Luna Rusalka

Luna Rusalka
86



Yejin belum mengabariku apapun, begitupun dengan Jereni. Padahal aku menunggu mereka menelpon dan aku sangat penasaran apa yang terjadi di sana. Mungkin mereka akan memberitahu aku besok, aku hanya perlu menunggu.


Ah iya, papa sudah kembali dan mama juga berada di sini. Kami tengah makan malam seperti biasanya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberitahu mereka tentang apa yang Tuan Bogdan katakan padaku tadi.


Kau tahu? Beberapa hal terkadang sulit untuk dikatakan, namun itu harus segera dibicarakan. Kalau tidak begini, aku tidak akan pernah tahu apa keputusan mama. Walau aku merasa tidak mungkin mama mengizinkanku pergi, namun kita tidak pernah tahu apa yang menjadi keputusannya jika aku bicara baik-baik.


"Mama-"


"Yefy kau tidak menginap di sekolah?"


Perkataanku terpotong oleh papa. Sekali lagi, aku mengurungkan niatku untuk membicarakan hal ini. Sepertinya aku harus bersabar.


Papa menyadari sesuatu. Iya benar, ini hari Rabu dan seharusnya Yefy berada di sekolahnya sekarang. Tapi bocah usil itu duduk dan makan dengan lahap di rumah. Lama kelamaan ia akan menjadi gendut, karena makan sangat banyak setiap harinya.


"Papa... bulan datang begitu cepat dan masih muda. Jadi kami tidak menginap di sekolah." Semua orang terdiam dan mencoba berpikir apa yang dikatakan Yefy. Dia memang suka berbicara seperti itu. Mengungkapkan kata-kata dengan bahasa yang aneh. Aku pun terkadang tidak tahu maksud dari perkataannya.


Mama tertawa dan mencubit pipi Yefy. "Maksudnya ini awal bulan, jadi Yefy tidak menginap di sekolah."


"Iya benar. Yefy juga harus membuat tugas rumah banyaaaak sekali. Kakak nanti bantu aku, ya?" Sekolah Yefy memberikan tugas rumah begitu banyak setiap harinya, bahkan lebih banyak dari tugasku. Sepertinya mereka terlalu memaksakan untuk muridnya segera menguasai materi.


"Ah papa tidak memahami itu." Papa tersenyum sambil mengelus kepala Yefy. Dia hanya meringis dan melanjutkan makan malamnya.


"Lula kau belum menjawab Yefy." Mama menegurku. Aku memang dari tadi diam saja dan tidak berbicara sama sekali.


"Baiklah."


***


Kamis, 3 Maret


"Jereni kau yakin ingin berangkat ke sekolah?" Rwka membenahi meja makan.


"Uh huh." Jawab gadis itu singkat.


"Kemarin kau kembali malam, apakah kau tidak merasa lelah?"


"Tidak mama, aku baik-baik saja. Lagian aku harus memberitahu kabar baik ini kepada Lula." Jereni meringis. Sepertinya ia terpilih dan akan membawakan Muai Thai di tingkat nasional.


"Kau senang sekali."


Mereka hanya sarapan berdua. Mattew sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja.


"Baiklah, ini bekal makan siang, mama membuat lebih. Kau bisa berbagi dengan Lula atau teman lainnya." Rwka menyerahkan bekal makan siang Jereni dan gadis itu menerimanya, lalu membuka ransel dan menaruh di dalamnya.


"Terimakasih, mama."


***


"Kau kenapa?" Matvei berdiri di depan garasi dan melihat Yejin tengah jongkok di samping sepedanya.


"Ban sepedaku bocor." Laki-laki itu berdiri dan menyatukan kedua tangannya.


"Kau butuh waktu untuk membawanya berjalan kaki ke bengkel, dan tidak ada bis di tempat ini, itu berarti kau harus berjalan untuk sampai di halte bis terdekat."


Yejin mengangguk. "Dan aku tidak punya wmbanyak waktu." Yejin melihat arloji hitamnya dan berpikir bagaimana ia sampai di sekolah tepat waktu.


"Kau bisa berangkat bersamaku. Pakai motor dan itu lebih cepat."


Yejin menggeleng. "Tidak usah, aku naik bis saja."


"Apa susahnya


mengiyakan tawaranku?" Matvei menahan Yejin.


Kedua orang tua mereka tengah pergi, dan tidak bisa mengantar Yejin. Tidak ada sepeda, dan laki-laki itu harus berjalan kaki ke halte bis. Sebaiknya Yejin berpikir dua kali untuk menolak kakaknya.


Yejin mengangguk. Matvei tersenyum dan menepuk pundak Yejin. "Aku harus memaksamu terlebih dulu untuk membuatmu menurut." Matvei berjalan menuju motornya dan bersiap dengan itu.


***


"Sampai jumpa." Lula berpamitan dengan papanya dan tersenyum. Mark mengangguk dan menginjak pedal gasnya.


"Hai Lula." Lula berhenti dan berbalik. Ia melihat Erynav dengan tongkat bantuan untuk berjalan. Gadis itu tengah berdiri di belakang Lula ketika Lula menoleh.


"Hai." Lula masih berhenti dan Erynav berjalan mendekat.


"Kau sudah baikan?"


"Aku sudah bisa berjalan. Walau kau tahu masih pakai tongkat ini."


"Mau berjalan bersama?" Lula menawarkan dan Erynav terlihat senang. Ia mengangguk dan Lula mencoba membantu tapi Erynav menolaknya, tidak ingin merepotkan katanya.


***


"Yejin kenapa kau masih seperti ini terhadapku?" Matvei berhenti di depan gerbang sekolah Yejin, dan berbicara sebentar.


"Apa?" Yejin turun dari motor Matvei dan melepas helmnya.


"Lupakan saja."


Yejin memberikan helmnya kepada Matvei dan berterima kasih. Ia berjalan menjauh kemudian.


"Tunggu, Yejin!"


Yejin berhenti dan berbalik.


"Kembali bersama? Aku akan kemari nanti."


"Aku naik bis saja. Aku juga bisa menelpon mama." Kata Yejin datar. Ia pergi setelahnya, tanpa menghiraukan panggilan Matvei.


Matvei menggelengkan kepalanya fan memakai helm kemudian berlalu dengan sepeda motor sportnya.


***


Jereni terlihat dari kejauhan dan berlari masuk ke dalam kelas. Ia melambai kepada Lula dan berdiri di samping bangku Lula ketika ia sampai di dalam kelas.


"Hai Jereni."


"Hai." Jereni meletakkan ranselnya di bangku samping kanan Lula dan mengatur nafasnya.


"Tebak apa yang terjadi!"


"Kau terpilih?" Lula membelalakkan matanya dan meringis.


Jereni menggeleng. "Tapi ini lebih baik, Lula. Coba tebak."


"Jadi apa, Jereni? Bisa kau memberitahu aku dan bukannya membuatku penasaran?" Lula geram. Jereni selalu membuat Lula penasaran, dan membuat gadis itu berpikir untuk hal yang bahkan Jereni sudah tahu.


"Aku memang tidak terpilih, karena kau tahu persaingannya sangat ketat. Semua orang terlihat sangat bagus. Aku hanya bagian kecil dari pertunjukan jadi kau tahu, mereka tidak memperhatikan aku."


Lula masih mendengarkan. Jereni tidak langsung pada intinya dan membuat Lula sangat penasaran.


"Mereka tidak memilihku memang. Tapi memberiku kesempatan berlatih di club Muai Thai yang lebih besar dan terkenal selama satu tahun penuh, tanpa biaya atau gratis!"


"Lula kau tahu selama ini aku berlatih tanpa sepengetahuan mama dan aku tidak memiliki cukup uang untuk mengikuti club manapun. Uang tabunganku juga tidak cukup, jadi aku hanya berlatih di sekolah, bersama Pak Lim. Sebagai ekstrakulikuler." Jereni sangat antusias menceritakan pengalamannya.


"Kau sangat beruntung, Jereni. Aku senang mendengarnya. Tapi bagaimana bisa kau mendapat semua itu?"


"Mereka bilang suka dengan gerakanku dan itu terlihat sangat khas. Hanya saja aku masih tidak yakin saat menampilkan itu. Jadi mereka memberi satu kesempatan untuk berlatih selama satu tahun, mungkin beberapa kali dalam seminggu dan aku bisa mengikuti ajang perlombaan ini tahun depan."


"Tapi Lula sungguh ini lebih baik daripada aku terpilih."


"Aku tahu kenapa mereka memberimu kesempatan ini. Jereni, mereka tahu kau akan menjadi yang terbaik, makannya mereka memberimu kesempatan untuk berlatih selama satu tahun di club dan saat itu kau sudah siap untuk kembali."


Jereni tersenyum dan mengangguk.


"Ah bagaimana dengan Yejin?"


Lula mengendikkan bahu dan mengalihkan pandangannya dari Jereni ke pintu. Yejin tengah berjalan kemari dan Jereni mengikuti arah pandangan Lula.