
"Kau mengerti?" Bu Anya menyerahkan beberapa lembar kertas dan tidak ada jawaban dari Lula. "Miss Beatriks?" Lula terlihat melamun dan tidak menghiraukan wanita paruh baya di depannya.
"Kau baik-baik saja?" Bu Anya menepuk tangan Lula dan perempuan itu tersadar. "Ah maaf Bu, bagaimana?"
Bu Anya hanya menggeleng dan tersenyum sabar. Dia menjelaskannya kembali dan Lula benar-benar memperhatikannya kali ini. "Kau kerjakan ini semua sendirian. Walau ada beberapa yang kelompok, tapi karena hanya kau yang belum mengerjakannya, kau kerjakan sendirian. Tugasnya tidak sama, sudah ibu buat untuk individu. Ada satu tugas kau harus explore ke hutan. Minta orang dewasa dari keluargamu menemanimu, kedua orang tuamu, atau siapa saja yang masih berkerabat denganmu." Lula mengerti. Dia mengangguk dan menggeleng di saat yang bersamaan. Tugas yang belum ia kerjakan sangat banyak dan kedua matanya benar-benar melotot sekarang.
"Ingat, jangan pergi ke hutan sendirian. Kau mengerti?" Bu Anya merapikan mejanya dan Lula mengangguk. "Jangan pergi sendirian.." Ia mengulangi perkataan gurunya dan meraih tugas-tugasnya lalu berpamitan pergi.
"Sampai jumpa!"
"Yaa hati-hati di jalan."
"Apa aku sanggup?" Lula keluar dari ruangan dan masih tidak yakin bisa mengerjakan tugasnya sendirian. Ini terlampau banyak dan hei memangnya dia tidak masuk kelas berapa lama? "Sepertinya aku akan lembur untuk beberapa hari ke depan." Dia sudah siap dengan konsekuensinya sebenarnya, tapi apalah daya? Bahkan mengingat materi pun ia masih sedikit pusing.
"Ah." Lula berhenti ketika melewati satu-satu ruang kelas yang berada di area ini. Sepertinya dia mengingat sesuatu. "Bagaimana keadaan Caleb ya? Aku sudah tidak mendengar kabarnya lagi, dan dia juga tidak menghubungiku. Apa dia sudah sadar untuk tidak menggangguku lagi? Atau papa memberinya peringatan? Sepertinya mustahil untuk dia tidak mengusikku ini." Lula berjalan kembali dan berbelok ke kanan. Ia harus kembali sendirian. Ia terlanjur bilang papanya untuk tidak menjemputnya karena ia akan menjenguk Yejin bersama teman-temannya, tapi hal ini terjadi.
"Jereni tidak berangkat, dan aku tidak akan menelpon papa. Dia pasti di kantor dan bagaimana aku akan mengganggunya?"
SRETTTTTTTTT
Belum sempat ia menatap depan tiba-tiba sesuatu membuatnya terjatuh. lembaran kertas yang ia bawa terbang dan menimpa tubuh Lula yang terbujur kaku di lantai, berantakan.
"AW!" Teriaknya. Sangat terlambat memang, tapi ia merasakan nyeri yang sangat di punggungnya.
"Semuanya terbang dan berantakan." Katanya berusaha untuk duduk, tapi tiba-tiba kaki seseorang berdiri tepat di depannya. Kertas-kertas yang berantakan tadi sudah tidak ada dan Lula melihat orang itu dari bawah, sampai terus ke atas. Sepertinya ia mengenalnya.
"Kau tidak apa-apa?" Yejin. Anak itu berdiri di depan Lula dan membawa lembaran-lembaran kertas yang telah dipungutnya. Sontak mata Lula membelalak kaget.
Yejin menyodorkan tangan kanannya, mencoba membantu Lula dan perempuan itu meraihnya lalu berdiri. Ia masih tidak menyangka kenapa Yejin berada di sini? Bukankah dia tengah sakit dan HEI! itu berarti teman-temannya percuma pergi menjenguk Yejin? Orangnya malah berada di sini.
"Bukankah kau..." Kata Lula masih memperhatikan wajah Yejin yang terlihat sedikit berbeda itu.
"Sudah lama tidak bertemu ya?"
Lula mengangguk dan tiba-tiba ia merasakan seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Lula." Lula berbalik dan melihat Caleb berdiri tegak di belakangnya.
"Caleb?" Belum lama ia dibicarakan, sekarang orangnya muncul.
"Ya, dan kau terlihat tidak baik-baik saja?" Kata Caleb penasaran. Kali ini laki-laki itu tidak memasang wajah menyebalkannya, dan terlihat beberapa plaster membalut wajahnya.
"Aku baik. Kau yang tidak terlihat baik." kata Lula sedikit kesal. Ia masih mengingat apapun yang telah Caleb perbuat dan sampai sekarang ia masih kesal.
"Kau sedang apa di sini? Mencariku?" Goda Caleb dan Luka mengerutkan keningnya tidak suka. Perempuan itu lalu menoleh ke belakang dan hendak bicara sebelum pemandangan yang tak biasa membuatnya bungkam lagi.
"Yejin?" Lula tidak melihat Yejin di belakang dan ia mencarinya.
"Kau cari apa? Aku ada di sini." Caleb tertawa mengejek. Ia masih orang yang sama, dan mungkin kali ini Lula akan memberinya pelajaran jika Caleb bertindak lagi.
Lula kembali ke Caleb dan melayangkan tatapan tidak suka. "Lihat! Gara-gara kau Yejin jadi pergi. Bahkan sebelum ia memberikan kertas-kertasku."
"Kau bercanda? Dari tadi hanya ada kau dan aku, dan bahkan aku tidak melihat siapapun kecuali kau ketika aku berjalan dari sana."
"Apa?" Lula merasa Caleb membohonginya.
"Maksudmu kertas yang kau pegang itu?" Caleb memukul lembaran kertas yang Lula bawa. Sontak Lula langsung melihat nya dan mengecek apakah ada lembaran yang Yejin bawa.
"Hmm.. bagaimana bisa ini berada bersamaku? Bukankah.." Lula menggelengkan kepalanya lalu pergi berbalik meninggalkan Caleb.
"Hei mau kemana? Tidakkah kau merindukanku?" Teriak Caleb dan Lula sama sekali tidak memperdulikannya kali ini.
"Jika bukan Yejin, apakah tadi hanya imajinasku?? artgghhh pusing sekali." Lula menekan keningnya lalu berjalan cepat.
***
Semua orang mencarinya, termasuk Yejin. Mereka berkali-kali menelpon tapi Matvei terlalu malas untuk mengangkatnya. "Bryan pasti mencariku." Matvei membuka matanya dan duduk. "Tapi aku masih malas untuk menemui semua orang, setelah dua orang yang membuatku selalu baik-baik saja seakan tidak mau menemuiku lagi." Jelas ia membicarakan Elliott dan Jereni.
"Bahkan Jereni, seseorang yang tidak pernah menolakku, dia dengan jelas menunjukkan kalau tidak mau lagi untuk bertemu denganku."
"GOD!!" Matvei berteriak membuat beberapa burung terbang dari pohon dan merasa ketakutan.
Ting tong!
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi dan ia membelalakkan matanya. Catatan, ia belum memberitahu siapapun tentang rumah ini dan bukankah ini sangat jauh dari kota?
***
"Untung aku tidak melupakan dompetku. Di saat begini, dan harus naik bis sampai rumah Yejin."
Ia menatap jam tangan hitam di tangan kanannya dan menepuk jidatnya. "Ya Tuhan! Bis depan sekolah jalan satu menit lagi dan aku harus cepat!" Lula berlari untuk keluar gerbang sekolah. Terlalu lama ia berada di sini belum lagi tadi Caleb yang mengajaknya bicara.
"Ah itu!" Lula menambah kecepatan larinya dan ia berhasil keluar dari gerbang sekolah. Namun, sayangnya bis sudah jalan ketika ia sampai di luar gerbang.
"HEI TUNGGU!!!!" Lula berlari mengejar bis yang jalannya masih lambat itu, "HEY!!!"
Bis berhenti, Lula merasa senang. Mungkin supirnya mendengarkan tapi tiba-tiba..
BRUKKKKKKKKK
"aaaAARGH!"
Lula menabrak seseorang. Ia terjatuh lagi, dan kertasnya bertebaran lagi.
"Maafkan aku.." Seorang perempuan membantu Lula berdiri.
"Lagi?" Gumamnya merasa lelah. Namun, ia langsung bangkit dengan rasa sakit yang lagi-lagi ia rasakan di punggungnya.
Ia langsung memungut semua kertasnya dan perempuan itu juga membantunya. "Terimakasih.." Lula berlari setelah semua kertasnya terambil namun bisnya sudah jauh jalan di depan. Ia menarik nafas lelah dan entahlah bagaimana ia akan pergi ke Yejin tepat waktu, sedangkan bis selanjutnya akan datang setengah jam lagi.
"Maaf, sepertinya kau mengejar waktu. Apa ada yang bisa aku bantu?" Seseorang menyentuh pundak Lula, dan ia berbalik.
Lula terlihat tengah berpikir, apakah ia mengiyakannya atau tidak. Di samping ia butuh tumpangan kali ini, ia juga memikirkan penculikan yang tengah terjadi akhir-akhir ini.
"Mohon maaf Ra.. Nyonya. Mobilnya sudah diperbaiki.." Seseorang berpakaian rapi datang dan berbicara dengan perempuan itu, lalu ia melihat Lula dan sedikit mengubah nada suaranya dan perempuan itu mengangguk. "Baiklah.."
Sepertinya mereka bukan penculik. Perempuan ini terlihat sangat anggun dan pria tadi, terlihat seperti supir profesional dan mobil yang mereka kendarai juga terlihat sangat mewah. Sangat tidak mungkin penculik berpenampilan seperti ini.
"Jangan khawatir, kami bukan penculik." Perempuan tua tersenyum. Seperti membaca pikiran Lula, bahkan dia tahu apa yang tengah dipikirkan Lula.
"Jadi, bagaimana? Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya perempuan itu sekali lagi, dan Lula tersenyum tipis.
"Sebenarnya, aku harus ke suatu tempat. Sekarang. MMM.. ke perumahan dekat perbatasan."
"Benarkah? Kami juga akan ke perbatasan, dan mungkin kau bisa bersama dengan kami."
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Lula merasa tidak enak. Tapi ia harus ke Yejin sekarang dan memastikan sesuatu.
"Tidak, tidak, dan maafkan soal tadi. Kau jadi ketinggalan bis."
"Tidak, nona. Aku yang menabrakmu, dan seharusnya aku yang meminta maaf. Kau tidak terluka, kan?"
Perempuan itu menggeleng dan tersenyum. Senyumnya sangat indah, dan bahkan Lula sendiri sampai terdiam dan merasa sangat nyaman dengannya.