
Tok tok
Suara ketukan pintu membangunkan lamunan Matvei. Dia duduk dan melamun sedari tadi, dan menatap kertas yang tengah dibawanya. Entahlah, tapi ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
"Masuk!"
Pintu terbuka dan masuklah seorang perempuan berpakaian rapi, dengan rambut pirang yang digerai cantik, selaras dengan muka pucatnya yang dilapisi make up.
"Ada apa, Dayana?" Matvei menatapnya. Dayana berhenti tepat di depan Matvei.
"Selamat pagi menjelang siang, pak!! Mr. Matvei diminta untuk pergi ke distrik 1."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Mr. Bryan."
"Bryan?"
"Iya."
"Biasanya dia menelponku langsung. Ada apa kali ini?" Matvei meletakkan kertasnya di meja. "Terimakasih, kau boleh keluar."
"Baik, Mr." Dayana keluar dan Matvei beranjak dari kursinya. Dia keluar ruangan dan berjalan menelusuri koridor sebelum sampai di lift, untuk pergi ke lantai satu. Ruangannya berada di lantai 3 dan gedungnya sampai lantai 10.
Matvei sampai di lantai 1, dan lift terbuka. Ia berjalan mengurutkan distrik dan sampai pada distrik 1. Mengambil kartu identitas, dan menunjukkannya pada alat di samping pintu. Lampu berubah hijau dan pintu yang sangat besar itu terbuka. Tidak ada seorang pun yang mampu menggerakkan pintu itu, kecuali terbuka dari alatnya.
Matvei masuk dan pintu tertutup kembali dengan sendirinya. "Bukannya tugasku nanti sore? Kenapa dia memanggilku ke sini?" Matvei sangat membenci tempat ini, karena harus melihat kaumnya sendiri mereka dibunuh. Matvei terus berjalan mencari Bryan.
"Alex! Kau lihat Bryan?" Matvei berteriak, kepada seorang pria yang tengah mengecek sesuatu di catatannya. Alex berhenti lalu melihat sekelilingnya.
"Tidak!" Teriak Alex dan ia kembali bekerja lagi.
"Dimana dia?" Matvei mengeluarkan ponsel dan menelpon Bryan, namun sepertinya ponsel Bryan dimatikan.
"Apa Dayana salah informasi?" Matvei berjalan menelusuri distrik 1 dan mengalihkan pandangannya ketika melewati sekumpulan duyung yang tengah disuntik dan siap diambil darahnya.
"Apa dia mengerjaiku?"
"Roy! Kau lihat Bryan?"
"Maaf, Pak. Tapi dia belum kemari dari pagi."
"Apa?" Matvei berhenti. Dia sedikit ke sisi ruangan, dan berdiri tepat di atas lubang kotak besar, jalan keluar masuk untuk menjaring duyung dan langsung terhubung dengan laut. Peusahaan berdiri tepat di atas laut. Dia mengacak rambutnya dan merasa sangat suntuk. Ia memutuskan untuk menelpon Bryan.
"Nomor yang Anda tuju, tidak dapat dihubungi.."
Matvei mematikan panggilannya, sebelum wanita di telepon menyelesaikan perkataannya. "Dia membuang waktuju saja!" Matvei berbalik dan hendak berjalan, tapi seseorang menyenggolnya, membuat tubuhnya tidak seimbang, dan ia tersandung kakinya sendiri. Matvei tidak bisa mengendalikan tubuhnya membuatnya terjatuh ke dalam lubang kotak besar.
Tidak ada orang di sekitar situ, dan Matvei berpegangan pada pagar besi di setiap sisi lubang. Berusaha naik, namun tiba-tiba pandangannya memburam. Kepalanya sakit tiba-tiba membuat satu tangannya lepas. Dia memegang kepalanya. Tidak kuasa untuk berteriak minta tolong, Matvei memfokuskan pandangan, namun pandangannya semakin memburam dan ia kehilangan setengah kesadarannya.
Pegangannya semakin melonggar, dan ketika tangan satu-satunya yang ia gunakan untuk bertahan lepas, tangan seseorang menahan tangan Matvei. Menariknya, dan menyelamatkannya dari maut. Di bawah sana sangat berbahaya, bisa saja ada hiu atau semacamnya, dan Matvei juga bisa terbawa arus di bawah gedung.
***
"Apa yang terjadi?" Sofia terburu-buru datang bersama Mark di belakang setelah mendapat telepon dari Yejin.
"Dia sudah bisa berbicara." Yejin berdiri dari duduknya.
"Ah syukurlah.." Sofia tersenyum dan berdiri menghadap jendela dan melihat dokter dan seorang perawat tengah memeriksa Lula.
"Dia baik-baik saja?" Mark berdiri di depan Yejin dan Yejin mengangguk. "Dia bilang sedikit pusing, tapi dokter tengah memeriksanya, jadi dia akan baik-baik saja."
Mark mengangguk dan menepuk pundak Yejin. "Terimakasih untuk menjaganya, ketika kami pergi."
Yejin mengangguk. Mark baru kembali dari sekolah Yefy. Acara pertunjukan tengah semester, dan Yefy memerankan tokoh utama pria di sana. Tidak tahu cerita apa yang dia bawakan, namun pihak keluarga harus ada yang menghadiri acara tersebut, dan Mark yang datang.
Sofia membantu Yeva di rumahnya. Keluarga besar Yejin datang hari ini, dan mereka sangat repot. Membuat makanan dan segalanya.
Dokter merapikan peralatannya dan keluar dari ruangan Lula.
"Bagaimana keadaannya, dok?"
Dokter tersenyum. "Pasien baik-baik saja. Efek koma, setiap bangun tidur akan terasa pusing sebentar. Tapi, dia akan baik-baik saja. "
"Sudah mendingan?" Perawat bertanya kepada Lula dan gadis itu mengangguk. "Baiklah, jangan terlalu berpikir keras, kau akan baik-baik saja." Perawat menepuk tangan Lula dan tersenyum.
"Apa kami boleh masuk?"
"Tuan Mark? Bisakah Anda ikut saya sebentar ke ruangan saya?"
"Baiklah." Mark menatap Sofia dan wanita itu mengangguk paham.
"Sayang.. mama sangat menghawatirkanmu.." Sofia masuk dan memeluk Lula. Lula tersenyum dan membalas pelukan mamanya lalu menutup matanya, merasakan setiap inci pelukan mamanya.
"Kenapa mama tidak memberitahuku kalau neneknya Yejin meninggal?" Lula membuka matanya dan melepaskan pelukan mamanya.
"Kau tahu mama sangat merindukan suaramu?" Sofia duduk di kursi samping tempat tidur dan Lula masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Mama, dia sudah seperti nenekku sendiri. Setidaknya aku bisa melihatnya untuk terakhir kalinya." Wajah Lula berubah menjadi masam. Sofia menyentuh tangan Lula.
"Kenapa kau tidak menjawabnya?" Lula melepas tangan mamanya dan menuntut untuk mendapatkan jawaban sekarang.
"Ketika kau sadar untuk pertama kalinya setelah beberapa hari koma, kami mendapat kabar kalau neneknya Yejin meninggal. Sangat tidak mungkin kalau kami memberitahumu dan membawamu ke sana saat itu."
"Tapi aku sudah sadar kan?"
"Ya. Tapi kau kembali pingsan, dan kami harus menunggu beberapa jam sampai kau sadar kembali, namun dokter memberimu obat membuatmu tertidur. Kalau kami memberitahumu saat itu juga, kau tidak akan mengerti, Lula. Kau belum sepenuhnya sadar."
"Ma tapi kau juga tidak langsung memberitahuku ketika aku sudah sadar."
"Kami tidak ingin membuatmu bersedih, Lula. Kesembuhanmu sangat penting." Mark datang tiba-tiba dan mengelus kepala Lula.
Lula sebenarnya paham. Tapi ia merasa tidak adil saja. Setidaknya ia bisa sembuh dengan melihat wajah nenek Yejin untuk terakhir kalinya.
"Kapan aku akan kembali?" Lula menarik nafas pelan. Banyak hal yang masih tidak ia mengerti dan terlupakan. Ia juga masih tidak ingat kenapa ia bisa ada di sini. Lula ingin tahu, tapi seakan kejadian ini juga ditutup-tutupi darinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? duduk dia di sini dan menunggu ia sembuh? Lalu kembali ke rumah, kemudian istirahat beberapa hari sampai ia benar-benar pulih dan kembali berangkat ke sekolah.
Di sekolah ia akan bertemu teman-temannya termasuk Jereni dan yang lainnya. Caleb akan terus menganggunya, dan ia kembali berharap Yejin akan menyelamatkannya, walau harapannya terkadang tidak terkabul.
Lula nyengir. Kepalanya sakit sebelah dan tangan kanannya memeganginya.
"Apa yang terjadi?" Sofia gerak cepat dan menyentuh kepala Lula. "Sedikit sakit, tapi tidak apa. Bayangan Caleb terlintas di pikiranku, lalu aku langsung sakit kepala." Lula tersenyum tipis lalu mengibaskan tangan kirinya. Sofia dan Mark saling bertatapan dan mereka berdua mengangguk.
"Lula.." Sofia mencoba berbicara. Dia ingin menjelaskan semua yang terjadi. Situasi saat ini sangat tepat dan Lula juga sudah bisa berbicara. Mereka tidak mau menyembunyikan semua ini dari Lula, dan gadis itu harus tau. Dokter bilang Lula akan mengalami amnesia sementara, namun kalau mereka tidak memberitahu Lula, akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan nantinya.
"Kalian ingin membicarakan sesuatu?" Lula siap mendengarkan. Dia berharap kali ini kedua orang tuanya memberitahu semua yang telah terjadi. Bagaimana ia bisa berada di rumah sakit dan terluka cukup parah. Lula ingin tahu semua itu.
"Se-"
"LULA!!!"
Lula menatap arah pintu. Seorang perempuan berdiri di sana dengan nafas yang tidak teratur.
***
"Dimana dia?" Elliott mondar mandir di ruang tamu. Ia menunggu matvei dari tadi, dan laki-laki itu tak kunjung datang.
"Aku menelpon tidak diangkat, chat tidak dibalas. Apa yang sebenarnya ia tengah lakukan?" Elliott duduk dan memandangi ponselnya.
"Kenapa? Dia tidak datang?" Alexei datang. Dulu ia sangat dekat dengan kakaknya, namun semenjak Elliot memiliki hubungan dengan Matvei, laki-laki itu seakan tidak mau berbicara lagi dengan kakaknya.
Elliot tidak memperdulikannya. Dia masih terus memandangi ponselnya, barangkali Matvei menelpon balik.
"Papa benar. Kau memilih orang yang salah. Dia tipe laki-laki yang hanya mempermainkan wa-"
"STOP Alexei, STOP!" Elliott berdiri. Dia berjalan dan berhenti tepat di depan adiknya. "Satu kata lagi aku mendengar kau menjelek-jelekkan Matvei, jangan harap aku akan diam saja." Keduanya bertatapan. Terlihat sesuatu di mata masing-masing, dan kilat perang bersaudara sepertinya mulai terbentuk.
"Jika kau tidak suka dengannya, terserah. Itu hak mu. Tapi, kalau kau sampai menjelek-jelekkannya, entah apa kau malah terlihat seperti pengecut. Apa yang sebenarnya menjadi masalahmu, adik? Kau sendiri menjadi bawahannya, tapi laualah seperti ini. Sangat tidak mencerminkan seorang pria sejati." Elliott tertawa puas. Alexei memang adiknya. Namun, jika dia berani mencampuri urusannya, maka sebuah pengecualian.
"Bekerja di bawahnya? Kau lupa siapa yang lebih dulu berada di perusahaan itu? AKU! Tiba-tiba saja dia masuk dan menduduki jabatan yang setara dengan Bryan." Terlihat kekecewaan yang amat dalam di mata Alexei. Dia memang telah berada di perusahaan Bryan sebelum Matvei ada. Dia hampir menjadi asisten pribadi Bryan, sebelum Matvei datang dan merecohkan segalanya. Inilah awal bibi kebencian itu tumbuh, meracuni hatinya sehingga menjadi hitam dan sangat berbahaya.
Dia hanya tidak tahu kalau Matvei adalah salah satu orang yang menyelamatkannya dari dipecat dari perusahaan Bryan. Dulu sekali, ketika Alexei dipromosikan menjadi asisten pribadi, Matvei muncul. Sesuatu terjadi membuat Bryan tidak mempercayai siapapun untuk menjadi asistennya gara-gara Matvei masuk ke dalam perusahaan.
Bagi Bryan, seorang Matvei adalah pribadi yang sempurna. Kemudian, dia menjadikannya asisten pribadi dan sejak saat itu, mata hitam Alexei berubah menjadi merah. Semerah monster ketika membunuh korbannya.
Hubungan Matvei dan Bryan baik-baik saja, sampai Alexei dengan rencana-rencananya yang sukses membuat hubungan keduanya buruk. Bahkan, Bryan hampir memutuskan hubungan kontrak dengan Matvei. Tapi, Matvei mengancam kalau Bryan berani memutuskan kerja sama, maka Matvei juga bisa mencabut hak akses laut. Akhirnya keduanya tetap bekerja sama, walau mereka tidak saling percaya lagi satu sama lain dan selalu waspada.
"Jadi, kau dendam?" Elliott berjalan maju. Alexei hanya terdiam karena itulah yang terjadi sebenarnya.
"Bukan" Alexie berjalan maju, lebih mendekatkan diri kepada kakaknya yang berdiri angkuh di depannya.
"UrusanMU" Dia berhenti, dan menatap kakaknya dengan kilat iblisnya.