Luna Rusalka

Luna Rusalka
32



Bagaimana keadaan Jereni? Aku sungguh merindukan gadis itu. Bagaimana aku bisa menjenguknya?


"Kau sedang memikirkan apa, Lula?" Yejin datang dan mengejutkanku.


Aku sedang duduk di taman depan kelas, Dan dia baru saja keluar kelas. Jam istirahat dan aku hanya duduk di sini.


Aku menggeleng dan Yejin duduk di sampingku.


"Kau tahu.. Aku masih bingung dan memikirkan beberapa hal dalam hidupku." Yejin menatap langit dan aku hanya mendengarkan. Menatapnya, dan menunggu perkataan yang akan ia lontarkan lagi.


"Ada sesuatu yang tidak aku ingat sama sekali. Anehnya, ini tidak terjadi dalam kehidupan ini."


"Apa maksudmu?"


"Reinkarnasi. Aku tak percaya itu, tapi mungkin aku pernah tinggal di Masa lalu atau apa. Aku mulai merasa aku memiliki ingatan Masa lalu."


Ini tidak masuk akal. Tapi itu hanya pikiran Yejin. Yang terjadi padaku jauh tidak masuk akal. Ingin hati untuk memberitahu Yejin. Namun, mulutku lebih memilih untuk diam.


"Kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Tidak. Pikiranku mencoba mengingat sesuatu. Aku merasa sakit teramat di kepala ketika sesuatu muncul di pikiranku."


Aku mengalihkan pandanganku dari Yejin dan menatap langit, sama sepertinya.


"Yejin."


Yejin menatapku dan menunggu perkataan ku selanjutnya. "Apa yang akan kau lakukan, jika kau bisa mengendalikan elemen. Misal air, atau angin.."


"Aku akan menyelamatkan dunia." Yejin tertawa Dan aku hanya melihatnya. "Aku hanya bercanda. Mungkin aku akan memanfaatkan Hal itu untuk kebaikan."


Yejin benar. Kenapa aku pusing memikirkan ini berasal dari mana. Aku tinggal memanfaatkan nya bukan?


"Kenapa kau bertanya itu?"


"Tidak apa."


"Aku jadi mengingat sesuatu. Rusalka."


Apa itu? Aku baru mendengarnya.


"Apa itu Rusalka?"


"Rusalka. Legenda yang sangat kuno sebenarnya, bahkan hampir terlupakan."


"Seorang perempuan duyung yang jatuh cinta pada manusia. Namun ia dikhianati dan membunuh lelaki itu. Ia penghuni danau di tengah hutan, dan menyerap jiwa lelaki agar bisa tetap bertahan hidup dan awet muda."


"Aku tidak tahu sama sekali.." Aku juga baru mendengarnya, dari Yejin. Aku memang belajar legenda, namun tidak pernah tahu tentang hal ini.


"Dia berubah menjadi Rusalka dan punya kekuatan dahsyat. Dia bisa mengendalikan air."


"Apakah dia terlahir seperti itu? Atau karena suatu hal?"


"Tidak diketahui asal usulnya. Yang kutahu, dia membuat banyak koloni dan tersebar di mana mana."


"Di danau?"


"Mungkin sekarang sudah tidak ada.." Yejin menatapku dan tersenyum. "Ini hanya legenda," Kenapa aku jadi berpikir keras? Yejin hanya bercerita. Aku jadi terbawa suasana.


Tapi, tunggu. Tidak. Aku bukan seekor Rusalka. Mungkin ini hanya kebetulan atau memang kelebihanku. Mungkin karena dari kecil aku belajar ju-jitsu jadi maybe ini sebuah ilmu dalam.


***


"Aku pulang!" Lula mengetuk pintu rumah dan pintu terbuka dari dalam. "Kakak.." Yefy yang membuka dan Lula masuk rumah.


"Iya, kami akan ke rumahmu sore ini. Setelah Yefy tidur siang. Dia harus sudah tertidur Kali ini." Sofia mengangkat telepon sambil membawa gelas dan berjalan membereskan piring yang Kotor.


"Yefy! Pergi ke kamar untuk tidur!" Sofia berteriak dan dengan cepat Yefy melesat ke kamarnya. Dia sangat patuh dengan mamanya, namun terkadang tidak mau mendengarkan perkataan Lula.


Lula melepas sepatunya dan berjalan untuk menemui mamanya di dapur. Dia hanya terdiam dan mendengarkan mamanya menelpon.


"Iya, sampai jumpa nanti sore. Bye!" Sofia meletakkan teleponnya di meja dan tersenyum melihat Lula berdiri di samping nya.


"Ada apa?"


"Bibi Rwka, mamanya Jereni. Jereni ingin bertemu denganmu, jadi nanti sore kita pergi ke rumahnya."


"Benarkah?" Teriak Lula girang. Dia sangat ingin bertemu dengan Jereni. Lula merindukan sahabatnya itu dan dia juga ingin tahu keadaannya seperti apa sekarang.


"Baiklah.. Kau bersih-bersih, habis ini makan Dda istirahat." Sofia mengelus kepala Lula dan Lula mengangguk senang.


***


Entahlah, tapi ketika mama bilang Jereni ingin menemuiku, aku sangat senang. Aku akan menceritakan semuanya padanya, tentang apa yang aku alami selama dia tidak Ada.


Aku juga akan memberitahunya kalau aku.. tidak! Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun.


Aku harus merasa senang atau malah takut? Apakah ini sebuah kelebihan atau, hal yang buruk??


Sudahlah lebih baik aku mandi saja.


Author's POV


Lula meraih handuk di gantungan dan berjalan memasuki kamar mandi sambil bersenandung riang. Dia terlihat gembira.


Lula menyalakan shower. Dia tidak berendam. Dia hanya mandi dari air mengalir.


Sesuatu menghentikan pergerakannya dan terpaku menatap dirinya di cermin. Sesuatu, di atas dada kirinya. Berbentuk seperti, tiga garis lurus pendek yang berurutan.


Ia menyentuhnya Dan terkejut seketika, membuatnya melompat ke belakang dan terjatuh.


"Aw!" Pekiknya kesakitan.


Ia mencoba berdiri dan melihatnya lagi. Luka ini sama seperti waktu itu, di belakang telingaku. Batinnya kalut.


Sesaat kemudian ia menyentuh belakang telinga dan-


"Lula? Mama mendengar teriakan. Apa kau baik-baik saja?" Sofia mengetuk pintu Dan berteriak Dari luar.


"Tidak apa!"


"Ingat peraturan pertama!"


"Iya Lula tahu!"


"Peraturan pertama. Jangan Mandi terlalu lama." Cibir Lula dan Tuhan, ia butuh privasi. Lagian, melepas pakaiannya pun belum.


Ia masih tidak tahu itu apa, namun ia hanya berpikir mungkin itu goresan dan Lula tidak menyadari nya.


Sudahlah. Batinnya.


***


"Heii!" Pintu rumah Jereni terbuka, Dan Bibi Rwka tersenyum melihat kami bertiga.


"Apa kabar?" Mama tersenyum dam memeluk Bibi Rwka.


"Baik. Masuklah.." Bibi Rwka melepas pelukan mama dan mempersilahkan kami masuk.


"Duduklah. Aku akan buatkan minum dulu, sebentar. " Bibi Rwka berjalan berlalu dan kami duduk di sofa.


Aku melihat sekeliling. Sudah lama aku tidak kemari, dan masih terlihat sama. Tidak Ada perubahan.


"Jereni sangat gembira ketika aku mengundang kalian kemari." Bibi membawa minuman dan meletakkan nya di meja.


"Bibi, apakah aku boleh menemui Jereni sekarang??" Aku langsung saja. Aku tidak sabar untuk bertemu Jereni.


"Dia di kamar. Temuilah.." Aku tak bisa menyembunyikan wajah bahagiaku lagi.


Aku minta izin mama dan dia mengangguk. Berdiri, dan berjalan menuju kamar Jereni. Aku tidak akan pernah lupa dimana kamarnya berada. Dulu, aku sering menginap di sini dan kami selalu bermain petak umpet, dan ini sangat seru sekali.


Pintu berwarna hijau, dan di situlah Jereni berada. Dia sangat suka warna hijau.


Aku berhenti di depan pintu dan menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana keadaan Jereni sekarang, ya? Apakah dia masih sakit?


Aku meraih knop pintu dan membukannya perlahan. Berjalan melewati batasan dan menghampiri gadis berambut merah pendek itu.


Dia duduk membelakangiku dengan memakai sweater putih.


"Aku selalu menunggu kamu datang.." Aku berhenti di sisi tempat tidurnya.


Jereni menolehkan kepalanya dan tersenyum menatapku. Tidak Ada yang bisa membuatku tersenyum lebar selain senyumannya saat ini.