
Yejin berlari keluar dan bersamaan dengan kedua orang tuanya sampai di sini.
"Yejin?! Apa yang kau lakukan di sini?" Yeva terkejut melihat putranya yang baru saja ia antar ke bandara berada di sini. Bogrof hanya terdiam dan sama terkejutnya dengan istrinya.
"Ceritanya panjang dan aku harus pergi sekarang!" Yejin menepuk pundak mamanya dan berjalan ke ruang keluarga dan membuka lemari mencari kunci motor Mark.
"Yejin bagaimana kau bisa-" Yeva menghampiri Yejin dan laki-laki itu masih mencari kunci motor dengan tergesa-gesa.
"Ah dapat." Ia mengambil kunci berwarna silver itu dan menatap mamanya.
"Aku tidak mau hal bodoh terulang lagi. Mama di sini saja dan jangan khawatirkan aku."
"Tapi kau harus per ..... gi." Yejin berlari keluar dan Yeva penasaran apa yang sudah terjadi.
***
"Jereni ponselmu terus berdering. Mungkin mereka sudah menemukan Lula." Matvei menghentikan motornya dan Jereni hanya bisa mengangguk dan melihat siapa yang menelepon.
"Siapa?"
"Mama." Jawabnya mengangkat telepon.
"Akhirnya kau mengangkatnya. Jereni kau dimana?"
Jereni celingukan melihat dimana posisinya berada.
"E.. e di depan minimarket. Ada apa?"
"Ah itu dekat. Yejin bilang mungkin Lula berada di air terjun taman dekat perbatasan. Mama sedang menuju ke sana dan semua orang juga."
"Tapi bagaimana jika Lula tidak ada di sana?"
"Yejin sangat yakin dan cepatlah!"
"Yejin? Apa dia menelepon mama?"
"Nanti ku jelaskan. Sebaiknya kau ke sana sekarang mungkin semua orang juga sudah sampai."
Jereni mengangguk dan menutup telepon dan lekas memasukkannya ke sakunya.
"Ada apa?" Matvei bertanya karena penasaran dan ingin tahu.
"Mama menyuruhku ke air terjun taman dekat perbatasan. Mungkin Lula di sana. Ayo cepat!"
Matvei mengangguk kemudian menyalakan motornya dan Jereni membonceng di belakang.
***
"Cepat!" Mark turun dari mobil diikuti Alex. Mereka berlari untuk sampai di air terjun dan tidak melihat seorangpun di sini dan keadaan tempat yang habis terkena hujan.
Ponsel Mark berdering dan ia melihat istrinya menelpon.
"Apa kau sudah sampai?"
"Ya dan aku tengah menuju ke air terjun."
"Aku hampir sampai."
"Kau hati-hati jika sudah sampai. Jalanan licin dan rawan terpeleset. Aku harus menutup telepon sekarang. Alex sudah mendahului aku." Mark menutup panggilan dan berjalan dengan hati-hati.
***
Cael sampai di taman beberapa saat setelah Mark dan Alex sampai dan turun dari mobil. Laki-laki itu ikut mencari Lula sendirian. Kemudian ia berjalan menuju air terjun dengan hati-hati.
"Benarkah?" Ia menggelengkan kepalanya melihat jalanan yang sedikit becek dan sepatunya yang kotor.
***
"Berhenti!" Jereni menepuk pundak Matvei dan laki-laki itu memarkirkan motornya ketika sudah sampai di taman kota.
Keadaan masih sepi dan tidak ada orang di sini.
"Mungkinkah Lula di sini?" Matvei turun dari motor dan mengejar Jereni yang sudah terlebih dahulu berjalan di depan.
Jereni terlihat tidak berhati-hati dan tiba-tiba dia terpeleset. Untungnya Matvei dengan sigap menariknya dan membuat gadis itu berada di dekapannya.
Deg
Matvei mengalami jantung koroner dan membelalakkan matanya ketika kedua mata mereka bertubrukan.
___
"*Kakak kakak!" Seorang gadis kecil berlari mengejar laki-laki di depannya.
"Tangkap aku kalau bisa hahahaha!" Laki-laki itu terus berlari tanpa berhenti membuat gadis kecil di belakangnya kesal.
"Kakak aku..-" Tiba-tiba gadis itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Laki-laki yang masih berlari itu menoleh dan mendapati adiknya tergeletak di tanah tanpa pergerakan.
"Yondaya*!!!!!"
___
"Jereni?" Matvei menepup pipi Jereni. Gadis itu melamun dari tadi dan Matvei mencoba menyadarkannya.
Jereni mengedipkan matanya beberapa kali dan ia melepaskan diri dari Matvei.
"Maaf." Ia meminta maaf dan berjalan kemudian. Bayangan itu masih berseliweran di pikirannya dan perasaannya campur aduk sekarang.
***
Jalanan sepi sepanjang jalan. Mungkin hanya Yejin yang berada di sini dan ia mengendarai sepeda motornya Mark dengan kecepatan yang tinggi.
Feeling-nya sangat kuat jika ia tidak cepat maka akan terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Ini bukan sesuatu yang penting sebenarnya, sampai ia rela tidak berangkat ke Italy hanya karena hal bodoh yang bahkan ia tidak tahu kenapa.
Yejin memang tidak memiliki hubungan darah dengan Lula, namun setiap perasaannya buruk tentang Lula maka hal buruk benar-benar terjadi pada Lula.
Tiiiiinnn
Sebuah mobil tiba-tiba muncul berlawanan arah dan Yejin tidak melihat itu. Keduanya mengklakson dan hampir terjadi tabrakan. Mobil melaju normal kembali dan motor yang Yejin kendarai oleng sehingga ia terjatuh dan untungnya tidak terjadi cidera yang parah.
Yejin bangkit kembali dengan kaki yang sedikit lecet dan sukses membuat jalannya pincang namun ia tidak berhenti untuk kembali mengendarai sepeda motornya.
Ak**u tidak pernah merasakan kekhawatiran sebesar ini. Mungkinkah.. mungkinkah ini akan terjadi selama aku bersamanya?
"Semua orang masih di sini. Apakah mereka belum menemukan Lula?" Yejin melepas helm dan turun dari motor.
Ia berjalan sedikit berlari namun tetap hati-hati karena jalanan yang licin dan sedikit basah terguyur air hujan.
"LULA TURUN!!!"
"SAYANG APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?!"
"JANGAN MELOMPAT!!!"
Deg
Seketika jantung Yejin berdetak sangat kencang dan spontan ia berlari. Semua orang berteriak dan ia tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana.
Ia juga mendengar tangisan. Tangisan Sofia dan kekhawatiran semua orang.
Jereni terus berteriak dan semuanya.
"LULA!!!"
"LULA JANGAN MELOMPAT!! PAPA AKAN KE SANA!!!"
Yejin sampai di sana dan melihat semua orang terlihat khawatir dan menatap ke atas, tepat ke puncak air terjun.
Mark berlari melewatinya dengan wajah yang sangat gelisah.
Ia menelan ludah dan menggerakkan kepalanya dan menatap ke atas air terjun.
Di tempat itu..
Dimana ia pernah melompat dan berenang di bawahnya dengan Lula.
Dengan wajah dan tatapan kosongnya, berdirilah seorang gadis yang selalu ia khawatirkan akhir-akhir ini.
Pakaiannya lusuh dan kotor. Mungkin ia beberapa kali terjatuh atau apa. Rambutnya acak-acakan namun masih terlihat cantik.
Sekejap Yejin menutup matanya, membayangkan bagaimana pertama kali dia bertemu dengan Lula dan semuanya terlihat istimewa sampai ia pergi meninggalkan gadis itu tanpa pamit dan kembali tanpa sapa.
Lula adalah seseorang yang mengubah hidupnya, sekali lagi. Menumbuhkan bunga-bunga yang indah bak di dalam surga sampai dia pun tak habis pikir dibuatnya.
"YEJIN!!!"
Yejin membuka matanya dan ia berlari manusul Mark untuk sampai di atas, menarik Lula sebelum gadis itu melakukan hal bodoh dengan melompat dari sana dan menahan kejadian buruk terulang kembali.
Yejin membuka semak-semak yang mulai meninggi sejak saat terakhir dia kemari dan untungnya laki-laki itu tidak lupa jalan untuk bisa sampai di sana.
Yejin melihat Mark yang kebingungan dan ia berjalan dengan cepat untuk menghampirinya.
"Paman?"
"Yejin. Kau tahu jalannya? Aku sedari tadi hanya berputar putar di sini."
Yejin mengangguk dan menunjukkan jalannya. "Lewat sini." Mark mengangguk dan berjalan di samping Yejin.
Yejin merasa lega karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana. Ia melihat cahaya dan Lula yang masih berdiri di sana. Yejin dan Mark boleh bernafas lega.
"Lula!" Yejin terus berjalan dan sampai beberapa meter di belakang Lula.
"Omong kosong." Laki-laki itu berhenti ketika mendengar kata-kata itu keluar dari Lula yang masih membelakanginya sekarang.
Mark sampai dan berhenti di dekat Yejin.
"Lula-" Yejin menahan Mark dan pria itu berhenti.
Lula berbalik dan menatap Yejin.
Gadis itu dengan wajah smirknya tertawa. Tawa yang belum pernah Yejin dengar seumur hidupnya.
"AKU-BUKAN-PUTRI-KALULA!" Lula berteriak dan ia menutup matanya kemudian, bersamaan dengan gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke belakang.
"LULA!!" Yejin dan Mark melotot dan secepatnya meraih tubuh Lula namun mereka terlambat. Lula terjatuh ke bawah, ke tengah sungai yang dalam dan semua orang berteriak karenanya.
Yejin masih membelalakkan matanya dan terdiam. Menunggu beberapa saat dan Lula tidak muncul ke permukaan. Ia melepas jaketnya dan bersiap untuk melompat ke bawah, menyusul Lula.
"Jangan melompat, Yejin!" Teriak Sofia dari bawah namun tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan Yejin. Tubuhnya meluncur indah dari atas.
Bersamaan dengan itu Yeva dan Bogrof sampai di sana dan Melihat putranya melompat dari atas dan Yeva berteriak khawatir.
Semua orang menunggu Yejin dengan gelisah. Sudah hampir lima belas menit Yejin tidak muncul ke permukaan dan membawa Lula. Sofia menangis sedari tadi, begitupun dengan Yeva yang menyalahkan dirinya sendiri.
Air bergerak dan..
"Tolong kami!" Yejin muncul dari air dengan Lula di dekapannya.
Mark dan Bogrof melepas jaket mereka dan keduanya melompat ke air untuk membantu Yejin dan Lula yang terlihat tidak sadarkan diri.
Yejin, Mark, dan Bogrof berhasil membawa Lula ke daratan dan melihat gadis itu masih tidak sadarkan diri.
Yejin langsung membantu menyadarkan Lula dengan menekan dadanya beberapa kali agar air yang masuk ke paru-paru dapat keluar dan membuat gadis itu sadar.
Beberapa kali melakukan CPR namun Lula tak kunjung membuka matanya.
Yejin berhenti dan berpikir.
Maafkan aku akan melakukannya sekali lagi.
Ia menutup matanya, membukanya kembali, dan memberikan nafas buatan kepada Lula, sekali lagi.
Semua orang tidak berpikir panjang dan mereka hanya ingin Lula sadar untuk saat ini.
Satu dua kali belum berhasil. Yejin memberikan nafas buatan untuk ketiga kalinya dan melihat Lula terbatuk sambil mengeluarkan air dari mulutnya.
Semua orang bernafas lega dan menghampiri gadis itu. Yejin tersenyum dan menunggu Lula membuka matanya.
Dan akhirnya.. semuanya kembali seperti semula. Tidak ada yang pergi, namun ...
Lula membuka matanya. Bukan dengan pupil mata abu-abu kehijauannya, namun dengan pupil mata biru laut yang sangat mencolok.
^^^Beberapa hal berubah...^^^
...-*b**ersambung*-...