
"Baiklah, habiskan buburnya dan minum obatmu. Mama harus membantu Yefy mandi."
Lula mengangguk dan Sofia pergi berlalu.
Lula mulai makan bubur susunya ketika Sofia benar-benar sudah pergi.
"Ini terasa agak aneh." Lula menjadi lebih sedikit memakan buburnya.
"Apa karena lidahku? Aku belum sembuh total." Gadis itu merasa tidak enak memakan buburnya. Tapi ia harus. Jadi Lula kembali memakan bubur susunya.
Angin bertiup kencang di luar jendela. Di luar banyak pohon, jadi menimbulkan suara cukup keras ketika semua ranting bergerak dan saling bertabrakan.
Lula jadi mengingat hal hal yang telah terjadi pada dirinya. Kenapa ia rentan terhadap sesuatu yang bahkan ia bisa hadapi, tanpa ia sadari.
Ia tahu, semua orang pasti mengalami hal seperti ini. Tapi kenapa yang terjadi dengan Lula berkaitan dan selalu hal yang sama? Lula tak habis pikir. Ia memiliki sesuatu yang mungkin tidak orang punya.
Gadis itu bisa melakukan sesuatu di luar nalar. Ia tidak percaya hal mistis dan kekuatan aneh tapi mengapa hal itu justru terjadi padanya? Lula mungkin berpikir itu tenaga dalam atau apa.
Lula selesai makan. Ia meraih air minum di meja dan meminumnya. Bersiap dengan obat di tangannya dan ia memasukkan ke mulutnya. Obat memang pahit dan tidak enak. Tapi demi kesembuhannya, ia harus meminumnya.
Tidak lupa Lula selalu meminum vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhnya dan membuat gadis itu tidak lemas lagi.
Lula meletakkan kembali gelas di meja dan bersandar di punggung tempat tidur.
Kepalanya tiba-tiba pusing dan spontan gadis itu menyentuh kepalanya. Terasa sakit dan teramat nyeri, sampai ia tidak bisa berbicara. Lula mencoba beranjak dari tempat tidur untuk meminta bantuan dan ia terus memegang kepalanya.
Ctarrrr
Tiba-tiba gelas di meja pecah dan Lula terkejut karena itu. Keadaan di sini kacau. Lula merasakan gempa atau apapun itu yang membuat lantai di sini bergetar.
"Mama!!" Lula mencoba berteriak dan tidak ada yang merespon.
"Papa mama!!!" Lantai terus bergetar dan kepala Lula semakin pusing.
"Toloongg!"
"Lula ada apa?" Sofia berlari dengan cepat ke kamar Lula.
Gadis itu terlihat bersujud di lantai dan memegang kepalanya. Sofia mendekat dan membantu Lula berdiri.
"Kepala Lula sakit sekali." Lula duduk di tempat tidur dan Sofia mencari tahu apa yang terjadi.
Wanita itu mengambil bekas tempat vitamin yang tadi Lula minum. "Lula kau pasti meminum ini?" Sofia menunjukkan benda itu dan Lula mengangguk.
"Mama lupa memberitahumu, Lula. Ini sudah lama dan kadaluarsa. Mungkin itu bereaksi sekarang. Kita harus ke dokter." Sofia membuang seluruh vitamin itu dan mengajak Lula untuk keluar kamarnya.
"Ini kau minum air putih dulu. Sebentar mama panggil papa." Sofia menyerahkan air minum dan Lula meminumnya. Ia berlari keluar kamar dan memanggil Mark.
***
"Selasa malam. Henry melihat Elliot keluar perbatasan." Lucas menunjukkan beberapa foto tempat dan seorang gadis yang muncul di setiap fotonya.
"Kau yakin ini Elliot?" Matvei masih memperhatikan foto-foto itu dan mencoba menyimpulkan.
Lucas mengangguk. "Henry sempat bertanya dan jawaban Elliot sangat tidak masuk akal."
"Apa jawaban Elliot?"
"Gadis itu ingin pulang. Sejak kapan rumah Elliot di perbatasan? Hei bung. Henry melihat dia berjalan ke arah danau dan kurasa tidak ada rumah selain Menara Albario. Apa yang dilakukan Elliot di menara itu malam malam?"
Matvei berpikir ulang. Ia tidak bisa dengan mudah menyimpulkan.
"Apa kau punya foto lain? Elliot di tempat lain mungkin."
Lucas menggeleng. "Aku tidak menemukan apa-apa selain di sini. Kau Ingat beberapa bulan lalu ketika sepupu Elliot yang direkrut oleh mereka?"
Matvei mengangguk.
"Kurasa semua ini ada hubungannya dengan Elliot. Menara Albario. Tempat dimana mereka berkumpul."
"Lucas tapi kau tak bisa langsung menyimpulkan ini."
"Makannya aku sedang mencari bukti. Aku hanya menduga, dan bagaimana jika dugaanku memang benar?"
"Baiklah besok aku akan menemui Elliot."
"Kau mau apa? menunjukkan foto foto ini dan kecurigaanku? Tidak Matvei. Jika kau seperti ini, gadis itu tidak akan pernah mengaku. Ia akan lebih berhati-hati lagi dan pergerakannya tidak akan kita ketahui."
"Aku punya rencana."
***
Sofia berlari ke kamar Lula bersama Mark dan bersiap untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Merek berhenti ketika melihat Lula duduk di tempat tidurnya sambil membaca buku.
Lula menoleh dan menatap kedua orang tuanya. "Ada apa?"
"Lula kau baik-baik saja?" Sofia mendekat dan menyentuh lengan Lula.
"Aku baik. Kenapa kalian terlihat gelisah?"
Sofia menaikkan satu alisnya tidak mengerti. Bagaimana bisa putrinya berkata seperti ketika ia sungguh khawatir karena Lula meminum vitamin yang kadaluarsa itu.
"Aku tidak kenapa-kenapa."
"Lula kau tadi terja-"
"Ssstt.." Mark memotong perkataan Sofia. "Kita harus kembali. Lula harus beristirahat."
Sofia mengangguk dan mencium kening Lula. "Kau harus banyak beristirahat. Mama mau kau cepat sembuh."
Lula mengangguk dan tersenyum. Mark dan Sofia pergi keluar kamar Lula dan Lula sendirian sekarang.
"Memangnya apa yang telah terjadi?" Lula menggelengkan kepalanya dan kembali membaca.
***
Matvei duduk bersandar di tempat duduknya. Laki-laki itu masih memikirkan Elliot dan masalah yang tengah terjadi padanya.
"Apakah mungkin? Elliot. Dia temanku. Bagaimana bisa dia melakukan ini terhadapku?" Matvei masih melihat foto yang Lucas berikan padanya.
"Aku harus mencari tahu sendiri."
Matvei beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke meja, mengambil ponsel yang tergeletak di sana.
Ia mencari nomor di perpustakaan nomor lalu menelpon seseorang.
"Elliot. Bisakah kita bertemu besok? Sepulang sekolah."
"Baiklah. Di tempat biasa."
"Aku akan menjemputmu, sampai jumpa!"
Panggilan berakhir dan laki-laki itu meletakkan ponselnya, namun sebelum itu ponsel hitamnya berbunyi dan ia melihat satu pesan masuk.
"Itu dari Jereni." Ia tersenyum dan meraih kembali ponselnya. Berjalan ke tempat tidur dan terduduk di sana.
___________________________________
Jereni:
6:10 pm
Hei kak Matvei maaf ponselku baru ketemu.
Jereni:
6:10 pm
Apa yang ingin kau bicarakan? Maaf aku tidak bisa menerima panggilan saat ini. Jadi kau bisa memberiku pesan.
^^^Matvei:^^^
^^^6:11 pm^^^
^^^tidak apa, Jereni. lupakan saja^^^
Jereni:
6:12 pm
Baiklah.
^^^Matvei:^^^
^^^6:12 pm^^^
^^^bagaimana kau menemukan ponselmu?^^^
Jereni:
6:13 pm
Aku menemukannya di lemari camilan. Entahlah bagaimana ponselku bisa berada di sana.
Jereni:
6:13
Maaf kak Matvei. Aku harus pergi.
^^^Matvei^^^
^^^6:14^^^
^^^baiklah sampai jumpa.^^^
^^^___________________________________^^^
Matvei meletakkan ponselnya di tempat tidur dan menutup matanya.