Luna Rusalka

Luna Rusalka
47



Yejin kehabisan nafas, dan naik ke permukaan untuk mengambil nafas. Langsung saja, dia kembali ke dalam air dan berenang menuju Lula.


Lula menggeleng, mencoba mengingatkan kepada Yejin untuk tidak mendekat. Yejin juga bisa terjerat, namun Yejin terus berenang dan dia berhenti tiba-tiba. Dia kembali lagi ke permukaan, mencari sesuatu, dan menemukan ranting besar yang mengapung di air, mengambilnya, dan masuk lagi ke air.


Lula masih terjerat, dan tertarik. Yejin memegang tangan Lula, menariknya dan berusaha menusuk apapun itu yang telah melilit kaki Lula.


Air menjadi keruh. Banyak pergerakan dan pandangan mereka tak jelas, membuat mereka tidak bisa melihat apapun itu yang ada di bawah.


Sekuat tenaga menusukkan rantingnya, dan itu membuahkan hasil. Lula merasakan lilitan melonggar dan sepenuhnya dia bisa lepas dari itu.


Lula mengangguk, dan mereka berdua naik ke permukaan.


"Hah!" Lula mengambil nafas dan Yejin menariknya ke tepian.


Mereka berenang bersama dan naik ke tepi, kemudian duduk. Nafas tidak teratur dan mereka sangat terkejut tadi.


"Terimakasih, Yejin.."


Yejin mengangguk. "Pertama dan terakhir kalinya. Selanjutnya jangan lakukan hal yang bisa membuatmu dalam bahaya lagi." Yejin bangkit dan berjalan menuju tempat dimana dia meletakkan tas ranselnya.


Lula masih duduk di tempat dan melihat Yejin memakai pakaiannya. Dia berdiri dan berjalan pincang. Sontak membuatnya melihat kakinya yang tergores akibat dari sesuatu yang melilitnya tadi.


Lula tidak menghiraukan itu dan berusaha berjalan dengan normal.


Setelah memakai pakaian, mereka memutuskan untuk kembali dan Lula meminta kepada Yejin agar tidak memberitahukan semua ini kepada siapapun.


***


"Aku pulang." Lula berdiri di depan rumahnya. Lula dan Yejin berpisah di pertigaan, dan mereka kembali ke rumah masing-masing.


Pintu terbuka dan Sofia berdiri di sana, melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa baru pulang?"


Lula terdiam. Dia harus jujur atau berbohong? Lula tak pandai berbohong. Dia harus berkata apa yang sebenarnya.


Namun, mamanya tidak akan memperbolehkannya pergi sendirian lagi mulai sekarang.


"Aku pulang bersama Yejin, dan kami jalan-jalan ke taman dekat perbatasan." Lula tidak berbohong. Setidaknya, dia tidak akan beritahu soal kejadian di air terjun.


"Mengapa rambutmu basah?" Sofia sadar, rambut Lula basah, makannya Lula menguncir rambutnya ke belakang.


Lula tak bisa menjelaskan lagi. Dia masih terdiam dan menunggu keajaiban.


"Kau-"


"Mamaaa." Suara Yefy memotong perkataan Sofia dan sontak membuatnya berbalik dan mencari tahu ada apa.


"Kenapa Yefy?"


"Mama aku terlukaa!" Yefy berteriak dan sedikit menangis.


"Masuk, dan bersih-bersih. Mama belum selesai dengan rambutmu." Sofia menatap Lula dan berbalik, berjalan menghampiri Yefy selanjutnya.


Lula membulatkan matanya dan melenguh.


"Hampir saja mau senang, eh mama akan membahasnya lagi."


***


Jereni's POV


Apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak bisa memendam ini sendirian. Aku butuh seseorang untuk berbagi kebingungan ini.


Sekarang hampir malam dan aku hanya mondar-mandir dari tadi, memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Lula.


Dimana Brandon? Aku ingat sekali, tentang cahaya putih itu, dan Lula yang sudah tidak bisa bernafas di air lagi.


Jika aku bereinkarnasi, seharusnya Brandon juga. Kami, halfer. Kau tahu? Separuh duyung manusia dan itu akan terjadi ketika... aku tidak tahu spesifik nya.


Aku juga tidak pernah tahu akan seperti ini, namun aku tahu semuanya. Itu berada di pikiranku dan aku tidak bisa menyangkalnya.


Aku dan Brandon penyebab semua ini, tidak juga. Ratu memang sudah mengandung sebelum kami merencanakan.. Kenapa aku sejahat itu, dan kenapa sekarang merasa bersalah?


Apa yang aku lakukan di masa lalu, aku juga yang harus membereskannya. Tapi, bagaimana caranya??


"Jereni makan malam!!" Teriak mama dari luar. Aku harus keluar, dari tadi aku hanya di kamar.


***


"Kau dari mana saja, Yejin?" Yeva bertanya di sela makan malamnya. Hanya Yejin yang menemaninya malam ini. Ayah dan kakak laki-lakinya tidak berada di rumah.


"Dimana kakak?" Yejin bertanya hal lain untuk mengalihkan perhatian mamanya.


"Jawab dulu pertanyaan mama."


"Ok." Yejin mengangguk. "Ke taman bersama Lula sepulang sekolah." Yejin harap mamanya tidak bertanya hal lain lagi. Dia tidak bisa menjelaskan itu.


"Itu bagus," Yeva mengangguk.


"Apanya?"


"Kau bersama Lula." Wanita beranak dua itu tersenyum dan bermaksud menggoda putranya. Yang Yejin lakukan hanya terdiam dan tidak mengeluarkan ekspresi apapun.


"Kakak mana?" Yejin benar-benar ingin mengetahui keberadaan kakaknya.


"Dia keluar bersama satu temannya tadi siang."


"Keluar kemana?"


Yeva berhenti. "Matvei tidak memberitahu dia akan kemana. Yejin, kau tumben sekali menanyakan kakakmu. Ada apa?" Ya, Yejin tidak pernah perduli soal kakak laki-laki nya itu. Hubungan keduanya dibilang cukup dingin, semenjak mereka berpisah dari kecil. Yejin harus berobat, dan Matvei harus melanjutkan sekolahnya di sini.


"Tidak. Hanya bertanya."


"Okey, makanlah dan segera beristirahat. Jangan pikirkan tugas sekolah. Kau harus fokus pada perlombaanmu. Tiga hari lagi, dan mama hanya mengingatkan."


Yejin mengangguk, dan melanjutkan makan malamnya.


***


Lula's POV


Hari ini hari yang melelahkan. Lagi-lagi aku memiliki pengalaman menegangkan dan membahayakan dengan air.


Sesuatu mencoba masuk dalam pikiranku dan ketika aku tidak menerima hal itu, sesuatu itu mencoba menunjukkanku dengan hal lain.


Sudah ke berapa kejadian aneh yang terjadi padaku? Tidak terkecuali bisa mengendalikan air.


Itu kelebihan, atau seseorang mencoba memberitahuku?


Apapun itu, aku harus waspada. Beberapa kali aku hampir terluka parah dan aku harus berhati-hati mulai sekarang.


Author's POV


Lula duduk di tempat tidurnya dan masih memikirkan kejadian-kejadian tak masuk akal yang terjadi pada dirinya.


Hujan turun tiba-tiba, dan udara semakin dingin di dalam kamar. Jendela terbuka menyebabkan angin masuk ke ruangan. Langit sudah gelap. Lula harus pergi tidur, setelah ia menutup jendela.


Gadis bersurai kemerahan itu menapakkan kakinya ke lantai dan berdiri untuk berjalan menuju Jendela.


Dia menatap luar sebentar dan merasa damai. Dia ingin bermain dengan air hujan, namun sudah malam. Mamanya juga akan marah kalau dia melakukan itu.


"Apa aku masih bisa?" Dia berpikir apakah masih bisa mengendalikan air.


"Seharusnya ini sebuah keuntungan, dengan aku bisa mengendalikan air." Lula tersenyum dan mengangkat tangan kanannya.


Tidak ada yang terjadi di luar sana. Dia heran. Dia mengangkat tangannya lagi, namun tidak bisa. Air tetap di bawah dan dia tidak bisa mengendalikan air lagi.


"Fokus.." Lula mendengar bisikan dan sontak dia menoleh ke kanan.


Suara itu.. suara yang selalu aku dengar. Batinnya menyadari semua bisikan yang ia dengar selama ini, merujuk pada satu suara yang ia dengar kini.


"Siapa kau?" Dia memberanikan diri untuk bertanya. Dia lelah dengan semua bisikan ini.


Dia tidak mendengar jawaban, namun ia mendengar sebuah tawa yang lembut.


"Kenapa kau selalu berada di pikiranku dan menyuruhku untuk melakukan apapun yang kau inginkan?!" Lula berbalik dan mencoba memperhatikan seluruh ruang kamarnya.


Dia hanya mendengarkan tawa lembut dan pikirannya mulai kacau.


"Jika kau ingin aku tidak mengendalikanmu, fokuslah dan percaya pada dirimu sendiri.." Suara itu semakin memudar dan segera Lula menutup jendela dan berlari ke tempat tidurnya, menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut dan mencoba untuk tidur.