Luna Rusalka

Luna Rusalka
134



Selalu di atas gedung tinggi. Seorang pria berdiri bersandarkan dengan kedua tangannya di pembatas tempatnya berdiri dengan udara yang mampu membunuh, sekali saja ia melompat. Berada di roof top, sendirian memandang langit biru cerah membuatnya sedikit tersenyum, dengan pikiran yang semakin gelisah, namun kali ini hatinya sedikit tenang.


"Tuhan, untuk sesaat takdirmu sungguh indah. Tapi, ketika kau membawaku kemari untuk pertama kalinya, sudah kurasakan udara mematikan ini. Setiap kali aku bernafas, aku membayangkan bagaimana orang yang aku cintai mengambil putriku dalam lindunganku, menjadikannya sama dengannya atau hal terburuk dia akan mengorbankannya demi kekuasaan dan kekuatan." Ia menutup matanya dan merasakan angin melewati rambut pendeknya.


"Kau memberiku kesempatan kedua untuk hidup, kuyakin bukan untuk menyelamatkan aku, tapi dengan satu tujuan." Ia membuka matanya dan menarik kedua tangannya. Berdiri tegak, menarik nafas dalam-dalam, dan mengangguk. "Untuk menyelamatkan orang yang paling aku kasihi dari apapun yang akan membahayakannya, sampai semua kegilaan ini berakhir." Romanov, siapapun pasti tahu siapa dia. Tuhan menjadikannya setengah duyung, dan melindungi identitasnya dari siapapun demi memberinya tugas yang sangat mulia. Romanov termasuk salah satu a half yang bereinkarnasi, dan itu menandakan tidak hanya Lula dan Jereni yang setengah manusia, tetapi masih ada banyak di luar sana. Termasuk Romanov.


Ia membalikkan badan, lalu berjalan lurus ke depan.


***


Masih bernuansakan tembok putih dengan semerbak bau obat-obatan yang melancarkan pernafasan. Dokter dengan satu perawatan tengah memeriksa keadaan Lula, dengan diselingi pembicaraan menyenangkan. Beberapa kali dokter melayangkan pertanyaan dan Lula menjawabnya dengan senang. Kerap kali ia tertawa bercanda, dan tersenyum dengan bahagia.


Yejin masih berdiri di luar, melihat Lula dari jendela. Matanya sedikit berbinar dan mulutnya tertarik ke samping. Ia tersenyum tipis. "Sudah lama tidak melihatnya sebahagia ini."


"Ia sangat cantik, bukan?" Lamunan Yejin terhenti dengan suara seorang perempuan di sampingnya.


Yejin menoleh. Perempuan itu tersenyum menatap Lula. "Aku baru bisa kemari sekarang. Pekerjaan di sekolah banyak sekali. Bagaimana keadaannya?" Jereni menatap Yejin dan laki-laki itu menatap Lula. "Seperti yang kau lihat."


"Dia memang gadis yang ceria. Tapi baru kali ini ia benar-benar bahagia." Jereni melemaskan alisnya. Kebahagiaan Lula seakan terenggut selama ini, Jereni tidak pernah melihat Lula benar-benar bahagia. Ia selalu menyembunyikan kesedihannya di balik sikap cerianya. Tapi tidak ada yang memahami Lula sebaik Jereni. Apa yang akan Lula perbuat setelah tahu Jerenilah yang telah menyebabkan Lula terjebak di daratan. Jika bukan karena Jereni, Lula sudah hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Ia tidak akan pernah melupakan apa yang telah diperbuatnya sebelum dirinya bereinkarnasi.


"Jereni." Yejin menepuk pundak Jereni.


Perempuan itu tersadar. "Apa?"


"Kau tidak mau masuk?"


Jereni sedikit tidak mengerti. Pikirannya masih berputar memikirkan apapun yang selalu menganggunya. Kebencian Lula. Dia sangat takut kalau Lula tahu yang sebenarnya, dia akan membenci Jereni.


"Dokter sudah selesai dan kita boleh masuk." Yejin berjalan mendahului Jereni dan perempuan itu tersenyum melihat Lula yang melambai dari dalam.


Jereni berjalan di belakang Yejin dan masuk ke alam ruangan. Lula duduk di tempat tidur dan menjulurkan kedua tangannya sambil tersenyum.


"LULAAA!" Jereni berlari dan langsung memeluk Lula. Dia harus selalu bersikap seperti itu, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia di dunia manusia sekarang, dan harus bersikap selayaknya manusia biasa.


"Kau tahu aku sangat merindukanmu." Lula mencium rambut Jereni dan melepas pelukannya kemudian.


"Maaf Lula tapi aku sangat pusing akhir-akhir ini. Kau tahu tugas yang menumpuk dan ujian lalu semuanya terlihat membosankan ketika kau tidak menemaniku di sekolah." Jereni memutar kedua bola matanya dan bersikap seolah-olah ia adalah korban kejahatan sekolah. Lula hanya bisa tertawa dan menepuk pipi Jereni.


"Kau tahu? Alex anak pindahan itu terus saja mengikutiku ketika kau tidak ada. Dia melakukan apapun demi dekat denganku." Jereni duduk di samping Lula, wajahnya terlihat sangat kesal. "Ya ampun dia membuatku gila, Lula. setiap aku berdoa aku selalu mendoakanmu sembuh, jadi aku tidak perlu memikul beban ini sendirian."


Lula tersenyum dan wajahnya terlihat sangat bahagia. "Aku akan keluar sebentar." Yejin berdiri di depan mereka tanpa merek pedulikan. Jereni berhenti bicara dan Lula menepuk jidatnya. "Maaf Yejin aku terlalu bersemangat mendengarkan cerita Jereni, sampai lupa kau ada di sini."


"Tidak apa. Aku akan keluar."


"Tidak, Yejin. Kau di sini saja. Aku jadi tidak enak." Lula terus saja merasa bersalah dan Jereni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya, Yejin. Kau di sini saja."


"Tidak. Aku benar-benar harus keluar sebentar. Nanti aku akan kembali." Yejin tersenyum sekilas dan apalagi yang mereka khawatirkan? Yejin tidak akan kemana-mana.


Yejin berjalan keluar dan Jereni melanjutkan ceritanya kembali. "Selama kau tidak sekolah, banyak yang bertanya kepadaku. Bahkan Radinka. Kau tahu kan dia orang nomor satu di kelas yang sama sekali tidak menyukaimu. Wajahnya sangat berduka dan dia juga mendoakanmu." Jereni tertawa terbahak-bahak dan Lula meringis mendengar itu.


"Akhirnya orang-orang benar-benar menganggapku ada." Lula terlihat lega dengan pemikiran seperti itu dan raut mukanya berubah memelas. Jereni tahu betul ia tengah bersandiwara dan HOHO tawa mereka berdua benar-benar pecah sekarang.


"Kau tahu apa yang dikatakan Radinka?" Jereni berhenti tertawa dan menirukan gaya bicara Radinka yang sangat datar. "Aku tidak menyukainya tapi tolong katakan ini padanya. Aku lebih suka mengejeknya daripada melihat dia terbujur kaku di rumah sakit." Ketika Jereni berhenti mengatakan itu, Lula tertawa terbahak-bahak sampai ia batuk.


"Kau baik-baik saja?" Jereni sedikit khawatir.


"Tidak apa. Kau tahu dia kenapa Radinka membenciku?" Kali ini Lula yang membuat lelucon. "Aku mendapatkan hadiah coklat ketika nilaiku sempurna, dan mulai saat itu benih-benih kebencian mulai tumbuh."


"hahahahHAHAHAHAHAHA." apa yang mereka bicarakan tidak lucu, tapi keduanya yang membuatnya itu menjadi bahan tertawaan.


"Bagaimana dengan Caleb, Jereni?" Tawa Jereni berhenti. Wajahnya terlihat serius.


"Aku tidak mau membicarakannya."


"Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya, Jereni."


Jereni tidak mau membicarakan hal itu. Ia tidak mau Lula tahu ia menghajar Caleb demi dirinya. Jereni tidak mau Lula merasa bersalah dan membenci Jereni.


"Tidak apa. Aku sudah ingat semuanya. Tapi sungguh, aku baik-baik saja, Jereni. Kau jangan menghawatirkan itu."


"Aku tidak melihatnya lagi semenjak kau masuk rumah sakit, Lula."


"Baikl-" Lula memegangi kepalanya. Sedikit sakit di sana dan membuatnya nyengir.


"Lula kau kenapa?"


Lula mengangkat tangannya dan Jereni mengangguk. Lula terdiam dan seperti biasa, sakit kepalanya pasti akan segera hilang segera setelah ia terdiam beberapa detik.


Lula menurunkan kedua tangannya ketika sakit kepalanya hilang dan Jereni bertanya apakah mau dipanggilkan dokter atau tidak.


"Tidak usah, Jereni."


"Kau tahu akhir-akhir ini sering sakit kepala. Terkadang tenggorokanku terasa sangat kering dan sesak nafas. Tapi, ketika dokter memeriksanya, bukan masalah yang serius. Mungkin itu efek obat-obatan dan koma waktu itu."


Jereni lebih tahu daripada dokter itu. Ia melihat layar ponselnya dan langsung bermuka serius. "saatnya hampir tiba. Aku harus membuat Lula pergi ke laut setelah ia benar-benar sembuh."


"Jereni, kau kenapa?" Lula menepuk pundak Jereni dan gadis itu bilang tidak apa-apa.


***


"Nona Emellan. Mulai hari ini kau diterima bekerja di sini." suara seorang pria memenuhi ruangan.


Terlihat semburat senyuman tanpa memperlihatkan wajah lengkap seorang perempuan, terlihat sangat cantik di sana.