
"Apa yang aku tidak tahu tentangmu?" Lula tersenyum manis dan itu membuat jantung Yejin berdetak kencang. Laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya dan tidak menatap Lula.
Ia tahu, ia memiliki perasaan ini dari dulu. Perasaannya terhadap Lula tidak akan pernah berubah, dan hanya gadis itu yang mampu membuatnya terbang ke langit, walau hanya sebatas ingatan.
"Tapi maafkan aku, Yejin. Aku tidak bisa melihatmu besok. Mama pasti tidak akan memperbolehkanku setelah kejadian kemarin."
"Jangan pusingkan hal itu. Aku hanya sebentar."
Lula mengangguk dan tersenyum sesekali.
"Kau tidak membawa sepeda?" Yejin meraih sepedanya dan tidak melihat sepeda Lula di sana. Gadis itu hanya terdiam ketika Yejin mengambil sepeda yang terparkir di depan mereka.
Lula menggeleng. "Mulai sekarang aku pergi ke sekolah bersama papa, dan kembali bersama mama. Mereka tidak memperbolehkan aku untuk pergi sendirian lagi. Setelah mama tahu kita pernah-" Lula rasa ia tidak perlu memberitahu Yejin tentang mamanya yang sudah tahu tentang kejadian di air terjun itu. Yejin pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Pernah apa?"
"Lebih baik kita kembali. Semua orang sudah kembali, Yejin."
Yejin mengangguk dan mereka berdua berjalan bersama keluar dari parkiran dan menuju gerbang sekolah.
"Lula!" Terlihat Sofia melambai dari kejauhan.
"Yejin kau kembali bersamaku saja."
"Terimakasih. Tapi aku membawa sepeda."
"Hei Yejin!" Sofia menyapa Yejin dari dalam mobil. Yejin hanya tersenyum kecil dan fokus terhadap Lula.
"Ah iya. Yeva berada di rumah kami, untuk makan siang bersama. Kami habis membuat kue kalian tahu? Mama memintanya untuk mengajari mama, dan coba tebak. Mama membuat kuenya gosong." Sofia tertawa mengingat kejadian tadi di dapur. Lula meringis dan merasa kepanasan di luar.
"Yejin lebih baik kau ikut kami. Yeva memintaku untuk mengajakmu sekalian makan siang bersama."
"Kau dengar, Yejin? Sepedamu bisa diletakkan di bagian belakang mobil."
Yejin masih terdiam dan berpikir.
"Yejin sudah lama kau tidak ke rumahku, dan kita bisa mengobrol nanti. Aku juga punya sesuatu untukmu di rumah."
Yejin terlihat menimbang. Sebenarnya ia harus melakukan sesuatu namun sudahlah sesekali tidak apa.
"Baiklah." Kata Yejin akhirnya dan Lula tersenyum. Ia berjalan ke bagian belakang mobil dan meminta Yejin untuk menaruh sepeda lipatnya di sana.
***
"Aku tidak menyangka kau akan berbicara seperti itu." Perempuan cantik itu, Elliot namanya. Salah satu teman sekelas Matvei di Sekolah Menengah Atas, dan merupakan partner Matvei dalam pekerjaan sampingannya.
"Aku tidak akan pernah bisa membuat Bryan mengerti. Tapi jika dihadapkan dengan kenyataan, bahwa semua ini sangat bergantung padaku, dia pasti akan berpikir dua kali untuk membatalkan perjanjian kita." Matvei menghampiri motornya dan menaiki itu.
"Sebenarnya kenapa kau melakukan semua ini? Dari awal kita memang tidak melepaskan makhluk itu setelah mengambil yang kita butuhkan."
"Kita manusia. Tidak sepantasnya seperti itu. Jika hanya sedikit yang kita butuhkan, mengapa kita harus menyiksa mereka demi sesuatu yang bahkan bukan hak kita."
Elliot mengerti dan sebisa mungkin untuk tidak bertanya lagi.
"Tapi kau bisa pergi kemari bersama Lucas. Kenapa kau mengajakku?" Elliot berhenti dan Matvei menatap perempuan itu.
"Kau mau kembali atau tidak." Laki-laki itu seakan tidak mau membahas hal ini. Dia hanya ingin memastikan suatu kebenaran, dan ia yakin sekali jika Elliot tidak ada hubungannya dengan kebocoran rencana mereka.
***
Jereni mengangguk.
"Kau selalu membuat alasan untuk tidak mengikuti les biola, dan bahkan sering membolos."
"Aku berjuang untuk bisa sampai ke Tripadvisor, dan itu sesuatu hal besar, mah. Aku tidak pernah sekalipun tidak datang di latihan dan .."
Jereni menghentikan perkataannya. Sepertinya memang mamanya tidak mengizinkan itu. Ia akan mengecewakan Pak Lim jika sampai tidak pergi besok, dan latihannya selama ini akan terbuang sia-sia. Tapi, ia juga tidak bisa melawan mamanya dan semuanya bergantung pada Rwka.
Apa yang aku lakukan? Aku harus bisa membuat mama mengizinkanku!
"Kau pernah berkata, apapun yang menjadi impianku, harus aku gapai, walau jalan yang aku tempuh untuk sampai di sana sangat sulit. Mama, aku selalu membolos les biola, dan kau sering marah karena itu. Aku sampai tidak bisa latihan dengan tenang ketika kau berkali-kali menelponku, dan aku tidak pernah mengangkat itu. Itu sangat sulit, untuk harus berbohong kepadamu, kalau aku tidak latihan Mua Thai lagi."
Rwka masih mendengarkan dan Jereni terlihat ingin berbicara lagi, namun ia menunggu respon mamanya terlebih dahulu.
Rwka tersenyum dan menepuk pundak Jereni.
"Maafkan mama Jereni. Mama terlalu memaksakan kehendak mama, dan tidak membiarkanmu menjadi apa yang kamu mau."
Jereni terdiam mendengarkan. Apakah mamanya akan mengizinkannya?
"Dengan kau berada di titik ini, kau berhasil menunjukkan kepada mama. Semuanya berasal dari apa yang menjadi kepribadian kamu, sekeras apapun mama memaksamu dengan hal ini, jika memang kau tidak mau, kau tidak akan melakukan itu dengan sepenuh hati."
"Jadi mama mengizinkanku untuk pergi besok?" Jereni terlihat berbinar.
Rwka mengangguk.
***
"Yefy dimana?" Lula duduk di meja makan dengan semua orang. Yejin dan mamanya masih di sini. Mereka belum mulai untuk makan siang bersama dan Lula menanyakan dimana adiknya.
"Dia sudah makan tadi, dan sekarang tertidur."
"Kau tahu, Yejin? Yefy akan sulit dibangunkan jika sebelum tidur dia makan." Lula menatap Yejin dan laki-laki itu hanya meringis seperti biasanya, tidak banyak berbicara.
Yeva dan Sofia terlihat asik dengan obrolannya. Yejin terus saja memperhatikan Lula makan. Gadis itu terus mengoceh tentang keadaan di rumahnya dan Yejin hanya mendengarkannya.
Setidaknya bisa melihatnya seperti ini, adalah kesenangan tersendiri bagi Yejin.
"Yejin habis ini kau ikut ke kamarku, aku punya sesuatu untukmu." Lula memasukkan makanannya ke mulut dan mengunyah itu.
"Sebaiknya kau selesaikan makananmu, dan baru berbicara." Sudah berapa kali Sofia mengingatkan hal itu. Terkadang gadis itu tidak pernah mendengarkan perkataan mamanya dan tetap melakukan hal yang sama.
"Aku selalu lupa akan hal ini, kau tahu Yejin? Wkwk." Bisik Lula dan Yejin hanya tersenyum santai.
***
"Sebenarnya apa yang mau kau tunjukkan padaku?" Yejin berjalan di belakang Lula dan mereka tengah menuju ke kamar Lula. Gadis itu ingin memberikan Yejin sesuatu dan entahlah, laki-laki itu tidak tahu apapun.
"Lihat saja nanti." Lula membuka pintu kamar dan mempersilahkan Yejin masuk. Kamarnya sangat berbeda kali ini, dan Yejin cukup tercengang melihat beberapa miniatur hewan yang menurutnya tidak cocok berada di kamar seorang perempuan.
Lula berlari ke lemari dan membukanya. Ia mengambil sesuatu dan berjalan ke arah Yejin dan meminta Yejin untuk membuka itu.