
Yejin biasa saja. Namun Erynav, detak jantungnya tak karuan. Antara hampir saja tercebur ke kolam renang tanpa kemauannya, dan dia berada di pelukan Yejin saat ini.
Apa ini? Kenapa dadaku tidak tenang. Kenapa aku..
Kejadiannya cepat sekali. Mereka masih di posisi mereka sampai suara Tuan Ivan membuat mereka melepaskan satu sama lain.
"Ehem.." Erynav berjalan ke tempat duduk dan Yejin pergi ke kamar mandi.
"Ini masih lima menit. Jangan makan terlalu banyak. Kau harus berlatih lagi habis ini." Tuan Ivan tertawa ringan dan berjalan menghampiri Erynav.
"Jadi, kau dengan Yejin, aha?"
Erynav terdiam dan menggeleng ketika Tuan Ivan bertanya hal itu.
"Tidak apa. Itu normal di usia kalian sekarang."
Wajah Erynav memerah dan dia segera menutup tempat makannya dan beranjak pergi membereskan itu.
"Anak muda." Gumam Tuan Ivan sambil menggelengkan kepala.
***
Siang yang cukup panas. Lula dan Jereni tengah duduk di bangku di depan kelas mereka. Melihat anak-anak lainnya berlarian, atau melakukan apapun yang mereka mau.
"Kau baik-baik saja, Jereni?" Jereni terus saja menggaruk kakinya dan Lula menyadari hal itu.
"Tidak. Hanya, sedikit gatal." Jereni tidak tahu kenapa, namun ia menduga kalau kakinya akan berubah menjadi ekor lagi.
Mereka berdua hanya menikmati teriknya matahari dan suasana yang sangat khas di sini. "Kau yakin Yejin tidak akan sedih?" Jereni masih menggaruk kakinya.
"Jereni kurasa kakimu bermasalah, itu terasa sangat gatal, kulihat dari tadi kau menggaruk." Lula menatap Jereni dan siap untuk membantunya kapan saja.
"Tidak apa. Jawab saja pertanyaanku." Jereni berhenti menggaruk hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak kenapa-kenapa. Namun, ia tak tahan lagi dan diam-diam menggaruk kakinya ketika Lula lengah.
"Umm..." Lula berpaling dari Jereni dan menatap lurus ke depan.
"Aku tidak yakin. Tapi kalau aku tidak melakukannya, aku hanya akan membuat Yejin kecewa, dengan tidak memberitahu kalau aku akan datang ke perlombaannya."
Jereni mengangguk. Dia benar-benar tidak fokus sekarang.
"Jereni, kita harus ke UKS dan memeriksa kakimu."
"Tidak. Aku tidak apa."
"Kau memang keras kepala."
"Aku juga pernah gatal seperti itu, dan hanya air yang bisa mengobatinya." Lula terdiam mengingat sesuatu. "Air.." Lanjutnya membulatkan mata.
"Iya! Kau harus mencoba membasuh kakimu dengan air." Lula terlihat antusias dan memegang lengan Jereni.
Jereni heran dan ia menyipitkan matanya. "Kau pernah seperti ini?"
"Yeah, beberapa kali. Tapi, kurasa itu hal yang normal. Mungkin aku alergi sesuatu, atau apapun itu. Intinya setelah aku membasuhnya menggunakan air, itu akan berakhir." Kata Lula mantap. Dia tidak akan berkata begini kalau dia belum pernah mengalaminya.
Jereni terdiam dan berpikir keras. "Di kakimu?"
Lula mengangguk. "Di belakang telingaku juga. Kala itu telingaku tergores sisi kolam renang, jadinya mungkin meninggalkan bekas dan terasa gatal."
"Bolehkah aku melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Di belakang telingamu..."
Lula menaikkan satu alisnya dan menatap Jereni heran. "Itu sudah sangat lama. Mungkin sekarang sudah hilang."
Jereni menggeleng dan bersikeras untuk melihatnya. Ia menarik Lula dan melihat belakang telinga Lula. Ia terkejut seketika. Jereni melihat garis tipis di sana, beberapa mungkin tiga atau empat, dan ia tahu apa itu.
Kenapa perubahannya secepat ini? Jereni heran. Lula akan mendapatkan insang ketika usianya enam belas tahun.
Kalau seperti ini, dia akan susah untuk bernafas. Jereni menutup mulutnya yang masih menganga.
"Jereni kau kenapa?" Lula bertanya khawatir, Namun Jereni masih saja melongo.
"Hei Jereni!" Lula menggetak sedikit, dan Jereni sadar akan lamunannya.
"Jereni kakimu terlihat buruk!" Benar sekali, Kaki Jereni perlahan memerah dan seperti akan terbakar.
"Jereni, ayo!" Lula beranjak dan menarik Jereni pergi. Mereka berlari dan menghilang dari tempat itu.
***
"Lula apa kau akhir-akhir ini, kesulitan bernapas?" Mereka sudah kembali ke kelas. Pelajaran sepuluh menit lagi dimulai, dan Air berhasil mengobati kaki Jereni tadi.
"Aku tidak punya riwayat penyakit asma. Jadi, hidungku bekerja normal." Kata Lula mantap.
"Apa telingamu itu.. tidak terasa sakit?"
"Tidak. Memangnya kenapa kau bertanya itu?" Lula heran dengan kelakuan Jereni akhir-akhir ini. "Seharusnya aku yang bertanya, apakah kakimu baik-baik saja, sekarang?"
Jereni mengangguk. "Terimakasih, untuk sarannya."
"Aku pernah mengalami itu, Jereni. Jadi itu kemungkinan terbesarnya." Lula tidak sadar sama sekali, kalau ia juga mengalami perubahan. Kakinya akan terasa gatal, dan hanya air yang dapat menyembuhkannya.
Banyak hal yang harus aku ceritakan kepadamu, Lula. Namun, rasanya setiap hari bukan waktu yang tepat.
***
"Istirahat lah. Kalian tidak boleh kelelahan, dan jaga diri. Jumat, kalian akan pergi ke ibu kota, dan berjuang setelah selama ini latihan-latihan yang kalian lakukan." Tuan Ivan memberikan nasihat seperti biasa. Ini sudah siang, dan waktunya untuk kembali.
"Kalian boleh ke sekolah, besok. Tapi saya sarankan, untuk tetap di rumah dan beristirahat. Kalian butuh tenaga penuh.
"Apa kalian mengerti?!"
"Mengerti, Pak!" Jawab Yejin dan Erynav bersamaan.
"Baiklah. Kalian boleh kembali sekarang." Tuan Ivan berbalik dan meninggalkan ruangan.
Yejin hendak berbalik ketika Erynav memegang lengannya.
"Bisakah kita kembali bersama hari ini?"
Yejin menarik nafas kasar dan menatap gadis di sampingnya itu.
"Tidak bisa, Erynav." Yejin melepas tangan Erynav dan berjalan mengambil tas ranselnya di kursi.
"Kenapa? Kau selalu menolak. Alasan sepeda lagi? Yejin aku juga bawa sepeda. Kita pulang sama sama, ya?" Erynav mengikuti kemanapun Yejin pergi.
"Maafkan aku." Yejin berjalan menjauh dan keluar gedung. Erynav menggerutu sambil berjalan. Dia menyambar tasnya dan berlari mengejar Yejin.
"Apa aku membuat kesalahan?"
"Kurasa aku tidak pernah membuat masalah dengan Yejin." Erynav mengikuti Yejin dari belakang dan terus menggerutu.
***
"Kau yakin tidak ingin bersamaku?" Jereni dan Lula keluar kelas bersama dan Lula hanya tersenyum.
"Tidak, Jereni. Yejin mengajakku kembali bersama."
Jereni tersenyum dan mencubit lengan Lula. "Kalian benar-benar sudah akrab lagi, yaa."
"Baiklah Jereni, kita berbeda arah." Lula berhenti dan menatap Jereni.
"Uh huh.. Sampai jumpa, hati-hati Lula!" Jereni menepuk jidat Lula dan berlari sambil tertawa.
Lula hanya meringis merasa geli melihat kelakuan Jereni barusan.
***
"Kenapa kau mengikutiku?" Yejin berhenti dan berbalik menatap Erynav yang berjalan di belakangnya.
"Aku mau ke parkiran. Sepedaku di sana." Erynav menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Yejin seakan tidak perduli dan berbalik untuk berjalan kembali.
Dari kejauhan, Yejin melihat Lula berdiri sambil tersenyum melihat Yejin berjalan mendekat.
"Maaf membuatmu menunggu." Yejin berdiri di depan Lula.
"Tidak apa-apa." Lula masih tersenyum dan senyumannya memudar ketika melihat Erynav muncul dari sisi belakang Yejin dan tersenyum.
"Hai Lula."