
Lula POV (Beberapa hari kemudian)
Berapa lama aku tertidur? Benar-benar tidur yang panjang. Tubuhku sakit semua, dan aku tidak tahu apa yang terjadi ketika aku berbaring di sini. Tapi, yang aku suka, semuanya tidak berubah. Tetap sama. Hanya saja, Yejin menjadi lebih peka dan perhatian. Jereni, dia terus saja menceritakan apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri, tapi tidak dengan apa yang sudah terjadi denganku. Bahkan aku tidak ingat bagaimana bisa aku berbaring di sini, dan koma selama beberapa hari.
Mulutku terasa sangat sakit, entah kenapa dan ini membuatku susah untuk berbicara. Mama selalu di sampingku, dan papa selalu membawakan aku makanan enak. Kau tahu makanan rumah sakit sangat tidak enak.
Ketika semua orang terlelap di malam hari, hanya Yefy yang menemaniku. Dia duduk di samping tempat tidurku dengan earphone dan game di ponselnya. Aku tidak pernah protes. Dia selalu siaga ketika aku butuh bantuan, dan kurasa dia sedikit hangat kalau aku sedang begini. Tapi entahlah.
Kondisiku perlahan membaik, namun belum boleh pulang. Tubuhku belum sembuh total, dan aku juga belum sepenuhnya bisa bergerak dengan bebas. Dokter bilang kalau aku terus bahagia, maka akan lebih cepat membaik daripada harus meminum obat. Makannya, semua orang berusaha membawakan aura yang baik ketika berada di sekitarku. Tapi aku tidak sepolos itu, aku tahu di luar ruangan mereka terkadang bertengkar.
Mama yang memarahi papa karena memberiku makanan dari luar, Yejin yang menasehati Jereni agar dia tidak berbicara terlalu banyak, dan Papa yang selalu memarahi Yefy. Laki-laki kecil itu tidak mau berangkat ke sekolah dan lebih memilih menemaniku.
Kau tahu kalau Yefy sudah semakin besar dan dia sudah tidak bersikap manja denganku seperti dulu. Tapi, kalau melihatku seperti ini dia adalah satu-satunya orang yang tidak bisa tidur sebelum aku benar-benar pulih.
krieeeettt
Pintu terbuka dan Yejin masuk. Dia sendirian, dan tidak bersama Jereni. Tidak biasanya, dan aku belum melihat Jereni dari tadi pagi.
"Bagaimana keadaanmu?" Yejin menutup pintu lirih dan menarik kursi, kemudian meletakkannya tepat di samping kiriku. Aku hanya mengangguk.
Dia terlihat sangat rapi, untuk ukuran siswa yang seharian melakukan kegiatan di sekolah. Kuperhatikan sepatunya, kurasa dia memolesnya sebelum ke sini, dan.. apa itu? Sepertinya dia mengubah gaya rambutnya, menjadi lebih..
"Jereni akan menyusul. Dia terlalu lama fakum dan menumpuk semua tugas penelitiannya. Jadi, guru menahannya hari ini, untuk menyelesaikan semua tugasnya, untuk syarat mengikuti ujian semester." Yejin duduk di kursi. Dia langsung memberitahu itu, seakan mengerti apa yang akan aku tanyakan.
Jereni terlalu lama fakum, dan semua Tugas-tugasnya menumpuk. Untung aku telah menyelesaikan tugasku tepat waktu, jadi walau Sekarang aku berbaring di sini, guru tidak akan membuatku menyelesaikannya sekarang. Lol. aku hanya bercanda.
Ujian hampir tiba dan aku melupakan semua yang telah aku pelajari di sekolah. Fokus olimpiade renang sehingga membuatku jarang masuk kelas dan mencatat. Aku selalu meminjam buku catatan teman sekelas, namun belum sempat aku menyalin, dia memintaku untuk mengembalikannya.
"Kemana paman dan bibi?" Yejin merebahkan punggungnya di sandaran kursi dan aku menggeleng tidak tahu. Aku tertidur dan terbangun ketika tidak ada siapa-siapa.
"Kau tau akhir-akhir ini sangat berat. Setelah nenek meninggal, mama menjadi sensitif dan pendiam."
Apa? neneknya Yejin meninggal? Bagaimana bisa tidak ada yang memberitahuku?
"Maaf untuk tidak memberitahumu. Serangan jantung, dan kami langsung membawanya ke rumah sakit, namun sampai di sana nenek sudah pergi.." Wajahnya terlihat sangat suntuk. Aku tahu apa yang ia rasakan. Ini sangat sakit, ketika nenekku meninggalkan kami, aku juga melihat mama sangat sedih dan begitu juga denganku. Tapi saat itu, aku masih sangat kecil jadi belum terlalu mengerti.
Bibi Yeva pasti sangat sedih.. Makannya beberapa hari ini dia tidak kemari, dan Yejin juga.. Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Yefy, bahkan mama jarang menemaniku.
"Nenek pergi satu Minggu setelah kau pertama kali sadar."
Tapi kenapa? kenapa kalian tidak memberitahuku? Setidaknya aku juga bisa melihat nenek untuk terakhir kalinya. Walau aku jarang bertemu dengannya, tapi aku sangat menyayanginya. Dia lebih seperti nenekku sendiri.
Kalian menyembunyikan hal sebesar ini demi membuatku pulih, sementara di rumah Yejin.. mereka tengah berduka. Aku tahu perasaan bibi Yeva.
"Maaf aku baru memberitahumu. Kami tidak ingin melihat kondisimu memburuk dengan kabar buruk yang kami berikan." Yejin memalingkan mukanya. Dia masih berduka. Aku menggerakkan tanganku dan memegang tangan Yejin. Bela sungkawa terhadapnya dan aku merasa sangat sedih.
Bersama-sama lagi? Memangnya kita pernah berpisah? Dasar Yejin, apa yang dibicarakannya. Dia sangat aneh akhir-akhir ini. Menjadi lebih memperhatikanku, walau dia tahu dia juga sedang berduka. Tapi aku suka itu, mengingat perasaanku kepadanya, ini menjadi lebih indah dan memberiku semangat untuk segera sembuh. Agar bisa bersama-sama dengannya, seperti yang dia katakan.
***
"Apa yang akan kau lakukan kepadaku!!!" Di lain tempat, seorang gadis terus berteriak dengan mata yang tertutup rapat menggunakan kain. Dia tengah diikat di sebuah ruangan serba putih dan dua orang bertubuh besar menjaganya.
"Diam atau kau kami bunuh!" Salah satunya menyumbat mulut gadis itu menggunakan kain yang dibulatkan. Mereka berdua tengah mengerjakan sesuatu dan gadis itu hanya mengganggunya dengan suara bising yang ia timbulkan.
"Kalau dia tidak penting, aku sudah membunuhnya dari dulu. Dia sangat berisik! Kapan kita bisa membunuhnya, Zedrys?!"
"Sampai gadis ini mau berbicara siapa dia, saat itu kita boleh menghabisinya. Untuk sementara ini kita siksa saja sampai dia mau berbicara." Voodoohag mengeratkan tali yang mengikat gadis itu.
"Kau tahu kami tidak akan berhenti sebelum kau bicara siapa dirimu!"
"BICARA!!!"
"Bajvwj olpqjhsubwubqiji.."
"Ayo BICARA!" Voodoohag menampar wajah gadis itu, tapi dia hanya bisa bergumam. Mulutnya sendiri disumbat kain.
"Ah kau tidak bisa bicara ya.."
Zedrys menarik kain dari mulut gadis itu, dan gadis itu mengatur nafasnya normal."
"BAGAIMANA AKU BISA BICARA KALAU KAU MENYUMBAT MULUTKU, DASAR JAL*NG!"
"Kau BILANG APA?!" Zedrys menampar gadis itu lagi dan lagi hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Lalu ia berhenti.
"hahahHAHAHAHAH" gadis itu tertawa dengan matanya yang masih tertutup.
"Apa yang aku katakan tidak penting."
"Jangan bicara tidak penting! Biacara saja siapa kau!" Voodoohag mendekat dan mencengkeram kerah baju gadis itu.
Ia melepas penutup matanya dan melotot. "Tidak etis jika dia tidak menyaksikan apa yang akan kita perbuat."
"Cuihhh! Apa untungnya bagiku aku bicara siapa aku? Aku bicara atau tidak kalian juga akan tetap membunuhku. Jadi, apa peduliku?" Gadis itu tersenyum lebar. Walau tubuhnya babak belur dan sangat sakit, tapi dia mencoba untuk tidak terlihat lemah. Tatapan matanya yang tajam menandakan kalau gadis itu tidak takut sama sekali. Entah apa yang disembunyikannya, ia tidak mau sampai orang-orang ini tahu siapa dirinya.
"Bedanya adalah.. kalau kau memberitahu kami, kau akan mati dengan cepat. Tanpa rasa sakit. Lain jika kau tidak mau memberitahu kami, kami akan menyiksamu dan tidak akan membiarkanmu mati tanpa rasa sakit. Apa kau mengerti?" Voodoohag melepaskan kerah baju gadis itu dan tersenyum memperlihatkan gigi runcingnya yang sekali saja menggigit, dagingmu akan robek.
"Silahkan saja, aku tidak takut." Gadis itu menunjukkan wajah tak gentarnya, memberitahu tanpa kata-kata kalau dia sama sekali tidak takut.