
"Sangat sulit untuk menemukan putri." Penyamaran demi menemukan putri dilakukan. Seratus prajurit dikerahkan untuk sesegera mungkin menemukan Lula. Namun, di antara mereka belum satupun yang dapat menemukannya.
"Kita perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Jangan sampai ketahuan." terdapat seperempat dari yang diperintahkan, tengah berkumpul. Kebetulan mereka dekat, dan tengah membicarakan bagaimana lagi caranya untuk menemukan putri.
"Tapi, bagaimana kita bisa menyegarkan diri?"
"Di waktu tengah malam, cari kolam renang, danau, sungai, atau laut terdekat. Manusia sudah terlelap ketika itu."
Beberapa prajurit mengangguk. Tidak disadari di antara mereka ada seorang yang menyendiri, dan terlihat tengah berpikir keras. Ia berdiri, lalu mendekat.
"Tidak semua manusia terlelap. Terdapat satu tempat, dimana ratusan manusia tidak pernah terlelap. Tersadar lebih lama dan pekerjaan yang mereka lakukan akan membuat kaum duyung terkejut."
Semua prajurit terdiam. Mereka menatap prajurit muda itu, dan meminta penjelasan lebih lanjut akan apa yang baru saja ia katakan.
"Apa maksudmu?"
"Tempat itu sangat besar. Lebih besar dari kerajaan kita. Semua orang bekerja dengan cekatan dan terampil. Mulai dari menangkap buruan, sampai mengambil sesuatu darinya. Baru, dipilih untuk dibunuh, atau dilepaskan, dengan penghapusan ingatan."
Tidak seorangpun di tempat itu berbicara. Mereka fokus dengan perkataan prajurit muda itu.
Prajurit muda itu sepertinya menghela nafas, untuk mengatakan apa yang akan ia katakan habis ini. Dengan tatapan matanya yang sedikit layu, dia membuka mulut, dan berbicara.
"Mereka menangkap mermaid. Diambil darahnya, dan dilepaskan, atau dibunuh."
Semua orang membelalakkan matanya terkejut. Ruangan menjadi gaduh, dan prajurit muda itu memegang kepalanya kesakitan. Sesuatu membuatnya demikian.
"Bagaimana jika kita tertangkap?"
"Aku tidak mau berakhir terbunuh atau hilang ingatan."
"Di mana tempat itu?"
"Jangan sampai kita berada di sana!"
"Nak, kau kenapa?" Seorang prajurit paruh baya berjalan di antara kegaduhan dan mendekati prajurit muda itu.
"Tidak apa." Laki-laki itu menurunkan tangannya dan bersikap biasa ketika kepalanya tak lagi sakit.
"Kau masuk ke dalam tempat itu?" prajurit paruh baya itu bertanya dan prajurit muda itu mengangguk.
"Sepertinya penyamaran kita sangat baik, sehingga ketika aku masuk ke dalam tempat itu, mereka tidak mengenaliku."
"Lalu apa yang kau lakukan setelah itu?"
"Aku tidak sanggup. Bahkan, mereka menangkap anak-anak dan kebanyakan dari yang ditangkao adalah mermaid muda."
Keadaan menjadi gaduh dan prajurit paruh baya itu berbalik.
"DIAM!"
Semua prajurit terdiam dan memperhatikan sumber suara.
"Kita sudah dibekali penyamaran yang sangat kuat oleh ratu, dan mereka tidak akan mengenali kita. Jadi, jangan khawatirkan kita bisa tertangkap. Bergerak seperti manusia, dan jangan mencurigakan! Apakah kalian mengerti?"
"Baik, pak!"
***
kringgg kringgg
Sekolah telah usai. Semua anak bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Kelas selesai hari ini. Jangan lupa untuk mengumpulkan tugas Minggu depan, saya tidak mentoleransi keterlambatan."
"Baik, Pak!"
Mr. Alberto mengambil tumpukan bukunya dan berlalu pergi meninggalkan kelas. Terkadang dia lupa untuk menutup kelas, dan langsung pergi tanpa aba-aba. Mr. Alberto sudah cukup tua dan dia sama sekali belum pensiun.
Hal kecil memang, namun terkadang aku memperhatikannya. Seperti, saat beliau berjalan dan langkah ke tujuh selalu tersandung. Kaki kanan dan selalu sama setiap kali Mr. Alberto mengajar di kelasku.
Aku tidak mengeluarkan buku satupun dari tadi. Sakit perut dan cukup mengantuk. Bahasa Perancis bukan bahasa yang aku sukai. Itu terlalu sulit bagiku. Namun, menjadi mata pelajaran umum di Rusia. Jadi, aku tidak bisa menyangkalnya. Berbanding terbalik dengan Yejin yang sangat pandai bahasa Perancis. Aku selalu meminta ia mengajariku.
"Dah Lula!" Lenka say good bye dan aku hanya tersenyum.
"Lula, bolehkah aku meminjam buku catatan matematikamu?" Dasha mendekatiku. Aku bukan anak yang sangat rajin, hanya saja aku sering bosan dan akhirnya mencatat semua materi yang diberikan guru, dan setiap harinya pasti ada yang memintaku meminjamkan catatan apapun pelajarannya.
"Sebentar." Aku membuka tas dan mengambil buku berwarna ungu dan memberikannya kepada Dasha.
"Terima kasih, Lula. Akan aku kembalikan besok." Dia tersenyum dan pergi kemudian.
Aku bersiap untuk kembali sampai sebuah suara membuatku berhenti."
"Lula."
Aku menoleh ke samping kanan dan melihat Yejin berdiri di sana.
"Kita harus berbicara." Yejin sedikit menggerakkan sudut bibir kanannya ke kanan dan kiri. Itu bukan senyuman, namun lebih ke seringaian. "Di luar." Tambahnya.
Aku mengangguk dan berdiri. "Jangan menyeringai, Yejin."
"Aku hanya tersenyum." Suaranya sangat sangat kecil, namun aku masih bisa mendengarnya. "Itu bukan senyuman." Aku berbalik dan menatapnya. Laki-laki itu hanya menaikkan satu alisnya.
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Kami sampai di depan kelas dan Yejin bersiap untuk berbicara. Aku hanya menunggu dengan tenang. Paling dia mau mengajakku jalan-jalan atau apa. Tidak terkejut.
"Mama."
"Kenapa? Bibi baik-baik saja, kan?" Aku sedikit terkejut. Nada suara Yejin seperti orang yang tengah gelisah, apalagi kata yang pertama ia lontarkan adalah mamanya.
Yejin mengangguk, mencoba memberiku ketenangan. "Baik-baik saja. Hanya saja, .."
"Lula!" aku memutar kedua bola mataku.
"Ah maaf aku mengganggu kalian." Pria itu memotong perkataan Yejin. dan dengan percaya diri memasang muka merasa bersalahnya, padahal yang aku tahu dia sengaja melakukan itu. Aku tidak menghiraukannya dan kembali menatap Yejin.
"Apa yang mau kau katakan, Yejin?"
Yejin menatapku, beberapa detik.
"Lula pasti akan kembali bersamanya dan jika aku mengatakan kalau mama memintanya ke rumah juga sangat tidak mungkin, mengingat kakinya juga sedang sakit."
Aku.. apa yang baru saja aku dengar? Yejin ...
"Lula paman memintaku segera mengantarmu kembali."
Aku menatap Yejin dan dia mengangguk. "Sebaiknya kau kembali."
Tapi bukan itu intinya. Jelas sekali aku mendengar Yejin berbicara, namun realitanya mulutnya tidak bergerak sama sekali.
"Kau mendengar itu, tadi?" Aku menatap Caleb dan ia mengangguk.
"Sudah jelas kan dia juga memintamu untuk kembali."
"Bukan itu. Yang lain?"
"Sudahlah, Lula. Sebaiknya kita kembali sekarang."
"Luka di kaki Lula bisa menjadi alasan kenapa ia tidak bisa ke rumah."
Aku mendengarnya lagi. Suara Yejin.. namun mulutnya tidak bergeming.
"Ayo!"
Caleb merangkulku dan aku melepaskannya. "Aku bisa jalan sendiri." Masih dengan pandangan untuk Yejin. Sama sekali tidak bisa beralih dan Yejin hanya menatapku dengan wajahnya yang datar.
Apa yang baru saja aku dengar, itu memang yang terjadi?