
"Maafkan aku, Lula. Di rumah sedang sibuk dan aku harus membantu. Aku kembali sekarang, kau tidak apa, kan?"
"Iya santai saja."
"Jereni tersenyum."
"Hati-hati, Jereni!" Sekarang Jereni sering kembali lebih awal. Kami menjadi susah untuk berkomunikasi di luar sekolah. Sebenarnya aku ingin mengajak dia ke rumah Yejin, tapi pasti akan sulit untuk meminta izin mamanya.
"Akan kutelpon kau nanti sore!" Teriaknya kemudian, sambil berjalan mundur dan keluar dari kelas.
Aku menunggu Yejin sebentar. Setelah makan siang tadi, dia pergi mengurus pasport bersama Erynav dan Tuan Bogdan. Aku sedikit menghawatirkan itu tapi aku tidak berpikir panjang.
Dia sudah kembali, aku juga melihatnya tadi keluar dari mobil, dan dia tengah di ruangan Pak Bogdan. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan kali ini.
***
"Matvei!" Aku berhenti. Kulihat Elliot berlari mendekat.
"Ada apa?" Perempuan itu terlihat berkeringat. Sepertinya dia mengejarku dan berlari tadi.
"Kau pergi siang ini?"
"Ya. Aku harus menemui Bryan. Kau membutuhkan sesuatu?"
Elliot menggeleng. "Bisakah aku ikut?" Tidak masalah sebenarnya. Aku mengangguk dan ia terlihat senang. "Keahlianmu masih dibutuhkan."
Benar sekali. Elliot dengan kemampuannya memengaruhi pikiran, sangat membantu kami, untuk membuat makhluk itu melupakan yang baru saja terjadi.
Yang Bryan tangkap bukan mermaid sepertiku. Mermaidd asli dan biasa, bukan duyung campuran dan mereka cenderung mudah dipengaruhi.
Aku tidak tega sebenarnya, namun jika kami bermanfaat bagi manusia dan orang banyak, bukan sebuah masalah. Bryan hanya akan membunuh yang menunjukkan gejala berbeda setelah kami mengambil darahnya, Karena mereka akan berbahaya bagi mermaid lain maupun manusia. Oleh karenanya aku menyetujui perjanjian itu.
***
"Kau membawa sepeda?" Yejin bertanya ketika Lula menghampiri sepedanya di parkiran.
"Tidak terlalu jauh rumahmu dari sekolah, jadi kurasa dengan sepeda tidak terlalu menyusahkan. Lagian mama mengizinkanku dengan syarat tidak mampir kemanapun selama di perjalanan."
"Baiklah." Yejin mengambil sepedanya dan mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
***
Semoga keputusanku memberitahu Lula tidak salah. Jika tidak sekarang, dia akan terkejut jika nantinya dia berubah seutuhnya dan tidak tahu menahu pasal ini.
Aku juga masih mencari tahu dimana keberadaan Brandon. Tidak mungkin jika dia tidak berada di sini.
Aku masih heran kenapa aku belum menunjukkan apa-apa? Bagaimana membuat Lula percaya? Sedangkan aku juga tidak dapat membuktikan siapa diriku yang sebenarnya.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
***
"Kau tunggu sebentar di sini, aku akan melihat keadaan nenek." Yejin mempersilahkan Lula untuk duduk di ruang tamu, dan laki-laki itu pergi ke kamar neneknya.
Lula berdiri dan menjelajahi ruangan ini. Dia belum pernah masuk dan hanya melihat dari depan rumah. Dalamnya sangat kuno, namun terlihat antik. Benda-benda lama terpajang di tembok-tembok, dan ia juga melihat perapian dengan ukiran yang sangat indah.
Beberapa lukisan besar menempel di tembok, dan terlihat hidup. Nenek Yejin sangat berpengalaman tentang ini, sepertinya. Ia merupakan ahli mitologi dan Lula yakin gadis itu akan menemukan sesuatu di sini.
"Nenek sedang merajut. Ia memintaku untuk membawamu ke kamarnya." Lula menoleh dan mengangguk. Mereka berjalan pergi ke kamar Nyonya Evalina yang berada tak jauh dari tempat mereka sekarang.
Yejin berdiri di depan pintu dan membukanya. Mereka memasukinya dan melihat Nyonya Evalina tengah duduk di tempat tidurnya sambil memegang alat rajut. Wanita tua itu berhenti dan meletakkan rajutannya kemudian tersenyum melihat Lula.
"Jangan khawatir, dia wanita yang baik."
Lula mengangguk dan berdiri di samping Nyonya Evalina.
"Kalian berbicara terlebih dahulu, aku harus melakukan sesuatu." Yejin keluar kamar dan menutupnya.
"Duduklah." Lula duduk di kursi berpunggung panjang di samping kanannya.
"Hai Nyonya Evalina."
"Panggil aku nenek atau granny saja. Semua teman Yejin sudah aku anggap cucuku sendiri."
Lula mengangguk.
"Yejin selalu membicarakanmu dan aku selalu suka ceritanya tentangmu."
Lula sedikit menaikkan kedua alisnya. Yejin membicarakannya?
"Apa yang Yejin katakan, nenek?"
Granny tertawa ringan. "Banyak hal. Dia juga baru saja bercerita kalau kau memberinya gelang dan kau tahu laki-laki itu sangat menyukainya."
"Apa begitu?" Lula sangat terkejut. Di depannya Yejin terlihat biasa saja, namun ternyata laki-laki itu menyukai pemberian Lula, dan Lula sangat senang karenanya.
"Ya. Kau gadis yang baik dan perhatian, Lula. Seperti Yeva dulu waktu aku masih muda."
"Ah maaf jadi mengoceh. Jadi, apa yang kau perlukan?"
Lula tersenyum dan tertawa kemudian.
"Kenapa?"
"Nenek lucu."
"Apa itu kau?" Lula melihat foto seorang wanita muda cantik di tembok kamar granny.
Granny menoleh dan melihatnya. "Usia 20 tahun, dan belum menikah."
"Kau sangat cantik. Bahkan sampai sekarang, masih memiliki aura itu."
Granny tersenyum. "Jangan terlalu berlebih-lebihan. Aku sudah tua, dan bahkan untuk berdiri lama terkadang sangat lelah."
Lula melihat jam tangannya dan menatap Granny. "Nenek aku tidak punya banyak waktu, jadi kurasa aku akan bertanya sekarang."
"Baiklah, aku mendengarkan." Granny meletakkan rajutannya dan fokus pada Lula.
"Mamaku bilang kau ahli mitologi, benar begitu?"
"Aku suka belajar mitologi, dan itu membuatku dikenal seperti itu. Tapi sejatinya aku masih terus belajar dan beberapa hal aku tahu."
"Apa yang nenek tahu tentang Rusalka?"
Granny terdiam dan mencoba berpikir. "Waktu muda, aku melakukan penelitian dan tahu banyak, namun seiring waktu semua itu hilang begitu saja dari pikiranku Tapi, mungkin aku ingat yang satu ini."
Lula terdiam mendengarkan.
"Banyak sumber banyak versi pastinya." Granny mengambil kacamata yang berada di meja dan beranjak dari duduknya.
"Ikut aku." Ia berjalan ke sebuah pintu dan membukanya. Lula berjalan di belakangnya.
Mereka tiba di ruangan penuh dengan buku yang tertata rapi di rak besar di masing-masing sisi tembok. Langkahnya lambat, namun ia masih terlihat kuat. Ia tengah mencari sesuatu dan Lula mengikuti arah wanita tua itu.
"Kemari." Granny memanggil Lula dan gadis itu berjalan mendekat.
Granny mengambil satu buku dan membukanya. Ia memakai kacamatanya dan terlihat tengah membaca itu.
"Rusalka adalah para perempuan yang mati di danau atau sungai, dan menjadi hantu. Ia akan menampakkan dirinya hanya pada pria yang tersesat di sana." Granny membuka halaman demi halaman. "Semua pria yang mereka temui, akan menjadi budak dan tinggal di dalam air."
"Versi lain, Rusalka adalah seorang perempuan yang dibunuh oleh kekasihnya dan mayatnya dibuang ke sungai. Mereka akan berubah menjadi hantu Rusalka dan membunuh siapapun pria yang berada di sekitar sungai untuk membalaskan dendamnya." Granny berhenti dan menutup buku. Ia mencari buku lain dan mengambilnya.
"Itu mitologi yang tidak terkenal, dan jarang orang membicarakannya. Dari mana kau tahu?"
Lula terdiam dan berpikir. Ia memang tahu sedikit, ditambah Yejin pernah menyinggungnya.
"Aku tahu sedikit."
"Mengapa kau sangat ingin tahu?"
Lula menggeleng dan bersandar di rak buku. "Apa mereka memiliki ekor?"
Granny membenarkan posisi kaca matanya. "Mereka bukan ikan. Mereka adalah hantu. Tapi, tunggu." Granny berjalan ke ujung rak sebelah kirinya dan mencari sesuatu. "Ah ini." Ia mengambil sebuah buku dan memberikannya kepada Lula.
"Seseorang memberitahu aku. Satu cerita. Seorang putri duyung atau mermaid, berubah menjadi seekor Rusalka dengan kekuatan yang maha dahsyat. Dia Rusalka yang berekor, dan bukan hantu. Tinggal di laut dan sangat misterius."
"Mermaid?"