Luna Rusalka

Luna Rusalka
66



Berusaha sekuat tenaga, dan Yejin sampai di tombol waktu. Dia memencet itu dan waktu berakhir. Skor telah tercatat.


Skor untuk tim Yejin berkurang banyak, karena terjadi pergantian peserta.


Tapi itu bukan intinya. Tuan Bogdan tidak menuntut untuk harus menang. Ini bukan persoalan menang atau kalah. Ini persoalan bagaimana kita berusaha sampai titik akhir. Sampai kita merasa puas, selebihnya hanya Bonus ataupun penghargaan.


Yejin naik ke sisi kolam renang dan menghampiri Lula. Dia masih tidak mengerti apa yang terjadi. Dia ingin meminta penjelasan sekarang.


"Ayo kita kita kembali ke sana."


Yejin mengangguk. Dia berjalan tepat di belakang Lula dan mereka kembali ke tempat duduk.


Erynav terlihat duduk di kursi roda yang dituntun oleh seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.


Yejin menyipitkan kedua matanya dan semakin penasaran. Terlebih lagi dia melihat perban melilit kaki kiri Erynav. Ada apa, batin Yejin.


"Akan aku jelaskan, nanti, Yejin." Lula mengerti, Yejin pasti bertanya tanya apa yang telah terjadi sampai Lula yang menggantikan Erynav dan semuanya terjadi seperti ini.


"Kalian team yang hebat." Erynav tersenyum dan memegang tangan Yejin dan Lula.


"Aku salah tentang kalian. Lula, kaulah yang pantas menjadi partner Yejin. Bukan aku, dan sekarang aku mengerti semuanya. Ini takdirku, tidak berenang bersama Yejin."


"Kau jangan berbicara seperti itu, Erynav. Ini semua kecelakaan, dan kita tidak tahu akan terjadi seperti ini." Lula menggenggam tangan Erynav dan membuatnya tidak menyalahkan diri sendiri.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Tidak banyak waktu untuk menjelaskan, Yejin."


"Ronde akhir akan dimulai satu jam lagi. Dimohon seluruh peserta untuk mempersiapkan segalanya."


"Kita harus membicarakan nya sekarang, Lula." Yejin terus memaksa ingin tahu apa yang telah terjadi. Tak ada pilihan lagi, Lula mengambil nafas dan menjelaskan semuanya sekarang.


-Flashback on-


"*Saya akan mencarinya." Tuan Ivan berlari ke arah toilet.


"Aku juga akan mencari nya. Yejin tunggu sebentar." Lula berlari menyusul Tuan Ivan dan mencari dimana keberadaan Erynav.


Seorang gadis berambut pirang keluar dari toilet dan itu tidak menjadi masalah.


Mereka berdua berlari dan mendengar seseorang minta tolong ketika sampai di sana.


"Cepat cepat!"


"Help!! Help!!"


"Erynav!"


Tuan Ivan masuk diikuti Lula di belakang. Ia membuat pintu kasar dan melihat Erynav terbaring kaku di lantai. Ia tengah menangis dan mencoba meminta pertolongan.


"Astaga Apa yang terjadi?" Tuan Ivan berlutut dan membantu Erynav untuk duduk. Namun Erynav terlihat kesakitan.


"It's hurt!"


"Jangan gerakkan dia dulu, Tuan Ivan. Kurasa cidera nya parah."


"Sakit sekali.." Erynav tak berhenti untuk menangis dan ia merasa amat sangat kesakitan.


"Apa yang terjadi?" Lula bertanya. Dia khawatir dengan Erynav.


""Semua peserta bersiap di tempat peluncuran.."


*Lula dan Tuan Ivan terdiam mendengar kan itu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan melihat kondisi Erynav yang seperti ini.


"Apa yang terjadi?"


"Aku terpeleset dan terjatuh, menghampar lantai. Itu sangat sakit. Ketika aku berusaha berdiri seseorang memukul dan mendorong ku hingga terjatuh. Itu menjadi tiga kali lipat dan tubuhku tidak bisa bergerak sekarang."


"Bagaimana sekarang, Tuan Ivan?"


"Kau yakin tidak bisa bergerak?"


Erynav menggeleng.


"Kurasa dia tidak bisa melanjutkan perlombaan."


"Lalu bagaimana?"


"Jaga dia sebentar, aku akan memanggil bantuan."


Lula mengangguk dan memegangi Erynav. Sementara Tuan Ivan keluar untuk mencari bantuan.


"Sakit sekali, Lula."


"Iya, Erynav. Sebentar, Tuan Ivan sedang mencari bantuan."


"Maafkan aku, Lula."


"Untuk apa?"


"Aku berusaha merebut posisimu, dan mencoba mendekati Yejin."


Lula terdiam ketika mendengar itu dari Erynav.


"Tidak, itu bukan salahmu."


"Lula kau tidak mengerti."


"Jangan terlalu banyak bergerak. Itu akan menambah rasa sakitmu."


"Lula, aku tidak bisa mengikuti perlombaan lagi, bisakah kau.." Erynav menatap Lula dan mereka terdiam cukup lama, dan Lula mengangguk akhirnya.


"Cepat dia kesakitan di sana." Tuan Ivan berlari ke toilet dan diikuti dua orang petugas kesehatan di sana. Mereka membawa tandu dan segera masuk ke toilet.


Lula dan Tuan Ivan masih berdiri dan berpikir apa yang harus dilakukan.


"Seperti nya team kita akan didiskualifikasi." Tuan Ivan mengacak rambutnya.


"Tidak."


"Apa maksudmu?" Tuan Ivan menatap Lula.


"Aku yang akan menggantikan Erynav."


"Bagaimana dengan orang tua mu?"


"Aku bisa menjelaskan nya nanti. Cepat Tuan Ivan kita kehilangan banyak waktu."


Tuan Ivan mengangguk. "Baiklah, kau bersiap di ruang ganti, saya akan berbicara dengan Tuan Bogdan dan mencarikanmu baju renang."


"Tidak usah, aku membawanya. Itu di ransel di tempat kita tadi."


"Baiklah, akan aku ambil. Kau pergi sekarang ke ruang ganti."


Lula mengangguk dan mereka berdua pergi ke tujuan mereka masing-masing.


***


Tuan Ivan berlari menghampiri Tuan Bogdan.


"*Apa yang terjadi?"


"Cerita singkat nya, Erynav cidera dan jika kita tidak mau team didiskualifikasi, kita harus menggantikannya."


"Bagaimana bisa dia cidera?"


"Kita harus menggantikannya, Pak Bogdan."


"Tapi siapa? Kita akan kehilangan banyak skor jika kita menggantikan Erynav."


"Ya kau mau kehilangan banyak skor atau didiskualifikasi?"


"Baik baik, tapi siapa yang akan menggantikan Erynav?"


"Lula. Kau lupa dia berada di sini?"


"Bagaimana dengan orang tuanya?"


"Kita akan mengurus itu nanti. Yang terpenting kita bicara dengan panitia sekarang." Tuan Bogdan terdiam untuk berpikir dan akhirnya dia setuju dengan perkataan Tuan Ivan.


Tuan Bogdan mengangguk dan mereka berjalan ke arah panitia berada.


"Ingat tuan-tuan, keputusan ini akan mengurangi setengah skor peserta."


"Ya kami siap menerima resikonya."


"Kami mohon, bukankah ini diperbolehkan?"


"Baiklah, kalian bisa memasukkan peserta pengganti sekarang."


"Ah syukur lah, terimakasih." Tuan Bogdan dan Tuan Ivan pergi dari sana.


"Kau pergi memberitahu Lula untuk bersiap dan aku akan memberi tahu ayahnya."


"Tuan Bogdan."


"Ada apa?"


"Jangan Lupa untuk memberitahu Pak Mark membawa ransel Lula. Baju renangnya berada di sana."


Tuan Bogdan mengangguk dan Tuan Ivan pergi ke ruang ganti.


"Kebetulan atau bagaimana?" Tuan Bogdan menggeleng dan berlari menghampiri Mark.


"Ada apa?" Mark bertanya.


"Sesuatu terjadi. Akan saya jelaskan nanti, anda diminta untuk pergi ke ruang ganti sebelah sana, dan membawa ransel milik Lula. Sekarang, Tuan Mark. Ini darurat."


"Baiklah.." Mark berdiri dan berlari ke ruang ganti.


"Itu terlihat sangat mendebarkan. Dan pada akhirnya, gadis keras kepala itu yang akan menjadi partner Yejin." Tuan Bogdan tersenyum kepada Yejin yang sedari tadi memperhatikan nya*.


***


"*Apa yang terjadi, Lula?"


"Papa tolong baju renangnya. Aku akan jelaskan ini nanti."


Mark mengangguk dan menyerahkan tas ransel Lula. Lula menerima itu dan membuka tasnya dengan cepat. Ia mengambil baju renang itu dan langsung pergi ke salah satu tuang ganti.


"Ada apa?" Mark bertanya kepada Tuan Ivan.


"Lula harus menggantikan Erynav. Terjadi kecelakaan kecil dan dia cidera, tidak bisa melanjutkan perlombaan."


"Tapi saya tidak memberi izin untuk itu."


"Maaf, Tuan Mark. Kami harus melakukan ini. Mohon pengertiannya.."


"Tuan Ivan.."


"Papa kumohon. Ini darurat dan aku harus cepat ke sana."


Mark terdiam dan mengangguk akhirnya*.


-Flashback off-