Luna Rusalka

Luna Rusalka
49



"Kak Matvei!" Lula membangunkanku dari lamunan.


"Lula?" Laki-laki itu sedang berbicara dengan Lula. Mereka saling kenal?


"Kau sedang apa di sini?" Lula melepas tangannya dari pundakku dan berbicara dengan Kak Matvei, atau entahlah aku tidak tahu siapa dia.


"Yejin meninggalkan baju renangnya. aku Harus membawakannya." Lula mengangguk. Yejin?


Aku mencoba mencari tahu siapa dia. Sesekali dia menatapku dan aku merasa kami sudah kenal sangat lama.


"Ah Jereni. Kenalkan ini kakaknya Yejin."


"Matvei." Laki-laki bernama Matvei itu menyodorkan tangannya dan aku membalasnya.


"Ini Jereni, temanku dan Yejin." Matvei mengangguk dan tersenyum.


"Jereni."


"Yasudah aku harus pergi." Matvei berpamitan dan benar-benar pergi dari sini.


Kau tahu, seperti pernah mengenal seseorang dan kau bahkan baru saja melihatnya.


"Aku tidak tahu kalau Yejin punya kakak." Bukankah hal normal bertanya ini pada Lula? Dia tidak akan tersinggung bukan?


"Dia jarang di rumah, Yejin juga tidak mungkin bercerita tentang kakaknya. Dia orang yang tertutup." Lula merangkulku dan kami sama-sama berjalan.


"Tapi Kak Matvei itu," Lula menatapku dan aku hanya menaikkan alis. "Berbanding terbalik dengan Yejin. Dia ramah dan sangat jail. Dulu, waktu aku masih kecil, Kak Matvei selalu mengerjaiku dan Yejin."


Mengapa aku tidak tahu dan Lula juga tidak bercerita kepadaku. Oh aku jadi ingat apa yang harus aku lakukan untuk memberitahu segalanya pada Lula.


Suatu kebanggaan, dia sahabatku namun dia juga putri penguasa lautan. Aku tidak tahu kenapa aku tahu semua ini. Aku hanya tahu, atau memang aku adalah bagian dari mereka?


Tapi kenapa aku tidak memiliki tanda-tanda? Bukankah.. pertanyaannya hanya satu, apakah aku terlahir menjadi...


"Hei Jereni!" Sekejap dia membangunkanku dari lamunan. Aku melamun?


"Kau bahkan tidak mendengarkan aku berbicara." Lula membenturkan kepalanya ke kepalaku pelan, namun kurasakan kekuatan yang mulai membesar.


"Kau kenapa Jereni?" Aku kenapa? Aku tidak tahu, Lula.


Aku menggeleng dan mengajaknya berjalan lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang.


***


Di dalam gedung kolam renang, Yejin sedang melakukan pemanasan. Pintu gedung terbuka dan Yejin sama sekali tidak bergeming. Dia tahu, kalau pintu terbuka dengan lembut, itu tentu bukan Tuan Ivan maupun Tuan Bogdan.


Erynav memasuki gedung dan berjalan santai mendekati Yejin. Ini masih pagi, dan latihan belum dimulai.


"Yejin kau meninggalkan sesuatu?" Yejin berhenti dan berbalik menatap partnernya itu.


"Apa?"


Erynav menggeleng dan tersenyum. Dia mendekati Yejin dan menyerahkan baju renangnya tanpa balutan kain apapun.


Yejin membulatkan matanya dan meraih tas ransel yang berada di kursi tepat di sampingnya. Mengecek, dan ia menarik nafas.


Erynav menyerahkan baju renang Yejin, dan Yejin ingat sekali kalau ia meletakkan baju renangnya di meja makan dan tidak mengambilnya lagi.


"Bagaimana bisa bersamamu?"


"Tunggu, kau melakulan pemanasan masih memakai baju seragam?" Erynav heran, pasalnya Yejin masih memakai seragam, dan ia melihat tadi Yejin melakukan gerakan pemanasan.


"Aku biasa melakukan itu. Jadi bagaimana ini bisa bersamamu?" Yejin bersikeras untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Oh.. Tadi seseorang, yang mengaku kakakmu." Erynav masih berdiri dan Yejin hanya ber-oh ria.


Matvei ke sekolah? Batin Yejin heran. "Terimakasih.." Yejin mengangguk dan berbalik, untuk mengganti bajunya.


"Kau punya kakak, Yejin? Aku tidak tahu."


"Lupakan itu." Erynav hanya mengangguk dan berjalan ke tempat ganti wanita di ujung sebelah kirinya.


***


Lula's POV


Kemarin itu.. ah sekarang hari Selasa ya? Berarti dua hari lagi Yejin akan berlomba dan aku juga sudah berjanji untuk datang.


Bagaimana aku berbicara dengan mama sama papa? Apa mereka akan memperbolehkan aku? Mengapa aku membuat janji tanpa memikirkan hal ini?


Apa aku harus diam-diam? Tapi itu terlalu jauh dan aku juga tidak memiliki cukup uang untuk naik bis.


"Lula Lula"


"Iya, aku akan datang, Yejin." Semua orang terdiam dan menatapku. Aku mencari tahu apa yang terjadi di sini.


Teman sekelasku tertawa dan aku malu sekali.


Bu guru di ambang pintu dan kurasa dia juga mendengar aku berbicara. Ia tersenyum dan berjalan masuk.


"Baru beberapa jam tidak bertemu sudah merindukannya?" Jereni tertawa dan aku hanya mengerucut kan bibirku.


Dia selalu saja menggodaku, aku sangat tidak suka itu.


Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena Jereni mencoba menyadarkan aku, tapi aku malah mengigau tanpa tertidur.


***


Matvei's POV


Aku tidak ingin membahas hal ini sebenarnya. Namun apa yang aku lihat di mata gadis itu, membuat suatu memori masuk ke dalam pikiranku dan itu seperti kotak yang masih terkunci. Kita tidak akan tahu kalau kunci.beluk terbuka.


Masih rahasia, dan kurasa bukan saat yang tepat untuk memori itu terbuka. Aku tidak ingin memaksanya untuk aku harus tau apa itu, namun hal ini sungguh menggangguku dan menjadi beban pikiran.


Kau tahu, aku sangat bermasalah dengan pikiranku. Sekecil apapun hal itu, akan menjadi beban pikiran dan aku tidak bisa mengendalikannya.


Apa aku harus bertanya atau sekarang berbicara sedikit dengan gadis itu? Tapi, untuk apa? Aku tidak sempat pikir kenapa aku menjadi seperti ini.


Tadi, sewaktu ia menjabat tanganku, energi yang sungguh kuat mengalir saja dan membuat pikiranku sungguh kacau. Entahlah aku berusaha agar tidak memikirkan semua ini.


Hilang Matvei hilang dari pikiranku.


***


"Bagaimana kemarin?" Jereni dan Lula sedang berada di kantin untuk makan sesuatu.


Lula tak merespon dan ia tengah meminum jus alpukatnya.


"Lula kau melamun dari tadi."


"Ah Jereni." Lula tersadar dan menatap Jereni mencoba meminta maaf.


"Ada apa?"


"Lula, kau jangan terlalu sering melamun. Itu tidak baik untuk dirimu." Jereni mengingatkan kepada Lula dan Lula tersenyum ringan.


"Bagaimana? Apakah sudah berbicara dengan Yejin?"


Lula mengangguk dan tersenyum sambil membayangkan dan mengingat kejadian kemarin.


"Jadi, apa kau juga sudah berbicara dengan orang tua mu?"


Lula menggeleng. "Aku bahkan tidak memikirkan hal ini sebelumnya, Jereni."


"Jadi, kau mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya?"


Sekali lagi, Lula menggeleng.


"Aku takut kalau papa dan mama tidak mengijinkanku. Aku sudah berjanji kepada Yejin, Jereni. Aku tidak mungkin tidak menepatinya."


"Seharusnya kau bertanya terlebih dahulu dengan mama papa kamu, kalau mereka tidak mengijinkanmu bagaimana?"


"Apa kau akan diam-diam lagi pergi menyusul Yejin, seperti yang kau lakukan ketika pergi ke rumahku?"


"Aku tahu, Lula. Kau pernah ingin menjenguk ku dengan Yejin dan kalian mengalami entahlah aku juga tidak tahu selengkapnya. Namun, yang aku tahu semua orang khawatir."


Lula menggaruk tengkuknya dan meringis. "Tidak mungkin aku melakukan itu. Aku tidak punya uang untuk pergi ke sana."


Jereni menghela nafas dan memakan sandwich buatan mamanya. Dia tak habis pikir dengan sahabatnya itu.