
Kenapa wajahnya tidak bisa hilang dalam ingatanku? Setiap kali aku menutup mataku, hal pertama yang aku lihat adalah dirinya, dan ketika aku membuka mata, hal pertama yang aku lihat masih dirinya. Seakan mataku diciptakan untuk melihatnya saja.
Yejin duduk di kursi dekat tempat tidur Lula. Menatap gadis itu dengan penuh cinta. Hal yang belum pernah dilakukan Yejin untuk seseorang. Hatinya tengah kalut. Emosi sedang membanjirinya, tapi dia selalu bisa tenang di dekat siapapun.
Yejin tidak tidur semalaman, dan hanya memandang cintanya di depan matanya. Ini terdengar terlalu kekanak-kanakan, tapi Yejin berani mengakui kalau dirinya memang tidak bisa hidup tanpa Lula. Lula adalah segalanya. Dia tidak berjanji hanya sekadar merasa bersalah menjadi sahabat paling buruk dengan membiarkan Lula selalu dalam masalah, namun dia memiliki satu tujuan. Agar Lula tahu betapa tidak terbatasnya perasaan cinta yang ia miliki.
Pernah sekali aku memikirkan bagaimana jika suatu saat kau tahu perasaan ini. Bagaimana reaksinya dan apa yang akan kau lakukan. Aku tahu kau sama sekali tidak merasakan apa yang aku rasakan, dan aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Aku memang naif. Tidak berani mengatakannya, karena aku tahu bagaimana perasaan Lula terhadapku...
"Yejin?" Lula membuka matanya. Yejin tersenyum.
KAKU.
Sikap manja yang Lula berikan bukan karena ia memiliki perasaan yang sama terhadap Yejin, namun ia hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Tidak lebih dari itu. Yejin sangat kalut. Ia tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan ini yang semakin membesar setiap harinya.
"Pagi, Lula." Yejin berbicara sewajarnya saja. Ia tidak mau Lula merasa ilfeel dan menjauhi dirinya. Tapi ia tidak ingin membatasi diri. Ia akan bersikap biasa saja dan biarkan Lula menyadari perasaannya dengan sendirinya. Hal yang berbeda kali ini adalah Yejin akan selalu ada ketika Lula butuh, memperhatikan semua yang dibutuhkan Lula dan bersikap seolah-olah Lula adalah tanggung jawabnya. "Bagaimana keadaanmu?" Lanjut Yejin. Terkadang tidak ada senyuman yang tergurat di pipinya. Yejin tetaplah Yejin.
Lula mengangguk. "Sangat baik." Lula tersenyum. Bibir merah pucatnya membuat wajahnya terlihat lebih natural tanpa riasan. Mata lebar dengan bulu mata yang lentik membuatnya tambah tambah cantik. Siapa laki-laki yang tidak terpesona dengan itu? Sinar matahari melewati celah-celah fentilasi udara, dan jatuh ke wajah Lula. Membuatnya terlihat seperti putri dengan wajah keemasannya.
"Ah." Yejin ingat sesuatu. Ia berdiri dan berjalan memutar. Ia mendekati gorden dan membukanya. Ia hanya memandangi Lula dari tadi dan melupakan dunia belum melihat wajah Lula. Sinar matahari menyorot tempat Lula dan ia merasakan hangatnya atmosfer pagi ini. Ia masih tersenyum dan menutup mata. Semuanya akan baik-baik saja, pikir Lula. Dia sudah terbebas dari Caleb dan dia yakin semua orang termasuk Mark, ayahnya akan menjauhkannya dari laki-laki pendusta itu.
Bagi sebagian orang, sebuah pengalaman membuat mereka berubah. Pengalaman yang Lula alami akan menjadikan dirinya, dan semua orang mengambil pelajaran. Bagaimana Lula terus bersandiwara mencintai Caleb, dan membuatnya selalu dalam masalah. Lula yang membuat masalahnya sendiri, dan ketika dia benar-benar ingin melepaskan Caleb, beberapa orang tidak memahami itu. Mereka terus mendekatkan dirinya dengan Caleb ketika dia benar-benar ingin menyudahi semua ini.
"Dimana Jereni?" Lula melongok ke depan dan tidak menemukan Jereni. Ia masih melihat Jereni semalam dan Jereni bilang dia akan menginap dan kembali bersama dengan Lula keesokan harinya.
"Bibi Sofia mengajaknya untuk membeli sarapan." Jawab Yejin. Dia kembali dan duduk di samping Lula.
"Papa dimana?" Ini hari Minggu dan papanya pasti libur. Ia tidak akan melewatkan kepulangan putrinya, bukan?"
"Menjemput Yefy."
Lula mengangguk mengerti. Tapi apakah semua orangtidur di sini semalam? Dan apakah Yefy sendirian di rumah? Lula sungguh ingin tahu apa yang terjadi.
"Siapa saja yang di sini semalaman, Yejin?" Lula menyingkap selimutnya. Ia mencoba untuk beranjak dari tempat tidur.
"Hei kau mau apa?" Yejin sontak berdiri dan Lula menatap laki-laki itu.
"Jawab saja pertanyaannya." Lula melepas kabel infus yang tersambung dengan tangannya dan turun dari tempat tidur, kemudian berjalan mendekati jendela. Yejin berjalan ke sisi Lula dan menatap kabel infus itu.
"Yejin jawab saja pertanyaanku. Kau tahu aku sudah tidak membutuhkannya." Lula menyentuh kaca jendela dan merasakan hangatnya jendela yang tersinari matahari.
"Paman, bibi, aku, dan Jereni." Jawab Yejin mantap. Dia berdiri tepat di belakang Lula
"Itu berarti Yefy di rumah sendiri?" Lula tidak merasa khawatir. Yefy bisa menjaga dirinya sendiri. Namun, entahlah ia merasakan sesuatu telah terjadi dan itu berhubungan dengan Yefy.
"Tidak, paman membawanya ke rumah saudaramu." Pagi ini, suara Yejin terdengar sangat dalam dan sedikit serak. Apa dia sakit? Lula tidak tahu kenapa tapi ketika ia menutup matanya, mendadak wajah Yejin terlukis jelas di pikiran Lula. Ia tidak mau cintanya bertepuk sebelah tangan, namun ia juga tidak mau jika terus menyimpan perasaan ini selamanya. Hanya persoalan waktu, dan Lula akan segera mengungkapkan perasaannya. Tapi apakah terdengar tidak gila? Bagaimana jika Yejin malah menjauhi Lula? Dia tidak ingin itu terjadi. Mungkin dia kan memendam perasaan ini sendirian. Ia tidak mau persahabatannya rusak gara-gara Yejin tahu perasaan Lula.
"Saudara yang man-" Lula hendak berbalik, namun sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Seseorang tengah memeluk dari belakang!
***
Balkon, di tengah hutan. Dikelilingi pepohonan yang rimbun, lebat, dan hijau. Suasananya sangat tentram, udaranya sejuk, dan menenangkan untuk berpikir. Sejauh pandangan hanya berwarna hijau, membuat siapa saja bisa membuat keputusan dengan damai.
Drtttt drtttt drtttt
Menyorot ke sebuah meja di tengah-tengah balkon dengan ponsel bergetar di sana. Mom 'calling
Lebih dari 10 panggilan tak terjawab, dan kali ini juga tidak ada yang menjawab. Pintu masuk ke rumah terbuka dan keluar seseorang. Pakaian santai dan berwarna putih. Dia berjalan ke balkon dan berdiri tepat di pagar pembatas.
Matvei Ilarion. Putra pertama keluarga IIlarion. berat baginya, tapi ketika Elliot kembali, semuanya terasa ringan. Namun sekarang, semuanya kembali seperti semula. Matvei tidak tahu apa yang telah terjadi tapi kali ini benar-benar Elliot tidak mau bertemu Matvei lagi. Jika memang ini karena Matvei yang menghilang waktu itu, masalahnya sungguh kecil. Tidak benar-benar bisa membuat hubungannya dengan Elliot retak.
Matvei menarik tangannya dari pagar dan berbalik. Berjalan dan menghampiri meja untuk mengambil telepon. Melihatnya sebentar, lalu membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Bisakah kita bertemu hari ini?"
"Tidak bisa?"
"Maaf kakak, tapi jika ini sangat penting kau bisa menemuiku di rumah Lula siang ini."
"Lula?"
"Iya dia kembali hari ini. Kau juga bisa bertemu dengannya."
"Baiklah, aku akan ke sana."