Luna Rusalka

Luna Rusalka
150



"Nona Emellan?!" Noona, wanita paruh baya itu masih terus memperhatikan Cerez. Dia kurang teliti dan tidak memperhatikan pekerjaannya. Satu kali lagi ia membuat kesalahan, Noona akan memberinya


'hukuman' kecil.


"MAAF!" Teriak Cerez dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi itu bukan yang dimaksud Noona. Wanita itu menghampiri Cerez dan menatapnya dengan tatapan serius. "Bukan saatnya melanjutkan pekerjaanmu. Kau lupa?" Noona mengangkat alisnya dan Cerez ingat satu hal. Ia menepuk jidatnya dan tersenyum tipis.


"Aku tunggu di ruangan." Noona berbalik dan beranjak dari hadapan Cerez. Ia merapikan baju kerjanya dan erjalan di belakang Noona. Keluar distrik dan menutup pintu rapat-rapat. Tak sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang beberapa hari ini menghilang dan semua orang penting mencarinya.


Bryan. Berjalan bersama seorang pria muda dengan raut wajah serius dan sepertinya emosinya tengah tidak stabil. Di belakangnya, terlihat Matvei, pria yang beberapa hari yang lalu ia tolong, berjalan dengan santai dengan wajah yang biasa saja.


"Bagaimana bisa ia memasang wajah seperti itu setelah Membuat Bryan dan lainnya kesal mencarinya?" Bisik Cerez kepada dirinya sendiri. Ia tidak tahu jalan pemikiran pemuda di depannya itu tapi intinya bukan itu. Ia harus pergi ke ruangan Noona untuk mendapatkan kejutan.


"Amankan tempat sampai aku selesai denganya." Tak sengaja mendengar Bryan memerintah seseorang. Cerez berhenti. Ia sedikit berbalik dan melihat banyak sekali penjaga berdiri di depan Bryan dan dia sudah tidak melihat Matvei di sana.


"Penjaga? Apa yang terjadi sampai ia meminta semua penjaganya untuk menghadapnya sekarang."


"Baik, Pak!" Semua penjaga menyebar dan Bryan berbalik, lalu berjalan cepat ke lift. "Dia pasti pergi ke ruangannya dan aku harus mengikutinya." Cerez tidak ingin melewatkan hal penting ini. Mungkin ia bisa menemukan sesuatu dari sana.


Berjalan cepat tanpa menoleh ke sana ke mari, ia pergi ke lift dan menunggu lift terbuka. Wajahnya terlihat tegang, namun ia harus melakukan ini. Tujuannya kemari buka untuk bekerja, tapi memata-matai Bryan dan mencari kesempatan untuk mencari tahu bagaimana dan kapan ia menghancurkan perusahaanya.


Setidaknya itu yang tengah berputar dalam kepalanya saat ini. Cerez sudah lama berada di kota ini dan melakukan segalanya demi masuk di perusahaan ini. Usahanya memang lambat dan butuh waktu lama untuk sampai berada pada titik ini, namun ia melakukan kemajuan dan tidak terjebak dalam satu titik.


Cerez harus mengapresiasi hal tersebut, tapi selama ia belum sampai pada tujuannya, ia akan terus berusaha. Matvei berkata ia memiliki caranya sendiri untuk menghancurkan perusahaan Bryan. Tapi apakah masuk akal? Bukankah laki-laki itu sudah terobsesi dengan kekayaan dan harta selama ia memiliki saham terbesar nomor dua dari perusahaan ini?


Walau Cerez tahu betul siapa dan bagaimana Matvei bertahan hidup, tapi ia tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkannya. Dengan kata lain, ia masih tidak percaya dengan Matvei.


"Nona Emellan?!" Baru saja lift terbuka dan kakinya hendak melangkah, Suara tegas Noona terdengar di belakang. Cerez nyengir. Ia ketahuan dan bagaimana Noona kembali untuk melihatnya?


"Kau mau kemana?" Cerez masih belum menggerakkan tubuhnya untuk menatap Noona.


"Bukankah kita ada janji dan kau harus ke ruanganku?"


Kali ini Cerez benar-benar siap untuk menatap Noona Berharap yang ia lakukan sekarang tidak membuat marah Noona lagi.


Cerez membalikkan tubuhnya dan berdiri tegak. "Mari kita ke ruangan ibu." Cerez berjalan duluan namun tangan besar Noona menahannya. "Apa yang akan kau lakukan dengan masuk ke dalam lift?"


Cerez tidak berbicara. Tidak ada alasan yang logis untuk membela dirinya saat ini. Ia hanya berharap sebuah keajaiban walau rasanya sungguh mustahil.


"Maaf Bu, tapi kau harus melihat ini." Seorang laki-laki datang tiba-tiba dan berbicara pada Noona. Noona masih belum melepaskan tangan Cerez dan wanita itu berbicara dengan laki-laki berbaju biru dan memakai topi yang senada dengan pakaiannya.


"Baik, aku akan segera ke sana."


Senyum lega Cerez tunjukkan. Rasanya sangat lega dan ia tidak habis pikir tuhan berpihak padanya kali ini.


"Baik, Bu!" Noona melenggang pergi dan Cerez pergi dari sana untuk kembali ke ruangan Noona.


"Bersabarlah, Cerez."


***


"Apa aku siap?" Lula berdiri di depan rumah Yejin. Untungnya teman-temannya masih di sini, dan ia tidak harus bertemu dengan Yejin sendirian, atau ia akan sangat malu. Ia tidak melihat Yejin setelah kembali dari rumah sakit dan laki-laki itu juga tidak menghubunginya sama sekali.


"Baguslah semuanya masih di sini, aku tidak terlalu malu."


"Baik, tidak apa bibi. Ini sudah terlalu siang dan kami pamit pergi." Terdengar suara riuh dari dalam rumah dan langkah kaki beberapa orang yang semakin lama semakin terasa. Lula sedikit mengernyitkan dahi dan ..


Suara pintu terbuka sangat jelas di telinga Lula. "Tidak, mereka akan pergi." Lula harus segera pergi dari sana dan ia buru-buru berbalik, berjalan menuruni tangga, dan pergi ke samping rumah Yejin. Ia bersembunyi di sana, setidaknya sampai teman-temannya pergi, dan ia tidak perlu masuk ke dalam.


Ia melihat beberapa kaki dan masuk ke dalam bis. Beberapa masih ada yang di depan rumah dan beberapa masih dalam perjalanan, mengingat halaman rumah Yejin sangat luas dan hei apa yang ia lakukan?


Sejak kapan Lula malu datang untuk menemui Yejin atau sekedar bibi Yeva? Lula masih tidak tahu perasaan apa ini dan apa yang ia lakukan?


"Setidaknya aku akan keluar setelah keadaan sepi."


"Aku juga." deep voice seseorang mengejutkan Lula dan membuatnya mematung seketika. Nafasnya terasa di telingan kiri Lula dan ia sama sekali tidak bisa menoleh, karena mereka terlalu dekat.


Beberapa saat dan mereka dalam posisi yang sama. Berdekatan.. sangat dekat.


"Mereka sangat berisik. Aku akan menunggu mereka semua pergi dari sini." Yejin tertawa dan entahlah tapi nafas laki-laki itu sangat lembut dan aroma mint campur vanilla keluar bersamaan dengan kata-kata yang ia lontarkan. Untuk seketika, Lula kecanduan dengan aroma yang Yejin keluarkan.


"Aroma mint dan vanilla. Itu sangat menenangkan." Batin Lula dan ia menutup kedua matanya menikmati aroma wani itu sembari menunggu semua orang pergi.


"Saatnya kita berdua keluar." Yejin menarik tangan Lula tiba-tiba membuat gadis itu membelalakkan matanya.


"Apa yang kau lakukan, Yejin? Mereka masih belum pergi!" Lula melepaskan tangan Yejin dan berjalan kembali ke tempat ia berada tadi namun Yejin menahannya. Deg. ia memang sudah menyukai Yejin dari dulu, tapi apa ini? Sesuatu yang sangat berbeda dan bahkan baru pertama kali ini ia rasakan.


"Ayolah, Yejin!" Lula menarik tangan Yejin untuk bersembunyi, namun seseorang terlanjur menyadari keberadaan mereka.


"Hei, Yejin!"