Luna Rusalka

Luna Rusalka
140



"Semua harus terbawa, jangan sampai ada yang ketinggalan." Sofia tengah mengemas semua barang-barang yang ia bawa dari rumah ke rumah sakit. Rwka membantunya. Wanita itu datang bersama dengan Yefy dan Yefy tengah bermain ponsel di pojokan, merasa tidak ada sesuatu yang harus dilakukannya, dan tidak ada seseorang yang membutuhkannya.


Mark tengah mengurus administrasi di bawah. Jereni dan Yejin duduk santai di sofa sambil melihat kegiatan yang dilakukan semua orang di sana. Lula tengah mengganti pakaiannya di kamar mandi dan dia harus melakukan itu. Pakaian rumah sakit tidak boleh dibawa ke rumah, jadi dia harus mengganti pakaiannya.


"Aku tidak akan ke sekolah besok." Kata Jereni sambil menatap Yejin. Laki-laki itu mengernyitkan keningnya bingung. Kenapa Jereni tidak akan masuk sekolah?


"Apa yang akan kau lakukan, besok?" Yejin masih belum mengerti dan kenapa Jereni memberitahunya hal itu?


"Kau tahu beberapa hari lagi aku akan pergi untuk bertarung." Jereni menggerakkan tangan kanannya merasa bangga dan Yejin menggelengkan kepalanya. Perempuan itu sangat senang. Ditambah Lula akan kembali dan ia yakin Lula akan melihatnya bertanding. Ia tambah semangat, namun untuk Minggu ini, dia akan fokus dengan latihannya.


"Kau sangat senang." Apalagi yang harus Yejin katakan? Dia tidak memiliki ide untuk mengatakan apapun atau menanggapi apapun. Pikirannya sedang tidak di sini Sekarang. Entahlah apa yang tengah dipikirkannya tapi dia berani bertaruh, dia sedang merasa gelisah.


"Iya, Yejin. Kau tahu aku tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. Tapi satu hal yang masih menggangguku. Bagaimana aku akan membawa Lula ke laut. Karena aku tahu dia sangat su-" Jereni cepat-cepat membungkam mulutnya. Dia lupa kalau Yejin tidak ada hubungannya dengan ini, dan pasti laki-laki itu akan bertanya kenapa Jereni harus membawa Lula ke laut.


"Laut?" Yejin menatap Jereni. Perempuan itu tidak berani menatap Yejin dan memilih untuk diam. Ia sering keceplosan dan perkataannya tidak terkontrol. Kalaupun dia memberitahu Yejin tentang segalanya, laki-laki itu tidak akan percaya. Itu hanya dongeng. Ya dongeng yang benar-benar terjadi.


"Kau mau apa ke laut?" Yejin mendekatkan dirinya dan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah sepasang kaki dengan memakai casual sneakers berwarna cream dengan bagian atasnya hitam bertali hitam. Kaos kaki putih tulang dan memakai rok bunga-bunga warna putih sampai menutupi lutut. Kemeja putih tulang serasi dengan pakaiannya, dengan rambut yang tergerai cantik memakai bando warna putih.


Jereni tersenyum dan berdiri. Dia melihat Lula dengan wajah yang berbinar. Yejin tidak bisa melihat karena Jereni menutuoi pandangannya. Yejin hanya bisa terdiam masih duduk di sofa. "Kau sangat cantik, Lula!" Teriak Jereni dan semua orang menghentikan aktifitasnya, lalu menatap Lula. Lula tersenyum dan Yejin masih belum bisa melihatnya.


Jereni bergeser sedikit ke arah kanan, seakan memberi ruang untuk Yejin bisa melihat sahabatnya itu. Kaki. Hal pertama yang masih Yejin lihat. Lalu, sedikit ke atas dan melihat rok putih bunganya. Yejin sedikit heran, karena tidak biasanya Lula memakai rok. Ia melihat kalau rok itu sangat serasi dengan kaki putih lula. Kemudian, ia melihat ke atas dan nampaklah kemeja putih polos dan terlihat tangan Lula yang memakai gelang hitam pemberiannya.


Yejin pernah memberi Lula gelang namun sudah lama ia tidak melihat Lula memakainya. Namun, kali ini gadis itu memakainya, seakan ia hanya memakai itu di saat tertentu saja. Yejin sedikit tersenyum, melihat Lula memakai gelang pemberiannya lagi.


Pandangan Yejin tidak berhenti sampai di situ saja, ia mendongakkan kepalanya dan benar-benar melihat tubuh utuh Lula, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rambutnya tergerai dan memakai bando putih. Semuanya terlihat bercahaya dan Lula terlihat sangat cantik. Yejin menatap gadis itu tanpa kedip. Hatinya berseru memaksa memilikinya, namun pikirannya membantah itu. "Dia hanya sahabat, Yejin. Tidak lebih." Kagum Yejin berubah menjadi kesedihan. "Mungkin janjiku pada bibi, sebatas aku menjadi sahabatnya saja, menjadi bodyguard. Tidak lebih." Yejin menampar dirinya sendiri di pikirannya.


Yejin menggelengkan kepalanya. "Kau baik-baik saja?" Lula sudah berada di depannya dan tengah tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah aku lihat. Setidaknya itu yang Yejin pikirkan sekarang. Ia tersenyum dan mengangguk. Yejin berdiri dan menatap gadis itu.


"Apa yang kalian tunggu?" Sofia berbalik dan meletakkan kopernya di lantai. Menatap anak-anak dengan senyuman. Sofia dan Rwka hendak keluar dari ruangan. Jereni dan Yefy juga sudah tidak terlihat di sini. "Hei kalian mau menginap lagi, di sini?" Kepala Jereni muncul dari luar dan tertawa. Mereka semua sudah mau kembali, namun Yejin dan Lula masih ada di dalam.


"Ayo, Yejin." Lula meraih tangan Yejin dan menggandengnya. "Kau melamun saja dari tadi, mulutku sampai kering memanggilmu." Lula menarik tangan Yejin dan mereka berdua berjalan bersama.


Yejin menatap tangan Lula yang menggandengnya. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai sampai dia menyentuhnya dengan tangan yang satunya. "perasaan apa ini?"


***


Elliot masih berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tidak keluar dan bahkan makanan yang ayahnya antar kemarin, tidak ia makan. Pikiran dan hatinya sedang tidak baik-baik saja, semenjak beberapa orang datang kemari dan mengancam jika ia dekat dengan Matvei lagi, maka ia tidak akan melihat laki-laki itu di dunia ini lagi.


Awalnya Elliott tidak percaya, namun apa yang mereka tunjukkan setelahnya, langsung membuat Elliot bergetar. Jelas ia melihat kalau Matvei didorong dan hampir terjatuh ke dalam lubang, jika seseorang tidak menolongnya. "Kami bisa melakukan apapun dan siapapun tidak akan menolongnya lagi, perempuan itu, kau, atau bahkan Matvei sendiri tidak akan bisa menolong. Keputusan berada di tanganmu." Elliott masih ingat jelas perkataan salah satu dari mereka.


Ia ingin terlihat tegar, namun hatinya tidak bisa. Ia ingin menjawab tidak peduli, namun orang-orang itu memberinya sesuatu. Ia menyetel rekaman suara Matvei tengah berbicara dengan seseorang. "Kami memasang mikrofon kecil di tubuhnya, dan dia tidak tahu. Kami bisa tahu jika kau menemuinya lagi, atau apapun. Kami tidak segan-segan untuk menghabisinya." Elliot bertanya kenapa mereka melakukan itu dan apa salah Matvei, namun mereka tidak menjawabnya. Mereka menuntut Elliott untuk segera menjawab.


Ia takut dan gelisah bukan main saat itu, dan tidak bisa berpikir jernih. Tapi, apa dayanya? Jika ia menentang mereka, Elliot tahu Matvei tidak akan baik-baik saja, dan terpaksa ia mengiyakan harus menjauhi Matvei, demi dirinya. Tapi, setelah ia mengatakan hal itu, mereka meminta bukti. Elliott bertanya bukti apa, dan mereka menjawab, bukti kalau kau benar-benar menjauhinya.


Lalu saat itu juga Elliott menelpon ayahnya, kalau mereka harus berbicara tentang Matvei. Awalnya Redrik menolak, namun Elliott mengatakan kalau ia sudah memilih. Memilih antara Matvei atau ayahnya. Menunggu kurang lebih dua jam dan akhirnya Redrik tiba. Orang-orang yang mengancam Elliott masih berada di rumahnya dan menyaksikan apapun yang akan Elliot buktikan. Hanya saja, mereka sembunyi.


Ketika Redrik sampai, Elliot mengatakan kalau ia salah telah memilih Matvei dan saat itu Redrik sangat bahagia. Ia juga mengatakan kalau Matvei bukan pria yang baik dan apa yang selama ini Elliott lakukan adalah kesalahan besar. Elliott pergi ke kamarnya dan meminta Redrik tetap berada di sini, untuk bersamanya.


Namun, orang-orang itu masih belum puas dan meminta Elliott untuk mengatakan langsung di depan Matvei. Belum sempat Elliot menelpon Matvei untuk bertemu, seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam rumahnya, dan terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya. Matvei datang, dan dengan dorongan ancaman, Elliott mengatakan kalau ia tak mau lagi menemui Matvei. Ia mengatakannya di depan Redrik, dan beberapa orang yang mengancamnya.