Luna Rusalka

Luna Rusalka
116



Apa yang aku dengar baru saja itu memang yang akan Yejin katakan? Memang aku sudah lama tidak ke rumahnya, dan bibi Yeva juga jarang ke rumahku. Tapi, jika aku meminta Caleb untuk mengantarku pergi ke rumah Yejin, dia pasti akan mengganggu kami. Kenapa benalu ini terus saja mengikutiku, God!


Dug!


"Kau baik-baik saja, Lula?" Caleb memegang tanganku dan aku hanya memalingkan muka. Tak sadar aku membuat gerakan kecil dan kepalaku membentur kaca mobil.


Aku melepas tangan Caleb dan memberikannya tatapan smirk.


"Jangan sok peduli denganku."


"Aku hanya menghawatirkanmu, apa salahnya?"


"Sudahlah, Caleb! Bisa tidak kau tidak menggangguku lagi? Bukankah hubungan kita sudah berakhir beberapa hari yang lalu?"


"Itu menurutmu. Bagiku, hubungan kita tidak akan pernah berakhir."


"Tapi Caleb aku tidak mau berhubungan denganmu lagi, apa kau tidak mengerti?!"


"Kau segalanya bagiku, Lula! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkan aku! "


Caleb membentakku dan aku langsung terdiam. Dia tidak pernah melakukan ini, dan sekarang dia telah melakukannya. Semua orang memang mudah berubah dan itulah mengapa aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, karena memang dari awal aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


Caleb fokus menyetir lagi dan beberapa saat dia melihatku. "Maafkan aku, Lulam Aku tidak bermaksud membentakmu."


Dia tidak pernah menyesal. Caleb sengaja melakukan ini. Aku sudah tidak tahan lagi dengannya.


"Lula kau baik-baik saja?" Dia sesekali menatapku di sela mengemudinya dan aku, menatapnya penuh kebencian.


Kami hampir sampai di rumah, setelah belok kanan di pertigaan. Aku lega hampir sampai dan dengan cepat aku akan langsung berlari ke kamar, mengurung diri sampai Caleb benar-benar pergi. Dia sangat menganggu dan tingkahnya semakin hari semakin menjengkelkan dan aku sama sekali tidak menyukainya.


"Kita mau ke mana?" Caleb membelokkan mobil ke kanan, dan bukannya ke kiri. Dia hanya menyeringai dan aku menatapnya penuh interogasi.


"Caleb kau mau ke mana?!"


"Kupikir kau perlu hiburan."


"Apa?!"


"Lula temanku memiliki bar yang cukup mewah dan kau pasti menyukainya." Caleb tertawa dan aku membelalakkan mataku.


"Caleb kau tahu aku bisa mengadukan semua ini pada papa dan kau pasti akan kena marah!"


"Papamu lebih percaya denganku. Anak sahabatnya sendiri, dia beranggapan aku menuruni sifat papaku, dan kau tahu kalau aku sangat berbeda jauh darinya."


"Caleb putar balik atau aku akan-"


"Akan apa? Kau tidak akan berani mencelakaiku. Jika aku celaka kau kau pasti juga akan terluka."


Tidak pernah dalam hidupku membenci sesuatu sebesar ini, dan kurasa aku hampir meledak.


Pikiran-pikiran jahat mulai memengaruhiku dan aku tidak bisa berpikir jernih. Caleb memang tidak punya hati dan dia sering bermain dengan perempuan lain. Caleb tidak sebaik yang selama ini aku pikirkan dan dia hanya benalu yang sangat menganggu hidupku.


Caleb bermuka banyak dan menghalalkan segala cara untuk semua yang diinginkannya. Caleb laki-laki jahat dan tidak punya belas kasih! Caleb sering menyiksa orang agar tujuannya tercapai! CALEB MEMANG LAKI-LAKI BIADAB!


"Bagaimana jika aku berani melakukan apapun?"


Dengan segala kekuatanku, aku mendorong Caleb sampai kepalanya membentur kaca mobil dan aku menarik setir mobil. Berharap dia menghentikan mobilnya dan aku bisa kabur.


"Lula apa yang kau lakukan?!" Caleb terkejut dan mendorongku dengan keras. Dia menginjak pedal rem namun aku menginjak kakinya terlebih dulu. Dia berteriak kesakitan dan aku menarik kemudi mobil kemudian.


"Caleb lebih baik kau mati saja?!" Aku menarik kemudi mobil untuk terakhir kalinya, dan mobil berputar tak terkendali hingga menabrak pohon di samping kanan kami. Kepala kami terbentur bagian depan mobil, aku sangat kesakitan dan tidak bisa bergerak, namun aku masih sadar.


Bau asap memenuhi mobil dan kurasa mobil rusak parah. Aku berusaha bangkit namun badanku sakit sekali. Kejadian tadi sangat cepat dan aku tidak tahu seberapa parah kecelakaan kami. Yang pasti, aku masih sadar dan secepatnya harus segera keluar dari mobil, sebelum mobil ini meledak atau apa.


Dengan kekuatan penuh, aku mengangkat tubuhku dan bersandar di punggung jok mobil. Sakit sekali, terlebih kepalaku membentur bagian depan dalam mobil dan berdarah. Sedikit pusing dan kakiku tambah sakit, mengingat tadi pagi terkena pecahan gelas.


Aku menoleh ke kanan dan melihat Caleb tak sadarkan diri. Ini kesempatan bagiku untuk kabur. Jika dia tewas, aku tidak akan bersalah karena ini kecelakaan. Berusaha menggerakkan tangan kananku untuk memencet tombol yang otomatis membuka pintu keluar di sebelah kiri.


Pintu tidak terbuka dan aku terus memencet tombol itu. Sepertinya pintunya macet dan aku harus membuka secara manual. Itu tidak sulit sebenarnya, namun ini menjadi menyakitkan karena sepertinya tangan kananku terkilir dan aku juga kesakitan.


Pintu terbuka dan aku bangkit dengan susah payahnya, kemudian keluar dari mobil. Keadaan di sini sepi, karena dekat dengan hutan dan jarang kendaraan berlalu lalang. Aku tidak tahu aku dimana, namun sepertinya sudah terlalu jauh dari rumah. Jika aku kembali ke rumahpun, tidak akan ada orang di sana.


Aku berjalan dengan tertatih untuk pergi dari tempat itu, sebelum Caleb sadar dan aku tidak tahu harus ke mana. Darah menetes dari kening kananku dan pandanganku mulai kabur. Langkah kakiku mulai pelan dan sakit kepala menerjangku.


Dari kejauhan, aku melihat sosok perempuan berambut putih salju, memakai mahkota besar dan gaun putih yang sangat indah, dengan membawa burung Phoenix putih di tangan kanannya. Cantik sekali.. dia tengah tersenyum kepadaku hingga pandanganku benar-benar kabur dan menggelap.


***


"Lula!" Kalula terbangun dari tidurnya dan wajahnya terlihat terkejut. Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan memukulnya beberapa kali.


"Apa yang terjadi dengan putriku?" Pikirannya tidak baik-baik saja. Setelah sekian lama, baru pertama kalinya merasakan perasaan khawatir dan gelisah seperti ini.


"Aku merasakan ini untuk pertama kalinya? Apa itu artinya putriku semakin dekat denganku?" Kalula beranjak dari tempat tidur dan melihat keluar jendela. Dia tidak lagi berada di laut. Ketika dia mengatakan jika ingin mencari putrinya sendiri, ia keluar dari laut, bersama voodoohag dan Zedrys yang telah ia ubah menjadi manusia.


Kalula masih memegangi dadanya, dan setiap detik itu menjadi lebih sakit, sampai wanita itu tertunduk merasakan sakit hingga berteriak. Terdengar suara dentuman di lantai dan seseorang berlari memasuki ruangan. Voodoohag berdiri di pintu dan melihat Kalula tertunduk kesakitan.


"Kau baik-baik saja, Ratu?" Voodoohag mendekati Kalula untuk melihat apakah ratunya baik-baik saja.


Kalula mengangkat tangan kirinya dan Voodoohag berhenti. Monster yang bertransformasi menjadi pria dewasa itu mengerti jika ratunya tidak mau diganggu, kemudian dia pergi keluar.


"Rasa sakit ini terus saja menghamtamku, membuatku lemah seiring waktu. Aku harus segera menemukan putriku." Kalula melepas tangan kanannya dan berdiri tegak, menatap keluar jendela dengan sorot mata yang membara.


***


"Lula.." Mataku sulit untuk dibuka. Namun, suara yang memanggilku dibarengi dengan belaian tangan lembut seseorang di rambutku, membuatku ingin terus berada pada posisi ini.


"Mama.." aku yakin itu bukan suara mama Sofia, namun entahlah aku merasa dia seperti mamaku sendiri.


"Bangun, putri mama.." Suaranya sangat lembut. Mungkinkah dia malaikat? Aku menyunggingkan senyum dan aku merasa sangat bahagia.


Dia tertawa ringan sambil terus mengusap kepalaku, lalu turun ke kedua pipiku. Tangannya sangat harum, dan aku ingin sekali melihat siapa dia, namun unlucky mataku sangat susah untuk dibuka.


"Sayang, mama sangat merindukanmu. Kapan kau kembali?" Apa yang dia bicarakan? siapa sebenarnya dia? Aku yakin sekali bukan mama Sofia karena aku sangat mengenali suara mama Sofia, dan bukan seperti ini.


Kurasakan kecupan di kedua mataku, dan dia tertawa lagi. "Buka matamu.." Perlahan aku membuka mataku dan pandanganku masih kabur. Sekilas aku melihat figur seorang perempuan dengan gaun putih indah penuh dengan hiasan berlian asli, kurasa. Rambut putih saljunya membuatku teringat seseorang, namun aku lupa aku melihatnya dimana.


Dia berdiri . Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, namun kuyakin dia tengah tersenyum. "Aku akan segera menemukanmu.. putriku.." sosoknya menjauh dan aku tidak dapat menggapainya, namun jelas sekali kekosongan ini menghantam diriku, membuat setiap microsel di dalam tubuhku merasakan sakit yang teramat, sangat sakit bahkan sesakit ketika Yejin tidak perduli lagi denganku.


Setelah sekian lama, dan sekarang aku merasakannya lagi. Kekosongan ruang di dalam hatiku, dan bahkan cinta Yejin pun tidak dapat mengobati.


Aku.. merindukan*..


"Hhhh..." Kedua mataku terbuka lebar dan bau obat menyeruak di hidungku. Ruangan putih dengan kaca besar tak lagi membuatku terkejut.


"Kau sudah terbangun, nona." Suara perempuan di kananku. Perempuan berbaju putih dan bertopi aneh. Dia perawat, dan tengah menyuntikkan sesuai di kabel infus.


***