Luna Rusalka

Luna Rusalka
36



Siapa aku, siapa Brandon, siapa Kalula, siapa Lula, bagaimana ibuku terbunuh dan bagaimana aku dan Brandon melakukan semua ini.


Tidak. Aku bukan Yondaya. Brandon bukan kakakku, dan Ibuku adalah Rwka.


Aku bukan duyung dan aku adalah manusia utuh!


Aku bukan YONDAYA!!!!!!!!


Mata Jereni terbuka lebar. Ia sudah sadar. Beberapa hari ia tak sadarkan diri dan sekarang ia membuka matanya.


Mamanya yang tersenyum bahagia, bahkan Lula menunggunya di sini. Mereka semua ada di luar.


Jereni masih terbawa suasana mimpinya. Ia terdiam ketika semua orang tersenyum bahagia menunggunya sadar, setelah ia dinyatakan baik-baik saja oleh dokter dan pindah di ruang rawat.


Mamanya dan Lula masuk ke dalam ruangan. Melihat gadis itu.


Ia menatap Lula, berpikir kalau ia adalah penjahat. Kalau ia tidak melakukan hal itu di kehidupannya yang lain, ia tidak akan membuat Lula seperti ini, dan mungkin dia tidak akan terpisah dengan ibu kandungnya.


Tapi apakah semua ini benar?


Jereni masih bertanya-tanya, apakah ingatan itu benar? Apakah dia melakukan itu dulu?


Kenapa ini semua terjadi padanya?


Rwka memencet tombol di sebelah kiri tempat tidur Jereni untuk memanggil dokter.


"Maafkan aku, Jereni.." Lula menghampiri Jereni dan memegang tangannya. Siapa yang harus meminta maaf sebenarnya? Jereni ingin mengubur dirinya sendiri. Walau ingatan ini baru saja ia dapatkan, namun jelas sekali yang ia lakukan di dulu.


Dokter memasuki ruangan dan meminta Rwka dan Lula keluar. Dokter memeriksa keadaan Jereni dan mengangguk kepada perawat untuk mengecek keadaannya di komputer.


"Kesembuhanmu sangat pesat, nak." Dokter menepuk pundak Jereni dan tersenyum kemudian keluar.


"Keajaiban sepertinya terjadi padamu.." Perawat merapikan alatnya dan keluar.


Jereni masih tidak bergeming dan merasa aneh dengan lehernya.


"Kenapa aku memakai ini?" Kalung kerang Lula melingkar di lehernya . Ia melihat itu dan terkejut.


Perawat berdiri di depan pintu dan mempersilahkan orang-orang untuk menjenguk Jereni.


Kedua orang tuanya masuk dan Rwka duduk di samping tempat tidur Jereni.


"Apa yang kau rasakan, Jereni?"


"Aku baik.." Ia merasa sehat dan tidak lemas seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak merasa seperti kemarin. Ia tidak merasa sakit di pikiran maupun hatinya lagi. Mungkin karena beban hatinya sudah terlepas.


Tidak. Beban itu tidak hilang, itu menjadi semakin membuatnya gelisah. Hanya saja, semuanya sudah jelas sekarang.


Bahkan sampai detik ini, Jereni masih tidak percaya. Percaya tidak percaya memang itulah kenyataannya.


Jereni memeluk mamanya. "Terimakasih untuk tidak pernah menyerah merawatku.."


Rwka membalas pelukannya dan menutup matanya. "Kau segalanya bagiku, Jereni." Ayah Jereni hanya berdiri dan merangkul pundak Rwka.


"Mana Lula?" Jereni melepas pelukan mamanya dan melihat ke luar.


"Kau mau bertemu Lula?" Jereni mengangguk.


Rwka berdiri dan berjalan keluar memanggil Lula.


"Papa ke toilet dulu, ya nak." Ayahnya Jereni mengelus kepala Jereni dan berjalan keluar.


Lula berjalan memasuki ruangan dan tersenyum melihat Jereni sadar.


"Kurasa kau sudah sembuh sekarang.." Lula tertawa girang dan menepuk lutut Jereni.


"Ini milikmu, bukan?" Jereni melepas kalung kerang Lula dan menyerahkan nya kepada sahabatnya itu.


"Kalung ini selalu bekerja dengan baik." Kata Lula mantap.


"Kenapa memangnya?" Jereni tidak mengerti sama sekali.


"Punya kekuatan menyembuhkan penyakit." Bisik Lula sambil mencubit hidung Jereni.


"Hehehe.. aku sungguh merindukanmu." Lula duduk manis di kursi dan memangku wajahnya menatap Jereni.


" Terimakasih untuk kalungnya.." Jereni tertawa dan mereka berdua tertawa bersama.


"Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Jereni.."


"Apa?"


"Tapi setelah kau benar-benar sembuh dulu. Aku tidak yakin, kau bisa berjalan.." Canda Lula sambil memijat kaki Jereni.


"Aku sudah sembuh cepat sekarang kau cerita." Jereni duduk dan tersenyum yakin kalau dia benar-benar baik-baik saja sekarang.


"Apa kau tidak lapar?" Lula berbicara itu seakan mengalihkan pembicaraan.


"Sedikit.." Jereni membuat kode sedikit dengan jarinya. "Tapi aku tidak akan makan jika kau belum bercerita."


"Baik baik.. Kau memaksa sekali."


"Aku tidak ikut lomba renang lagi. Aku digantikan."


"Apa yang terjadi??"


"Beberapa kali aku mengalami insiden di kolam renang. Terakhir aku sampai koma dan dinyatakan... meninggal." Ia memelankan kata terakhir dan tidak yakin.


Lula duduk tegak dan menatap Jereni malas.


"Bagaimana bisa? Bukankah kau .. I mean.. bukankah kau yang terbaik?"


"Aku tidak sadar, dan terkadang sesuatu mengalihkan pikiranku dan seseorang sepertinya mengendalikan pikiranku.."


Mungkin sesuatu mencoba memberitahumu siapa sebenarnya kamu, Lula.


"Apa kau merasa aneh dengan dirimu, Lula?"


"Maksudnya?"


"Sesuatu berbeda, sesuatu, dan kau merasa bingung dengan hal itu.." Sepertinya Jereni mencoba mencari tahu. Jika Lula adalah keturunan Kalula, ia pasti sudah mengalami kejadian di usianya sekarang. Karena di usia 17 tahun ia akan mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.


"Sebenarnya aku..-"


"Kau harus makan dan meminum obat, Jereni." Rwka masuk dengan membawa semangkuk bubur dan menyiapkannya.


"Aku akan membantumu.." Lula mengambil sendok namun Jereni menggeleng.


"Aku bisa makan sendiri.."


"Mama akan pergi sebentar, ke rumah. Lula, bibi titip Jereni, bisa ya?"


"Iya, bibi. Saya akan menjaga Jereni."


"Baiklah, mama pergi, sayang. Papa sebentar lagi kemari." Rwka mencium kepala Jereni dan keluar ruangan.


"Kau yakin bisa makan sendiri?"


"Aku sudah sembuh, Lula."


"Baiklah.."


***


Kapal dan laut. Kenapa akhir ini aku berpikir tentang kedua hal itu?


6 hari lagi. Apa aku benar-benar siap?


"Yejin, mari kita menemui Tuan Ivan." Erynav mengambil tasnya di meja dan mengajak Yejin untuk pergi berlatih. Yejin mengangguk dan berjalan di belakang Erynav.


"Bagaimana keadaan Jereni?"


"Kemarin masih koma. Aku belum mendengar kabar nya lagi."


"Kau mengenal Jereni?" Yejin bingung. Bagaimana tidak Erynav juga baru dikenalnya. Ia hanya tahu kalau Erynav ikut seleksi perlombaan, namun sebelumnya tidak pernah berbicara.


"Dia temanku ketika kami mengikuti olimpiade fisika. Kami sempat dekat dulu.. Makanya aku bertanya karena beberapa hari ini aku tidak melihat nya."


"Dia masih di rumah sakit."


Erynav mengangguk dan membuka pintu kolam renang.


***


"Kita tunggu keadaan pasien. Jika sampai besok keadaan nya terus membaik, pasien bisa pulang."


"Baik, dok." Rwka tersenyum dan dokter keluar.


"Kau harus pulang, Lula. Ini sudah sore. Kau harus istirahat."


"Aku masih mau di sini."


"Kau semakin keras kepala dan tidak mau diatur yaa.." Lula hanya tertawa dan tetap duduk di samping Jereni.


"Tapi kau harus pulang." Jereni serius.


"Aku akan menelpon Yejin dulu. Habis ini aku akan pulang."


Jereni mengangguk, Lula keluar dan menelpon untuk mengabari kalau keadaan Jereni mulai membaik dan Yejin tidak perlu mengkhawatirkan itu.


Beberapa saat kemudian Lula kembali dan berpamitan dengan Jereni, dia akan pulang.


"Terimakasih, Lula. Hati-hati di jalan.."


Lula mengangguk dan berlalu.


***


"Ada apa Lula?" Yejin duduk di sofa sambil memakan buah anggur.


"Jereni sudah sembuh, Yejin. Kata dokter besok bisa pulang kalau keadaan nya terus membaik."