
"Ada keperluan apa?" Seorang laki-laki bertubuh jangkung berdiri di pintu.
"Bertemu Bryan."
"Apakah sudah buat janji?"
"Siapa dia?" Seorang perempuan berbisik dan seorang laki-laki yang bersamanya mengendikkan bahu.
"Kurasa anak baru."
"Belum."
"Kalau begitu tidak bisa." laki-laki jangkung itu terlihat ingin menutup pintu sebelum ditahan.
"Bilang saja Matvei Ilarion mencarinya."
laki-laki itu mengangguk dan berbicara di sebuah benda yang menempel di dinding, entah apa itu.
"Biarkan dia masuk."
"Kalian boleh masuk. Jaga sikap, dan jangan buat keributan." Laki-laki itu mempersilahkan Matvei dan Elliot untuk masuk.
***
Lula's POV
Tidak banyak yang terjadi pagi ini. Semua berjalan normal seperti pagi biasa di sekolah. Mungkin ini hari dimana kejadian aneh tidak terjadi, dan aku boleh tenang. Pikiran aneh tidak menganggku lagi, dan semuanya terasa damai.
Erynav masih di rumahnya. Cideranya belum sembuh total, namun ia sedikit sudah bisa berjalan, dan kemungkinan seminggu lagi ia sudah dapat berjalan normal. Aku mendapatkan kabar ini dari Yejin, dan Erynav sendiri yang memberitahunya.
Yejin tidak mengikuti pelajaran dari pukul 10 pagi, besok ia harus pergi ke ibu kota lagi, untuk melakukan lomba lari.
Sudah pernah aku bilang, kan? Yejin juga mengikuti perlombaan lari, dan itu terjadi besok. Aku mungkin tidak akan pergi bersamanya dan Yejin pasti mengerti.
Aku lupa jika Yejin pergi besok, dan aku tahu ia pasri berlatih lari di pagi dan malam hari. Aku sampai tidak mengingat itu, dan kurasa aku harus memberinya semangat ketika ia kembali nanti.
Ini pukul 12.00, dan kami masih istirahat makan siang. Jereni pergi ke toilet dan aku masih belum bertanya mengapa ia pergi tiba-tiba tadi pagi.
"Kau tahu, Lula? Aku tadi bertemu dengan Andreo. Dia sangat menyebalkan. Masih saja menggodaku." Jereni datang dan menghampiriku
"Kau abaikan saja, Jereni. Ia pasti akan lelah."
Jereni menggeleng dan duduk di sampingku. "Kau tahu dia terlalu ambisi jadi kurasa akan susah untuk membuatnya pergi."
Aku hanya tertawa. Banyak laki-laki di sekolahku yang mendekati Jereni. Jereni cantik dan pintar. Dia juga pandai bela diri Muay Thai kalau aku tidak salah.
Tak sedikit pula kakak tingkat kami yang mengejar-ngejarnya seperti Andreo. Laki-laki itu tidak mau menyerah untuk mendapatkan Jereni. Padahal kutahu Jereni tidak suka didekati oleh laki-laki, karena dia sedikit tomboy (kau tahu apa maksudku).
"Jereni kau belum memberitahu aku tadi pagi kau habis dari mana."
"Ternyata kau ingat itu, Lula."
Aku mengangguk dan menunggu penjelasan Jereni.
"Besok, aku akan pergi ke Tripadvisor!" Sorak Jereni senang.
"Kau mau apa ke sana?"
"Akhirnya Lula.." Mata Jereni berbinar dan aku yakin ada sesuatu yang akan dia lakukan di sana.
"Pak Lim memilihku untuk pertunjukkan Muai Thai di sana!"
"Bagaimana bisa? Kau serius?"
Jereni mengangguk. Aku sangat terkejut. Bagaimana Pak Lim bisa memilihnya? Aku tidak pernah tahu ketika Jereni berlatih Muai Thai lagi.
"Jereni kau menyembunyikan semua ini dariku, ya? Kapan kau mengikuti Muai Thai? Bukankah kau sudah berhenti ketika di sekolah dasar?" Aku sangat ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak percaya dengan yang Jereni katakan.
"Aku diam-diam selama ini. Aku hanya ingin menunjukkan kepada mama kalau aku bisa. Kau tahu aku sering bolos di les biola?"
"Aku berlatih Muai Thai. Maafkan aku, Lula. Tidak ada yang tahu."
"Yejin juga pergi besok."
"Untuk apa?"
"Lomba lari di ibu kota. Kau juga akan pergi, dan aku tidak bisa melihat kalian."
"Santai saja, Lula. Lagian kau harus sekolah besok, dan aku tahu kalau bibi Sofia pasti tidak akan memperbolehkanmu untuk datang."
***
Ruangan ini sangat hening. Seorang pria tengah berhadapan dengan seorang laki-laki dan perempuan berambut kecoklatan. Mereka hanya bertatapan tanpa ada percakapan.
"Kurasa ini sebuah kesalahpahaman. Bryan kau tahu-"
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, Tuan Ilarion. Semuanya sudah jelas, dan kurasa perjanjian kita harus dibatalkan." Seorang pria berambut agak pendek terlihat serius dan menekankan kata tepat di kata bercetak tebal.
Laki-laki itu menarik nafas santai. "Kau tahu? Fakta tentang perjanjian kita." Matvei tersenyum licik. Perempuan di sampingnya bingung dan menatap Matvei tidak mengerti.
Bryan masih tetap mempertahankan wajah angkuhnya dan menunggu penjelasan Matvei selanjutnya.
"Kau tidak akan mendapatkan akses masuk jika bukan karenaku, dan dengan tanpaku." Matvei memainkan jarinya dan menatap Bryan dengan wajah yang terasa puas.
"Kau bukan siapa-siapa lagi ketika tidak di pihak kami." Bryan menyunggingkan senyuman yang tidak terduga. Sorot matanya yang tajam mampu membuat lumpuh lawan bicaranya, namun tidak dengan Matvei.
Walau Bryan jauh lebih tua darinya, Matvei tidak takut sama sekali. Ia masih sekolah memang, namun bisa dikatakan hidupnya tidak ia abadikan hanya untuk itu. Laki-laki itu bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
"Kau juga tidak bisa berbuat apa-apa jika sampai aku tidak bergabung denganmu lagi." Matvei tersenyum puas. Tidak akan ada yang bisa mengakses lautan jika tidak melewati Matvei. Entahlah, tapi Bryan harus bekerja sama dengan Matvei jika masih ingin bisnis mereka berjalan dengan lancar.
"Kau bisa berpikir dua kali untuk mengambil keputusan. Masih ingin bekerja sama denganku, atau bisnismu hangus."
Bryan masih tidak bergeming dan hanya terdiam menatap Matvei.
"Kurasa kami harus pergi sekarang. Ada pelajaran yang harus kami ikuti. Aku sudah izin terlalu lama." Matvei melihat jam tangannya dan berdiri untuk pergi.
"Ayo Elliot." Perempuan itu mengangguk dan berdiri ketika Matvei berbalik tanpa berpamitan dengan Bryan yang terlihat menahan Emosi.
Matvei berhenti tiba-tiba membuat Elliot berhenti juga. Laki-laki itu berbalik dan menatap Bryan sambil tersenyum.
"Terimakasih waktunya, paman. Kuharap kau membuat keputusan dengan bijak. Sampai jumpa." Mereka berdua benar-benar pergi dan Bryan sendirian kini.
Ctaarrr
Bryan melempar vas bunga dan mengenai jendela kaca Hingga pecah. Ia benar-benar marah.
"Bocah sekolahan itu berani mengendalikan ku!" Teriaknya sebelum ia pergi dari tempat itu sambil menendang pintu.
***
"Yejin."
"Lula."
Mereka berkata bersamaan. Lula dan Yejin berjalan bersama keluar kelas. Jereni sudah kembali terlebih dahulu. Ia harus mempersiapkan untuk besok dan kembali terlalu awal. Yejin masih di sekolah karena memang ia ingin membicarakan sesuatu dengan Lula.
"Kau dulu " Kata Yejin mempersilahkan Lula berbicara terlebih dahulu.
Yejin berjalan sambil menatap Lula.
"Kau harus melakukan yang terbaik besok. Jaga dirimu dan beristirahat yang cukup nanti."
"Bagaimana kau tahu?" Yejin bahkan belum memberitahu Lula tentang hal ini. Ia berniat memberitahunya sekarang namun ia rasa Lula tahu lebih awal.
"Apa yang aku tidak tahu tentangmu?"