Luna Rusalka

Luna Rusalka
52



Aku akan mencobanya lagi.


Tapii waktu itu aku juga tidak dapat melakukannya. Lebih baik aku istirahat. Besok aku ke sekolah.


Author's POV


wushh wushh


Angin besar malam ini. Jendela kamar Lula belum ditutup. Lula yang mulanya hendak mulai tertidur, terganggu dengan suara gorden yang bergerak ke kanan kiri karena angin.


Ia melenguh lumayan keras. Merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Malas rasanya untuk beranjak ke sana dan menutup jendela.


Lula masih duduk di tempat tidur dan bersiap untuk berjalan. Angin malam tidak baik, apalagi angin kalau sudah sebesar ini, bisa masuk ke dalam. Jadi, mau tidak mau Lula harus menutup jendela sekarang.


"Aku selalu lupa menutup jendela, dan harus seperti ini setiap malam." Lula berjalan dan segera menutup jendela.


Tidak ada kejadian aneh di sini, hanya suara ranting terinjak seakan ada seseorang yang tengah berjalan di antara pepohonan di bawah.


Lula tidak pernah mau untuk memiliki kamar di lantai satu. Dia berpikir, lantai dua akan lebih aman, bila sewaktu-waktu ada penguntit.


Dia bisa mengelus dada kali ini.


"Tidak heran. Pasti penguntit." Dia tidak takut, selama berada lebih tinggi dari jalanan.


"Ah, tapi apa itu?" Ekor matanya menangkap sesosok, tidak sesuatu tidak terlalu jelas. Namun, seperti hewan atau apa, di sana gelap jadi tidak terlalu jelas. Yang Lula lihat hanya seekor hewan entah apa itu, dan memiliki mata merah tengah menatapnya dari antara pohon di bawah.


"Mengapa itu menatap kemari?" Sontak membuat tangan kanan Lula bergerak dan air yang berada di kolam samping rumah Lula terangkat tanpa sepengetahuan Lula.


Air itu bergerak menyesuaikan arah pergerakan tangan Lula dan terjatuh ke jalanan ketika tangan Lula ia turunkan. Sontak membuat hewan itu berbalik dan berlari masuk ke dalam pepohonan.


"Oh aku takut sekarang." Lula dengan segera menutup jendela, berlari, dan bersembunyi di dalam selimut bersiap untuk terlelap.


***


Pagi yang cerah dan agak dingin. Yejin habis mandi dan dia tengah bersiap di kamarnya untuk pergi ke sekolah.


"Yejin sarapan!" Mamanya berteriak dari balik pintu dan Yejin tidak menjawab.


"Yejin kau sudah bangun?" Sekali lagi. Yeva selalu mencari tahu mengapa anaknya tidak menjawab untuk perkataannya pertama kali.


"Iya ma!" Balasan singkat Yejin sebelum ia benar-benar keluar kamar dan pergi ke meja makan.


Yeva mengangguk dan berjalan ke dapur, melanjutkan kegiatannya menyiapkan makanan.


Yejin tidak akan lupa kali ini. Dia sudah mengemasi seluruh peralatan renangnya dan tidak akan tertinggal lagi salah satunya.


Yejin meraih ransel hitam lnya dan keluar kamarnya dengan santai.


"Apa kau sudah memikirkan kuliahmu, Matvei?" Bogrov, dia sedang bertanya dengan putra pertamanya ketika Yejin hampir sampai di ruang makan, dan ia berhenti.


"Matvei masih di sini?" Dia biasa saja dan tidak memperdulikan itu.


"Masih satu tahun lagi, aku masih punya banyak waktu, dad."


"Kau harus mulai memikirkan hal itu."


Yejin berjalan menghampiri meja makan dan duduk di samping kakak laki-lakinya itu.


Matvei menengkok dan tersenyum. "Lama tidak berjumpa, ya." Yejin hanya mengangguk dan membalik piringnya.


"Ah makanlah." Bogrov tersenyum dan menyuruh Yejin untuk memulai makan.


Yeva datang dengan membawa desert, dan menaruhnya di meja. Dia duduk dan tersenyum melihat keluarganya utuh.


"Kau membuat croissant?" Matvei melihat pastry yang masih mengebul di depannya.


"Uh huh. Kita lengkap, dan mama tau kalau kalian berdua suka croissant. Tidak terlalu kering, karena langsung dimakan." Yeva tertawa ringan, mengingat pastry buatannya agak basah dan berminyak.


Sementara Yejin, hanya terdiam dan melanjutkan sarapannya.


***


Aku tidak tahu Yejin akan marah atau tidak nanti ketika aku memberitahunya tidak bisa ke ibu kota di hari Jumat.


Hari ini, benar-benar bukan hari yang menyenangkan buatku. Aku masih diam dengan mama dan papa.


"Kau tidak memakan itu?" Mama menegurku. Dia melihatku memegang roti isi dan tidak memakannya. Aku tidak nafsu untuk makan. Tapi, kalau aku tidak makan aku akan sakit dan .. sudahlah. Lupakan tentang pergi ke ibu kota.


Tanpa pikir panjang, aku segera memakan roti isiku tanpa menghiraukan mama sama papa dan Yefy yang sibuk dengan makanannya.


***


Apa aku bertanya saja pada Yejin tentang gadis itu? Hal ini sungguh menjadi beban pikiranku. Aku tak bisa berhenti memikirkan ini semalaman.


"Ye-" Baru saja Matvei hendak bertanya kepada Yejin, namun ia telah beranjak pergi dan berpamitan kepada orang tuanya, dan langsung pergi begitu saja.


Nanti saja. Matvei mengangkat kedua alisnya dan menghela nafas pasrah. Mungkin aku akan terbebani sampai entahlah kapan itu. Lanjut nya.


***


"Semoga Lula belum berangkat." Yejin menggayuh sepedanya dengan cepat. Dia ingin berangkat bersama Lula, namun dia tidak memberitahunya terlebih dulu. Ini masih pagi, seharusnya Lula belum berangkat.


Dia sampai di depan rumah Lula dan tidak melihat sepeda Lula di sana.


"Ah Yejin?" Sofia keluar rumah bersama Yefy dan berdiri di samping garasi.


"Kak Yejin!"


Yejin berbalik dan tersenyum.


"Kau mau menghampiri Lula, ya?"


"Kak Yejin terlambat. Kakak sudah berangkat." Yefy dengan polos memberitahu hal itu dan Yejin menghela nafas kasar.


"Kapan, bibi?"


"Baru saja ketika bibi hendak keluar. Mungkin belum jauh, kau bisa menyusulnya." Yejin mengangguk dan berterima kasih lalu pamit dengan Sofia.


"Sampai jumpa, bibi. Dah Yefy!" Yejin berbalik dan menggayuh sepedanya cepat. Mungkin dia akan bersikap dingin dengan semua orang. Namun, tidak dengan Yefy. Entahlah, tapi Yejin selalu merasa hangat ketika berada di dekat adik Lula itu.


"Kalau baru saja, berarti belum terlalu jauh." Yejin sambil memperhatikan jalanan barangkali Lula berhenti atau apapun itu.


Tepat di depan sana, agak lumayan jauh dari tempatnya kini, namun dia masih bisa melihat dengan jelas. Gadis rambut panjang merah kecoklatan itu sedang berjalan sendirian, menuntun sepedanya.


Yejin mempercepat gayuhan sepedanya dan jaraknya kini hanya beberapa meter dari Lula.


Lantas ia memanggil sahabatnya itu dengan keras. "Lula!!" Lula berhenti dan berbalik, mencoba mencaritahu siapa yang memanggilnya itu.


***


"Ayo Yefy kita berangkat pagi." Sofia menuntun putra kecilnya itu dan berjalan keluar di belakang Lula.


"Lula berangkat." Lula membuka pintu dengan malas dan keluar menuju garasi mengambil sepedanya dan pergi dengan itu ke sekolah dengan hanya berjalan tanpa menaikinya.


Dia terlihat tidak bersemangat. Dia masih bingung bagaimana memberitahu Yejin. Dia akan sulit untuk bertemu Yejin, sebenarnya. Yejin latihan dari pagi dan sama sekali tidak ke kelas.


"Seharusnya aku sudah tahu yang akan terjadi, dan seharusnya aku tidak berjanji dengan Yejin." Dia menggerutu sepanjang jalan.


"Tapi itu semua hanya ilusi. Sudah terjadi dan aku tidak dapat mengubah hal itu."


Dia tidak berniat untuk menaiki sepedanya.