
"Aku tidak ingat?" Pernahkah Yejin berjanji seperti itu?
...----------------...
...flash back on...
"Tempat dimana aku selalu datang ketika aku sedih maupun senang." Yejin duduk menyatukan kakinya di depan tubuh nya.
"*Dimana?" Lula penasaran. Yejin bercerita tempat yang sangat indah dan Lula tertarik untuk mengunjungi*nya.
"Perbatasan masuk, dan itu hampir di hutan. Di sana juga terdapat air terjun besar yang selalu ada pelangi." Mereka berdua sedang berbicara di rumah Jereni, sambil menunggu Jereni ke belakang sebentar.
"Aku ingin ke sana, Yejin."
"Kita akan ke sana, sebelum aku berangkat ke turnamen. Bagaimana?"
Lula mengangguk senang dan mengangkat tangan kanannya. "Janji?" Yejin mengangguk dan menepuk tangan Lula.
...Flash back off...
...----------------...
Ah aku ingat sekarang. Waktu itu, di rumah Jereni. Kenapa aku bisa melupakannya.
"Jadi, apa yang kau rasakan sekarang? Senang atau sedih?" Aku bertanya karena Yejin hanya akan kesini ketika senang ataupun sedih.
Kulihat Yejin menggeleng dan menatap danau di depan kami. "Aku hanya menepati janjiku."
Di sini nyaman sekali. Udaranya sejuk dan pemandangan masih alami. Kurasa salah satu tempat paling sehat di Moscow.
Angin melewati rambut pirangku kemerahanku yang mulai panjang. Sudah berapa lama semenjak aku memotong rambutku ya? Mama merawat rambutku dengan hati-hati.
"Kau haus?" Yejin membangunkanku dari lamunan dan aku mengangguk. Yejin bertanya apa aku haus, dan aku mulai haus yang sebelumnya aku tidak merasa haus sama sekali.
"Aku akan membeli minuman sebentar. Kau jangan kemana-mana, ok?" Yejin berdiri dan menunggu jawabanku.
"Okey," Dia menggerakkan kepalanya dan berlalu pergi.
Aku masih menikmati udara yang sangat sejuk di sini, sampai sebuah suara memecahkan keheningan.
Suara air terjun? Ya, tidak heran. Yejin berkata di sekitar sini ada air terjun besar dan aku ingin sekali melihatnya.
Suaranya sangat jelas ketika aku menutup mataku. Seperti.. mengundangku untuk segera mendekatinya.
Sebagai penyuka air, kau pasti akan tertarik bukan? Aku berdiri dan berjalan ke Utara. Suara gemericik airnya terdengar dari sana.
Author's POV
Lula melangkahkan kakinya menuju Utara, masuk ke pepohonan dan melewati beberapa bunga yang mekar. Udara semakin dingin ketika angin melewatinya, diantara pepohonan yang tumbuh rapi di sekitarnya.
Dia tersenyum ketika suara air semakin jelas. Hatinya sangat tenang dan dia sangat merindukan momen seperti ini.
"Terakhir mama membawaku ke air terjun, tiga tahun yang lalu." Lula ingin sekali piknik ke air terjun, seperti dulu bersama kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya, Yefy.
Lula memelankan jalannya dan membuka semak-semak di depan yang menutupi jalannya.
Kurasa aku terlalu memasuki hutan ini. Semak-semak dan rumput liar dimana-mana.
Batin Lula berusaha menembus rumput liar yang tinggi itu. Dia tidak berhenti dan kembali. Ia terus berjalan dan mempercepatnya hingga ia berada pada satu titik tertinggi di tempat itu.
"Ah ini pemandangan dari atas air terjun!" Lula girang dan senang sekali, melihat pelangi melingkar di bawahnya.
Dia berada di atas air terjun dan itu terlihat tinggi sekali. Lula tidak takut. Dia berusia 15 tahun. Gadis itu sama sekali tidak tahu tempatnya sangat tinggi dan kapan saja bisa terpeleset.
"Kemarilah ..." Lula berhenti dan berusaha mendengarkan. Ia melihat ke bawah, tepat ke air terjun dan melihat sesuatu di bawah. Seperti, seorang perempuan cantik dan tengah tersenyum kepadanya.
Lula tidak takut ataupun bertanya-tanya siapa itu, dia membalas senyuman perempuan itu dan kakinya hendak melangkah, terjun ke bawah sebelum seseorang memeluknya dari belakang dan menjatuhkannya.
"AW!" Pekik Lula ketika sikunya terluka oleh batu besar di tanah.
"Yejin?"
"Kau bisa saja terjatuh, Lula." Lula mencoba berdiri dan Yejin membantunya.
"Aku hanya.." Lula berjalan dan melihat ke bawah, dia tidak melihat perempuan itu lagi. Dia heran.
"Aku melihat seorang perempuan di bawah sana."
"Tidak ada perempuan dan seorang pun yang berenang di sana. Sangat bahaya kau berada di sini!" Yejin menarik Lula dan membawanya menjauh dari tempat itu.
"Aku hanya ingin melihat air terjun."
"Aku bilang tunggu aku. Aku pasti akan membawamu melihatnya, namun bukan dari atas sini." Yejin berjalan dengan cepat dan Lula mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana kau bisa di sini?"
"Aku melihatmu berjalan masuk ke hutan, aku mengikuti mu dan memanggilmu berkali-kali. Kau tidak dengar, dan jalanmu cepat sekali. Aku hampir ketinggalan jejak, namun aku bisa mencium aroma parfummu." Yejin mencoba membuka rumput liar di depannya menggunakan kaki dan Lula menaikkan alis seketika.
"Aku tidak pakai parfum atau pewangi lainnya." Dia menyangkal pengakuan Yejin tentang parfum yang ia pakai.
"Aku paham bau pakaianmu, Lula. Aroma Lavender. Itu jelas sekali."
"Aku tidak pakai parfum dan Lavender? Kau bicara apa, Yejin?" Lula mengikuti pergerakan Yejin yang sangat cepat di depannya. Dia merasa sangat lelah dan kakinya pegal-pegal.
Yejin tidak menjawab dan terus berjalan hingga mereka sampai di luar hutan. Kembali ke taman dan Yejin siap untuk menceramahi nya lagi.
"Kau sedang apa di sana?" Yejin berhenti dan berbalik, menatap tepat di mata Lula.
"Aku hanya ingin melihat air terjun."
"Bagaimana kau bisa sampai sana?"
"Aku.. aku dengar gemericik air, jadi aku mengikuti suaranya."
"Kau mengikuti suara gemericik air? Bagaimana bisa?" Jelas sekali kekhawatiran Yejin dan Lula tidak heran mengapa. Yejin pasti sangat khawatir.
"Oke. Aku yang salah, maafkan aku."
Yejin mengangguk dan memberi perintah agar mereka segera kembali ke rumah.
"Tunggu, Yejin!" Lula menarik lengan Yejin dan Yejin berhenti seketika.
"Bisakah kau mengantarku melihat air terjun?" Yejin menatap seakan dia tak setuju. "Secara aman, dari bawah." Lula tersenyum dan Yejin tidak bisa menolaknya.
"Ok." Yejin mengangguk dan berjalan untuk pergi ke air terjun yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hanya beberapa langkah dan mereka sampai di air terjun.
Beberapa orang juga sedang berswafoto dengan kawan dan kerabat mereka masing-masing di bawah air terjun.
Jadi, mereka tak perlu khawatir ada hewan liar ataupun hantu, karena di area air terjun mulai ramai, dan ada juga yang sedang berenang di bawahnya.
"Sudah?"
Lula menggeleng. "Bisakah kita berenang juga di sini?" ia melepas ranselnya.
"Terlalu berbahaya." Yejin menolak keras.
"Apa yang kau khawatirkan, Yejin? Aku bisa berenang, ini juga tidak terlalu dalam, dan lihatlah! Banyak orang berenang juga di sini."
"Ingat terakhir kau berhubungan dengan air?"
Lula terdiam dan berpikir. Namun ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu dan menggeleng.
"Aku akan baik-baik saja. Percaya padaku, Yejin. Kalau kau khawatir, kau juga bisa berenang bersamaku."
Yejin masih terdiam.
"Ayolah, Yejin. Sekali ini saja. Aku berjanji tidak akan pernah memintamu untuk melakukan hal aneh lagi." Lula memegang tangan Yejin, dia hanya memutar bola matanya dan mengangguk.