Luna Rusalka

Luna Rusalka
112



Pagi ini, meja makan sepi. Hari pertama rumah tanpa Sofia, dan hari pertama Lula tidak memakan masakan mamanya.


Hening, tanpa percakapan. Yefy dengan makanan dan earphone nya, dan Lula hanya mengaduk cereal buatan papanya. Sedangkan Mark, dia memakan sarapannya sambil memperhatikan tingkah kedua anaknya itu.


Mark meletakkan sendoknya dan bersandar di punggung kursi. "Dua tahun dan itu sukses membuat kalian berubah. Sangat sangat berubah, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan dua orang dengan kesibukannya masing-masing di meja makan." Mark menatap kedua anaknya dan mereka dengan malas menatap papanya itu.


"Apa? Aku hanya bercanda, lanjutkan makan kalian." Kata Mark malas dan tersenyum dengan terpaksa. Yefy meletakkan sendoknya dan selesai makan. Ia berdiri dan pamit dengan Mark.


"Aku pulang terlambat nanti. Les Karate berubah hari menjadi hari ini." Kata Yefy sambil memakai ranselnya.


Mark mengangguk dan tersenyum tipis. "Berhati-hatilah!"


Yefy mengangguk. "Aku berangkat." Ia melirik Lula namun perempuan itu tidak memperdulikannya. Ia hanya sibuk dengan sarapannya yang tidak dimakan itu.


"Terserah." Kata bocah berumur 12 tahun itu lalu pergi berlalu.


"Kau tidak suka?" Dia memperhatikan putrinya sedari tadi dan yang dilakukannya masih sama. Mengaduk ngaduk makanan tanpa memakannya.


Lula tidak menjawab. Perempuan itu tengah melamun. "Kau mendengarkan papa?" Mark menyentuh tangan Lula, sontak membuat gadis itu reflek dan menyampar gelas di sampingnya hingga terjatuh ke lantai dan pecah.


ctarrrrr..


Keduanya terkejut. Lula sadar dari lamunannya dan membelalakkan matanya. Pecahan gelas mengenai kaki Lula dan mengeluarkan darah. Lukanya cukup parah, karena pecahan gelas itu cukup besar dan menancap di kaki Lula yang hanya memakai sandal jepit itu.


"Astag*. Kau terluka." Mark bergerak cepat dan berlari untuk mengambil P3K di etalase.


Lula tidak bergeming. Ia hanya menatap kakinya yang terluka tanpa melakukan apapun.


Mark kembali dan meletakkan kotak P3Knya di meja, lalu membantu Lula untuk turun dari sana dan membawa Lula duduk di sofa di ruang tengah.


Lula duduk di sofa, dan Mark membuka kotak P3K nya, lalu mengobati luka Lula. Perempuan itu hanya terdiam dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.


"Aw!" Pekik Lula. Mark mencoba mengambil pecahan gelas itu dari kaki Lula yang terus mengeluarkan darah.


"Sakit? Maafkan papa Lula. Tahan sebentar. Lukamu papa bersihkan dulu."


Lula mengangguk dan melihat jam dinding.


๐Ÿ•–


Waktunya untuk pergi ke sekolah. Batin Lula.


Mark merapikan peralatan P3Knya dan membersihkan darah di lantai. Lula berterima kasih kepada papanya dan Mark mengelus kepala Lula.


"Jangan banyak bergerak. Kau mau kemana?" Lula terlihat berusaha berdiri namun Mark menahannya dan perempuan itu kembali duduk.


"Sudah terlambat. Aku mau ke sekolah."


"Tidak untuk hari ini. Kau terluka dan biarkan papa yang mengabari pihak sekolah kalau kau tidak masuk." Mark berbalik dan hendak pergi namun Lula menahan lengannya.


"Papa hari ini aku ada ujian. Jika tidak ikut, akan mengulangi Minggu depan, sendirian, dan aku tidak ingin itu terjadi." Mark berhenti dan berpikir. "Tapi kau-"


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku."


"Baiklah. Tapi papa akan mengantarmu."


Lula mengangguk dan tersenyum. Mark membantu Lula berdiri untuk mengambil sepatu dan memakainya.


Ting tong


Bel rumah berbunyi dan Mark berlari untuk membuka pintu. Pria berambut hitam berdiri di depan pintu dan Mark tersenyum. "Masuklah, Caleb!"


***


"Aw!" Pekik Yejin ketika dirinya menabrak meja di depannya. Kakinya mengenai kaki meja cukup keras membuatnya sedikit pincang dan kesakitan.


"Kau kenapa Yejin?" Yeva keluar dari dapur dan melihat putranya memegang kakinya sambil berdiri.


"Menabrak meja."


"Sakit?"


"Sedikit." Kata Yejin sambil membuka celana panjangnya dan melihat lebam warna ungu di tulang keringnya.


"God! Yejin! Kakimu lebam." Yeva berbalik dan pergi ke dapur untuk melakukan sesuatu. Yejin hanya mengendikkan bahu dan menurunkan kakinya, lalu bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Yejin, tunggu!" Yeva berlari sambil membawa mangkuk besar yang berisi penuh dengan es batu.


"Sebentar. Mama kompres dengan air es terlebih dahulu."


"Aku tidak apa."


Yejin duduk di kursi dan Yeva meminta Yejin membuka celana bagian bawahnya, lalu bersiap dengan kain dan dicelupkan di air es.


"Makanya hati-hati dan jangan melamun."


"Akhir-akhir ini mama perhatian kau sering melamun dan ceroboh. Sebenarnya apa yang tengah kau pikirkan? Kau bisa memberitahu mama kalau mau."


Yejin hanya mendengarkan mamanya tanpa membalas. Ia tidak mau membahas hal ini dan memperdebatkannya dengan Yeva.


"Kau tidak bertengkar kan dengan Lula?" Yeva menatap Yejin dan laki-laki itu menggeleng.


"Kami baik-baik saja."


"Jaga sahabatmu dengan baik. Kalian dekat bukan karena aku dan Sofia juga bersahabat. Namun, memang takdir mempertemukan kalian sebagai sahabat dan kau harus mempertahankan hal itu. Satu lagi, Yejin. Jangan pernah menyakiti hati seorang perempuan. Karena hati seorang perempuan bagaikan kaca. Jika pecah, memang bisa diperbaiki. Namun, pecahannya akan membekas selamanya."


Kenapa perasaanku tidak enak? Batin Yejin tiba-tiba mengingat Lula dan ia menggelengkan kepalanya. Hanya pikiranku saja.


"Ah iya. Kalian sangat sibuk setelah menjadi siswa SMA dan aku tidak pernah melihat Lula lagi. Yejin nanti siang kau ajak dia main kemari. Mama akan membuat kue, dia pasti senang membantu." Yeva merapikan kain dan mangkuknya, lalu berdiri dan tersenyum memohon kepada Yejin.


""Kali ini saja, Yejin. Mama sangat merindukan gadis itu."


Yejin berdiri, memakai ranselnya dan mengangguk kemudian. "Baiklah."


"Terimakasih."


"Ah iya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut!" Yeva menoleh ke belakang dan Yejin mengangguk lalu pergi.


***


Lula duduk di sofa dan mukanya cemberut marah. Ia memberikan tatapan tajam ke laki-laki di hadapannya yang tengah tersenyum.


"Bagaimana, Caleb?" Mark memastikan apa tujuan laki-laki itu kemari, walau ia tahu Caleb pasti akan menjemput Lula ke sekolah.


"Menjemput Lula. Seperti biasa, paman."


Lula duduk bersandar malas. Ia menatap Caleb dengan tatapan tidak suka.


"Tapi-"


Drttt drttt


Ponsel Mark berbunyi dan ia melihat seseorang menelpon. "Sebentar."


"Ah begitu.. Baiklah saya segera ke sana."


"Kebetulan sekali. Lula, papa ada meeting mendadak dan harus di tempat segera. Caleb di sini dan maaf sekali papa tidak bisa mengantarkanmu." Mark menatap putrinya yang merasa tidak terima.


"Papa tapi kita bisa berangkat bersama dan aku tidak mau berangkat dengan Caleb!"


"Lula, tempat meeting papa berlawanan arah, dan itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke sana. Kalau ini tidak segera, papa pasti akan mengantarmu terlebih dahulu. Tapi jamnya sudah terlalu siang dan papa pasti akan terlambat."


"Papa.. aku tidak mau berangkat dengan Caleb." Bisik Lula dan Mark memegang kedua tangan Lula. "Lula apa bedanya? Kalian kan masih bersama, dan seharusnya ini bukan masalah besar."


Lula menatap Caleb yang tersenyum senang dan ia tambah kesal.


Lula berhenti merengek dan Mark tersenyum. "Kau pakai motor?"


Caleb mengangguk.


"Kaki Lula terluka. Sebaiknya kalian memakai mobil. Biarkan aku mengendarai motor karena mungkin akan lebih cepat."


"Jangan khawatir, motormu simpan di garasi, dan nanti kau antar Lula kembali."


"Apa tidak merepotkan? Atau biar saya panggil sopir untuk membawakan mobil kemari?"


"Tidak perlu. Kalian juga akan terlambat kalau menunggu sopir kemari."


"Baiklah, papa akan berangkat sekarang. Berhati-hatilah!" Mark berdiri, mengambil tas laptopnya dan pergi kemudian.


"Ah iya. Ini kunci mobilku." Mark berbalik dan memberikan kunci mobilnya kepada Caleb.


"Ayo, Lula."


Lula berani berbicara ketika papanya sudah benar-benar pergi. "Bukankah kemarin sudah kubilang kalau aku tidak mau bersamamu lagi?!" Kata Lula tegas dan Caleb tertawa.


"Pers*tan dengan perkataanmu. Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Cepat jalan kalau tidak ingin terlambat sampai sekolah!"


"Ah kakimu terluka. Mari aku bantu berjalan." Caleb berbalik dan memegang lengan Lula, namun perempuan itu melepasnya dengan kasar.


"Terserah."