
Laki-laki itu melihat Jereni dari kaki sampai kepala dan ia tersenyum. Jereni masih pakai seragam sekolah, dan terlihat cantik dengan rambut kemerahan yang tergerai.
"Maaf menunggu lama."
"Iya tidak apa. Duduk lah."
Jereni mengangguk dan duduk di samping Matvei.
Beberapa saat hening dan Matvei membuka mulutnya.
"Maaf membuat kemari."
Jereni menatap Matvei dan menunggu penjelasannya.
"Ada sesuatu, yang ingin aku tanyakan."
Matvei mengambil tas dan membukanya. Mencari fotonya bersama Yejin dan menunjukkannya kepada Jereni.
"Apa ini kau?" Jereni melihat itu dan memperhatikan.
Rambut kemerahan dan sorot mata yang tajam.
"Entahlah, tapi ini sekitar empat atau lima tahun lalu, aku lupa."
"Bagaimana bisa?" Jereni terkejut melihatnya di dalam foto itu.
"Ya. Aku juga merasa pernah melihatmu. Wajahmu tak asing bagiku."
"Maksudmu kau ingat kalau dulu kita pernah bertemu?"
Matvei mengangguk. "Aku tak ingat kalau kita pernah bertemu, tapi bukankah foto ini cukup membuktikan kalau kita pernah bertemu?" Matvei menggelengkan kepalanya dan melihat foto itu lagi.
"Aku juga tidak asing dengan kakak. Atau, apakah karena kau kakaknya Yejin, dan mungkin wajah kalian terlihat mirip?"
"Mungkin saja.."
"Ah apakah hanya itu yang ingin kau bicarakan?"
"Aku harus kembali sekarang.."
"Ya, tidak sebenarnya. Tapi kau terlihat terburu-buru, jadi kita mungkin bisa bertemu lagi lain waktu, untuk berbicara." Matvei tersenyum.
"Baiklah, kau bisa menghubungi aku kapan saja, jika ada hal yang perlu dibicarakan." Jereni berdiri dan pamit untuk kembali.
"Bye." Jereni berbalik dan berlari menuju mobilnya.
"Ah aku lupa meminta nomornya lagi!" Matvei menepuk jidatnya dan hendak mengejar Jereni, namun mobil itu sudah berjalan lebih dulu.
"Aku harus menemukan Ponselku." Matvei mengambil barang-barangnya dan lekas untuk pergi.
***
"Kau memiliki pacar sekarang?" Sam. Sepupu Jereni yang berusia 18 tahun. Ia dan keluarganya sedang berkunjung ke sini dan menginap untuk beberapa hari.
"Tidak. Dia kakaknya temanku."
"Jadi.. Kau berhubungan dengan kakaknya temanmu?" Sam tertawa sambil sesekali melihat Jereni.
"Hei, Sam! Diamlah dan mengemudi saja. Mama pasti sudah menunggu." Jereni merasa kesal dan hanya terdiam setelah itu.
***
Sudah malam dan Lula belum tertidur.
Dia masih memikirkan kejadian tadi sore dengan mamanya.
flashback on
"Lula mama perlu berbicara denganmu." Sofia menegur Lula ketika Lula baru saja kembali dari sekolah.
Lula berhenti ketika ingin naik tangga menuju lantai atas. Ia menunggu apa yang akan dibicarakan mamanya. Seharusnya ia tahu.
Sofia masih duduk di sofa dan membelakangi Lula.
"Mama tahu kau tadi berbohong."
"Jadi, sekarang katakan yang sebenarnya kepada mama." Sofia berdiri dan berbalik menatap Lula.
Lula membulatkan matanya dan masih terdiam.
"Lula, kau tidak pernah berbohong. Jujur sekarang."
Mama tidak pernah semarah ini kepadaku.
Lula masih tidak bergeming. "Lula jawab mama!"
Lula terkejut. Mamanya mengeraskan sedikit suaranya, membuatnya terkejut.
Lula menarik nafas panjang. "Aku sudah berjanji kepada Yejin untuk datang besok dan mama mengacaukan segalanya. Aku hanya mencoba berkata apa yang terjadi kepada Yejin sebelum kekecewaannya besar karena aku mendadak bilang aku tidak bisa menemani Yejin berlomba." Lula penuh dengan emosi dan segera pergi ke kamarnya sebelum semuanya bertambah buruk.
Flashback off
Lula berdiri dan duduk di kursi dekat jendela. Dia melamun dan memikirkan besok tidak dapat melihat Yejin di perlombaan.
Bagaimana perasaan Yejin sekarang?
Jendela masih terbuka dan Lula ingat sesuatu. Secepatnya ia menutup jendela dan berjalan ke tempat tidurnya.
"Aku mulai berimajinasi kalau ada hewan buas di bawah sana."
Ia merasa ngeri dan duduk bersantai di tempat tidur tanpa ada niatan untuk tertidur.
"Aku tidak enak dengan Yejin."
"Apakah Yejin akan marah?" Lula mengacak rambutnya frustasi dan terkejut ketika hujan turun, dan angin membuat ranting mengenai jendela kacanya, menimbulkan suara yang cukup keras.
Lula mematikan lampu tidurnya dan segera menyembunyikan diri di dalam selimut. Ia sedikit parno dengan ranting yang mengenai jendela.
***
"Lula.. Lula bangun!" Mark mengguncang pelan tubuh Lula. Dia tidak terbangun dari tadi dan papanya mulai geram.
"Hei Lula? Kau tidak ingat ini hari apa?" Lula masih menutup matanya dan merasa ngantuk sekali. Ini masih pukul 4 pagi dan apa yang dilakukan papanya?
"Aku masih mengantuk.." Lula menutupi wajahnya dengan selimut dan tertidur lagi.
"Lula. Apa kau tidak mau melihat Yejin berlomba?"
Kedua bola mata Lula terbuka lebar dan ia membuka selimutnya. "Apa kau serius?" Lula menatap Mark dan tersenyum lebar.
"Yea it's my plan." Kata Mark dan Lula langsung beranjak untuk mandi.
***
Yejin sedang berganti pakaian. Ia habis mandi. Sebenarnya masih memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya dan menatap tubuhnya di cermin.
"Kenapa hal ini mempengaruhi mentalku?" Ia masih memikirkan tentang Lula dan seharusnya ia juga harus mengerti.
Tapi bahkan Lula tidak memberitahu apa alasannya. Itu membuat Yejin tambah bingung dengan sikap Lula.
Seharusnya Lula memberitahu Yejin dan ia pasti akan mengerti.
"Mungkin terjadi suatu hal."
Yejin mencoba mengerti dan mengangguk kemudian.
***
"Kita harus cepat." Kata Mark menunggu Lula membereskan ranselnya.
"Apa ini sembunyi-sembunyi? Apa mama tidak tahu?" Papanya tidak menjawab dan Lula berbalik. Dia sendirian.
"Ayo!" Mark masih di pintu dan mengajak Lula berjalan.
"Jadi mama tidak tahu? Kita harus sehening mungkin." Lula berjalan di belakang papanya dan ia terus saja mengoceh.
"Papa bagaimana kau punya ide ini? Bukankah sangat berbahaya kalau mama sampai tahu? Kita pasti akan kena marah."
"Mamamu berubah pikiran." Mark berbalik menatap putrinya, dan ia berjalan ke samping. Tubuhnya menutupi apa yang ada di depan.
Mereka berada di ruang tv dan Lula melihat Sofia duduk di sofa dan tersenyum melihatnya.
Lula terkejut dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama.."
Sofia mengangguk dan Lula bersorak gembira. Ia menghampiri mamanya dan memeluknya erat.
"Terimakasih, mama.."
Sofia melepas pelukannya. Ia menyilakan rambut bagian depan Lula dan menatap putrinya itu.
"Mama terlalu posesif. Maafkan mama.."
Lula mengangguk. "Lula akan baik-baik saja. Papa juga bersama Lula."
Sofia mengangguk dan berdiri. "Hati-hati, jangan kembali terlalu larut. "
Lula mengangguk dan memeluk mamanya sekali lagi.
***
...Pukul 4.30...
"Mama selalu mendoakanmu. Berjuanglah, Yejin." Yeva tersenyum dan Yejin mengangguk. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju gerbang dan berbalik.
Yeva membuka jendela mobil dan Yejin tersenyum kepadanya. Wanita itu tidak bisa menemani Yejin ke ibu kota. Neneknya Yejin masih sakit dan tidak ada yang menjaganya.
Yejin berjalan ke dalam dan menuju lapangan upacara. Semua orang sudah ada di sana, dan Yejin sepertinya terlambat.
"Kenapa lama sekali?" Erynav menghampiri Yejin dan dia menarik Yejin untuk masuk ke dalam mobil.