." Yejin mengangguk dan merebahkan punggungnya di sofa.
"Tumben kau ke sini pagi-pagi." Sofia masuk rumah dan menutup pintu.
"Saya pakai sepeda dan jarak rumah ke sini lumayan jauh. Kalau tidak berangkat pagi nanti bisa terlambat sampai sekolah, bibi." Yejin mencoba menjelaskan. Dia juga sudah bilang kepada Lula kalau mau berangkat bersama.
"Kau anak yang rajin, Yejin. Itu bagus." Yejin hanya mengangguk.
"Kau sudah sarapan?"
"Sudah, bibi."
"Kau mau sarapan lagi tidak?" Sofia tertawa dan masih dengan kegiatannya, membereskan ruang tamu.
"Tidak terimakasih,"
"Kalau mau kita breakfast sama-sama,"
"Bibi saja, saya masih kenyang."
"Baiklah, bibi ke dalam dulu, mau menyiapkan sarapan. Kau mau di sini saja atau masuk ke dalam?" Sofia berdiri menatap Yejin sambil membawa sapu lantai.
"Saya di sini saja, bibi."
Sofia mengangguk mengerti. "Maaf ya Yejin, kau jadi harus menunggu Lula terlalu lama."
"Tidak apa, bibi."
Sofia mengangguk dan masuk ke dalam.
"Aku juga yang kepagian dari rumah. Huftt.." Yejin meniup rambutnya dan merebahkan punggungnya lagi di punggung sofa.
***
Lula berpamitan kepada kedua orang tuanya dan berjalan keluar bersama Yejin. Mereka memakai sepeda untuk pergi ke sekolah. Itu hal yang lumrah di sekolah Lula maupun di daerah tempat tinggal Lula.
Menerapkan hidup sehat dengan membiasakan memakai sepeda ontel sejak di sekolah dasar.
"Bisakah kita pulang bersama juga nanti?" Mereka mengendarai sepeda beriringan dengan jalan yang lambat. Masih pagi, dan ada banyak waktu untuk sampai ke sekolah.
"Kau tidak berlatih?" Lula sesekali menengok ke Yejin ketika berbicara.
"Tidak di siang hari. Aku latihan dari pagi." Yejin memelankan sepedanya dan berhenti kemudian.
"Ada apa?" Lula menghentikan sepedanya.
"Sepertinya aku meninggalkan sesuatu." Yejin membuka tas ranselnya dan melihat di dalamnya.
"Kenapa?"
"Kacamata renangku tertinggal."
"Kalau aku kembali itu terlalu jauh." Yejin menutup tasnya dan memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Kau tidak perlu kembali. Pakai punyaku saja." Lula membuka tas nya dan mengambil kacamata renang hitamnya.
"Kau membawa kacamata?"
"Baju renang juga. Aku selalu membawanya." Dia tersenyum dan menyerahkan kacamata renangnya kepada Yejin.
"Terimakasih, Lula." Lula mengangguk dan menutup kembali tasnya.
Bukan kebetulan, memang Lula selalu membawa peralatan renang ke sekolah. Dia tidak diperbolehkan berenang, setidaknya melihat baju renangnya itu sungguh membuat ia senang.
"Ayo." Yejin mengayuh sepedanya dan Lula mengangguk.
***
"Jereni, kau jangan lupa makan siang dan ini bekalmu." Rwka menyerahkan bekal makan siang Jereni.
"Mama harus menemanimu masuk ke dalam."
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Aku sudah sembuh, mama.."
"Kau serius?"
Jereni mengangguk dan mencium tangan mamanya itu.
"Baiklah.." Rwka pamit untuk kembali dan Jereni hanya melambai.
"Hati-hati!" Teriak Jereni sebelum mobil mamanya benar-benar pergi.
Jereni berbalik dan menarik nafas panjang lalu tersenyum.