Luna Rusalka

Luna Rusalka
75



"Kau sudah tenang?" Sofia meletakkan buku bacaannya dan menatap putrinya.


Lula tidak menghiraukan wanita itu. Dia masih memikirkan semua hal yang mengganggu pikirannya.


"Lula kau baik-baik saja?" Tidak ada jawaban dari gadis itu, Sofia berjalan mendekat dan menyentuh pundaknya. Sontak Lula menoleh dan mengangguk kemudian.


"Bagaimana?"


"Aku meminta Yejin untuk datang ke rumah Jereni." Lula kembali menatap jendela dan Sofia mengangguk.


"Lula jika kau semakin membaik, besok pagi kita akan kembali ke Tagansky District."


"Benarkah?" Gadis itu terlihat berbinar dan tersenyum lebar. Mendengar dirinya bisa keluar dari rumah sakit.


"Tapi itu jika kau terus membaik. Dokter bilang sejak pagi tadi imunmu terus menurun." Sofia duduk tegak dan menyatukan kedua tangannya.


"Lula. Apa kau merasakan sakit di tubuhmu?"


Lula menggeleng. Ia meraih kedua tangan Sofia dan bersiap berbicara.


"Mama, Lula baik-baik saja."


"Jadi kenapa imun tubuhmu menurun? Kau punya sesuatu yang sedang kau pikirkan? Lula jika kau tidak merasakan sakit di tubuhmu, kau pasti merasakan sesuatu yang aneh di pikiranmu. Mama tahu kau sedang memikirkan sesuatu dan itu mengganggu pikiranmu, Lula."


Lula tertegun. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari mamanya. Tidak akan pernah bisa. Gadis itu harus selalu terbuka dengan mamanya, tapi tidak saat ini. Ia tidak akan memberitahu apa yang ia pikirkan sekarang.


Drttt drttt


Ponsel mamanya berbunyi. Gadis itu melihat Yejin menelpon. Ia tersenyum dan segera mengangkatnya.


***


Yejin's POV


"Matvei!" Sebenarnya ini sangat tidak menyenangkan. Aku harus meminta Matvei mengantarku. Tapi aku melakukan ini demi Lula dan aku tidak keberatan melakukannya.


Kemana orang itu?


"Matvei!"


Author's POV


Yejin mencari kakaknya ke kamarnya dan tidak menemukan laki-laki itu.


"Matvei!"


Yejin mencarinya ke seluruh rumah dan tidak menemukannya.


"Ada apa?" Matvei datang dari belakang dan menghampiri Yejin. Yejin berhenti dan berbalik.


"Darimana saja kau?"


"Maaf habis dari kebun. Ada apa?"


Yejin terdiam dan mengangguk.


Matvei tahu itu. Tak perlu berkata, laki-laki itu tahu kalau Yejin ingin dia mengantarnya ke suatu tempat.


 


"Aku pulang!" Jereni membuka pintu rumahnya dan masuk. Ia melempar biolanya ke sofa kasar dan menimbulkan suara yang cukup keras.


"Jereni jangan membanting biolanya lagi!" Rwka datang sambil marah-marah.


"Sudah saatnya kau membiarkan aku untuk memilih sendiri bidang keahlian ku!" Jereni tidak suka jika mamanya terlalu memaksakan untuk dirinya agar mengikuti les biola. Tapi gadis itu tidak bisa membantahnya jika papanya sudah bertindak.


Gadis itu pergi berlalu ke kamarnya dan Rwka hanya bisa mengelus dada.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dan Rwka yang tadinya hendak berbalik mengurungkan niatnya. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Yejin?" Yejin berdiri di depan rumahnya dan laki-laki itu menyapanya.


"Kau membawaku kemana Yejin?" Matvei baru datang. Dia baru saja memarkir motornya dan terdiam ketika melihat Rwka menatapnya.


"Ini kakakku." Yejin menunjuk laki-laki di belakangnya dan Rwka mengangguk.


"Matvei, bibi."


"Ah baiklah, Aku Rwka. Masuklah." Rwka mempersilahkan Matvei dan Yejin untuk masuk. Mereka berdua mengangguk dan masuk ke dalam.


"Maaf bibi, tapi saya harus bertemu dengan Jereni."


"Iya sebentar aku panggilkan Jereni. Kalian mau minum apa?"


"Tidak usah repot-repot, kami hanya sebentar."


"Baiklah, sebentar." Rwka berbalik dan pergi ke kamar Jereni.


"Sepertinya aku pernah melihatnya." Matvei menyenggol lengan Yejin.


"Jereni.. Benar dia yang berada di foto kita. Bagaimana aku bisa melupakan gadis itu."


"Kau kenal Jereni?"


"Ya. Kami pernah bertemu di taman. Dia sangat-"


"Kau ke sini Yejin?"


Jereni datang dan berhenti tepat di depan mereka. "Ada Kak Matvei juga?" Jereni menyadari itu. Matvei ada di sini juga, dan ia tidak heran.


Yejin sempat berpikir sejenak. Mereka sudah saling kenal dan dia tidak tahu itu.


Matvei tersenyum dan melambai. Jereni duduk di sofa dan mencari tahu apa yang terjadi.


"Lula ingin menghubungimu. Dia bilang tidak bisa menghubungimu. Apa yang terjadi?"


"Aku tidak membawa ponsel entah kemana. Dari kemarin aku menghilangkan ponselku." Jereni berbisik. Dia tidak mau mamanya mendengar itu dan ia pasti akan dimarahi.


"Itu sebabnya kau tak membalas pesanku?" Matvei menyela.


"Kalian bertukar nomor?" Yejin sangat tidak percaya ini. Matvei dan Jereni. Mereka saling kenal dan ia tidak tahu itu.


"Begitulah." Matvei bersandar di punggung sofa. Jereni hanya mengendikkan bahu dan menatap Yejin serius.


"Aku baru saja kembali dari les." Gadis itu memutar bola matanya dan merasa tidak suka.


"Les apa?" Matvei seakan ingin tahu segalanya. Dia terus bertanya kepada Jereni.


"Biola. Aku tidak pernah memperhatikan pembelajarannya. Terkadang membolos atau tertidur di kelas. Sebenarnya ingin membuat aku dikeluarkan, tapi mama tetap membuatku bertahan di kelas itu."


"Jereni mama dengar!"


Jereni menutup mulutnya dan tertawa geli.


"Aku akan membuktikan bahwa aku tidak berbakat di biola dan saat itu juga aku akan beralih profesi." Jereni tersenyum dan Yejin lelah untuk mendengarkan ocehan sahabatnya itu.


Matvei terlihat tertarik dan ia menunjukkan ketertarikannya kepada gadis di depannya.


"Intinya Lula ingin menelponmu. Itulah kenapa aku kemari, membuatmu bisa berkomunikasi dengan Lula." Yejin menyerahkan ponselnya dan Jereni tahu apa yang harus ia lakukan.


Ia menelpon Lula dan menunggu gadis itu mengangkatnya.


"Hallo Jereni?!"


"Lula kau baik-baik saja?"


"Aku baik, Jereni. Bagaimana keadaanmu?"


"Lula aku sangat menghawatirkanmu ketika Yejin bilang kau masuk rumah sakit. Lula apa kau terluka?"


"Aku baik-baik saja sekarang, Jereni jangan menghawatirkan aku. Seharusnya aku yang khawatir denganmu. Jereni kau yakin kau baik-baik saja?"


"Lula aku baik-baik saja, aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya.. kau tahu terjadi masalah di les biola tadi."


"Apa Martin mengganggumu lagi?"


"Dia sangat menyebalkan memang. Tapi bukan itu masalahnya."


"jadi apa? Jereni perasaanku tidak enak tentangmu tadi. Kau tahu aku juga bermimpi buruk tentang kamu."


"Mimpi apa Lula?"


"Aku akan memberitahumu ketika aku kembali. Jereni sungguh tidak terjadi apa-apa denganmu?"


"Kau tahu aku selalu bisa mengatasi masalahku sendiri."


"Aku lega sekarang. Aku tidak berhenti memikirkan kamu semenjak pagi tadi.


"Jadi, kapan kau kembali?"


"Besok pagi jika keadaanku semakin membaik."


"Lula.." Jereni menarik nafasnya. Ia khawatir ketika ia mantap untuk mengatakan semuanya pada Lula, gadis itu tidak akan menerimanya. Ia takut, jika hal ini akan membuatnya jauh dengan sahabatnya itu, mengingat semua yang terjadi tidak lain karena perbuatannya.


"Kenapa Jereni?"


"Tidak apa. Cepat sembuh dan kembalilah. Aku sangat merindukanmu."


"Iya Jereni aku akan beristirahat habis ini. Barusan mama menyuruhku."


"Jangan Lupa makan yang banyak dan minum obatmu. Yang terpenting jangan pikirkan apapun, demi kesehatanmu."


"Iya Jereni. Aku sudah tenang sekarang."


"Ah sebelum kau menutup telponnya aku ingin berbicara dengan Yejin terlebih dahulu."


"Iya sebentar." Jereni menyerahkan ponselnya kepada Yejin. "Lula ingin berbicara denganmu."


"Ada apa, Lula?"