
Malam semakin larut. Jereni tertidur di kursi tunggu dan kepalanya bersandar di pundak Yejin. Mereka masih belum meninggalkan rumah sakit. Sekeras apapun kedua orang tua mereka, namun dua orang itu tetap bersikeras untuk menunggu Lula terbangun.
"Apa dia terlelap?" Rwka datang dan menyentuh pundak Mark. Sofia tertidur bersandar padanya.
Mark menoleh ke arah Jereni dan mengangguk pelan. "Mereka terlihat sangat lelah, seharusnya Jereni tidak akan terbangun jika kalian membawanya kembalu sekarang." Kata Mark pelan. Mark juga tidak ingin membangunkan istrinya. Sofia tidak berhenti menangis semenjak dokter melakukan kejut jantung pada Lula dan itu berhasil membuat Lula stabil. Kemungkinan Lula akan tersadar besok, kata dokter.
Mattew berjalan ke arah Jereni dan Rwka masih berada di sebelah Mark. "Maafkan kami, tapi kami harus membawa Jereni kembali."
"Tidak seharusnya dia berada di sini terlalu larut."
Mattew menepuk pipi Jereni dan perempuan itu tidak terbangun. Kalaupun putrinya ia gendong, tidak akan terjadi apa-apa.
Mattew menarik Jereni, dan tiba-tiba Yejin terbangun. "Lula?" Laki-laki itu memanggil nama Lula, dan Mattew berhenti seketika.
"Kau mau membawanya kemana?" Yejin meraih tubuh Jereni dan mendekapnya. "Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh Lula." Dengan pandangan yang masih kabur, Yejin menarik Jereni dan mendekapnya erat-erat. Rwka mendekat dan Mark hanya melihat itu dari tempat duduknya. Ia tak kuasa untuk berdiri dan membangunkan istrinya.
"Dia bukan Lula, Yejin." Mattew menepuk pundak Yejin. Tapi laki-laki itu malah semakin erat dan menutup matanya.
"Bagaimana?" Mattew menatap Rwka dan wanita itu mencoba untuk melepas dekapan Yejin, namun itu terlalu erat.
"Kalau kita paksa, kita hanya akan membangunkan keduanya. Sebaiknya kita biarkan mereka. Aku membawa selimut di mobil, aku akan mengambilnya dan segera kembali." Rwka menyentuh pundak suaminya dan berbalik untuk mengambil selimut.
"Tidak apa, aku akan menjaga mereka. Kau sebaiknya pulang dan kembali besok pagi." Mark menyuruh Mattew untuk tidak menghawatirkan putrinya namun pria itu merasa tidak mantap.
"Aku akan menjaganya. Kau juga harus menjaga Ibu Sofia, bukan?"
"Tidak, Yejin bersama kami. Mereka akan baik-baik saja."
"Pak Mark, biarkan saya di sini menemani putri saya. Kau tidak keberatan, bukan?" Mattew duduk di samping Jereni dan tersenyum melihat Mark.
"Maafkan aku, karenaku kalian jadi menginap di sini."
"Kami yang seharusnya minta maaf. Karena keras kepala Jereni, kalian jadi direpotkan.'
Rwka datang dan langsung menyelimuti Jereni dan Yejin. "Untuk sekali saja, tidak apa." Rwka tersenyum dan mencium kening Jereni, lalu duduk di dekat Mattew.
***
"Semalam belum berendam dan pagi ini terasa sangat panas dan gatal, padahal sudah mandi tadi." Matvei menggaruk kakinya. Dia tengah berjalan di halaman dan hendak masuk ke dalam perusahaan untuk kembali bekerja.
Dukkk
Dia tidak melihat. Seseorang menabraknya dan menjatuhkan berkasnya. Matvei berhenti sejenak dan orang itu membantu mengambil berkasnya, laku meminta maaf karena telah menabraknya.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak melihatmu." orang itu menyerahkan berkas Matvei dan tersenyum.
"Tidak apa, terimakasih." Karena terburu-buru, Matvei tidak terlalu memperhatikan dan langsung masuk ke dalam.
"Sudah terpasang." Orang itu berjalan mundur sambil menatap Matvei dari kejauhan.
"Aku harus segera merendamnya. Tidak tahu lagi bagaimana mengatasi ini, sepertinya aku harus hidup di laut, tchh.." Matvei berjalan ke kamar mandi sebelum ke ruangannya, untuk merendam kakinya yang terasa sangat panas.
***
"Aku harus segera merendamnya. Tidak tahu lagi bagaimana mengatasi ini, sepertinya aku harus hidup di laut, tchh.."
"Kurekam. Hahaha, ini mudah sekali."
***
"Roti?" Mark datang membawa dua cangkir kopi dan menyerahkannya kepada Yejin dan Jereni.
"Tidak, terimakasih." Kata Yejin dan Jereni hanya melamun sambil melihat Lula dari luar. "Kapan dia terbangun?" Kegelisahannya membuat dia tidak mau pergi dari rumah sakit, dan apa yang bisa diperbuat Mattew dan Rwka? Tidak ada. Mereka juga harus kembali beraktifitas dan untuk Jereni, dia tidak mau kembali.
"Kau kau roti, Jereni?" Mark menyodorkan roti kepada Jereni dan perempuan itu terbangun dari lamunannya. Dia hanya menggeleng dan meminum kopinya.
"Baiklah, kalau kalian butuh apapun, aku ada di sana."
Yejin mengangguk dan Mark berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Kalian benar-benar tidak ingin kembali?"
"Bibi kami tidak akan pergi sebelum Lula tersadar." Yejin meletakkan kopinya di kursi dan berdiri sejajar dengan Sofia.
"Yejin maafkan aku membuatmu berjanji tentang ini, tapi kurasa kau dan Jereni harus kembali. Kalian sudah berada di sini dari kemarin dan terlihat sangat lelah. Aku tidak mau kalian sakit atau apapun itu."
Yejin diam tidak bergeming. Dia lalu berjalan mendekat ke jendela dan Sofia mengikutinya dari belakang. "Dia prioritasku sekarang. Apapun yang terjadi, aku harus berada di sisinya."
Sofia berhenti di samping Yejin dan menatap laki-laki itu.
"Kau tahu? Bukan hanya karena kau menitipkannya padaku, tapi.. sudah seharusnya. Aku merasa aku harus melindunginya, walau terkadang lengah dan tidak berada di sampingnya ketika dia membutuhkan bantuan. Tapi, aku akan tetap berusaha."
"Yejin, kau tahu itulah kenapa aku menyukaimu.." Sofia tersenyum dan menepuk lengan Yejin.
Yejin menyipitkan kedua matanya, karena melihat pergerakan. "Dokter! Kalian harus memanggilnya, baru saja aku melihat Lula bergerak!"
"Benarkah?" Sofia melihat di jendela dan melihat apa yang Yejin lihat. Tubuh Lula sedikit terguncang dan mereka berteriak memanggil dokter.
Dokter datang kemudian dan langsung memeriksa Lula. Semua orang menunggunya dan beberapa menit memeriksa, akhirnya laki-laki itu keluar.
Dokter menggeleng. "Memang sering pasien dalam keadaan koma terguncang tubuhnya. Tidak apa, dia baik-baik saja. Hanya saja, memang belum sadar. Kami akan terus memantau keadaannya, kalian mohon jangan terlalu khawatir, dan serahkan semuanya kepada kami. Kami akan melakukan yang terbaik." Dokter tersenyum lalu pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Duduklah, kau masih lemas. Aku akan membelikan sarapan setelah ini." Mark merangkul Sofia dan mengajaknya duduk.
"Yejin, bisakah kau menjaga Sofia sebentar? Aku akan ke bawah membeli sarapan."
"Baik, paman." Mark berjalan menjauh dan Yejin kembali menatap jendela lagi.
"Dia dimana?"
Yejin menoleh ke belakang, karena mendengar Jereni tengah berbicara dengan seseorang. Tapi tidak, dia hanya berbicara di telepon.
"Baiklah, aku akan ke sana!" Jereni mematikan teleponnya lalu beranjak pergi.
"Jereni kau mau kemana?!" Yejin berteriak dan Jereni berhenti sebentar, namun tanpa kata-kata, Jereni kembali berlari.
"Apa yang akan dia lakukan? Tapi aku harus menjaga bibi Sofia."
"Dia mau kemana, Yejin?" Sofia menyadari itu namun, Yejin hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Firasatnya tidak baik, namun Yejin tidak bisa mengejar Jereni sekarang. Dia harus berada di sini sampai Mark kembali. Semoga ketika dia menemukan Jereni nanti, sesuatu buruk tidak terjadi. Tapi pikirannya tambah kacau, dan dia tahu hal buruk akan terjadi.
***
"Kau mau apa?!"
"Kau tidak lihat aku juga terluka, sampai tidak bisa berjalan kalau tidak pakai tongkat begini?!" seorang laki-laki dengan alat bantu jalan berdiri di lorong di halaman belakang rumah sakit.
"Sudah lama semenjak pertama kali aku ingin menghajarmu, sok tampan?" Itu Jereni. Dia menyuruh salah satu temannya untuk mengikuti Caleb dan ketika laki-laki itu benar-benar tengah sendirian, Jereni akan menghajarnya habis-habisan. Kata-kata Yejin tidak mampu mengubah tekad Jereni, malah itu tambah membuatnya berkeinginan untuk membalas Calh tanpa ampun.
"Kau pikir aku percaya? Coba ambil saja tongkat ini jika bisa." Jereni mengambil paksa tongkat Caleb dan laki-laki itu mengerutkan keningnya. "Kembalikan atau aku teriak?"
"Teriak? Kau pasti tidak ingin reputasimu hancur hanya karena orang-orang tau kau teriak karena dihadang perempuan yang bahkan tubuhnya lebih kecil darimu? Hahaha.. ternyata kau sepengecut itu, Caleb!"
"Apa maumu?!" Wajah Caleb berubah serius seketika. Lihat saja bahkan dia mampu berdiri tanpa tongkat. Karena dari awal Jereni tahu luka Caleb hanya di bagian keningnya, dan kakinya baik-baik saja. Itu hanya profokasinya agar tidak terlihat seperti pelaku, karena dia juga korban kecelakaan dan lukanya cukup parah.
"Jangan sok berani, tubuhku lebih besar dan jika kita berkelahi sekarang kau sudah tahu siapa pemenangnya. Walau aku luka begini, tapi tenagaku masih utuh!" Caleb menyatukan kedua tangannya.
Krekkkkk
Jereni mematahkan tongkat Caleb. Laki-laki itu sedikit terkejut, namun sukses menyembunyikan wajahnya itu.
"Pertarungan yang kita mulai di club karate, kita belum menyelesaikannya, bukan?" Jereni melempar kedua patahan tongkat itu ke tembok dan bersiap dengan posisinya. "Kita selesaikan di sini, tanpa wasit dan pengaman."
Caleb menyeringai. "Aku tidak takut dengan kau mematahkan tongkat itu."
"Apa aku perduli?" Jereni berlari dan melompat, untuk jarak mereka yang cukup jauh itu kesempatan emas untuk Jereni melakukan trik awal mode penyerangannya.
Caleb yang sudah siap dengan itu langsung menghindar ketika Jereni melayangkan kakinya dari udara hasil ia melompat.
"Seperti biasa, aku tidak mudah untuk dikalahkan!" Caleb tertawa dan berdiri di belakang Jereni, memposisikan tinjunya dan langsung bersarang tepat di punggung Jereni. memberikan pukulan hebat, sehingga Jereni terdorong cukup jauh, namun dia tidak terjatuh.
"Aku memang tidak pernah membuatmu berlutut di depanku, tapi kali ini, aku akan membuatmu benar-benar menyesali apa yang telah kau perbuat.
"Lakukan apapun semaumu, aku juga akan melakukan apa mauku." Tidak tersirat ketakutan di mata Caleb. Itulah yang selalu Caleb lakukan. Selalu menganggap remeh lawannya. Dia berpikir kalau dia pasti tidak akan kalah dengan Jereni, karena dia perempuan.
"Tunggu dan lihat ketika aku berhasil menjatuhkan mu dengan mudah." Caleb berlari dan meraih tubuh Jereni, bersiap untuk membalikkan tubuhnya dan menjatuhkannya dengan mudah.
Tapi Jereni tidak lengah, dia mencengkeram pundak Caleb, memutar kakinya hingga bertengger di pundak Caleb dan memutar tubuhnya, berusaha membuat Caleb terjatuh, namun laki-laki itu langsung melepaskan diri dan tidak terjadi apa-apa antara keduanya.
Jereni melepaskan tinjunya, hingga mengenai rahang bawah Caleb, membuat laki-laki itu sedikit menggeram karena rasa sakit yang baru saja diterimanya. Dengan satu hempasan saja, dia mampu membuat Jereni terlempar dan membentur balok-balok kayu di lorong.
"Argh.." menggeram sedikit karena sakit, Jereni berusaha berdiri dan berlari menghampiri Caleb. Kali ini dia melakukan tendangan memutar tiga kali, sikap terakhir kakinya mendarat empuk di perut Caleb, membuat laki-laki itu terlempar, namun dia tetap menjaga keseimbangannya hingga tidak terjatuh.
"Lumayan untuk pemanasan awal. Kau terlihat lebih kuat sebelumnya." Caleb menaikkan lengan bajunya dan menghindar ketika Jereni mulai menyerang lagi. Namun, laki-laki itu sukses menahannya.
Caleb memukul perut Jereni. Jereni tidak bisa menahannya, karena Caleb terlalu kuat. Caleb tersenyum dan menendang punggung Jereni ketika perempuan itu tengah kesakitan dan lengah. Jereni terbatuk dan mengeluarkan darah.
"Sekuat apapun kau berusaha, kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku." Caleb terus menyerang Jereni, namun kali ini Jereni tidak melakukan penyerangan.
Caleb hendak menendang kepala Jereni,, namun tangan Jereni menahannya. Jereni bangkit lagi, dan balik menendang tubuh caleb. Namun dengan tenagah yang masih banyak, Caleb menghindar dengan mudah Jereni masih berusaha menendang dan memukul tapi tidak membuat Caleb terjatuh karena laki laki itu mampu menahan serangan Jereni.
Jereni mencoba memukul wajah Caleb, namun tak sempat karena Caleb terlebih dahulu membuat Jereni jatuh tersungkur. Jereni bangkit, dan menendang rahang Caleb, sukses membuat laki-laki itu oleng dan hampir terjatuh, namun.langsung bangkit dan berlari untuk memukul Jereni.
Caleb melakukan tendangan kalajengking, di posisi mereka yang sangat dekat, membuatnya mengenai kepala lawan dengan mudah. Jereni merasa pusing dan pandangannya kabur, namun dia tidak apa, demi membalaskan dendam ya pada Lula.
"Kau sudah kalah, Jereni. Berhenti dan akui saja kekalahanmu!" Caleb meraih tubuh Jereni dan menghempaskannya hingga terjatuh kembali. Menghantam tembok dan terdengar beberapa tulang berbunyi. "Sudahlah!" Caleb berbalik, dan langsung mendapat pukulan tidak keras di punggungnya dari belakang.
"Kau lihat? Bahkan pukulannya tidak melukaiku sama sekali." Caleb berbalik dan melihat Jereni berdiri dengan lemah dan dengan wajah yang babak belur itu. "Kenapa? sudah menyerah?"
"Dasar kau JAL*NG!!!" Jereni berteriak tepat di depan Caleb membuat laki-laki itu emosi dan langsung memukul wajah Jereni hingga menimbulkan bunyi di tulang rahangnya, dan kemudian menendang kaki jereni hingga berbunyi dan sepertinya patah. Jereni berteriak kesakitan. Dia berlutut dan memegangi kakinya. Tidak sanggup berdiri, Caleb tersenyum senang, merasa dia telah menang, dan siapa sekarang yang tengah berlutut?
Beberapa saat merasakan sakit kakinya, Jereni mengusap air matanya yang keluar dan tiba-tiba terdiam. Menetralkan nafasnya, dan keadaan menjadi begitu hening.
"Kau tahu apa kesalahanmu, Caleb?"
Caleb hanya menaikkan satu alisnya. Dengan rasa sakit yang perlahan menjalar dari kaki ke seluruh tubuhnya, Jereni berdiri. Dia berdiri tegak. Tanpa terlihat kesakitan, dan tidak terlihat seperti orang lemah sekarang.
Perempuan itu tertawa. "HAHAHAHA" Caleb melebarkan matanya, melihat perempuan itu masih sanggup berdiri bahkan ketika kakinya patah sekalipun.
"Kau terlalu menganggap remeh lawanmu." Jereni berhenti tertawa dan menatap serius Caleb, kemudian berjalan menuju arah Caleb. Dia sama sekali tidak terlihat seperti kakinya tengah patah. Mengambil karet rambut di pergelangan tangannya, dan mengikat rambutnya. Caleb masih berada di tempat, dan Jereni tambah mendekat. Dia terlihat biasa saja, dan tidak lemah!
"Lagian, kau tidak akan menang melawan monster dalam diriku!" Jereni berjalan dengan tubuh yang sudah babak belur seperti itu, dan dalam keadaan kaki kanannya patah. Nyali Caleb menjadi ciut. Padahal dia sudah membuat Jereni terluka parah, namun seperti tidak terluka Jereni berjalan dan semakin cepat menghampiri Caleb.
"Kau PAYAH!" Jereni berlari, melompat, dan dengan cepat mengarahkan tendangannya ke arah Caleb.