
"Ada apa, Lula?"
"Yejin terimakasih banyak sudah membantuku. Kau sangat baik."
"Iya sama-sama."
"Baiklah aku harus pergi, Yejin. Sampai jumpa. Ah iya apakah kau bersama Kak Matvei? aku ingin berbicara dengannya."
"Uh huh, sebentar."
"Hei, Lula."
"Kak Matvei aku merepotkanmu. Terimakasih sudah mengantar Yejin ke rumah Jereni."
"Santai saja, Lula. Yejin tidak akan seperti ini jika bukan karenamu. Kau sangat penting bagi laki-laki itu." Matvei berbisik di kalimat terakhir dan Yejin memberi tatapan tajamnya.
"Baiklah Lula. Sepertinya aku harus menutup teleponnya sekarang. Cepat sembuh. Jangan buat adikku memikirkanmu terus."
Lula tertawa dan ia berpamitan.
Matvei menyerahkan ponsel itu ke Yejin ketika Lula benar-benar menutup telponnya.
"Aku harus pergi, Jereni." Yejin berdiri dan berpamitan.
"Terimakasih, Yejin. Kau jauh-jauh kemari." Jereni berdiri dan tersenyum.
Yejin mengangguk dan berbalik untuk pergi.
"Jangan lupa temukan ponselmu." Matvei tersenyum dan Jereni hanya mengendikkan bahu. Laki-laki itu pergi kemudian.
***
Lula meletakkan ponsel mamanya dan memposisikan tubuhnya ke kiri, menatap jendela. Sofia tengah keluar untuk melakukan sesuatu dan ia sendirian di sini.
Ini pukul 03.00 sore dan Lula harus beristirahat. Ia habis minum obat tadi dan harus membuat obat itu bekerja dengan tidur.
Pikirannya sudah tenang dan batinnya tidak gelisah. Gadis itu menutup matanya dan mencoba untuk tertidur.
***
Yejin dan Matvei sampai di rumah dan keadaan rumah masih sepi. Tidak ada orang dan mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.
Yejin masih bersikap dingin dengan kakaknya. Ia masih heran bagaimana bisa Matvei dengan Jereni bisa saling kenal. Laki-laki itu cukup mudah dekat dengan seseorang namun tidak sampai sedekat ini.
Itu tidak penting, batin Yejin dan laki-laki itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Merasa lelah seharian bergerak dan mencoba untuk beristirahat.
***
"Apa ponsel Jereni sudah ketemu?" Matvei bersandar di kursi sambil memegang telepon.
"Kenapa aku jadi memikirkan gadis itu?" Ia merasa aneh. Sebab jarang ia memikirkan seseorang melebihi batas nalar. Dia terlalu memikirkan Jereni. Matvei merasa ada sesuatu yang membuatnya terus memikirkan Jereni, dan ia rasa bukan karena rasa suka. Ada hal lain.
Laki-laki itu tak ambil pusing. Ia berusaha tidak memikirkan Jereni dan menutup matanya, sekadar menghilangkan rasa penat di pikirannya.
Masalah yang ia hadapi lebih penting untuk dipikirkan sekarang, daripada memikirkan Jereni, yang jelas tambah membuatnya stress.
Matvei membuka ponselnya dan mencari nomor. Ia memanggil nomor itu dan menunggu untuk di jawab.
"Lucas. Bisakah kita bertemu besok? Aku akan ke rumahmu."
***
"Kau gadis yang malang, Lula. Hahahahahahahah." Masih dengan mimpi yang sama. Ia tak melihat kebahagiaan di sini. Justru keadaan yang membuat gadis itu gelisah.
Lula. Gadis bersurai kemerahan. Ia tergeletak di pojok ruangan dengan borgol di tangan dan kakinya. Tubuhnya penuh luka dan mulutnya mengeluarkan darah.
Pandangannya blur, namun ia masih tahu siapa orang di depannya kini.
Gadis berambut kecoklatan dan sangat ia kenal.
Lula tidak bisa berbicara. Ia terlalu kesakitan dan tersiksa. Lula tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia pasrah dan yakin seseorang pasti akan menolongnya.
"Katakan padaku kalau aku adalah sahabat terbaikmu!" Gadis berambut kecoklatan itu meraih dagu Lula dan menekannya. Lula hanya terdiam dan tidak dapat berbicara. Cengkeraman di dagunya sangat menyiksa.
"Cepat katakan!" Gadis itu mengangkat dagu Lula. Lula meringis kesakitan. Kuku tajam gadis itu menusuk dagu Lula dan ia sangat tersiksa.
"Hhhh." Lula terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi mengerikan lagi. Nafasnya tidak teratur dan keringat mengucur deras.
Ia melihat jam di dinding. Pukul 03.00 pagi dan ruangan gelap. Papanya tertidur di sofa dan ia tidak melihat mamanya di sini.
Duk Duk Duk
Gadis itu terkejut ketika mendengar sesuatu mengenai jendela. Ia berada di lantai 3 dan mustahil untuk seseorang berada di luar jendela dan mengetuknya.
Lula sedikit takut, namun ia tidak mau membangunkan papanya. Ia sangat membenci jika harus terbangun seperti ini. Apalagi dia berada jauh dari rumah.
Lula orang yang tidak percaya dengan hal-hal mistis. Ia tidak percaya hantu atau apapun itu. Ia akan percaya jika sudah melihatnya sendiri.
Duk Duk Duk
Lula melihat jendela. Ia mendengar sesuatu mengetuk jendela. Lula semakin ketakutan dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Duk Duk Duk
Suaranya semakin keras dan cepat. Lula sangat takut. Ia harus membangunkan papanya kini.
Duk Duk Duk
Ini tidak masuk akal. Di lantai tiga dan tidak ada balkon di luar jendela. Mustahil untuk seseorang berada di sana, ini masih sangat pagi dan menyeramkan.
Lula menutup telinganya dan bersembunyi di dalam selimut. Ia gemetaran dan takut untuk keluar atau sekadar membangunkan papanya.
Duk Duk Duk
"PAPA!!!!" Lula berteriak dan suara itu hilang seketika. Lula membuka selimutnya dan melihat sofa di depannya kosong. Papanya tidak ada di sana dan ia semakin takut.
"Lula?"
"Aaaaaaaaaaaaaa!!"
"Lula tenang ini papa." Lula membuka matanya dan melihat kedua orangtuanya berada di sampingnya. Ia melihat jendela dan di luar sudah terang.
Ini sudah pagi dan Lula heran. Apakah barusan ia bermimpi?
Akhir-akhir ini ia bermimpi mengerikan.
"Kau baik-baik saja?" Mamanya mengelus kepala Lula dan bertanya dengan khawatir.
"Sesuatu terus mengetuk jendela. Aku takut. Tadi masih pukul 3 pagi." Lula gemetaran dan Sofia menenangkannya.
"Tidak terjadi apa-apa, Lula. Kami berusaha membangunkanmu dari tadi. Kau terus berteriak dan susah untuk dibangunkan."
Lula menarik nafas kasar. Itu hanya mimpi dan terasa sangat nyata.
"Tapi sekarang kau baik-baik saja. Kabar baik, kau boleh kembali pagi ini." Sofia tersenyum dan mengelus lengan Lula.
"Tapi setelah kau makan dan minum obat " Mark tersenyum.
Lula mengangguk. Ia tidak melihat Yefy? Kemana anak itu.
"Kemana Yefy?"
Mark bergeser dan Lula melihat Yefy tertidur di sofa. Ia tersenyum ketika melihat bocah itu. Tidak biasanya Lula seperti ini namun ia sangat bahagia sekarang. Meraka tidak ada yang terjadi dan ia tahu itu hanya bunga tidur.
***
Yejin keluar rumah untuk berlari. Ia sendirian dan selalu begitu. Yejin masih memikirkan Lula dan apakah setelah ini ia bisa bertemu dengannya lagi atau tidak.
Ia takut kalau orang tua Lula tidak mengizinkannya bertemu dengan gadis itu. Yejin terus memikirkan hal itu dan ia sangat tidak bahagia.
Taman kota mulai ramai. Ini hari Minggu dan semua orang datang untuk lari atau sekadar jalan-jalan, membebaskan penat mereka setelah sepekan beraktivitas.
Yejin suka suasana Minggu pagi di taman. Semua orang terlihat bahagia dan itu terlihat sangat menenangkan.
"Yejin!"