Luna Rusalka

Luna Rusalka
113



Matvei duduk di dekat jendela. Dia tengah menunggu Elliot di kafe untuk membicarakan sesuatu. Seperempat jam berlalu, dan Elliot belum datang dan Laki-laki itu sungkan untuk menelponnya, walau hanya sekadar basa-basi bertanya "kau dimana?". Tidak. Dia tidak melakukannya dan memilih untuk diam.


Pagi ini keadaan tidak secerah biasanya. Sedikit mendung dan terlihat murung. Tidak panas juga tidak hujan.


srett//


"Ah maaf!"


Perlahan kepala Matvei menoleh dan melihat seorang perempuan berambut pirang dan memakai setelan baju kerja hitam yang elegan yang tersandung dan menyampar lengannya. Beberapa detik bertatapan..


"Alex?"


"Matty?"


Tawa keduanya pecah.


"Sedang apa kau di sini, Matty?"


"Bolehkah aku duduk sebentar?" Matvei mengangguk dan perempuan itu duduk di kursi depan Matvei kemudian meletakkan tasnya di meja.


"Duduk."


"I know. Tapi kurasa tidak hanya itu. Menunggu seseorang?" Perempuan bernama Alex itu melipat kedua tangannya dan menatap Matvei menunggu jawaban.


Matvei mengangguk.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu?" Alex tersenyum tipis dan Matvei sedikit mengaburkan pandangannya.


"Ah aku tahu! Kau masih bekerja sama dengan Bryan?"


"Kau tahu itu tidak akan pernah berakhir. Aku harus menyelamatkan spesies kita. Bryan tidak bisa dicegah, setidaknya aku mampu mengurangi jumlah yang dia bunuh setiap harinya sampai rencanaku sempurna dan kita bisa hidup aman."


Alex mendekatkan tubuhnya dan tepat berada di atas meja. "Jadi, sudah sampai mana?"


"Aku tidak tahu."


Pembicaraan mereka menjadi serius. "Aku belum menemukan titik terangnya. Kalaupun Bryan dilenyapkan sekalipun, apa yang dilakukannya selama ini tidak akan berhenti. Bahkan, aku menemukan beberapa dari anak buahnya merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Bryan. Sepertinya mereka tidak setuju dengan perjanjianku dengan Bryan. Setelah kau keluar, ini yang aku khawatirkan."


"Maafkan aku, Matty. Tapi aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Aku tidak tega melihat spesies kita dilenyapkan setiap harinya oleh Bryan. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?"


"Ayolah, Alex! Jangan merendah. Kau yang selalu membantuku dan ketika kau tidak lagi bersama kami, aku kehilangan arah dan tidak tahu cara apa lagi yang harus kulakukan."


Alex tertawa ringan.


"Buktinya sekarang kau mampu mengendalikan Bryan? Setidaknya walau hanya setengah dari mereka yang dilepas, tapi itu merupakan suatu peningkatan, bukan?"


"Sangat sulit untuk mengendalikan Bryan. Kau tahu? Rencanaku gagal. Kami sempat mengalami masalah dan Bryan marah kepadaku. Dia kehilangan kepercayaannya dan sampai sekarang kami bekerjasama dalam persitereruan antara pihakku dengan pihaknya."


"Masalah apa?" Alex belum tahu sama sekali. Dia pergi sebelum kejadian dua tahun lalu.


"Seseorang sepertinya memberitahu Bryan tentang rencanaku. Sebenarnya ini permasalahan waktu dan dia mendengarnya bukan pada saat yang tepat. Bryan mendengarnya bukan dariku, melainkan seseorang memberitahunya dan aku sama sekali tidak tahu siapa itu."


"Lalu apa yang dilakukan Bryan setelah mendengar itu?"


"Dia marah besar dan beberapa hari sempat ingin menghabisi pihakku. Aku sampai harus mengancamnya, jika bukan karena aku dia tidak akan bisa mendapatkan akses laut secara besar-besaran. Mungkin karena dia terpaksa, akhirnya dia menyetujui rencanaku dan walau kami tidak berhubungan baik sampai sekarang, kami masih bekerja sama."


"Tapi, siapa, Matty? Siapa yang membocorkan rencanamu? Apakah ada mata-mata?"


"Entahlah.. tapi aku mencurigai seseorang.."


Keduanya terdiam sampai bayangan figur seseorang berhenti tepat di samping Matvei.


Alex menyadari itu dan menatap ke atas dan melihat seseorang yang sangat familiar berdiri di sampingnya. Perempuan berambut pirang kemerahan dan berkulit putih.


"A-"


"Elliot?" Perkataan Matvei terpotong oleh Alex. Perempuan itu tersenyum dan Matvei melihat Elliot tersenyum di sampingnya.


"Alexee, apa kabar?" Alex berdiri dan memeluk Elliot.


"Kabarku baik. Bagaimana denganmu?"


"Baik sekali."


"Aku mendengar kau melanjutkan studimu di luar negeri?"


Elliot mengangguk dan Matvei memalingkan mukanya. Elliot menyadari itu dan menurunkan senyumannya.


"Itu hebat! Aku sangat iri denganmu."


"Itu tidak penting, Alexee. Sangat tidak menyenangkan jika apa yang aku lakukan menyakiti seseorang." Elliot masih menatap Matvei yang tengah melihat ke luar jendela itu.


"Bagaimana denganmu? Kau seperti bos besar saja." Elliot melihat penampilan Alex dan dia tertawa.


"Aku hanya beruntung. Berpindah profesi dan mendapatkan posisi yang lebih baik." Kata Alex senang.


"Ah sepertinya seseorang sudah menunggumu. Aku juga akan pergi, klien ku membatalkan meeting kami jadi lebih baik aku kembali ke kantor sekarang. Pekerjaanku tidak mudah dan banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Alex mengambil tasnya dan berpamitan.


"Matty, aku akan pergi sekarang. Elliot sampai jumpa lain waktu." Matvei menoleh dan tersenyum. "Hati-hati!"


"Hati-hati, Alexee." Elliot tersenyum dan say goodbye.


"Ah iya." Alex kembali dan berdiri di depan Matvei dan Elliot. "Apapun masalah yang kalian hadapi sekarang, selesaikanlah dengan kepala dingin, dan jangan egois. Aku tahu hubungan kalian tengah tidak baik, dan ketika aku bertemu kalian lagi lain waktu, aku tidak mau melihat kalian bertengkar lagi."


***


LULA


Berbicara tentang apapun yang terjadi kemarin, aku tidak mau memikirkannya lagi. Kesulitan itu cukup membuatku galau melebihi ketika aku mendengar bahwa mama dan papa bukan orang tua kandungku. Aku tidak mempercayai itu. Aku mewarisi mata keabu-abuan mama dan rahangku sangat mirip dengan papa.


Atau bahkan, jari jemariku sangat mirip dengan punyanya Yefy dan hidungnya yang sangat mirip denganku. Jelas aku adalah anak kandung mama dan papa dan apa yang Jereni tahu tentang DNA kami? Apakah dia pernah membawa DNA kami ke rumah sakit? Tentu tidak.


Pagi ini sangat menyebalkan dimulai ketika aku tidak nafsu makan sama dan papa sadar kalau aku hanya mengaduk-aduk makananku. Untung mama tidak di rumah, jadi tidak ada yang memarahi aku.


Papa yang menyinggung persoalan kami yang sudah dewasa atau apa sampai mood ku benar-benar buruk. Ditambah lagi aku menjatuhkan gelas dan pecahannya menancap di kakiku dan jujur saja, itu sangat sakit. Tapi tidak sesakit ketika menyadari bahwa Yejin tidak mencintaiku, dilihat dari sikapnya ketika melihatku bersama Caleb. Dia tidak perduli.


Usahaku sia-sia dan Caleb tidak ada gunanya lagi. Tapi, laki-laki itu seakan cinta mati denganku, terus mengejarku seakan aku adalah benda berkilau miliknya yang susah untuk ia lepaskan. Kupikir dia bodoh. Dia pikir aku tergila-gila dengannya, seperti yang dilakukan teman-temanku. Aku tidak semudah itu untuk jatuh cinta dan kurasa aku hanya mencintai Yejin dan jika dia tidak mencintaiku, maka aku tetap akan mencintainya, sampai ia juga mencintaiku.


Kembali ke realita yang tengah aku hadapi. Setelah dua tahun aku tidak melupakan hal itu, kenapa aku mengingatnya sekarang? Bahkan, ketika aku ingin berusaha mengingat kejadian-kejadian aneh di masa lalu, aku tidak bisa.


Seakan memori itu sudah terhapus dan aku sendiri tidak bisa mengembalikannya. Namun, kenapa sekarang ia datang tanpa aku memintanya?


Aku tidak bilang ini hal gila. Apakah ini mukjizat atau kelebihan? Jika iya, ini adalah kelebihan yang mematikan. Beberapa kali aku hampir tewas hanya karena hal sepele dan itu berasal dari diriku sendiri.


Mungkin dulu aku belum sadar. Namun sekarang, aku tahu. Aku yakin dan aku mengerti betul bahwa tuhan memberiku kelebihan ini untuk apa. Untuk melindungi diri sendiri dan keluargaku, dan aku yakin kelebihan ini akan sangat membantuku.