Luna Rusalka

Luna Rusalka
85



"Apa kau mengerti?" Tuan Bogdan tengah duduk menghadap Lula di ruangannya. Pria paruh baya itu menyatukan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis di depannya menunggu jawaban.


"Akan saya pikirkan." Lula nyaris tidak menggunakan ekspresi apapun. Dia seperti, tidak tahu apa yang harus ia perbuat.


"Waktumu lima hari dari sekarang. Saya juga masih menunggu mereka, dan kurasa Minggu depan kalian sudah siap memberi keputusan."


Lula mengangguk. "Baiklah, Pak."


"Kau boleh kembali."


"Terimakasih." Lula beranjak dan berbalik. Ia berjalan dengan lemas dan kembali ke kelasnya.


"Apa aku berani untuk berkata hal ini kepada mama?"


***


"Good job, Jereni!" Pak Lim bersorak ketika Jereni turun dari panggung. Pertunjukkan telah usai dan semua orang bertepuk tangan untuk Jereni.


"Saya sangat yakin kau yang akan terpilih." Pak Lim memberikan minuman kepada Jereni, dan Jereni meminumnya.


"Aku sangat nervous, dan kau tahu Pak Lim? Aku sangat gugup sekarang, yang bahkan pertunjukannya telah usai." Jereni meletakkan botol air mineralnya di meja, dan mereka duduk bersama di sebuah kursi panjang yang sudah disediakan.


Apa sebenarnya tujuan mereka kemari? Untuk mendapatkan rekomendasi dari Tripadvisor, agar Jereni bisa terpilih di ajang Muai Thai nasional di ibu kota. Memang banyak saingan yang berbakat dan seleksi ini terlihat sangat, namun gadis itu tetap berpikiran positif. Ia yakin, usaha yang telah ia lakukan selama ini akan membuatnya menjadi apa yang ia inginkan di masa depan.


***


"Perhatikan garis-garis yang kalian buat. Lengkung itu, bukan berarti kalian harus selalu melingkar." Bu Zenn, guru seni Lula. Mereka tengah berada di ruangan seni, dan semua murid sedang melukis.


"Abigail. Saya tidak mau melihat kau menumpuk semua cat minyak itu!"


"Ini seni, Bu!"


"Itu bukan seni. Itu pemborosan. Saya tidak pernah mengajarkan kalian untuk membuang apapun secara besar-besaran." Bu Zen memang sangat detail. Ia tidak suka melihat apapun terlihat tidak selaras, dan hal itu yang selalu membuatnya marah.


Lula hanya mencorat-coret kanvasnya malas. Pikirannya masih berkecamuk, yang ia bicarakan dengan Tuan Bogdan menambah beban pikirannya sekarang.


Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika hal itu sudah berhubungan dengan mamanya.


"Lula Beatriks." Bu Zenn menyadari itu, dan menegur Lula. Gadis itu sadar dan memperhatikan lukisannya kembali.


"Di kelas saya, itu berarti semuanya harus memfokuskannya kepada apa yang saya ajarkan." Bu Zenn berjalan mendekat ke arah Lula.


"Saya lihat dari tadi kau hanya mencorat-coret kanvasnya, dan kau melamun."


"Maafkan saya, Bu. Saya akan serius mulai sekarang." Lula berpikir untuk membuat itu menjadi sebuah burung terbang di awan putih. Bu Zenn menganguk dan berjalan menjauh, untuk melihat murid lainnya.


Aku tidak pernah serius. Pikirnya lalu memfokuskan pikirannya di tugas yang Bu Zenn berikan.


***


"Apa yang kau dapatkan?" Lucas. Laki-laki itu duduk di samping Matvei. Mereka masih di sekolah dan tengah duduk di dalam kelas.


"Sepertinya ada orang lain di balik semua ini." Kata Matvei mantap. "Aku tidak melihat keterlibatan Elliot. Kau tahu aku selalu bisa membaca gerak-gerik mencurigakan. Tapi, seharian bersamanya,.." Matvei menggeleng. Elliot bukan gadis pembangkang, dan ia tidak akan pernah berkhianat.


"Kecuali," Lanjut Matvei mengingat satu hal. "Mungkin ada petunjuk di Menara Albario."


Lucas menatap laki-laki itu mengerti dan mengangguk. Mengingat beberapa hari Lalu Elliot terlihat pergi ke Menara itu dan pasti ada sesuatu di sana.


***


"Bagaimana harimu?" Sofia menancap gas setelah putrinya benar-benar duduk dan menutup pintu mobil.


"Tidak ada yang spesial." Lula menatap ke luar jendela dan melihat jalanan yang ramai.


"Kakak pasti memikirkan kakak Yejin, benar begitu??" Lula menoleh ke belakang ketika mendengar suara Yefy yang meledeknya. Sofia meringis mendengar itu. Lula hanya mengerucutkan mulutnya dan tidak membalas Yefy sama sekali.


"Yefy bisakah kau tidak menganggu kakakmu?" Sofia tahu, ini hari yang tidak menyenangkan bagi putrinya. Yefy memang sering mengganggu Lula dan gadis itu dibuat kesal berkali-kali.


Lula masih terdiam dan ia harus segera bertanya kepada mamanya.


Lula's POV


Jika aku memberitahu mama, apakah ia akan marah? Aku takut, tapi jika aku tidak memberitahu mama, aku tidak bisa mengambil keputusan. Jika aku mengambil keputusan tanpa mama tahu, Tuan Bogdan pasti akan tahu kalau aku belum menjelaskannya kepada mama.


Ini bukan keputusan yang mudah. Aku menunggu ini dari dulu, dan ketika harapanku sudah tidak ada, Tuhan membuka jalanku untuk menggapai ini. Sulit rasanya, namun ini adalah takdirku.


"Mama.."


Drttt drttt.


"Sebentar." Mama terlihat mendapat panggilan. Ia melihat ponselnya dan memasang earphone di telinga kanannya


"Hai."


"Ah baiklah. Aku ke sana sekarang."


"Kenapa?"


"Elizabeth. Pesanan buah anggur mama sudah sampai. Kita ke sana dulu, ya?"


"Kemana?"


"Ke rumah teman mama, dekat dari sini."


Sepertinya aku beritahu mama ketika makan malam saja.


***


"Bolehkan aku berenang?"


"Jangan terlalu lama."


Lula mengangguk dan tersenyum. Mamanya memperbolehkan Lula berenang lagi, dan ia senang akan hal itu.


Gadis itu berlari ke kamarnya untuk ganti baju renang dan bersiap berenang di dalam kolam renang di bagian belakang rumahnya.


Ia berdiri di sisi kolam renang. Menatap air itu, dan mengingat apapun yang berhubungan dengan air. Lula ingat ketika saluran air membuatnya terluka dan ia tak perlu khawatir kejadian serupa terjadi di sini, mengingat saluran air di kolam renang rumahnya sangat kecil dan kaki pun tidak dapat masuk.


"Badanku mendadak pegal melihat air." Ia melakukan peregangan dan akhirnya melompat ke dalam air. Berenang ke sisi lainnya dan bergembira ria karenanya.


Tiada yang membuatnya santai selain ini, berenang lagi. Mengapung beberapa saat di permukaan, itu menjadi favoritnya.


"Hahhhhhh!" Mendadak Lula kesusahan bernafas dan lehernya terasa sakit.


Ia mencoba bernafas menggunakan mulut namun seakan udara sudah tidak dapat ia hirup lagi, Lula panik. Ia masih di tengah kolam renang dan susah untuk berenang ke tepi.


"Mama!!" Ia memanggil mamanya namun suaranya tertahan. Ia melihat sesuatu, hitam dan semakin membesar dari dasar kolam renang.


Lula berenang ke tepian, namun sesak nafasnya membuat ia kesulitan bergerak. Benda titu terus membesar dan hampir memenuhi satu sisi kolam renang.


Air berubah menjadi keruh tiba-tiba, dan Lula masih kesusahan bernafas lehernya sangat sakit. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menekan itu, berharap sakit ya hilang dan gadis itu dapat bernafas normal lagi.


"Lula kau baik-baik saja?" Sofia berlari menghampiri Lula dengan wajah yang sangat khawatir.


Benda hitam itu mengecil dan hilang seketika, sebelum Sofia melihatnya. Lula terkejut melihat Sofia datang, dan ia tidak merasakan sakit di lehernya lagi.


Nafasnya kembali normal dan gadis itu berenang ke tepian. "Lula baik-baik saja."