
"Hei, Yejin!" Yeva memanggil Yejin dari depan pintu. Laki-laki itu tersenyum dan berusaha menghentikan Lula tapi gadis itu masih saja berjalan untuk mencari tempat bersembunyi.
"Kau tidak dengar ibuku memanggilku?" Lula masih tetap berjalan.
"Lula, berhenti.." Yejin mencoba menghentikan Lula tapi gadis itu tetap berjalan.
"Yejin, kau mau kemana? Kembalilah!" Yeva turun dan mencoba mengejar Yejin.
"Kau tidak lihat aku dibawa pergi?" Teriak Yejin sambil tersenyum. Yeva penasaran dan ia memakai kacamatanya, baru ia bisa melihat wajah Lula dengan Jelas.
"Ah, Lula. kau di sini." Teriak Yeva dan Lula berhenti. Ia merutuki dirinya sendiri dan menarik nafas lelah.
"Sejak kapan kau menghindari ibuku?" Yejin bermaksud menggoda Lula tapi gadis itu semakin kesal.
"Aku tidak melihatmu, tadi." Yeva berdiri tepat di belakang Yejin dan Laki-laki itu hanya menoleh. Lula tersenyum dan memutuskan untuk berbalik. Ia masih memegang tangan Yejin dan segera setelah ia menyadari itu, ia langsung melepaskannya.
"Aku baru sampai, bibi." Lula melakukan pembelaan dan Yejin tersenyum tipis, dan ia menyembunyikan itu.
"Tapi kenapa?"
"Sesuatu terjadi dan aku sedikit terlambat."
"Baiklah, tapi kenapa kalian berada di sini? Dan Yejin. Dari mana saja kau? Mereka datang ketika kau tidak ada dan dengan santainya kau berdiri di sini melihat teman-temanmu pergi tanpa bertemu denganmu?" Yeva berkacak pinggang dan merasa sedang dipermainkan oleh putranya sendiri.
"Tidak apa, ayo bu ajaklah tamu kita masuk." Yejin berjalan mendahului Yeva dan meninggalkan Lula di belakang yang masih cemberut karena ulah Yejin.
Yeva mengajak Lula masuk sambil menatap Lula dan Lula hanya tersenyum lalu mengiyakan ajakan wanita itu.
"Kupikir kau juga belum masuk ke sekolah, jadi tidak ikut bersama yang lainnya."
Lula hanya tersenyum dan tertawa ringan lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Ruangan hening, tegang, dan aura negatif perlahan muncul. Matvei sudah tahu dengan konsekuensi yang akan ia hadapi. Beberapa hari menghilang dan amarah Bryan pasti akan pecah. Tapi itu bukan intinya, yang tengah ia pikirkan adalah bagaimana Bryan tahu tempat Matvei tadi? Dan bagaimana Alexei bisa bersamanya. Apakah Bryan menyewa mata-mata dan memata-matai Matvei? Dia tidak tahu dan kau tahu pikirannya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Apa kau terlalu sibuk liburan di dalam hutan sampai kau meninggalkan tanggung jawabmu di perusahaan?" Bryan meninggikan suaranya dan memasang raut muka benar-benar marah. Matvei hanya duduk diam dan selalu mengeluarkan energi positif. Terkadang Bryan sangat muak dengan sikap santainya itu.
"Dua penjaga di depan lift, satu di pintu masuk, dan empat penjaga di depan ruangan ini. Kau takut aku kabur?" Matvei tertawa tipis sambil menatap Bryan. "Kau ingat ruangan ini kedap suara dan apapun bisa terjadi tanpa sepengetahuan orang dari luar." Matvei melihat sekeliling ruangan dan Bryan hanya terdiam kaku.
"Kau juga harus ingat cctv terpasang di setiap sudut di ruangan ini. Jika sesuatu terjadi, semua orang akan tahu." Bryan tersenyum kejam dan Matvei hanya nyengir.
"Kau tahu Matvei jika kau melanggar perjanjian kita kau harus melakukan apa." Sepertinya Bryan membalas perlakuan Matvei dan berharap laki-laki itu takut, tapi sepertinya apa yang tengah dialaminya kini membuat ia semakin kuat dalam menghadapi situasi seperti ini.
"Apa sekarang sebuah kertas perjanjian menjadi penting bagimu, Bryan? Bukankah beberapa waktu lalu kau sangat ingin menyobeknya?" Matvei ingat bagaimana Bryan sangat marah beberapa waktu lalu karena sesuatu dan sampai sekarang pun Matvei belum tahu apa penyebabnya. Dia mencurigai beberapa orang yang menjadi dalangnya tapi itu sudah hampir 2 tahun silam, dan ia tidak mau mengungkit itu lagi.
"Keuntungan perusahaan menjadi berkali-kali lipat semenjak aku menjadi pemegang saham terbesar nomor dua setelah kau, dan akses laut diberikan 100% penuh. Kau bisa mengambil semuanya dengan batasan maksimal dan aku tidak melarangnya, karena kita terikat perjanjian. Tapi, apa yang kau lakukan setelahnya? Bukankah di perjanjian tertulis dengan jelas kau hanya bisa mengambil mereka setengah dari yang biasa kau ambil? Tapi apa yang kau lakukan? Kau masih saja mengambil lebih dari itu dan ayolah siapa sekarang yang 'hampir' melanggar perjanjian?" Matvei memang baru tahu hal ini ketika asisten pribadinya memberitahunya. Dia sudah curiga kenapa akhir-akhir ini laut terasa sangat panas. Ia memerintahkan asisten pribadinya untuk mencari tahu, dan memang benar, Bryan mengambil 'lebih' dari yang tertulis di perjanjian.
Bryan terlihat tidak bisa bicara dan membela lagi. Matvei tersenyum sambil menatap kaki-kakinya itu. "Selama kita terikat perjanjian aku tidak akan pernah melakukan hal di luar kemampuanku, dan kupertegas lagi jika kau ketahuan mengambil lebih, kurasa aku akan mulai melakukan sesuatu. Pastinya, itu tidak berakibat baik terhadapmu, Bryan." Matvei berdiri dan merapikan bajunya. Dia hanya memakai sweater dan celana hitam panjang. Pakaian yang ia pakai ketiak Bryan datang dan ia tidak punya waktu untuk berganti pakaian.
"Kau juga harus ingat kalau aku pemegang saham pasif, jadi kau tidak perlu susah-susah untuk menjemputku dan mempermasalahkan tentang tanggung jawabku. Duduk diam di ruangan dan tunggu saja investasi tahap berikutnya."
Matvei berbalik, dan berjalan menuju pintu untuk keluar ruangan.
"Dan.." Ia berhenti dan berbalik untuk berbicara sesuatu dengan Bryan.
"Berhubung kau sudah berkunjung pagi ini, kau boleh kesana lagi untuk liburan. Tempatnya sangat tenang dan hanya ada tumbuhan di sana, kau pasti akan suka." Matvei tersenyum dan mencoba menggoda Bryan tapi pria itu hanya terdiam dan mati gaya dengan perkataan Matvei barusan. Kemudian dia benar-benar pergi dari ruangan itu, meninggalkan Bryan yang mematung dengan tatapan kebencian yang sangat besar.
---
"Ampun Ratu, tapi apakah kita akan tetap seperti ini?" Vodoohag berdiri menghadap Kalula di kamarnya. Kalula tengah merapikan rambutnya yang semakin hari semakin memudar warna hitamnya. Kulit-kulitnya juga mulai keriput dan ia harus secepatnya menemukan putrinya.
"Kau tidak lihat aku, Vodoohag? PERHATIKAN AKU! PERHATIKAN RAMBUT-RAMBUT KERING DAN KASAR INI! PERHATIKAN KULIT LEMBUTKU BERUBAH MENJADI KASAR DAN KERIPUT!" dengan gerakan yang cepat, Kalula berbalik dan mencekik leher vodoohag lalu mengacungkan ujung sisir yang runcing itu.
"Bagaimanapun putri harus segera ditemukan. Aku memiliki firasat sangat baik kalau dia berada di kota ini. Kau tahu semakin hari tidurku semakin tidak nyenyak dan itu adalah pertanda kalau keberadaan putri semakin dekat." Kalula mundur beberapa langkah dan meraih gelas berisi cairan warna merah lalu meminumnya.
"AMIS!" ia meletakkannya kembali setelah minum setenggukan. Tidak memerlukan waktu lama, rambut dan kulitnya perlahan kembali membaik.
"Vodoohag?"
"Ya, Ratu?"
"Tambah volume pencarian mulai sekarang, dan perketat pemeriksaan. Aku tidak ingin sesuatu yang cacat dan kau harus segera menemukannya Minggu ini! Kau tahu, rasa darah sangat tidak enak, bukan?"
"Baik, ratu. Perintahmu akan segera saya lakukan."
"Mmm, lalu bagaimana dengan gadis itu?"
"Biarkan saja, dan jangan dilepaskan. Aku punya rencana lain untuknya."
"Baik, ratu."