Luna Rusalka

Luna Rusalka
21



"Yejin! Yejin!" Aku mengejar Yejin. Dia sedang berjalan di koridor.


"Yejin!" Aku mempercepat jalanku dan mencegatnya dari arah depan. Sontak Yejin berhenti dan terkejut melihatku.


"Lula?"


"Yejin aku mau bertanya sesuatu." Yejin bertanya apa dan aku mencoba berbicara.


"Apa waktu itu aku tenggelam dan kau menyelamatkanku?" Yejin terdiam dan tidak berbicara sama sekali. Apa ini memang benar dan kematianku juga nyata?


"Ya. Apa ibumu tidak menjelaskan hal ini?"


Aku menggeleng. "Apa aku sempat tiada dan akhirnya terbangun lagi?" Ini hal yang ingin aku tanyakan padanya. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan nya namun aku terus saja memikirkan hal ini. Yejin masih terdiam sampai seseorang memanggilnya.


"Yejin!" Seorang laki-laki menghampiri kami.


"Kenapa?"


"Kau dipanggil kepala sekolah."


Yejin mengangguk dan lelaki itu pergi.


"Maaf Lula aku harus pergi sekarang." Kata Yejin sambil menyentuh pundakku dan pergi berlalu. Dia belum menjawab pertanyaanku. Kurasa dia tidak mau membicarakan hal ini dan aku yakin ini benar-benar terjadi denganku.


Kenapa semua orang cepat sekali berubah. Sepertinya aku tidak ada alasan untuk berubah. Kenapa dengan perubahan? Apa yang membuat mereka berubah?


Sudahlah kenapa aku memusingkan hal ini?


***


"Cepat Yejin! Cepat!!!" Tuan Ivan berteriak kepada Yejin. Dia sedang berada di kolam renang dan berlatih seperti biasa.


Yejin berlatih sendiri tanpa Lula. Dia belum datang dan Yejin tidak tahu dimana Lula sekarang.


"Fokus Yejin jangan melamun!" Tidak fokus, dia melenceng dari lintasan. Sudah tiga kali dia berlatih sendirian.


Dengan cepat Yejin menggelengkan kepalanya dan mencoba fokus, segera kembali ke lintasan dan berhenti ketika melihat Lula memasuki kawasan kolam renang.


"Maafkan saya, Tuan Ivan. Terjadi sesuatu yang membuat saya baru saja sampai sini." Lula meletakkan tas nya di bawah dan menghadap Tuan Ivan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tuan Ivan bertanya, sontak membuat Lula terkejut. Berpikir positif mungkin Tuan Ivan hanya bercanda.


"Berlatih."


"Bukankah kau tidak berlatih lagi sekarang?"


Pertanyaan yang sungguh Lula tidak mengerti. Apa yang terjadi? Kenapa Tuan Ivan berkata seperti itu?


"Maksudnya?" Lula memiringkan kepalanya tidak mengerti. Kenapa dia tidak berlatih lagi?


Pintu terbuka dan seorang perempuan masuk. Dia memakai baju renang dan membawa tasnya.


Perempuan itu berjalan dengan cepat dan menghampiri Tuan Ivan. Lula hanya menatapnya datar. Siapa dia?


"Maafkan saya terlambat, Pak!" Tuan Ivan mengangguk. Perempuan itu meletakkan tasnya dan menghadap Tuan Ivan, sejajar dengan Lula.


Siapa dia? Batin Lula penasaran. Yejin menepi dan naik ke atas. Dia ingin tahu apa yang terjadi.


"Apa orang tuamu tidak memberitahu?" Tuan Ivan bertanya kepada Lula.


"Memberitahu apa?"


"Mereka tidak mengijinkan mu untuk berlatih lagi. Kami harus mengganti mu. Butuh waktu tiga hari untuk mencari atlet seperti dirimu. Itu bukan sesuatu yang mudah, Lula. Ini pertandingan Nasional."


Lula's POV


Apa? Bagaimana bisa terjadi? Kenapa aku bisa digantikan?


"Sebaiknya kau pulang. Orang tuamu tidak mengijinkan mu lagi." Itu memukulku begitu keras.


"Sebentar, Pak!" Yejin menahan Yuan Ivan.


"Kenapa Yejin?!"


"Ini tidak bisa terjadi. Lula partner saya dan kami sudah berlatih lama, kenapa Lula digantikan?"


"Tidak ada jalan lain." Tuan Ivan berbalik dan berlalu.


"Kalau Lula tidak ikut, saya juga tidak akan ikut! Kalau Anda mampu mencari pengganti Lula, seharusnya bisa mencari penggantiku juga." Yejin melepas kacamata renangnya dan menjatuhkan nya. Kenapa Yejin seperti ini?


Aku hanya bisa terdiam dan melihat semua ini.


"Yejin.. "


"Ayo kita pergi, Lula!" Yejin meraih tanganku dan menariknya berjalan.


"Ini bukan urusan saya Yejin. Tuan Bogdan memberi saya amanat, dan saya sangat menghormati beliau, jadi semuanya menjadi urusan saya. Bukan hal mudah untuk mencari pengganti Lula. Bukan hal mudah pula mencari penggantimu. Itu tandanya, kami harus memulai dari nol. Tiga Minggu lagi, Yejin! Bukan tiga tahun lagi! Jangan mengambil keputusan saat kepalamu tak dingin." Tuan Ivan menghentikan Yejin dan aku hanya bisa meyakinkan Yejin untuk tidak mundur sepertiku. Tidak, aku tidak akan pernah mundur. Kenapa? Apa yang sudah terjadi.


"Yejin." Aku melepaskan Yejin dan menatapnya.


"Jangan."


"Tapi, Lula..-"


"Tidak, Yejin! Lakukan ini demi aku." Aku tersenyum dan memegang kedua pundaknya. Dia harus tetap ikut walaupun aku tidak. Ini menyakitkan, namun aku harus menenangkan Yejin.


Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sebuah tanda tanya besar dan orang-orang tidak mau memberitahuku kenapa.


"Lula..-" Aku memeluk Yejin.


"Baiklah.." Aku melepas Yejin dan pergi berlalu. Aku harus mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi. Itu bukan hal yang biasa bagiku, semuanya terjadi pasti ada sebabnya.


***


Makan malam yang canggung. Aku hanya mengaduk nasiku tanpa ada niatan untuk memakannya. Aku ingin protes pada mama dan papa, tapi ini belum saatnya. Aku akan berbicara kepada mereka satu menit lagi!


Papa memakan makanannya tanpa menghiraukan aku. Mama menyuapi Yefy dan aku hanya terdiam. Keadaan di sini sungguh canggung aku tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena kami tak saling bicara.


"Lula, kenapa tidak memakannya? Masakan mama tidak enak?" Mama menatapku dan aku meletakkan sendok dan garpu di meja.


Aku menatap mama dan papa bergantian. "Kenapa Tuan Ivan bilang aku tidak akan mengikuti perlombaan renang itu lagi?!" Aku merebahkan punggungku di punggung meja.


"Karena mulai saat ini kau tidak akan mengikuti kegiatan apapun yang berhubungan dengan air." Mama menatapku dan tetap menyuapi Yefy. "Mama tidak mengijinkan." Lanjutnya. Kenapa?! Apa salahku??


"Tapi kenapa? Mama, ini perlombaan nasional. Aku akan pergi ke Italy kalau aku menang!" Aku mengangkat pundakku tak percaya dengan perkataan mama.


"Ini demi keselamatan mu, Lula!" Mama meletakkan sendok dan menatapku serius. Apa? Memangnya aku kenapa? Bukankah aku baik-baik saja?


"Tapi aku baik-baik saja!" Aku tidak bisa menahan emosiku. Aku mencoba menenangkan diri namun tidak bisa.


"Lula. Kami sudah membuat keputusan. Kami tidak mau kehilanganmu lagi." Papa menatapku dan mereka berdua menatapku. Yefy juga, namun beberapa saat kemudian dia izin ke kamar mandi untuk buang air.


"Kehilangan aku apa? Aku tidak akan kenapa-kenapa. Bahkan aku bisa berada di air cukup lama tanpa alat bantu pernafasan. Aku akan baik-baik saja!"


"Kau hampir tiada Lula! Kau pingsan di air dan masuk rumah sakit! Gagal jantung dan kau dinyatakan meninggal! Kami sempat kehilangan dirimu dan mama tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya dengan mengijinkan mu berenang lagi!" Mama berdiri dan meneteskan air matanya. Aku hanya terdiam.


"Sofia.. Sofia.. tenangkan dirimu." Papa menenangkan mama.


A-apa? Gagal jantung? Sejak kapan aku memiliki riwayat penyakit itu? Kenapa aku tidak mengingat apapun?


Aku tidak bisa berkata lagi. Tapi aku tidak boleh mundur. Kenapa harus aku. Kenapa? Kenapa aku tidak diperbolehkan berenang lagi? Ini perlombaan nasional dan aku sudah berjuang dengan keras!


Aku berdiri dan pergi berlari ke kamar. Aku tidak bisa menahan kesedihanku lagi.


Apa yang harus aku lakukan? Menurut atau tidak? Tapi aku sudah berjuang sangat keras untuk bisa sampai ke sini. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.


Apa yang harus aku lakukan?