
"Mermaid?"
"Manusia setengah ikan. Kau pasti sudah tahu."
"Mereka nyata?"
"Entahlah.. aku hanya berbicara yang kutahu."
"Evalina Venzovna. Kau yang menulis ini?" Lula membaca penulisnya dan namanya tidak asing.
Granny mengangguk. "Seseorang bercerita dan aku menulisnya."
"Kau penulis?"
Granny mengangguk dan tertawa ringan. "Hanya amatiran dan sebagian besar tulisanku tidak laku, jadi aku menyimpannya untuk diri sendiri."
"Kenapa dia berubah dan bagaimana?" Lula membuka halaman demi halaman dan hanya ada tulisan di sana.
"Kekasih manusianya mengkhianatinya dan ia marah. Aku tidak banyak tahu jadi hanya beberapa yang aku tulis di situ."
"Apa mereka hidup berdampingan dengan manusia?"
Granny melamun dan mengingat satu memori. Ia kembali ke masa lalunya. Masa lalu ketika ia masih sangat kecil dan bertemu dengan laki-laki itu dan mereka bersama untuk beberapa saat, sebelum laki-laki itu ditangkap oleh ayahnya sendiri.
"Nenek?" Lula menepuk pundak granny Dan wanita itu menoleh.
"Manusia memburu mereka." Granny menggelengkan kepalanya. "Itu hanya mitologi yang sama sekali tidak jelas benar atau tidaknya. Kau tahu aku mudah lelah jika berdiri terlalu lama. Biarkan wanita tua ini kembali ke tempat tidurnya dan berbaring." Granny melepas kacamatanya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Kau butuh bantuan?" Lula berjalan di samping Granny dan menawarkan bantuan.
"Aku masih bisa berjalan sendiri. Kau boleh membawa buku itu jika ingin membacanya." Granny berbalik dan menunjuk buku yang tergeletak di meja kecil. Lula mengangguk dan mengambilnya. Barangkali ada informasi dan ia sangat butuh itu.
"Aku sudah tua dan hanya menunggu waktu." Granny duduk di tempat tidur dan bersandar di punggung tempat tidurnya, memposisikan tubuhnya agar tidak sakit.
"Jadi, kau mendapat apa yang kau butuhkan?" Granny bertanya dan Lula mengangguk.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan pengendali elemen. Seperti seseorang yang mampu mengendalikan air atau yang lainnya?"
"A-"
"Lula bibi Sofia menelpon." Tiba-tiba Yejin masuk ke dalam kamar Granny dan menyerahkan ponselnya. Laki-laki itu memotong perkataan Granny Dan wanita tua itu hanya terdiam.
"Ah iya." Lula mengambil ponsel Yejin dan mengangkat panggilan mamanya.
"Halo ini Lula."
"Ah baiklah. Aku akan bersiap."
"Sampai jumpa di rumah. Love you too." Lula mematikan panggilan mamanya dan menyerahkan ponsel itu kepada Yejin.
"Nenek, terimakasih untuk semuanya. Aku akan mengembalikan buku ini secepatnya. Aku harus kembali sekarang sebelum ibuku marah." Lula tersenyum dan Granny mengangguk.
"Simpan saja, kembalikan jika kau sudah tidak membutuhkannya. Aku ada banyak di sini."
Lula mengangguk dan berdiri. "Sampai jumpa, selamat sore."
Yejin keluar dari kamar diikuti Lula.
"Bibi Sofia sudah memesankan taksi dan itu berada di depan sekarang."
"Tapi bagaimana dengan sepedaku?"
"Disimpan di sini saja, besok akan aku antar ke rumahmu."
"Tapi akan merepotkanmu, Yejin."
Yejin menggeleng. "Santai saja."
"Baiklah Yejin, terimakasih banyak."
***
"Aku tidak akan pernah melupakan itu. Selamanya."
***
"Terimakasih makan malamnya, Lula akan pergi ke kamar." Lula beranjak dari meja makan dan tersenyum.
"Jangan tidur kemalaman!" Teriak Sofia ketika Lula benar-benar pergi.
"Mama kakak kenapa?" Yefy bertanya sambil terus mengunyah makanannya.
"Mungkin besok ada ujian."
"Tapi kakak belajar setiap pagi, bukan malam." Yefy benar. Lula tidak pernah belajar di malam hari. Ia akan bangun pukul 4 a.m hanya untuk belajar dan tidur cepat di malam hari atau menonton tv setelah makan malam.
"Kenapa kau mempermasalahkan ini? Mungkin kakakmu lelah dan ia tidur cepat."
Yefy hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Mereka hanya berdua di meja makan, karena Mark kerja lembur dan rumah terlihat agak sepi, tanpa Lula di depan tv seperti biasanya.
***
"Mari kita lihat apa yang aku temukan." Lula duduk di tempat tidur sembari membuka buku yang nenek Yejin pinjamkan.
Halaman demi halaman ia membuka buku itu. Membacanya, dan mencoba mengerti apa yang tertulis di sana.
"Seorang mermaid bangsawan yang anggun, lemah lembut, dan penyayang jatuh cinta dengan seorang pemuda yang bekerja sebagai nelayan."
"Mereka tak sengaja bertemu dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana, mereka akhirnya jatuh cinta dan selalu bertemu ketika senja."
"Bercerita bagaimana kehidupan keduanya berjalan, dan bersenang-senang semalaman."
"Tapi suatu hari, si pemuda bersikap aneh. Dia meminta sang penguasa samudera untuk pergi bersamanya ke daratan dengan alasan ingin menunjukkan betapa indahnya tempat tinggal si pemuda."
"Kekasihnya menolak. Namun si pemuda memaksanya dan akhirnya wanita itu menyetujui. Ia mampu mengubah ekornya menjadi kaki, karena ia memiliki kekuatan untuk itu."
"Ini aneh dan tidak masuk akal sekali." Lula menggelengkan kepalanya dan melanjutkan membacanya.
"Mereka berdua berjalan melewati pantai untuk sampai ke pemukiman. Si pemuda mengajak kekasihnya ke sebuah lumbung dan memasukinya. Di sana terdapat banyak sekali pria bertubuh besar dan tengah minum-minum."
Lula berhenti sejenak, lalu membacanya kembali.
"Dengan senyuman jahat, dan baru perempuan itu lihat dari pemuda itu, dia menarik pakaian perempuan itu, hingga terlepas dari tubuhnya, menyisakan tubuh seorang perempuan tanpa busana. Seluruh pria di dalam lumbung menatapnya dengan penuh gairah."
"Perempuan itu terkejut dan ia mencoba menutupi tubuhnya dengan sesuatu namun kekasihnya menendangnya hingga jatuh tersungkur ke depan."
"Perempuan itu mencoba menggunakan kekuatannya, namun tidak bisa. Ia lemah. Jika ia tidak menggunakan pakaiannya, ia akan lemah dan tidak memiliki kekuatan."
"Perempuan itu berteriak meminta tolong, ketika para pria besar itu mulai meraih tubuhnya, namun kekasihnya tidak menghiraukannya dan pergi keluar, meninggalkan perempuan itu."
"Kenapa ada laki-laki sejahat itu?!" Lula menutup bukunya dan melemparkannya di tempat tidur dan berbaring untuk terlelap.
***
Kamis, 10 Maret
"Mama nanti mungkin aku akan terlambat dan kau tidak perlu menjemputku." Lula duduk di kursi dan menatap mamanya.
"Kau mau kemana?" Sofia bertanya dan Lula tersenyum.
"Ke rumah Jereni."
Sofia mengangguk. "Tapi izin papa dulu."
Lula mengangguk dan ia melihat Mark berjalan mendekat. Lula bersiap untuk memberitahu papanya itu.
"Papa bolehkah aku pergi ke rumah Jereni sepulang sekolah?"
Mark duduk dan mengangguk lalu tersenyum. "Boleh saja."
Lula tersenyum senang dan makan sarapannya.
"Mama.." Yefy berjalan mendekat.
"Ah kau sudah bangun?" Sofia mengelus kepala Yefy dan bocah cilik itu mengangguk.
"Hero kecil papa sudah bangun." Mark memangku Yefy yang masih terlihat mengantuk itu.
"Yefy tidak menginap lagi?" Lula ingat kemarin hari Rabu dan seharusnya Yefy menginap di sekolah. Namun, bocah itu terlihat pagi ini.
"Hari ini sekolah Yefy libur, jadi kemarin tidak menginap."
"Ah begitu." Lula mengendikkan bahu dan melanjutkan sarapannya.