
"Lebih baik Kita menelpon rumah nyonya Rwka. Ini macet dan Aku sangat khawatir dengan putriku." Sofia mengklakson mobilnya dan mobil di depannya maju perlahan.
"Baiklah, sebentar.." Yeva menelpon rumah Jereni dan tidak ada jawaban. Dia baru ingat kalau listrik mati dan telepon rumah tidak bisa menyala.
"Kenapa?" Sofia menginjak pedal gas Dan mobil melaju kencang, karena jalanan mulai longgar.
"Apa kau punya nomor ponsel nyonya Rwka? Listrik mati dan telepon rumah tidak bisa dihubungi.."
"Ohh.. ada ini pakai ponselku saja." Sofia menyerahkan ponselnya dan memutar kemudi mobil ke arah kiri, menyusuri pepohonan lebat.
Yeva menelpon Rwka Dan sesaat kemudian panggilan diangkat.
"Halo, nyonya Sofia?"
"Ohh.. syukurlah tersambung. Ini saya, Yeva."
"Selamat malam, nyonya Yeva.. Ada apa??"
"Yejin Dan Lula--" Yeva menghentikan perkataannya karena di ponsel Sofia tidak Ada sinyal. "Tidak Ada sinyal, Sofia.."
"Oh tuhan.. Aku sangat khawatir.."
"Tidak apa. Ini akan baik-baik saja," Yeva mencoba menenangkan Sofia.
"Kalau aku menghubungi Mark pasti tidak bisa juga," Sofia menerjang hujan deras di depannya.
Suara Mobil damkar terdengar di belakang dan melewati mobil Sofia dengan cepat diikuti satu Mobil pengangkut kayu Dan Dua Mobil kecil.
"Ada apa?"
"Kurasa Ada pohon tumbang, Sofia."
***
"Setengah jam dan kita masih di sini." Yejin mulai kesal dan menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
"Sabar Yejin. Yang penting Kita Aman." Lula menyentuh tangan Yejin.
"Kakek, aku mengantuk.." Rasha menguap Dan Sam menepuk kepalanya.
"Tidurlah, Nak!"
"Jangan khawatir. Sebentar lagi pasti mereka datang." Sam menengkok ke belakang mencoba menenangkan dan Lula mengangguk.
Lula menatap keluar jendela dan bersamaan dengan itu, petir menyambar sebuah pohon berukuran sedang dan tinggi hingga terbakar, patah, dan terjatuh ke bawah, tepat di atas Mobil Sam.
Sontak Lula mengangkat tangannya untuk menutup matanya mengakibatkan air yang menggenang di bawah menyatu menjadi satu, membentuk tameng dan mengibaskan pohon itu hingga terjatuh di sisi lain jalanan.
Jantung Lula berdegup kencang, namun keadaan menjadi lambat, seperti slow motion. Sam tidak tahu apa yang terjadi dan menengok ke kanan dengan gerakan yang sangat lambat.
Yejin membuka matanya Dan menatap Lula dengan tanda Tanya dan pergerakan yang sangat lambat.
Lula tidak mengerti, namun keadaan membaik seketika membuatnya hanya mengedipkan matanya.
"Apa yang terjadi??" Yejin bertanya kepada Lula.
"Bagaimana pohon itu bisa di Sana?" Sam melihat keluar jendela mobil, Dan melihat sebuah pohon tergeletak di sisi kanan jalanan.
"Petir menyambar Dan pohon itu.." Lula menghentikan perkataannya ketika mendengar suara Mobil damkar di balik pohon tumbang.
"Akhirnya mereka datang.." Mereka bertiga boleh bernafas lega sekarang. Pasalnya, Tim damkar akan segera mengatasi pohon tumbang ini Dan Lula bisa kembali ke rumah.
Lula's POV
Kejadiannya cepat sekali Dan aku masih berpikir, bagaimana bisa?
Siapa aku dan keajaiban apalagi ini, Tuhan? Aku tidak mengerti sama sekali bagaimana pohon itu bisa berada di Sana.
Semakin ke sini, yang terjadi pada diriku semakin tidak masuk akal. Aku harus merasakan senang, atau bahkan takut? Ini sebuah kelebihan, atau malapetaka, aku tidak tahu.
Aku menatap telapak tanganku Dan membolak-balikkannya. Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan tangan ini selain mengendalikan air? Aku merasa takut. Takut sekali.. takut kalau yang aku lakukan kapan saja bisa melukai siapapun.
Mobil pengangkat kayu datang Dan aku melihat kayu terangkat Dan mereka meletakkan di sisi kanan Jalan.
Kalau saja mereka datang Dari tadi, kami pasti akan kembali dengan cepat.
Petugas damkar mengambil ranting yang menyangkut di tiang listrik Dan beberapa orang datang untuk membenarkan kabel listrik yang hampir putus itu.
Seorang pria memberi aba-aba untuk Sam melajukan Mobil ini, karena Jalan sudah bisa dilewati.
Aku juga melihat beberapa Mobil Dari arah berlawanan Dan hanya Mobil Sam dari arah sini.
Yejin hanya menutup matanya, dia terlihat sangat lelah. Sam melajukan mobilnya dan tersenyum kepada pria tua itu.
***
Sofia menghentikan mobilnya tepat di depan pohon besar yang tumbang.
"Astaga, kurasa ini penyebab listrik padam di penjuru Kota, Sofia."
"Kau benar, beberapa Mobil juga terjebak di sini."
"Tim damkar sudah berada di sini Dan mereka sedang berusaha mengatasinya, jadi Kita tidak perlu khawatir." Yeva tersenyum Dan melihat petugas sedang bekerja.
Mereka menunggu beberapa saat Dan akhirnya Mobil bisa lewat. Hanya Ada satu Mobil dari arah berlawanan dan beberapa Mobil dari sini. Sofia menginjak pedal gas Dan melajukan mobilnya.
Beberapa kilometer lagi dan mereka sampai di rumah Jereni.
***
"Tinggal berbelok Dan Kita akan segera sampai di perbatasan." Sam melihat aku Dan Yejin lewat cermin di atas kepalanya Dan aku hanya tersenyum.
"Yejin yejin."
"Kenapa?" Yejin menatapku Dan bertanya Ada apa. Sebenarnya aku hanya ingin berkata kalau aku...-
"Apakah di sini?" Sam memberhentikan mobilnya Dan membuatku terkejut. Aku melihat keluar.
"Iya, di sini saja, Sam."
"Baiklah, hati-hati.." Sam menengok ke belakang dan tersenyum.
"Terimakasih banyak, kau baik sekali.." Aku membuka pintu dan keluar diikuti Yejin di belakangku.
"Thanks.." Yejin menepuk pundak Sam Dan menutup pintu Mobil.
"Selamat tinggal!" Teriak Sam dari mobil.
***
Sofia menghentikan mobilnya di depan rumah berlantai Dua minimalis. Mereka sampai di depan rumah Jereni Dan berharap Lula Dan Yejin berada di sana.
Kebenaran memang terkadang tidak sesuai dengan harapan. Bukan apa, keadaan membuat nya seperti ini. Ini hanya skenario Tuhan Dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Kejutan menanti kita di depan tanpa Kita tahu apa tujuannya. Yang terpenting ini dibuat demi kebaikan kita semua.
Sofia turun dari mobil diikuti Yeva dan Yefy yang masih mengantuk. Mereka berjalan menuju pintu Dan membunyikan belnya.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka Dan nampaklah seorang wanita berambut pirang. Rwka, mama Jereni.
"Ouh.. hei.. masuklah." Rwka tersenyum dan mempersilahkan Yeva Dan Sofia memasuki rumahnya.
"Maaf kami mengganggu malam-malam. Tapi aku sangat khawatir dengan putriku. Apa Lula dan Yejin Ada di sini?" Sofia menunggu jawaban dari Rwka.
"Tidak."
"Apa? Jadi mereka tidak di sini?"
"Tidak nyonya Yeva. Mereka tidak kemari. Apa yang terjadi?"
"Oh my God .." Sofia menundukkan kepalanya khawatir.
"Yejin putraku, Dan Lula masih belum kembali dari tadi siang. Kami pikir mereka kemari." Yeva mencoba menjelaskan.
"Maafkan aku, namun mereka tidak kemari.."
"Mungkin mereka sekarang sudah di rumah ketika kalian dalam perjalanan kemari.."
"Iya, Sofia. Mungkin mereka sekarang sudah berada di rumah.. Kalau Kita menghubungi rumah pun listrik masih padam." Yeva mencoba memberikan solusi.
Sofia tetap tenang Dan berpikir sekejap. "Baiklah. Kita kembali sekarang..." kata Sofia yakin. "Nyonya Rwka, terimakasih banyak, Dan maaf merepotkan anda." Sofia berdiri Dan tersenyum pada Rwka.
"Its okay, Mrs."
"Oiya, bagaimana keadaan Jereni?" Yeva bertanya Dan Rwka menghela nafas kasar.
"Masih di tempat tidurnya.."
"Kami turut prihatin," Sofia menyentuh pundak Rwka Dan dia mengangguk.
"Baiklah, kami harus pergi sekarang, terimakasih lagi." Yeva berjalan keluar diikuti Sofia Dan Yefy putranya.