
"Aku.." Jereni menghentikan perkataannya dan menatap Lula serius.
"Aku mendengarkan."
"Aku tak tahan lagi, Lula. Jika aku pergi.." Lula menutup mulut Jereni dengan telunjuknya, namun Jereni melepaskan tangan Lula.
"Kau bisa tidak biarkan aku berbicara?" Lula mengangguk dan terdiam.
"Berhari-hari aku hidup dengan ini. Pikiranku sudah lelah. Seseorang memainkan hidupku, Lula. Aku akan mengakhiri permainannya."
"Jika kau ingin mengakhiri permainannya, kenapa kau yang harus mengalah? Kau mengalah untuk hal yang bahkan kau tidak memulainya sama sekali?" Lula membantah keras pilihan yang Jereni ambil.
"Bagaimana lagi? Aku tidak kuat.."
"Jereni! Ini hidupmu. Kau tidak hidup dalam mimpi! Kau yang andil dengan apa yang terjadi. Kau harus bertahan dan memenangkannya." Lula menepuk pundak Jereni dan mencoba meyakinkannya untuk tetap bertahan.
"Aku.." Jereni sesak nafas dan Lula sangat khawatir. "Jereni! Tolong bertahanlah, Jereni!" Ia berlari keluar dan meminta bantuan.
Beberapa detik kemudian, Lula datang bersama Rwka dan Sofia.
Jereni sudah tidak sadarkan diri dan semua orang sangat khawatir.
Rwka sigap untuk mengecek denyut nadi di pergelangan dan belakang kepala. Wanita itu mengangguk dan mencoba menggendong Jereni. "Kita harus membawanya ke rumah sakit." Sofia berlari keluar untuk menyiapkan mobil.
Rwka berjalan cepat keluar kamar.
Lula hanya berdiri mematung di sini. Ia masih kepikiran sahabat nya itu, namun ia tidak menyesal mengatakan itu pada Jereni.
"Jika saja aku-"
"Kak ayo cepat!!" Yefy berlari dan menarik tangan Lula keluar Kamar.
Lula's POV
Aku baru bertemu dengannya dan dia tidak sadarkan diri sekarang. Apa yang akan terjadi? Aku tidak mau kehilangan Jereni, Ya Tuhan. Dia sahabatku...
Tuhan kalau boleh kau ambil saja nyawaku, tapi tolong selamatkan Jereni ..
"Kak?!" Aku menoleh ketika Yefy memanggilku. Kami di dalam mobil dan menuju rumah sakit untuk memeriksa Jereni.
Mama menyetir dan Bibi Rwka di belakang memangku Jereni. Dia menelpon papanya Jereni untuk mengabari kalau Jereni tidak sadarkan sendiri.
"Sayang kau bertahanlah.." Rwka menangis sesenggukan dan mama mencoba menenangkan.
"Tenanglah, Nyonya Rwka. Semuanya akan baik-baik saja.."
Bibi Rwka mengusap air matanya. Itu terlihat dari kaca spion dan aku terus memperhatikan Jereni.
Deg.. deg.. deg..
Jantungku berdetak tak karuan dan mobil terasa cepat sekali. Pandanganku kabur tiba-tiba dan aku mengedipkan mataku dengan cepat.
Semua berakhir. Aku menatap depan mobil dan melihat sesuatu di jauh sana, seperti seorang tengah duduk dan melambai dari atas gedung yang sangat tinggi di depan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku melihat orang itu dari jarak puluhan kilometer?
Deg.. deg.. deg..
Aku mendengar detak jantung yang sangat keras di sini. Menoleh ke mama, dia fokus menyetir dan suara detak jantungnya terdengar sekali. Bibi Rwka, Jereni, Yefy semuanya menjadi sangat keras.
"K a u b a i k - b a i k s a j a , L u l a ?" Mama menatapku dan bertanya dengan gerakan yang lambat. Apa yang terjadi?
Jantungku berdebar kencang dan aku tidak bisa tenang.
Shhshhshhsbhshhhshsh....
shhshhshhsbhshhhshsh
Suara yang sangat familiar. Suara... yang aku dengar di kolam renang dulu, aku mendengarnya lagi. Setiap rintik hujan yang jatuh, seakan mencoba masuk dalam mobil dan menerjang ku, tidak menyerangku, namun mencoba memberitahuku sesuatu.
Cahaya aneh keluar dari dalam bajuku, aku melihatnya dan liontin kerang hadiah mama bercahaya menyilaukan mataku. Seketika keadaan membaik dan cahaya itu hilang.
"Kakak!!" Yefy menepuk pipiku dan aku tersadar dari lamunanku. "Apa?" Tak sadar, kami sudah sampai dan Yefy mencoba membantuku keluar mobil. Mama dan Bibi Rwka sudah keluar mobil dan memanggil aku untuk segera mengikutinya.
***
Jereni sedang diperiksa dokter dan semua orang menunggu di luar.
Bibi Rwka mencoba menghubungi papanya Jereni lagi, karena sampai saat ini belum berada di sini.
Mama duduk sambil memangku Yefy yang tertidur di pangkuannya.
Aku, berdiri di samping mama dan memperhatikan orang-orang yang lewat di depan kami.
"Papa?" Aku menoleh dan ternyata mama sedang menelpon papa. Aku mengira jika papa ada di sini.
"Kamu dimana? Rumah kosong."
"Bisa datang ke Rumah Sakit xxxxxx? Nanti aku jelaskan."
"Siapa yang sakit?"
"Jereni.. Semua orang di sini. Cepatlah papa, Yefy tertidur dan aku harus menenangkan Nyonya Rwka.
"Baiklah.."
Mama menutup telepon dan sepertinya aku harus menghubungi Yejin kalau Jereni masuk rumah sakit.
"Ada apa, Lula?"
"Bisa pinjam ponselnya? Aku harus menghubungi Yejin.." Pintaku dan mama mengangguk.
"Baiklah, ini.." Aku meraih ponsel mama dan berjalan sedikit menjauh dari sana, supaya tetap tenang.
Mencari nomor Yejin dan menelponnya.
Tuttt... tuutttt.. tuttt..
Sepertinya ponselnya mati. Coba deh menelpon rumahnya.
"Halo, kediaman Salvakov. Dengan siapa?"
"Bibi bibi Ini Lula."
"Hey, Lula. Ada apa?"
"Bisa bicara dengan Yejin?"
"Baiklah, sebentar .."
Author's POV
Lula menunggu Yejin dan beberapa saat kemudian Yejin angkat suara.
"Halo."
"Yejin.."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak. Maksudku, aku baik. Hanya saja, Jereni.."
"Ada apa dengan Jereni?"
"Jereni masuk rumah sakit. Dia sempat pingsan dan berkata kalau dia sudah tidak tahan lagi Yejin. Aku sangat khawatir." Lula memelankan suaranya dan gelisah. Matanya sayu dan dia terlihat lelah.
Ini masih pukul 6 sore dan belum terlalu malam untuk keluar rumah.
"Sekarang kau dimana?"
"Rumah Sakit xxxxxx"
"Apa kau sendirian di sana?"
"Tidak. Bibi Rwka dan Mama di sini. Tapi aku sangat khawatir sekarang."
"Aku akan ke sana sekarang."
"Baiklah..."
"Tunggu aku.."
"Yejin!"
"Hati-hati.."
Lula menutup teleponnya dan menyandarkan kepalanya di tembok. Ia menatap mamanya dan bibi Rwka. Mereka sama khawatirnya dengannya.
Dulu aku sempat koma dan dinyatakan meninggal. A**pakah mama sama khawatirnya dengan bibi Rwka?
Aku memang selamat. Namun, jika Jereni tidak bagaimana?
Tidak ada mati suri. Apa yang membuatku hidup lagi?
Lula berjalan menghampiri mamanya dan menyerahkan ponselnya.
"Sudah?" Lula hanya mengangguk. Dia duduk di samping mamanya.
"Lula?" Yejin datang dan berdiri di depan Lula. Rumah Sakit ini dekat dengan rumah Yejin jadi Yejin tak perlu khawatir dan cepat datang kemari.
"Yejin.." Lula menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat Yejin.
Yejin duduk di samping Lula. "Bagaimana keadaan Jereni?"
Lula memeluk Yejin dan Yejin hanya terdiam tanpa memeluknya balik. "Aku takut, Yejin."
"Tidak apa. Dia akan baik-baik saja." Yejin mencoba menenangkan Lula.
Beberapa saat kemudian Mark datang dan langsung meraih Yefy yang tertidur. Sofia beranjak untuk menghampiri Rwka dan mengajaknya untuk duduk.
Rwka masih menangis dan khawatir dengan keadaan Jereni, ditambah lagi suaminya belum sampai di sini. Sofia memeluk Rwka untuk menenangkan nya.
Keadaan di sini menjadi suram. Semuanya terdiam dan hanya terdengar suara tangis. Lula merasa sedih dan Yejin mencoba menghiburnya.
Hening, dan... menegangkan. Tidak ada lagi yang membuat suara, selain langkah kaki perawat yang keluar masuk dari ruangan lain.
Krieetttt
Pintu ruangan Jereni terbuka dan seorang pria dengan setelan jas putih keluar.
"Keluarga pasien?"