
Matvei pergi dari sana dan duduk kembali ke tempat tidur.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu apa yang telah terjadi. Karena aku membutuhkan informasi untuk menjatuhkan perusahaan itu dan membuat semua orang di dalamnya mendapatkan balasan atas apa yang telah terjadi."
Matvei terdiam. Dia masih mencerna apapun yang baru saja ia dengar. Sepertinya perempuan ini akan merusak seluruh rencananya.
"Hhhhhhhh.." Matvei tertawa. Ia menyatukan tangannya dan menatap Cerez.
"Kau memberitahu rencanamu kepadaku? Kau ingat aku memiliki separuh kekuasaan dari seluruh kekuasaan memimpin perusahaan itu?"
Cerez mengubah mimik wajahnya. Tapi tidak menggoyahkan niatnya untuk tetap melancarkan rencananya.
"Aku bisa melakukan apapun untuk menghentikanmu."
Cerez menaikkan sedikit dagunya. Ia sungguh tidak paham kenapa Matvei tega melakukan itu. Dia juga duyung, namun dia menyetujui apapun yang dilakukan Bryan.
"Menghentikanku? Apa begini caranya untuk membunuh kaummu sendiri, Matvei?"
Matvei mengangkat kedua alisnya. Bagaimana dia bisa tahu namanya? Matvei sungguh ingin tahu siapa perempuan ini. Kenapa dia tahu terlalu banyak? apa yang terjadi sebenarnya? Matvei tidak mengingat apapun.
"Kau tahu Bryan tidak bisa dihentikan. Walau kau berhasil menjatuhkan perusahaannya, tapi dia tidak akan pernah berhenti sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan aku yakin dia akan membunuh siapapun yang menghalanginya, termasuk aku. Dan jika kau ketahuan, mudah baginya untuk membunuhmu."
"Jika kau tidak mau membantuku, silahkan. Aku tidak peduli. Kalau kau bisa, coba hentikan aku. Aku akan tetap melakukan apa yang harus aku lakukan." Cerez berjalan ke pintu dan membukanya. Mempersilakan Matvei untuk segera pergi dari sana dan meninggalkan Cerez sendirian.
"Sungguh kau tidak mengerti apapun."
"Kau yang tidak mengerti apapun. Kau memiliki separuh kekuasaan di perusahaan itu. Itu berarti kau juga yang membangun perusahaan itu. Untuk apa? Untuk mendapatkan uang? Ya. Ini semua pasti demi uang." Cerez nyengir dan membayangkan bagaimana Matvei dengan bodohnya mengorbankan seluruh spesiesnya hanya demi uang dan kekuasaan.
Dengan cepat Matvei menghampiri Cerez. Dia memojokkannya di tembok. Sekali lagi. Matanya berkilat dan sepertinya emosinya tengah tidak stabil.
"Aku menerima ketika kau sebut aku orang yang egois dengan ikut andil dalam perusahaan itu. Tapi, aku bukan pembunuh. Kau baru saja mengenalku dan kau menuduhku dengan percaya diri."
Cerez tertawa. "Ya memang kau tidak membunuh mereka. Tapi, kau dalang di balik semua ini, bukan?"
Mata Matvei masih berkilat. Seketika ia sadar, dan ia menarik tangannya. Jelas ini bukan Matvei. Dia tidak akan tersulut emosi seperti ini. Matvei menarik nafas dan mengatakan apapun yang ingin dikatakannya.
"Tidak penting apa alasanku bergabung di perusahaan itu. Intinya, kalau kau tetap melakukan rencanamu, padahal aku sudah melarang, aku akan menghentikanmu."
"Kenapa? Kau tidak ingin seluruh kekayaannya lenyap begitu saja?"
"Cerez, kita berada di pihak yang sama."
"Jika memang benar. Kenapa kau mau menghentikan aku? Seharusnya kau mendukungku."
Matvei terdiam. "Aku punya rencana. Dan aku tidak mau kau merusaknya." Matvei berbalik dan hendak pergi. Namun ia berhenti tanpa berbalik.
"Aku baru saja mengenalmu, tapi sepertinya kau tahu banyak tentangku." Dia tersenyum tipis lalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Cerez yang masih mematung tanpa bergerak sedikitpun.
***
Kapan aku kembali? Jawabannya jelas ketika dokter memperbolehkannya dan aku sudah benar-benar sembuh. Tapi, aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit dan bahkan aku ingin berenang kembali. Hhhhhhhh sudah berapa lama aku tidak menyentuh air? Rasanya seperti tubuhku sangat kering, seperti ketika kau terlalu lama di Padang pasir tanpa air. Rasanya sangat panas dan sungguh ini sangat tidak nyaman.
Akhir-akhir ini tenggorokanku sering kering, padahal aku minum setiap saat. Terkadang, tengah malam aku terbangun dan merasakan sesak nafas, bahkan pernah beberapa hari yang lalu aku sampai tidak bisa bernafas. Udara rasanya sangat menyakitkan ketika melewati leherku. Entahlah mungkin ini karena efek obat atau apapun.
Aku memang belum lama bisa berbicara normal dan ini rasanya sungguh lega.
"Yejin." Aku memanggilnya. Dia tengah memainkan ponselnya di sofa dekat pintu. Entah apa yang tengah ia lihat di sana, dan aku baru sadar kalau aku belum melihat ponselku dari pertama aku sadar. OMG! dimana mama dan ponselku pasti dibawanya.
Yejin menatapku dan meletakkan ponselnya di sofa. Dia menjadi lebih peka dan apapun yang aku inginkan selalu ia turuti.
"Kau membutuhkan sesuatu?"
"Kak Matvei baik-baik saja, kan? Aku belum melihatnya lagi."
Yejin mengedipkan kedua matanya cepat dua kali. Aku tahu hubungan mereka memang sedikit tidak hangat. Tapi aku tahu Yejin ingin sikapnya kembali seperti dulu, namun dia tahu kalau sudah mengubah sikap kepada orang lain. Padahal Kak Matvei selalu bersikap hangat kepada Yejin.
"Entahlah.. akhir-akhir ini aku tidak melihatnya di rumah."
Memangnya kemana dia? Atau dia menghabiskan waktunya di rumah Kak Elliott? Entahlah aku sangat ingin menemuinya.
"Kau tahu dimana orang tuaku?"
Yejin mengangguk. "Paman mulai bekerja, dan bibi sedang mengurus sesuatu di sekolah Yefy." Ah aku hampir melupakan bocah itu. Dari kemarin aku tidak melihatnya.
"Bagaimana dengan Yefy? Apa kemarin dia ke sini?"
Yejin menggeleng. "Bibi melarangnya karena dia menjadi tidak pernah belajar karena sering datang kemari."
"Lula, aku mau keluar sebentar menemui seseorang. Tidak apa?" Yejin berdiri.
"Tidak apa." Aku mengangguk. Aku sudah tidak kenapa-kenapa kan. Sendiri pun aku baik-baik saja.
"Benar tidak apa-apa?" Dia terlihat meyakinkan aku. Aku mengangguk.
"I'm fine."
"Baiklah. Hanya sebentar." Yejin keluar ruangan dan menutup pintu pelan-pelan.
Sebentar saja aku tidak akan kenapa-kenapa. Aku bukan anak kecil lagi dan aku juga bukan gadis yang manja. Umurku hampir 17 tahun dan aku bisa menjaga diriku sendiri. YA AMPUN! ini tanggal berapa ya?
Aku melihat kalender di meja. Juli tanggal 30. Satu setengah bulan lagi aku genap 17 tahun dan aku percaya kalau usia 17 tahun itu adalah saat-saat paling membahagiakan. Tapi, benarkah? Tidak tahu.
Aku haus sekali. Aku akan mengambil air minum.
Lula menjulurkan tangan kirinya untuk mengambil gelas berisi air mineral di meja dekat tempat tidur. Tapi sepertinya dia tak sampai dan menyenggol gelas hingga terjatuh ke lantai. Air dimana-mana dan gelas kaca itu pun pecah. Lula membelalakkan matanya dan dia berhenti bergerak beberapa saat.
"Apa yang terjadi?" Yejin buru-buru membuka pintu dan menatap Lula khawatir. "Aku mendengar suara.." Dia melihat ke bawah dan pecahan gelas dimana-mana.
"Kau baik-baik saja?"
Lula mengangguk.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa gelas itu terjatuh? Kau tahu aku sangat khawatir ketika mendengar suara dari ruangan ini." Yejin mencoba mendekati Lula namun dia mencegahnya.
"Jangan kemari, Yejin. Kau akan terluka."
"Baiklah, aku akan memanggil perawat sebentar."
Lula mengangguk. Yejin keluar dan kembali bersama seorang perawat dan seorang laki-laki membawa beberapa alat untuk membersihkan pecahan kaca.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Yejin berdiri di samping Lula ketika laki-laki itu sudah selesai membersihkan pecahan kacanya.
"Aku haus."
"Kau haus? Sebentar aku akan mengambilkan air minum."
Lula mengangguk. Menunggu beberapa saat dan Yejin kembali dengan segelas air minum di tangannya. ""Maaf membuatmu menunggu lam-"
Tiba-tiba Yejin terpeleset dan gelas berisi air yang ia bawa lepas dari tangannya. Mata Lula membelalak ketika melihat gelas itu terbang tepat di atas kepalanya, menunggu untuk jatuh menimpa Lula.
Sontak gadis itu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya dan menutup matanya. Tapi, setelah beberapa detik tidak terjadi apa-apa. SmIa pun tidak mendengar suara lagi. Seperti, dunia telah berhenti. Dia menurunkan tangannya dan membuka mata.
Lula menatap Yejin. Laki-laki itu mematung dengan posisi terakhir. Wajah Yejin terkejut dan tubuhnya hampir terjatuh, tapi sesuatu menahannya. Begitupun dengan gelas ya g terbang tadi, Lula mendongak untuk melihatnya.
Gelas itu berhenti tepat di atas Lula, dengan air yang menyebar di udara, namun itu berhenti. Lula mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tetesan air itu. Tetesannya bergerak dan terjatuh. Ia mengerutkan keningnya bingung.
"Apa yang terjadi?"
Lula menyingkap selimut dan ia mencoba untuk turun dari tempat tidur. Lula berjalan ke arah pintu dan melongok ke luar ruangan. Beberapa orang tidak bergerak seperti Yejin dan dengan posisi terakhir mereka.
Seorang perawat keluar dari ruangan dengan membawa nampan perak, gadis seumurannya tengah tersenyum dan melambai, seorang laki-laki yang menggendong anaknya hendak memasuki ruangan, dan bahkan seorang wanita paruh baya menjatuhkan dompetnya, dan dompet itu juga berhenti di udara.
"Waktu berhenti? Ini pernah terjadi juga waktu itu." Dia ingat. Beberapa saat lalu. Di kelas, dan semuanya berhenti. Sebenarnya apa yang tengah terjadi dan kenapa hanya Lula yang tidak mematung?
Tiba-tiba Lula berhenti. "Kenapa hanya aku?" Dia mengangkat kedua tangannya dan mengingat sesuatu. Dia melupakan semua itu hampir dua tahun, dan kenapa sekarang kejadian-kejadian aneh mengingatkannya kembali?
"Hampir dua tahun aku lepas dari semua ini. Tapi, kenapa sekarang?" Lula mencoba melupakan semua itu, tapi dia tidak bisa.
Dia berjalan menuju tempat tidurnya dan meraih gelas itu. Lula mengangkat tangan kanannya dan mencoba menggerakkan air yang terhenti di udara, namun tidak bisa. Beberapa kali mencoba, namun air itu tetap berada di tempatnya semula.
"Mungkin ini hanya imajinasku saja." Lula memposisikan gelas itu tepat di bawah air, dan ia menyentuh air dan tidak ada seorang detik, air itu bergerak ke bawah, mengisi penuh gelas. Lula membawa gelasnya dan berbalik menatap Yejin.
Ia memutar otak mencari akal bagaimana waktu kembali berjalan. Tapi dia tidak tahu bagaimana mengembalikannya. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku tidak.tahu bagaimana mengembalikan waktu. Tapi, untuk saat ini, kurasa aku akan menikmatinya." Lula meletakkan gelas tubuh di meja dan berjalan ke arah Yejin dan berhenti tepat di depannya. Dia tersenyum "Kau tinggi sekali, aku hampir tidak bisa mencapai rambutmu." Senyumannya belum memudar. Dia merasa bahagia bisa menatap wajah Yejin seperti ini.
"Kau tahu, Yejin? Mungkin tidak ketika kau sadar. Namun, aku sangat senang bisa menatapmu dengan leluasa seperti ini." Lula mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi Yejin.
Hal tak terduga terjadi. Waktu kembali berjalan. Lula lupa kalau Yejin dalam posisi terpeleset dan tangan Yejin menarik tubuh Lula untuk pegangan, namun tubuhnya tidak sekuat Yejin, sehingga mereka terjatuh bersama ke lantai, dengan Yejin yang berada tepat di atas lantai dengan posisi Yejin memeluk Lula.
"Aw"
Lula mencoba bangkit dari tubuh Yejin dan berhenti ketika mata keduanya bertemu.