
Hai readers! Scroll bagian bawah dulu hayukk💜
---
"Kau yang akan mengantarkannya?" Sofia bersandar di tembok.
"Terimakasih, bibi. Kupikir kau tidak bisa datang." Wanita itu tersenyum sembari melihat kuku jari tangannya.
"Iya. Nanti sore. Jangan lupa ajak Paman."
"Baiklah, sampai jumpa."
***
"Menurutmu aku lebih baik beli baju atau jam tangan?" Jereni menyentuh tangan Lula. Mereka berada di mobil Rwka yang menuju supermarket atau mall untuk jalan-jalan.
"Baju apa lagi? Bukankah baru kemarin kau bilang habis membeli baju?" Lula tidak heran. Jereni memang suka mengoleksi barang, termasuk baju yang biasanya ia hanya memakainya sekali, kemudian tidak dipakai lagi.
"Satu yang belum aku punya."
"Jereni kau harus berhemat." Lula selalu mengingatkannya untuk berhemat namun tabiat gadis itu tidak dapat diubah.
"Kalau begitu aku akan membeli jam tangan saja. Nanti kita beli kembaran, ya?"
Aneh. Tidak biasanya Jereni mengajakku membeli sesuatu yang sama.
Gumam Lula merasa ada yang aneh. Jereni terlihat berbeda hari ini, atau bahkan beberapa hari terakhir ini jika Lula benar-benar memperhatikannya. Ia juga sedikit ceria dan peduli. Tidak biasanya gadis itu detail memperhatikan Lula dan sedikit perhatian.
"Bagaimana menurutmu?" Jereni menepuk pundak Lula dan gadis itu mengangguk.
***
"Bagaimana keadaan dekorasinya?" Sofia berjalan mendekati Matvei dan laki-laki itu berdiri tegak sambil mengusap peluhnya.
"Sedikit melelahkan." Canda putra pertama Yeva itu sambil tertawa.
"Indah sekali. Bahkan aku tidak berpikiran untuk menatanya seperti itu." Sofia tersenyum dan terlihat kagum. "Ah iya jangan lupa taruh ini di belakang pintu masuk." Sofia menyerahkan sesuatu mirip penangkal mimpi buruk dan Matvei menerimanya.
"Apa ini?"
"Hanya hiasan. Tidak usah dipikirkan."
Benda itu terlihat berkilau dan sedikit bercahaya. Matvei memperhatikannya dan sesuatu terjadi. Benda itu mengeluarkan asap biru dan ..
Ting tong
Bel rumah berbunyi membuat laki-laki itu terkejut. Ia menengok ke belakang dan tidak ada siapapun selain dia di sini. Sofia mungkin sudah pergi dan dia yang harus membuka pintu.
Matvei berjalan ke depan dan menggantung benda itu terlebih dahulu di pintu masuk kebun belakang, baru ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"Kau sudah .." Mark berhenti ketika melihat bukan istrinya yang membuka pintu.
"Ah kau."
Matvei tersenyum dan mempersilahkan Mark untuk masuk.
"Kemana Sofia?"
"Bibi di belakang."
"Tumben kau kemari." Mark melepas jasnya dan berjalan ke belakang.
"Saya membantu bibi. Acaranya nanti sore, bukan?"
"Ya dan terkadang aku heran Sofia selalu melakukan semuanya sendirian. Tapi kali ini kau membantunya." Mark tersenyum dan menepuk pundak Matvei.
"Aku akan bersih-bersih, baru membantumu."
Matvei mengangguk dan kembali ke taman belakang.
***
"Satu jam kita memutari tempat ini dan aku mulai lelah. Bisakah kita duduk sebentar? Aku sangat haus, Jereni. Lebih baik kita ke kedai untuk membeli minuman dan menghampiri bibi Rwka."
Jereni melihat jam tangannya. "Kau benar. Maafkan aku, aku sangat bingung. Baiklah kita ke kedai untuk membeli minuman."
Mereka berjalan ke kedai makanan dan minuman yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.
"Kau mau beli apa?" Jereni menengok dan melihat Lula yang berhenti dan menatap kedai seafood di samping mereka.
"Baby gurita bakar." Gumam Lula sambil melamun. Jereni menggelengkan kepalanya dan menghampiri Lula. "Belilah kalau mau. Aku yang traktir."
"Kau serius?"
"Ya. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti juga kau akan makan ba-" Jereni menutup mulutnya. Hampir saja ia mengatakan kalau Lula akan makan seafood sepuasnya di rumah.
"Makan apa?"
"Kupikir kau lapar." Jereni mendorong Lula dan gadis itu tersenyum.
***
"Jam berapa ini?" Sofia bertanya dari dapur.
"3:01 a.m." Teriak Mark dari kebun belakang.
"Aku belum selesai di dapur. Bagaimana keadaan di situ?" Sofia berjalan dengan cepat menghampiri suaminya.
"Beres."
"Fabulous." Sofia berhenti dan terkesan dengan hasil akhir dekorasi pestanya itu, yang selalu ia bilang sederhana tapi nyatanya luar biasa seperti pesta pernikahan.
"Lula akan kembali pukul 4:00. Ia pasti kelelahan dan aku belum selesai di dapur. Bibi Fyodora dan semuanya juga belum datang. Bagaimana jika tidak berjalan dengan lancar?" Sofia khawatir dan Mark mencoba menenangkan.
"Tenangkan dirimu, Sofia. Aku akan membantumu di dapur dan -"
Ting tong
"Kurasa itu mereka." Mark menduga itu Bibi Fyodora atau Alex. Intinya bukan Lula. Karena gadis itu tidak akan pernah menekan bel dan langsung masuk. Lagi pula, Matvei mengawasi di depan dan seharusnya mereka berdua tenang.
***
"Kau suka?"
Lula mengangguk. "Aku sudah mengincar jam tangan ini dari terakhir aku kemari."
"Ya dan kau beruntung mereka masih menyimpannya."
Lula mengangguk lagi. "Terimakasih, Jereni."
Kau segalanya bagiku, Lula. Apapun akan aku lakukan untukmu. Untuk menebus kesalahanku dan terus bersamamu selamanya untuk mengabdi pada Putri Samudera.
"Aku sangat menikmati hari ini. Mungkin sangat melelahkan tapi kau tahu? Belakangan ini sangat berat dan aku pusing sekali. Tapi kita bersenang-senang hari ini, dan aku sangat berterima kasih padamu. Kau yang sangat murah hati akhir-akhir ini dan aku curiga ada sesuatu yang kau sembunyikan." Lula menatap Jereni menyidik dan Jereni menaikkan kedua alisnya.
"Ini sudah sore. Kita harus kembali." Jereni mengalihkan pembicaraan dan itu sukses membuat Lula teralihkan.
"Ah iya. Mama pasti akan memarahiku kalau pulang terlalu sore."
***
"Terimakasih, bibi. Kau juga Jereni sudah mengajakku jalan-jalan." Lula tersenyum. Ia berdiri di depan gerbang rumahnya dan menunggu Jereni untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk saja, Lula. Jangan khawatirkan kami." Jereni mendorong Lula dan gadis itu bingung tidak mengerti. Namun ia mengangguk dan berjalan masuk. Tak lupa menggerakkan tangan kanannya untuk memberikan salam perpisahan.
Lula's POV
Lelah sekali seharian berada di luar. Apalagi, tadi Jereni memutari mall sampai aku tidak kuat untuk berjalan beberapa menit.
Rumah terlihat sepi dan tidak biasanya mama menutup garasi. Tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin mama pergi?
Aku jalan menaiki tangga kayu di depan dan mengetuk pintu rumah. Pintu sedikit terbuka sendiri dan berderit ketika aku menyentuhnya. Mama tidak mengunci pintu? dan rumah terlihat gelap gulita. Lampu dimatikan atau memang mati lampu?
Aku tidak takut, tapi merasa sedikit merinding merasakan udara yang dingin seketika ketika aku masuk ke dalam rumah.
"Mama?" Aku berjalan ke belakang sambil berpegang pada tembok.
"Mama?"
"Aw." Tak sengaja tersandung sesuatu dan kakiku sedikit menekuk. Mata masih dalam proses menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan masih tidak bisa melihat apa yang ada di bawah.
Oke aku mulai takut sekarang.
Aku melihat cahaya dan kurasa itu arah belakang. Di taman belakang. Tanpa atap dan langsung di luar, matahari masih bersinar jadi tidak nampak gelap. Mungkin mereka berada di sana?
Aku mencoba berjalan ke arah pintu taman dan cahayanya sangat terang. Mataku sedikit sakit dan agak menutupnya menggunakan tangan kiri ku, dan membuka pintu dengan tangan kanan.
"SURPRISE!!!" Sesuatu semacam kertas kecil-kecil terjatuh berterbangan mengenai tubuhku dan aku mendengar beberapa orang berteriak di sekitarku.
Aku mencoba membuka mataku dan menyesuaikan dengan cahaya terang. Aku melihat setiap sudut taman belakang dan ...
"Happy Birthday, our little princess.." Semua orang bertepuk tangan.
Aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku dan mereka semua berada di sini untuk merayakannya. Tak terasa senyuman tersungging di wajah yang masih sangat lelah beraktivitas di luar seharian.
Aku memang tidak suka pesta ulang tahun dan kali ini terlihat sedikit berbeda dari tahun sebelumnya dan dengan kejutan dan mereka sukses mengejutkanku, karena aku sama sekali tidak mengingat kalau hari ini adalah hari dimana aku dilahirkan. Tapi aku merasa sangat senang dan tidak terganggu sama sekali.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday happy birthday. Happy birthday to you." Mama, papa, Yefy, paman Alex, bibi Anjanette, Berry dan Beck anak kembar paman Alex. Bibi Fyodora dan Cael putranya juga ada. Kak Matvei juga di sini. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku.
Aku hanya bisa menyatukan kedua tanganku dan tersenyum. Mereka membuat semua ini hanya untukku.
Tapi, perlahan senyumanku meluruh. Yejin tidak ada di sini. Di ulang tahunku. Yejin tidak berada di depanku dan memberiku selamat. Yejin..
Seseorang memelukku dari belakang. Aku membelalakkan mataku dan tersenyum.
"Yejin?" Aku memutar badanku dan melihat Jereni dan bukannya Yejin tengah tersenyum.
"Happy Birthday, my sweety little princess!" Jereni memelukku dan aku hanya terdiam.
"Happy birthday, Lula." Bibi Rwka tersenyum di belakang Jereni. Aku tersenyum dan Jereni melepaskan pelukannya.
"Kau di sini?" Aku benar-benar terkejut. Apa Jereni tahu semua ini? Dia memakai baju hitam dan celana abu-abu, dan tidak mengenakan seragam lagi. Kapan gadis itu berganti pakaian?
"Ya dan bersenang-senanglah! Hari ini adalah harimu!" Jereni menarikku ke taman dan semua orang mengikuti kami sambil masih menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Ia membawaku ke panggung kecil dan di belakangnya spanduk besar dengan gambarku dan tulisan Happy Birthday terpampang jelas di tengah.
"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga. Sekarang Juga!"
Ulang tahunku kali ini sungguh sangat berbeda. Ada kue, bibi Fyodora, dan tidak ada Yejin. Memang dulu hanya beberapa kali Yejin datang, tapi hari ini entahlah aku merasa sedikit tidak senang.
"Ayo tiup lilinnya, Lula." Jereni mendorongku ke depan, dekat dengan kue sederhana rasa black forest itu.
Mama sama papa tersenyum, dan semua orang yang ada di sini menungguku meniup lilinnya.
"Satu," Jereni menghitung dan aku bersiap meniup lilin.
"Ah tunggu!" Semua orang menatap mama dan mama berjalan menghampiriku.
"Make a wish, Lula." Benar juga.
"Ah iya. Ayo tutup matamu!" Jereni menyuruhku untuk menutup mataku dan meminta permohonan.
Aku mengangguk dan menutup mataku kemudian.
*O God. Terimakasih atas hidup sempurna yang kau berikan ini. Orang-orang baik di sekitarku dan itu sudah cukup. Harapanku ..
Harapanku .. aku hanya meminta mereka selalu berada di dekatku dan bersamaku untuk selamanya. Mama papa, Yefy, Jereni, Kak Matvei, semuanya, dan Yejin.
Aku juga berharap Yejin berada di sini, namun itu hal yang mustahil. Dia berangkat sore ini dan aku hanya berharap dia kembali dengan selamat. Ameen*.
Aku membuka mataku dan meniup lilin. Semua orang tersenyum bahagia dan bertepuk tangan ketika lilin benar-benar padam.
"Happy birthday our sweety daughter." Mama memelukku dan mencium keningku.
"Happy birthday my big daughter." Papa juga, dan Yefy mengedipkan sebelah matanya.
"Ini untukmu, dari kami." Mama menyerahkan kotak hadiah yang cukup besar dan aku menerimanya. "Terimakasih, mama papa."
"Happy birthday, Lula." Yefy juga. Apa? Dia memanggil namaku saja?
Papa dan mama tertawa mendengar perubahan sikap Yefy seperti ini. Baru kemarin rasanya dia memanggilku kakak dan sekarang hanya namaku? Aku hanya tersenyum dan mengelus kepalanya.
"Kau sudah besar, ya?"
Yefy tersenyum memberiku kota hadiah kecil. "Aku tidak menyangka kau memberiku hadiah." Yefy nyengir dan aku tersenyum.
Bibi Rwka mendekat sambil membawa kotak hadiah di kedua tanganny. "God bless you, Lula." Dan ia memberiku kotak hadiah. Aku berterima kasih dan meletakkan kotak hadiah yang memenuhi tanganku di meja samping kiriku.
"Happy birthday our princess!" Bibi Fyodora memelukku. Ia juga memberiku hadiah dan semua orang memberiku hadiah.
"Terimakasih, bibi."
"Happy birthday kakak Lula!" Berry dan Beck berlarian dan memeluk kakiku. Aku tertawa karena mereka sangat lucu.
"Hai Lula, God bless you, and happy birthday!" Kata Bibi Anjanette dan paman Alex bersamaan.
"Terimakasih paman dan bibi. Berry dan Beck juga."
"Hai, Lula." Kak Matvei mendekat.
"Mama papa tidak bisa datang, kau tahu mereka mengantar Yejin ke bandara. Tapi mereka menitipkan ini, untukmu." Kak Matvei memberiku kotak hadiah dan aku menerimanya. "Terimakasih."
"Ah dan ini dariku." Ia mengambil sesuatu di sakunya dan memberiku sebuah kotak kecil dan aku berterimakasih sekali lagi.
"Happy Birthday!" Ia tersenyum dan aku membalas senyumannya.
Apa, Yejin tidak memberiku hadiah? Atau bahkan dia tidak ingat? Apakah Yejin tidak mengingat hari ulang tahunku dan dia juga tidak sekadar mengucapkannya?
"Satu lagi. Ini dari Yejin." Laki-laki itu memberiku sebuah amplop surat dan aku menerimanya.
"Kak Matvei!" Teriak Jereni.
"Sebentar Lula." Aku mengangguk.
Apa ya isi amplop ini. Surat? Aku akan membukanya.
"Hai Lula." Hampir saja membuka surat itu tapi dihentikan oleh Cael. Putra sulung bibi Fyodora. Dia seumuran dengan Kak Matvei dan kami jarang atau bahkan tidak pernah berkomunikasi dengannya.
"Hai, Cael."
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu."
"Aku, baik. Bagaimana denganmu, Cael?"
"Seperti yang kau lihat " Ia tersenyum.
"By the way, Happy birthday. And this one is for you." Cael memberiku kotak kecil dan aku berterimakasih.
"Thank you, Cael."
"Dan-"
"Lula." Mama memanggilku.
"Dan semuanya. Kita ke sisi kanan untuk pesta barbeque!!" Teriak mama dan semua orang bersorak semangat untuk pesta barbeque.
"Mari ke sana," Cael mengajakku ke sana dan aku mengiyakan.
---
Dear my sweety readers.
***chapter kali ini cukup panjang dan kuharap kalian tidak bosan😊
karena, mermaid bulan season 1 akan tamat dan dilanjutkan season 2 pada chatper 100/ 100+ 😋😚💕
Author berharap sekali, jangan bosan karenaa ceritanya akan lebih menarik dan spoilernya.. Kalula akan muncul❣️
So happy reading 💙***