Luna Rusalka

Luna Rusalka
114



"Di mana Lula?" Jereni datang dan menghampiri Yejin yang tengah duduk di depan kelas. Sendirian.


"Di dalam."


"Lalu apa yang kau lakukan di sini?"


Yejin tidak menjawab. Mungkin terlalu lelah untuk menanggapi orang-orang sekarang.


Jereni menggelengkan kepalanya tidak mengerti lalu langsung masuk ke dalam kelas. Dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Yejin menjadi pendiam dan tidak seramah ketika di SMP dulu. Sikapnya berubah total semenjak memasuki jenjang SMA dan itu salah satu hal yang membuat Lula menjadi berpaling darinya ke laki-laki lain.


Bukan tanpa sebab rupanya, tapi memang Lula sengaja melakukan hal itu untuk memancing keperdulian Yejin, namun memang Yejin sendiri sudah berubah. Tidak seasik dulu, dan penuh dengan larangan.


Namun realitanya, Yejin hanya tidak berani mengakui bahwa ia juga mencintai Lula, dan terlalu naif untuk jujur.


***


"Lula kau di-sini.." Jereni berlari masuk ke dalam kelas dan berhenti ketika melihat dengan sangat jelas, salah satu kaki Lula yang diperban itu.


"Astaga kau kenapa?" Jereni sedikit jongkok dan memeriksa kaki Lula. Lula menariknya ke bawah meja dan menatap Jereni malas. Dia sedang dalam mood yang buruk.


"Lula kau baik-baik saja?"


Lula mengangguk dan Jereni duduk di depan Lula.


"Ini yang aku tidak suka. Kau menjadi pendiam dan sering mengabaikan aku, semenjak ..."


"Maaf aku harus mencarinya, dan ini sangat sulit. Untung saja temanku memiliki ini jadi aku tinggal meminta darinya." Caleb datang dengan membawa sebuah botol minuman dan berhenti tepat di belakang Jereni.


Lula memutar kedua bola matanya, begitupun dengan Jereni yang menghentikan perkataannya dan lebih memilih untuk diam.


"Lula aku akan kembali. Nanti akan aku temui kau lagi, ketika makan siang." Jereni berdiri dan tersenyum. Lula mengangguk dan Jereni pergi kemudian. Bisa dikatakan gadis itu sangat membenci Caleb. Dia memang tampan dan sangat kaya. Idola bagi seluruh perempuan di sekolah dan termasuk anak famous. Namun, bagi beberapa perempuan yang pernah dekat dengannya, pasti tahu bagaimana sifat aslinya. Caleb pernah ketika baru jadian dengan Lula, dia mendekati Jereni tanpa sepengetahuan Lula. Jereni tidak suka dan mengancam Caleb. Laki-laki itu tidak marah, namun dia malah mempermalukannya dan mengancam jika Jereni sampai mengadukan hal ini kepada Lula, Caleb akan membeberkan persoalan ketika Jereni pernah dekat dengan laki-laki itu.


Caleb hanya meliriknya dan menatap Lula kemudian. Lula meminta Caleb untuk membeli minuman kesukaannya dan sebenarnya itu hanya dijual di ibu kota. Hak ini bertujuan agar laki-laki itu tidak terus bersamanya, mengingat Lula sudah memutuskannya. Caleb sangat tidak berguna. Batin Lula.


"Apa yang dikatakan Jereni?" Caleb duduk di depan Lula dan memberikan minuman yang dimintanya. Lula meraihnya dan memanggil salah satu temannya.


"Clara." Perempuan berambut hitam dengan bentuk wajah tirus mendekat.


"Ada apa, Lula?" Clara tersenyum dan berdiri di samping Lula.


"Beberapa hari lalu aku bilang mau mentraktirmu, kan?"


Clara mengangguk.


"Ini, buatmu." Kata Lula tanpa memalingkan pandangannya dari Caleb yang melongo karena minuman yang susah payahnya ia cari, diberikan dengan percuma ke orang lain.


"Kau serius? Ini hanya dijual di ibu kota. Aaaa terima kasih, Lula" Clara bersorak girang dan Lula tersenyum. Perempuan itu kembali ke tempat duduknya dan Caleb menatap Lula tidak suka.


"Apa yang kau lakukan?"


Lula menyatukan kedua tangannya di depan tubuh, dan menatap Caleb sungguh tidak mengerti dengan laki-laki yang terus mengejarnya itu.


"Kau terlalu lama dan aku sudah tidak mau."


Tangan Caleb mengepal di samping tubuhnya merasakan sikap Lula yang sekarang ini. Tanpa aba-aba, laki-laki itu berdiri dan pergi dari kelas Lula. Seluruh perempuan di dalam kelas berhenti dan melihat kepergian Caleb. Kemudian kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


Wajah Lula menjadi datar dan menarik nafas lega. Akhirnya Caleb pergi.


Lula tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ujian hari ini diundur, karena tengah diadakannya ujian untuk kelas 12, dan beberapa guru tidak bisa memasuki kelas, termasuk kelas Lula dan Jereni.


Caleb mendapatkan sesi siang, jadi untuk pagi hari dia masih bisa mengganggu Lula, membuatnya sangat-sangat terganggu.


***


LULA


Aku tidak tahu bagaimana cara yang terbaik untuk membuat Caleb tidak mengganguku lagi. Yejin hanya melarang-larang yang aku lakukan, namun dia tidak pernah memberiku solusi. Kalau Jereni, aku tidak ingin merepotkannya. Dia pasti akan memarahiku kalau tau aku mengeluh persoalan Caleb. Karena di awal, dia sudah melarangku untuk tidak dekat dengan Caleb dan aku sama sekali tidak mendengarkannya.


Oh Tuhan aku bingung sekali.


"AWAS!!"


Ctarrrrr!!////


spontan tanganku menutupi tubuhku dan seakan waktu berhenti, aku tidak mendengar suara setelah itu. Kejadiannya cepat sekali dan aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku menutup mataku.


Perlahan aku menurunkan kedua tanganku dan membuka mata. Minuman yang tumpah dan berhenti di udara, tepat di atasku. Dasha, teman perempuanku bermata abu-abu dan memakai sweater merah muda kesukaannya, mematung dengan ekspresi wajah yang terkejut. Sepertinya dia yang berteriak tadi, karena menumpahkan minumannya dan entah apa yang terjadi, semuanya berhenti.


Menggerakkan sedikit pandanganku ke sebelah kanan, melihat dua orang teman laki-lakiku yang tengah tertawa dan sama seperti Dasha, mereka mematung dengan ekspresi wajah terakhir kalinya. Di depan mereka terlihat Lenka yang berhenti dengan posisi tubuh tengah membungkuk karena mengambil sesuatu di lantai.


Ini menjadi lebih aneh, ketika aku melihat ke luar jendela di samping kiriku, kupu-kupu yang berhenti di udara dan beberapa semut yang terjatuh dari ketinggian dan sama seperti lainnya, mereka berhenti di udara.


Jantungku berdetak tidak karuan. Mendadak sedikit pusing, dan atmosfer di sekitarku berubah menjadi sejuk mendekati dingin. Aku berusaha bangkit dan melihat kondisi di luar. Beberapa orang yang tengah berjalan, berhenti dan aku tidak tahu sama sekali apa yang tengah terjadi.


Mataku membelalak ketika melihat Yejin juga mematung di depan jendela, tengah memperhatikan ke arahku. Sorot matanya yang tajam seperti tengah mengawasiku dari jauh, dan membuatku tetap aman di sekitarnya.


Aku berjalan dengan tertatih menuju ke arah Yejin, berada di balik jendela yang membatasi kami, tanpa bertemu secara langsung. Bertanya-tanya, apakah dia juga perduli denganku? Untuk hal kecil misalnya, seperti sadar kakiku terluka atau apa. Tapi nyatanya, ketika aku sampai di kelas dan dia melihat ke arahku, laki-laki itu tidak menghawatirkan atau sekadar bertanya apa yang terjadi pada kakiku?


Ya Tuhan. Kenapa Yejin kembali ke Yejin yang dulu lagi? Ketika pertama kali bertemu setelah dia pergi jauh dan kami menjadi canggung. Apa karena dia tidak suka melihat aku bersama Caleb? Atau karena dia tidak perduli denganku lagi?


Aku mencari jawaban dari mata Yejin. Mata yang terlihat angkuh dan tegas dari luar, namun aku melihat titik letih di sana. Melihat bagaimana kondisi perasaan dan hatinya sekarang. Bagaimana ia dengan sempurna memendam masalah yang selama ini dihadapinya tanpa ia ungkapkan ke siapapun.


Aku yang egois atau dia yang egois? Jawabannya sudah aku dapatkan sekarang. Sepertinya aku yang selama ini egois dan naif. Aku yang tidak pernah memperhatikan hal kecil seperti bagaimana perasaan Yejin ketika aku berada di dekat Caleb.


"Seandainya kau tahu, Yejin.. Bag-"


"AWAS!!!"


"Bagaimana kalau sepulang sekolah?"


"Ya ampun Dasha apa yang kau lakukan!!!"


"Maafkan aku, akan aku bersihkan!"


"Ah Lula-"


"Di mana Lula?"


"Apa?"


"Tadi Lula berada di sini, ketika minumanku*-"


Suara-suara itu.. menandakan Waktu berjalan kembali normal. Aku yang masih berada di sini, tepat berada di depan Yejin dan dia mengedipkan kedua bola matanya. Menyadari aku tengah memandanginya dan sedikit merasa bingung. Mungkin sebelumnya ia melihat aku duduk jauh di seberang, dan sekarang berada di sini, menatapnya. Aku hanya bisa menarik nafasku perlahan dan Yejin masih menatapku sebelum akhirnya dia menundukkan kepalanya dan pergi dari tempat itu.


Yejin yang kaku seperti ini, membuatku tidak mengerti. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya seperti ini lagi dan aku hanya bisa membatin di dalam diriku sendiri. Apa karena kesalahanku, atau sesuatu terjadi tampa sepengetahuanku?


Yejin tolong katakan apa masalahmu!


Berteriak dalam hati setiap kali mendapatkan perlakuan seperti ini dari Yejin. Sakit rasanya, diabaikan oleh orang yang kita sayang, sampai dia seakan tidak perduli lagi.