
"Kau baru di kota ini?" perempuan berambut merah kecoklatan menatap perempuan di sampingnya.
Perempuan itu mengangguk. Perempuan dengan rambut pirang dan mata kecoklatannya, selaras dengan wajahnya yang cantik.
"Kau beruntung. Tidak semua orang yang melamar pekerjaan di sini diterima. Hanya orang-orang yang terpilih saja." Perempuan berambut merah itu membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
"Mulai sekarang, kau bekerja di distrik 3. Mengolah bahan setengah jadi, menjadi siap dikemas. Apa kau mengerti?" Perempuan berambut merah kecoklatan itu mempersilakan perempuan berambut pirang itu masuk.
"Baik. Mm bagaimana aku memanggilmu?"
"Noona. Kau?" Noona memberikan tangannya dan perempuan itu menjabatnya. Memberi kode untuk memperkenalkan diri secara langsung.
"Ah baiklah. Panggil saja Cerez." Cerez Emellan. Hidup sebatang kara dan pergi ke permukaan untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan berakhir dengan satu tujuan. Menjatuhkan perusahaan ini. Setidaknya perburuan akan dihentikan dan spesiesnya tidak akan punah.
"Baiklah, nona Emellan. Kau tanggung jawabku, dan lakukan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh. Apa kau mengerti?"
Cerez mengangguk mengerti. Noona pergi dan Cerez bersiap untuk masuk ke dalam ruangan.
"Langkah pertama berjalan dengan lancar, aku berhasil masuk dengan legal." Ia butuh bukti yang kuat untuk menjatuhkan perusahaan. Ia tahu posisinya hanya pegawai dan sangat tidak mungkin dengan posisinya sekarang ia mampu menjatuhkan perusahaan. Di samping Matvei pasti akan menghalanginya, ia juga belum mendapatkan bukti apapun.
Cerez sangat yakin jika rencananya akan berhasil, karena ini tidak hanya menyangkut semua duyung yang telah perusahaan ini bunuh, tetapi satu-satunya keluarga yang ia punya, juga harus meregang nyawanya di tangan perusahaan ini. Dia tidak akan pernah melupakan bagaimana mereka menjerat saudaranya, lalu membunuhnya di depan matanya. Cerez tidak akan pernah melupakan itu.
***
Kau baik-baik saja?" Lula membuka kedua matanya lebar-lebar dan tidak berkedip. Dia masih berdiri di depan jendela dan tidak terjadi seperti yang terjadi tadi. Lula berbalik dan melihat Yejin berdiri di depannya.
"Yejin?" Mata Lula membelalak kaget. Bagaimana bisa keadaan langsung berubah seperti ini?
"Ya. Dari tadi kau melamun dan tidak mendengarkan perkataanku. Kau baik-baik saja?" Apa? Batin Lula kacau. Bagaimana bisa keadaannya seperti ini? Apa tadi Lula berimajinasi? Tapi bagaimana ini terasa sangat nyata?
"Aku melamun?" Lula berjalan mendekati Yejin dan laki-laki itu mengangguk.
"Kau bicara yang sebenarnya kan?" Yejin melangkah mundur ketika Lula semakin mendekat. Laki-laki itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Lula dan ia rasa Lula sedang bercanda sekarang.
"Ya." Yejin berhenti. Lula yang terus saja berjalan kepalanya menubruk dagu Yejin. Gadis itu sontak berhenti, mematung. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan entahlah apakah tadi memang ia berimajinasi?
Lula mengangguk. "Baiklah." Gadis itu melangkah mundur dan kembali ke tempat tidur. Ia duduk lalu memandang Yejin yang masih berdiri membelakanginya.
"Yejin." Lula memanggil laki-laki itu, dan Yejin langsung berbalik. Ia mengangkat dagunya tanda bertanya ada apa lalu Lula menghembuskan nafas kasar. "Aku sangat pusing."
Yejin berdiri, dan menghampiri Lula kemudian memegang kening Lula. "Tapi tidak panas?"
"Aku tahu tapi rasanya sangat tidak nyaman." Kata Lula menunduk. "Aku akan memanggil dokter." Kata Yejin bergerak cepat tapi Lula menahan lengannya. Ia menggeleng dan membiarkan Yejin untuk duduk di sampingnya.
"Jangan."
"Tidak kau merasa pusing, bukan?" Yejin tetap ngotot namun Lula terus saja mencegahnya.
"Yejin aku hanya perlu memejamkan mata sebentar, lalu sakit kepalaku akan hilang."
Yejin tidak merespon. Ia dalam keadaan berdiri dan menatap Lula sedang berpikir. "Baiklah." Katanya kemudian lalu Lula langsung menutup matanya. Lula merasakan tempat tidurnya bergetar, seseorang duduk di sampingnya. Tiba-tiba ia merasa Yejin memijat kepalanya perlahan. "Nenek sering memijat kepalaku seperti ini ketika aku sakit kepala."
Lula merasa sedikit baikan ketika ia menutup matanya, ditambah Yejin memijatnya seperti itu. Jelas hal yang tidak akan pernah Yejin lakukan, tapi sekarang ia melakukannya. Tapi, kenapa?
Lula terus memikirkan kejadian tadi, dan ia rasa itu tidak sekadar imajinasi, karena itu terasa sangat nyata. Tapi sangat tidak mungkin Yejin akan melakukan itu, bukan?
"Yejin." Lula memanggilnya dalam keadaan masih menutup matanya.
"Kenapa kau melakukan ini?"
Yejin mengerutkan alisnya. Ia berhenti sebentar, lalu bertanya apa maksudnya. "Melakukan apa?" Ia melanjutkan memijat kepala Lula kemudian.
Lula membuka matanya, dan menatap Yejin. Laki-laki itu berada sangat dekat dengan Lula, bahkan keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Lula tidak berkedip. "Semuanya."
"Menemaniku, merawatku, peduli denganku, selalu ada ketika aku butuh, dan bahkan kau melakukan apa yang tidak aku minta. Seperti sekarang, kau membuatku lebih baik dengan memijat kepalaku seperti ini." Menatap wajahnya dari dekat seperti ini, membuat Lula merasa sangat damai.
Yejin masih melanjutkan pijatannya dan Lula menunggu balasan Yejin. "Yejin." Lula memanggil laki-laki itu tapi Yejin tetap tidak bergeming.
"Yejin." Sekali lagi dan kali ini Lula menarik tangan Yejin. Mendekapnya lalu memasang wajah meminta jawaban segera.
"Itulah yang seharusnya seorang sahabat lakukan, Lula. Apa kau tidak mengerti?" Yejin seakan memberi pengertian kepada Lula. Tapi gadis itu tetap merasa tidak senang. Hanya sahabat? Sebenarnya apa yang Lula harapkan dari Yejin? Jelas laki-laki itu hanya menganggapnya sahabat saja, dan tidak lebih.
Lula mengangguk mengerti dan tersenyum. "Terimakasih." Ia merasa mood nya tidak baik, tetapi harus bersikap baik-baik saja di depan semua orang. Sepertinya gadis itu harus menerima keadaan ini. Keadaan dimana Yejin hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.
***
"Apa Matvei sudah kemari?" Pria dengan tato di lengannya berdiri di depan distrik 1. Ia bertanya dengan seorang laki-laki yang membawa buku kecil dan ipad di tangan kanannya.
"Belum, Pak. Tidak ada izin dan nomornya tidak aktif dihubungi." Laki-laki itu membenarkan kacamatanya dan menatap pria yang tidak lain adalah Bryan dengan tatapan datar.
"Terus hubungi dia, dan jika masih tidak bisa, kau suruh beberapa orang untuk memanggilnya secara langsung."
"Baik, pak!"
Bryan mengangguk dan berbalik pergi dari tempat itu. Senyumnya mengembang dan ia tahu kalau rencananya berhasil. Ia tahu betul bagaimana caranya membuat rekan kerjanya itu kacau, dan ketika Matvei benar-benar tidak baik-baik saja, dia akan melakukan apa yang sudah menjadi rencananya.
"Kali ini tidak perlu menggunakan kekerasan."
***
Di dalam ruangan yang rapih, duduklah Ratu Cheoreon Kingdom. Kerinee Cizarinee. Menghadap beberapa lembaran kertas berisi data-data penduduk, dan tengah membacanya.
Tokkk tokkk
Ketukan pintu bergema di seluruh ruangan.
"Masuk!" Pintu terbuka dan masuklah seseorang.
Kerinee mendongakkan kepalanya sekilas, melihat siapa yang datang dan fokus lagi ke kertas-kertas tersebut.
"Kabar apa yang kau bawa, Aldway?" Tanyanya kepada Aldway. Suaranya sangat lembut. Sebenarnya Kerinee perempuan yang lembut dan murah senyum. Tapi, semenjak Lula tidak bersamanya, dan ia menjadi ratu di kerajaan lama Kalula, Cheoreon Kingdom, Ia menjadi wanita yang angkuh dan serius. Kepemimpinannya lebih tegas dibandingkan Kalula sebelum berubah menjadi Rusalkaa.
"Ampun, ratu." Aldway berjalan mendekat. "Seorang pria spesialis benda berharga, menemukan beberapa titik sinyal kristal Swarovski, di berbagai kota di daratan Rusia." Aldway menunjukkan peta elektronik di ipad yang ia bawa.
"Kita berada di titik ini, Kota Sochi, Rusia. Dan titik hijau ini titik-titik keberadaan kristal Swarovski. Ratu bilang kalung kerang Putri Lula terbuat dari kristal Swarovski?"
Kerinee mengangguk.
"Penyebarannya merata di seluruh Rusia, dan paling banyak berada di ibukota Rusia, Moskow." Aldway menjelaskan itu sambil menunjukkan petanya.
"Kerahkan seluruh pasukan dan menyebar di seluruh kota. Kau hubungi prajurit yang kita kerahkan beberapa Minggu lalu, dan perintahkan untuk mengubah rencana. Kita akan ke Moskow besok."
"Baik, Ratu." Aldway membungkuk, lalu pergi dari ruangan itu.