
"Pukul satu siang dan Lula belum kembali?" Sofia duduk di sofa dengan gelisah. "Bukankah dia kembali pukul 11 hari ini?"
Sofia beranjak dari sofa dan berjalan menuju telepon. "Tapi Lula tidak membawa ponsel." Ia mengurungkan tangannya dan berbalik.
"Aku akan menelpon sekolah." Sofia meraih telepon namun ia menghentikan nya. "Kalau aku menelpon sekolah, mereka akan bilang sekolah telah dibubarkan dari tadi. Sudahlah tidak apa mungkin ada acara sekolah membuat Lula masih di sana. Aku coba telepon saja."
Sofia mengetik nomor dan menelponnya.
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat siang. Saya Sofia. Sekolah hari ini dibubarkan jam berapa?"
"Hari ini sekolah berakhir pukul 11, dan seluruh siswa sudah kembali ke rumahnya masing-masing."
"Apakah masih ada beberapa siswa di sekolah?"
"Maaf nyonya, gerbang sudah tutup dan kami memastikan bahwa tidak ada satupun siswa di sini."
"Baiklah, terimakasih.."
"Sampai jumpa."
Sofia meletakkan teleponnya dan berjalan ke dapur. "Dimana Lula? Apakah masih di perjalanan?"
Ia terlihat begitu khawatir dan duduk di kursi dengan gelisah. Dia khawatir Lula kenapa-kenapa.
"Aku tunggu sampai jam setengah dua. Mungkin Lula jalan-jalan. Tapi, tak biasanya dia pulang terlalu terlambat."
"Mama aku lapar!" Yefy datang dengan wajah bangun tidurnya dan duduk di kursi ruang makan.
"Bukankah sebelum tidur kau makan. Apakah lapar lagi?" Sofia mencubit pipi Yefy dan dia hanya kedip-kedip tanpa meresponnya.
"Aku lapar lagi hehe.."
"Yasudah makan sekarang."
***
Lula dan Yejin masih di perjalanan. Lima belas menit lagi, dan mereka akan sampai di rumah Jereni.
Yejin, dia hanya duduk diam dan tidak berbuat apa-apa. Lula, dia menatap jendela dan matanya mulai sayu. Dia mengantuk. Menguap beberapa kali dan akhirnya matanya benar-benar tertutup.
Bis menginjak batu dan goyang cukup keras membuat tubuh Lula hampir terjatuh, jika saja Yejin tidak langsung menahannya.
"Kau tidur rupanya." Yejin meraih kepala Lula dan meletakkan di pundaknya.
"Kau memang tidak berubah, Lula." Yejin menatap kepala Lula dan dia meletakkan kepalanya di atas kepala Lula.
"Seandainya saja kau tahu, kalau aku sangat mencintaimu." Yejin menghembuskan nafas kasar.
"Tapi biarlah aku saja yang tahu. Karena aku tidak akan pernah tahu apa yang akan kau lakukan jika tahu. Mungkin, hubungan kita tidak akan sama lagi."
***
"*Yondaya?" Lelaki itu sepertinya menyadariku. Aku menjatuhkan vas bunga dan itu pecah. Satu jam dan aku terus saja bersembunyi di sini.
"Sedang apa kau di sana?" Lelaki itu menatapku dan aku hanya berdiri terdiam.
"Kemari! Aku akan menunjukkan sesuatu padamu!"
"Aku?" Aku melihat sekitar dan hanya aku dan lelaki itu di sini.
"Iya. Kemarilah!" Bagaimana dia bisa melihat ku dan kenapa dia memanggilku dengan nama itu?
Aku berjalan, tidak berenang karena masih dengan ekor aneh itu, menghampiri lelaki itu.
"Kau bisa melihat ku?" Aku bertanya karena aku sangat penasaran.
"Kau besar begini, bagaimana aku tidak melihatmu?" Lelaki itu membuka sebuah gulungan kertas dan tertawa.
"Siapa kau?"
"Apa?"
"Siapa kau dan kenapa aku di sini?"
"Yondaya, aku kakakmu. Apa kau sekarang mendadak lupa?"
"Namaku Jereni dan aku tidak punya Kakak."
"Apa yang kau bicarakan? Lihatlah dirimu." Lelaki itu tertawa dan aku sama sekali tidak mengerti.
"Moana sudah ditemukan dan dia koma sekarang."
"Moana siapa?"
"Aku tidak tahu dan bisa kau jelaskan apa yang terjadi!"
"Kau benar-benar lupa atau kau hanya mengujiku?!" Lelaki itu memicingkan matanya dan pintu tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan dengan ekor hijaunya masuk.
"Kakak?" Lelaki itu dan aku menoleh.
Perempuan itu..
"Kak siapa dia?"
"Yondaya? Jika itu kau, siapa ini?"
Aku mundur perlahan dan ...
"Penyusup!" Perempuan itu melempariku pedang dan sukses menancap di perutku. Cahaya putih keluar dan aku merasa sangat terbakar.
"Aaaaaaaaaa" Aku berteriak dan*....
***
Aku membuka mataku dan merasakan sesuatu di kepalaku. Itu kepala Yejin. Dia tertidur dan TIDAK! Kami berdua ketiduran.
"Yejin! Yejin bangun!" Aku mengguncang Yejin membangunkan nya. Kurasa rumah Jereni sudah lewat dan bis sudah berjalan terlalu jauh.
Yejin terbangun dan terkejut melihat hanya kami dan satu orang penumpang di bis.
"Astaga, Lula! Kita terlalu jauh." Yejin memencet tombol berhenti di samping kananku dan bis berhenti. "Ayo kita harus cari bis kembali." Yejin memakai topinya dan menarik tanganku beranjak keluar.
"Maaf, pak. Halte bis terdekat dimana?" Yejin bertanya pada pak supir.
"Masih dua puluh meter di depan." Kata Pak sopir sambil melihat kami.
"Kami turun di halte, tolong.."
"Baik, duduk dulu." Pak supir menancap gas dan kami hanya berdiri sambil berpegangan pada tiang di bis.
"Maafkan aku, Yejin. Aku ketiduran, tadi." Ini semua salahku. Jika saja aku tidak tertidur tidak akan seperti ini.
"Tidak, Lula. Aku melihat kamu tidur, dan aku ketiduran." Yejin menatapku dan aku melihat sorot mata menyesal di sana.
"Sudah sampai, nak!" Pak supir mengejutkan kami dan bis berhenti. Yejin mengedipkan matanya dan berbalik. Aku mengikutinya.
"Terimakasih.." Yejin berterimakasih dan kami keluar.
"Jam berapa Yejin?"
Yejin melihat jam tangannya, "Jam tiga sore.." Dia menatapku. Kurasa kami jauh dari rumah Jereni dan harus menunggu bis.
"Ini sudah sore, Lula. Sebaiknya kita pulang saja. Kau juga belum mengabari orang tuamu dan ponselku mati. Kita jauh dari perumahan dan langit mendung sekarang." Benar. Hampir hujan dan akan ada badai kurasa.
Aku mengiyakan dan kami duduk di halte. Menunggu bis sambil melihat pemandangan pepohonan. Beberapa pesepeda berlalu di depan kami dan aku mengingat sesuatu!
"Yejin, dimana sepeda kita?"
"Tidak! Tertinggal di bis!" Yejin berdiri dan mengacak rambutnya. "Bagaimana kita akan pulang tanpa sepeda?"
"Sudah tidak apa, Yejin. Sebaiknya kita tunggu bis saja." Aku berdiri dan menyentuh pundak Yejin. Yejin mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam.
"Maafkan aku, Yejin. Aku yang terus meminta kamu untuk pergi ke rumah Jereni."
"Tapi, jika aku tidak mengajak kamu ini semua tidak akan terjadi, Lula."
"Yej...--"
duarrrrrr
Petir menyambar dan hujan turun seketika. Aku terkejut dan dengan cepat Yejin memelukku.
Kami berlindung di halte dan hujan begitu deras.
Aku kedinginan dan bajuku basah kuyup. Yejin melepas jaketnya dan menutupi kepala kami dengan jaket itu.
Hujan tambah deras dan Yejin memelukku, melindungiku agar tidak kehujanan, namun tubuhku sudah terlanjur basah.
Badai datang dan tidak ada kendaraan yang lewat. Aku khawatir kami tidak akan baik-baik saja.
Tapi, tunggu. Aku ingat aku bisa mengendalikan air. Apakah aku juga bisa mengendalikan hujan dan badai?
Aku akan mencobanya. Yang harus aku lakukan hanya fokus dan pikirkan air!
Fokus dan pikirkan air..